Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 56

Prabu Siliwangi | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | karya E. Rokajat Asura | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | Cersil Sakti | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya pdf

Anak anak Nakal - Jacqueline Wilson The Last Empress - Anchee Min Kepala Kepala Yang Hilang Korban Balas Dendam - Sam Edy Yuswanto Sebelum Matahari Mengetuk Pagi - Leila S.Chudori

an terasa kembali cerah. Tak bisa
  membayangkan apa yang akan terjadi jika seorang putra mahkota merasa terganggu.
  Walangsungsang berjalan bersama Nyimas Rarasantang diikuti oleh dua orang prajurit, mereka melewati jalan
  lurus sebelum akhirnya masuk ke jalan melingkar, di tengahnya diletakkan hiasan dan air mancur, dikelilingi
  aneka macam bunga yang menyejukkan mata.
  Hanya sampai di jalan melingkar itulah dua prajurit jaga mengantarnya, karena seterusnya telah siap prajurit-
  prajurit lain yang akan mendampinginya. Walangsungsang bicara pada prajurit yang mengantarnya bahwa ia
  akan langsung ke Keraton Suradipura, menemui ayahandanya. Dengan sigap prajurit itu berlari dan memberi
  tahu prajurit lain.
  Walangsungsang bersipongang memeriksa keadaan sekelilingnya.
  “Tak ada yang berubah, Nyimas!”
  “Begitu juga pengamatanku, Kakang!”
  Di ruang tamu khusus, Prabu Siliwangi menerima kedatangan putra-putrinya itu. Keduanya tangannya
  merentang menyambut kedatangannya.
  Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang menghormat takzim, lalu duduk di kursi di hadapan ayahandanya.
  Kursi itu lebih rendah dari tempat duduk Prabu Siliwangi namun sama- sama mewah bertatahkan emas berlian,
  sehingga sinar matahari yang masuk melalui jendela dan lubang angin, memancarkan kilau indah yang
  mengambang di ruangan itu. Suasana tempat itu terasa semakin mewah.
  “Akhirnya si anak hilang itu kembali!” Prabu Siliwangi terkekeh.
  Tapi Walangsungsang melihat sinar mata ayahandanya itu tak sebening dan setajam dulu. Mungkin karena
  dilanda lelah yang berkepanjangan akibat kurang tidur.
  “Bicaralah apa yang akan kau sampaikan....kuharap kalian sudah tahu, bahwa ibumu, Subanglarang yang
  sangat kukasihi telah meninggalkan kita semua...” tambah Prabu Siliwangi.
  Walangsungsang mengernyit. Tempo hari ia berkunjung ke tempat ini untuk mengucapkan bela sungkawa, tapi
  ternyata ayahandanya sama sekali tidak mengingatnya. Satu keanehan lagi didapat siang ini. Apakah
  ayahandanya kalelebarii .
  “Terima kasih, Kanjeng Rama! Banyak hal yang ingin aku sampaikan!”
  “Bicaralah! Kau juga boleh bicara gadis kecilku yang pemarah!” Prabu Siliwangi melirik ke arah Nyimas
  Rarasantang.
  Ia menunduk. Kata-kata itu demikian akrab didengarnya dulu, saat berjalan bersama di taman sari, bercanda
  bersama. Tapi tidak mau terjebak pada romantisme masa lalu, Nyimas Rarasantang menjawab lantang.
  “Terima kasih, Kanjeng Rama!”
  “Oh, Putriku, kau sudah hisa bicara jelas dan tegas kini. Tak pernah menangis lagi rupanya...” Prabu Siliwangi
  terbahak.
  Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang tersenyum. Untuk kesekian kalinya ia menemukan sinar mata yang
  aneh manakala ayahandanya terbahak seperti itu. Alt, sorot mata itu penuh duka. Duka karena apa? Duka oleh
  siapa? .
  Walangsungsang kemudian bicara tentang perjalanannya selama ini. Tak lupa ia memohon maaf. Prahu
  Siliwangi mengangguk bahwa semua itu tak jadi masalah. Lalu Walangsungsang mulai menanyakan kabar Ki
  Nalaraya.
  Ditanya masalah itu, Prabu Siliwangi mengernyit. “Ada yang aneh dengan penasihatku itu?” tanyanya
  kemudian. Walangsungsang mengangguk, membenarkan.
  “Sudah lama dia meninggal, saat kau tidak ada di sini tentu saja, Walangsungsang!”
  “Sebagai kerabatan keraton, apa dia juga dimakamkan di tempat yang semestinya?” selidik Walangsungsang.
  Prabu Siliwangi turun dari kursinya, bersipongang sebentar, lalu berjalan gagah ke depan jendela. Matanya
  jatuh pada titik tak hingga.
  Walangsungsang melihat bagaimana sosok tinggi besar itu hampir menutup lubang jendela. Tapi kini dibalik
