Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 14

Tags: anghongpai
Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Djoko lelono Dewi Penyebar Maut 1 Gento Guyon 1 Tabib Setan Jaka Sembung 1 Bajing Ireng Maling Budiman Wasiat Dewa Geledek Joko Sableng 1 Pesanggrahan Keramat

anita yang jumlahnya mendekati seratus itu rata- rata memiliki ilmu silat tinggi, ahli pula tentang penggunaan racun dan rata-rata memiliki watak kejam dan buas, mudah membunuh dan tidak segan-segan menyiksa lawan yang tertawan. Juga banyak di antara mereka terkenal sebagai wanita-wanita yang haus akan pria, suka menangkapi pria-pria muda dan celakalah pria yang sudah menjadi tawanan mereka karena dia akan dibawa ke sarang Ang-hong-pai dan tak seorangpun tahu apa yang menjadi nasibnya karena dia takkan pernah muncul lagi di dunia ramai ! Biarpun banyak di antara para anggauta Ang-hong-pai merupakan wanita-wanita muda yang berwajah cantik dan bersikap genit, namun kaum pria bergidik ngeri kalau mendengar disebutnya nama Ang-hong-pai. Terutama sekali mereka yang tinggal di daerah kota Nan-ping di Propinsi Hok-kian. Kalau ada seorang wanita, betapa cantikpun, mengenakan pakaian serba merah, sebagai tanda bahwa ia anggauta Ang-hong-pai, maka para pemuda yang tidak memiliki kepandaian segera cepat-cepat menyembunyikan diri, seperti anak-anak ayam melihat datangnya seekor musang.
  Para hartawan di kota Nan-ping dan sekitarnya, tidak ada yang berani menolak untuk memberi sumbangan apabila ada wanita baju merah datang ke rumah mereka, sehingga kehidupan Ang-hong-pai terjamin oleh sumbangan-sumbangan itu, di samping hasil perampokan atau pencurian yang mereka lakukan di tempat- tempat yang jauh dari wilayah Nan-ping.
  Mereka tidak pernah mau mengganggu wilayah itu karena mereka memperoleh sumbangan dengan dalih “menjaga keamanan”. Ada memang terjadi beberapa kali munculnya seorang jagoan yang menganggap dirinya cukup mampu utuk menjadi pendekar dan menentang Ang-hong-pai, akan tetapi akibatnya, jagoan itu yang tewas dan mayatnya tak pernah dilihat orang. Maka, nama Ang-hong-pai menjadi semakin tersohor dan kaum pendekar merasa lebih aman untuk mengambil jalan sendiri dan tidak mencari perkara dengan waita- wanita liar itu.
  Yang menjadi ketua dari Ang-hong-pai ketika itu adalah seorang wanita berusia kurang lebih enam puluh tahun, akan tetapi melihat bentuk wajahnya yang masih manis, mukanya yang belum dinodai keriput, tubuhnya yang masih padat rampng, ia nampak seperti seorang wanita berusia tiga puluh tahun saja ! Para anggauta atau murid Ang-hong-pai menyebutnya Theng Toanio dan nama sebenarnya adalah Theng Ci. Wanita ini masih nampak cantik dan pakaiannya selalu mewah, berwarna merah terbuat dari sutera mahal dengan hiasan kuning emas dan garis biru. Theng Toanio ini melanjutkan kedudukan mendiang subonya (guru wanita) memimpin Ang-hong-pai dan karena ia nampak lebih pandai daripada mendiang subonya, maka anak buah Ang-hong-pai semua taat dan tunduk kepadanya. Theng Toanio inilah yang mulai memungut sumbangan dari para hartawan, berbeda dengan mendiang subonya yang dahulu hanya mengandalkan kejahatan untuk membiayai perkumpulannya. Juga kini anggaua Ang-hong-pai mendekati seratus orang kesemuanya terdiri dari wanita-wanita cantik dengan usia tidak lebih dari tiga puluh tahun ! Theng Toanio mengusir bekas anggauta yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun. Wanita ini memang lihai sekali, lihai permainan pedangnya dan juga amat pandai mempergunakan senjata rahasia jarum merah yang mengandung racun tawon yang amat kuat.
  Perlu diketahui bahwa diwaktu mudanya, Theng Ci ini pernah diperkosa oleh datuk sesat Thian-tok, dan agaknya pengalaman inilah membuat Thian-tok tidak melupakan wanita ini. Pada tahun terakhir menjelang kematiannya, datuk sesat Thian-tok, satu di antara Empat Racun Dunia yang menjadi guru Ong Siu Coan, mencari Theng Ci di sarang Ang-hong-pai. Mula-mula, melihat kedatangan datuk sesat yang pernah memperkosanya, Theng Ci menjadi marah dan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok. Akan tetapi Thian-tok terlalu lihai baginya dan untuk kedua kalinya, wanita ini terpaksa menyerah, bahkan sekali ini ia melayani segala kehendak Thian-tok dengan sukarela karena Racun Dunia itu menjanjikan kepadanya untuk mengajarkan ilmunya yang paling hebat. Demikianlah, selama hampir satu tahun, Thian-tok hidup di antara para wanita di Ang-hong-pai, dan mengajarkan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan-kun-hoat kepada Theng Ci atau Theng Toanio, juga beberapa ilmu lain.
  Setelah Thian-tok merasa bosan tinggal di situ dan pergi, Theng Toanio telah menjadi seorang wanita yang lihai bukan main, jauh lebih lihai daripada sebelum ia digembleng Thian-tok. Dan iapun melatih anak buahnya sehingga mereka juga memperoleh kemajuan pesat. Semakin ditakutilah Ang-hong-pai semenjak waktu itu.