  sosoknya yang tinggi besar, ia seperti sedang melihat tubuhnya yang mulai lelah. Ringkih.
  “Seharusnya memang begitu, Walangsungsang! Tapi karena kecelakaan di hutan, tentu kita akan kerepotan me
  lgurusnya. Kudengar ia masuk ke dalam jurang dan sulit untuk ditemukan!” jelas Prabu Siliwangi.
  Untuk kesekian kalinya Walangsungsang saling pandang dengan Nyimas Rarasantang, berbagi rasa heran.
  “Kalau aku mengatakan baru saja bertemu dengan Ki Nalaraya, bagaimana pendapat Kanjeng Rama?”
  “Mungkin aku akan mengira kau sedang mimpi, Wal angs ungs ang! ”
  “Kalau aku juga mengatakan hal yang sama, Kanjeng Rama?” Nyimas Rarasantang menambahkan. Prabu
  Siliwangi tertegun. Ia masih tetap menatap keluar jendela, tak menghiraukan kedua anaknya ada di belakang
  sedang saling pandang diliputi rasa heran.
  “Mungkin dugaanku yang pertama tadi salah! Tapi ada dugaanku yang kedua! Kalian berdua ba ru saja melihat
  ruhnya yang gentayangan karena arwahnya tidak diterima sempurna, tidak bisa moksa dan ruhnya gagal ke
  atas menuju kahyangan melalui alam saptabuivana.”
  “Karena kejelekan amalannya ketika hidup di dunia maksud Kanjeng Rama?”
  “Ya, seperti itulah kepastiannya. Bagi siapa saja yang tak pernah atau jarang melakukan pemujaan terhadap
  hyang, sering melakukan kejahatan selama hidupnya peristiwa kalepasan-nya berlangsung mengerikan, lalu
  ruhnya turun ke alam saptapatala”
  “Kejahatan apa yang pernah Ki Nalaraya lakukan, Kanjeng Rama, sehingga ruhnya harus mengambang seperti
  itu?” Walangsungsang terus mengejarnya.
  Prabu Siliwangi memutar tubuhnya, menatap tajam pada Walangsungsang. Mata tajamnya yang kini lelah dan
  meredup itu, masih juga terlihat perkasa dan sempat membuat Walangsungsang gemetaran dibuatnya.
  “Apa yang sedang kau pikirkan, Nak?” tanya Prabu Siliwangi kemudian, “tak pernah sekalipun kau terus
  mengejar seperti itu ketika ada yang membuatmu heran. Tapi sekarang, tentu ada yang jauh lebih
  mengherankanmu.”
  Walangsungsang mengangguk. Prabu Siliwangi terhenyak.
  “Baiklah, aku yakin kau bukan anak kecil lagi,” urai Prabu Siliwangi; “Kesalahan terbesar dalam kehidupan Ki
  Nalaraya adalah sikapnya yang sering mengadu domba. Tapi jauh-jauh hari sebelum ia meninggal trag s di
  dalam hutan, aku telah memaafkannya. Karena jauh lebih banyak lagi nasihat-nasihatnya untuk kelangsungan
  dan kemakmuran Pajajaran! Tapi kesalahan tetap kesalahan. Bahkan ibumu yang sakit-sakit juga karena sering
  termakan hasutannya.”
  Bebeberapa saat suasana menggantung. Walangsungsang menunduk dalam. Prabu Siliwangi mengira putranya
  itu sedang menaksir-naksir apa yang
  hal .. 350 dan 351 hilang ....
  berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebaik mungkin. Tapi kelak Walangsungsang mengeta hui bahwa
  ayahandanya itu tak pernah bersungguh-sungguh untuk menyelesaikannya, karena dianggapnya masalah itu
  terlalu sepele untuk dibawa ke pertemuan dengan para penasihat kerajaan. Atau tak siap menerima aib lebih
  besar.
  “Kuharap kau masih mau berkunjung ke sini, anakku! Karena rumah kalian di sini, sekalipun ibumu sudah pergi
  meninggalkan kita!”
  “Itu pasti, Kanjeng Rama! Tapi mungkin saja aku atau adikku datang ke sini dengan tujuan yang berbeda atau
  siapa tahu Kanjeng Rama sendiri sudah berubah!” jelas Walangsungsang.
  “Kau melihat -tanda-tanda itu, Nak?”
  '“Tidak terlalu jelas, Kanjeng Rama!”
  “Apa pun yang terjadi, pintu ini selalu terbuka untuk kalian. Dan jika suatu saat benar-benar tertutup, aku
  harap kalian sudah ada di dalamnya. Tidak berdiri di luar pintu ini dengan tujuan untuk saling menghinakan!”
  jelas Prabu Siliwangi, mempersilakan Walangsungsang, Nyimas Rarasantang dan Ki Nalaraya undur diri.
  Sepanjang jalan Walangsungsang selalu terngiang dengan kata-kata ayahandanya itu “tidak berdiri di luar
  pintu ini dengan tujuan untuk saling menghinakan". Ia teringat impiannya saat melakukan wirid di atas batu.
  ********
 


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 56

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×