  Ang-hong-pai berada di puncak sebuah bukit yang penuh dengan hutan lebat, di luar kota Nan-king dalam Propinsi Hok-kian. Dari jauh, perkampungan Ang-hong-pai tidak nampak saking lebatnya hutan di bukit itu.
  Akan tetapi, bukit yang diberi nama Ang-hong-pai atau Bukit Tawon Merah itu terkenal sebagai tempat berbahaya dan tidak ada seorangpun berani mencoba-coba untuk mendudukinya. Di dalam hutan itu terdapat penuh binatang hutan yang buas, akan tetapi yang membuat orang merasa gentar adalah rombongan tawon- tawon yang bermacam-macam di tempat itu. Banyak di antara tawon- tawon ini berbisa. Sengatannya dapat mengakibatkan maut dalam waktu beberapa jam saja. Dan tentu saja, selain bahaya binatang buas dan tawon, bahaya terbesar yang mengancam mereka yang berani mendaki bukit itu adalah perkumpulan Ang- hong-pai sendiri.
  Pada waktu itu, kaisar amat lemah dan berenang di dalam kesenangan pemuasan nafsu belaka. Kelemahan kaisar tentu mengakibatkan kelemahan pemerintahan, pejabat-pejabat tidak terkendali sehingga mereka bagaikan kuda-kuda yang lepas dari kekangan, berubah menjadi raja-raja kecil yang tidak memperdulikan keadaan rakyat, melainkan berlomba untuk menumpuk kekayaan dan memperkuat kedudukan. Adanya gangguan kepada rakyat seperti perampok dan golongan hitam macam Ang-hong-pai, tidak diperdulikan oleh para pejabat daerah. Bagi mereka, asal kedudukan mereka tidak diganggu, sudahlah. bahkan banyak terjadi penjahat berkomplot dengan pejabat, keduanya memiliki kepentingan yang sama, yaitu makmur dengan jalan menghisap darah rakyat jelata dan tidak saling menentang, Katakanlah bagi hasil ! Theng Toanio tidak terkecuali. Iapun melihat kelemahan pemerintah, maka iapun segera mengadakan kontak dengan para pejabat daerah, mengirimkan barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan hal ini membuat para pejabat segan untuk menentang Ang-hong-pai, asal perkumpulan itu tidak mengganggu alat- alat pemerintah.
  Demikianlah kedudukan Ang-hong-pai amat kuat di daerah itu, dan para pendekarpun segan untuk menentangnya. Namun, pada suatu pagi yang sunyi dan cerah, nampak sesosok bayangan mendaki bukit Ang- hong-san dengan lenggang seenaknya, seolah-olah dia sedang mendaki sebuah bukit yang indah untuk pergi bertamasya, bukan sedang mendaki bukit yang penuh dengan bahaya yang mengancam nyawanya.
  Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang belum tua, usianya tiga puluh delapan kurang lebih, pakaiannya mewah, wajahnya tampan dan tubuhnya membayangkan kekuatan.
  Rambutnya tersisir licin dan mengkilap karena minyak, mulutnya tersenyum-senyum. Seorang pria muda yang tampan menarik dan berpakaian mewah, pesolek dan senyumnya tentu mudah meruntuhkan benteng pertahanan hati wanita ! Orang ini bukan lain adalah Lee Song Kim ! Tidak mengherankan kalau orang seperti dia sudah tahu bahwa bukit itu adalah sarang Ang-hong-pai, karena dia adalah seorang yang amat lihai dan memang dia naik ke puncak bukit dengan maksud mengunjungi Ang-hong-pai.
  Lee Song Kim mendengar berita tentang Ang-hong-pai, tentang ketuanya yang masih nampak cantik biarpun usianya sudah setengah abad lebih, tentang para anggautanya yang berjumlah hampir seratus orang, semua wanita muda yang menarik. Timbul keinginan hatinya untuk berkunjung dengan dua macam niat di hatinya.
  Pertama, untuk menguji ilmu ketua Ang-hong-pai, kalau perlu menguasai ilmu silatnya, dan kedua, kalau memang benar bahwa anggauta Ang- hong-pai terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik, d ia bermaksud menaklukkan perkumpulan itu. Pertama, agar Ang-hong-pai dapat memperkuat kedudukannya, dan kedua, wanita-wanita itu dapat menghibur hatinya dan memuaskan nafsunya. terutama sekali dia harus menyusun kekuatan, karena untuk mempunyai jagoan nomor satu, harus mempunyai kekuatan yang mendukung di belakangnya, untuk menghadapi lawan yang banyak jumlahnya.
  Ang-hong-pai bukanlah perkumpulan yang besar kalau kedatangan orang asing di bukit itu tidak mereka ketahui semenjak orang itu menginjakkan kaki di tanjakan pertama.
  Mereka selalu memasang penjaga di semua sudut, secara bergilir. Ketika para penjaga melihat munculnya seorang laki- laki yang demikian tampannya, jantung mereka sudah berdebar tidak karuan, merasa gembira dan tegang sekali, seperti sekumpulan serigala kelaparan melihat munculnya seekor domba yang gemuk dari dalam semak-semak. Tiga orang penjaga ini ingin sekali segera menubruk pria itu, diperebutkan.
  Akan tetapi mereka bukan orang-orang yang bodoh dan lancang. Mereka dapat melihat, dari sikap dan langkah pria itu, bahwa yang mendaki bukit ini bukanlah orang sembarangan.
  Mereka tidak berani sembrono. Sekali bertindak dan gagal, tentu mereka akan mendapat kemarahan ketua mereka. Padahal, kalau sudah marah, Theng Toanio kejam luar bi


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 14

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×