Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Suksesnya Toko Bangunan Dengan 120 Jaringan

Kisah Suksesnya Toko Bangunan Dengan 120 Jaringan

Bagi orang yang sedang membangun rumah sendiri di daerah Sidoarjo, Jawa Timur nama Sari Bumi tentu tidak asing lagi. Nama tersebut merupakan toko yang menyediakan bahan-bahan bangunan seperti pasir, bata, semen, cat, kayu, paku, besi dan sebagainya. Yang menjadikan Sari Bumi mudah terkenal karena tokonya yang banyak. Jumlahnya ada 120 buah yang itu tersebar di Sidoarjo, Gresik, Surabaya, dan Lamongan. Tetapi yang paling banyak di Sidoarjo sekitar 80 %. Memang jumlah toko sebanyak itu bukan milik satu orang. Namun, milik banyak orang. Hanya saja, di antara mereka masih dalam hubungan keluarga. Kata Anas Rofi, Direktur Sari Bumi, " Salah satu misi dari Sari Bumi adalah mengangkat ekonomi keluarga. Oleh karena itu, bagu yang sudah berhasil harus mengangkat saudara yang masih lemah".

Sebagai contoh, Ahmad Sidiq. Demi menyambung hidupnya pria kelahiran Lamongan ini merantau ke Sumatra. Pada Tahun 2000 ia diminta pulang oleh adiknya yang sukses membuka toko bangunan. Atas bantuan adiknya itu pula, Ahmad membuka toko serupa di Candi, Sidoarjo. "Bantuan itu berupa barang-barang untuk mengisi toko. Dikembalikan dengan cara mencicil, " kata Miftachul Anam, anak dari Ahmad Sidiq. Kini, utang Ahmad sudah lunas dan tokonya pun sudah berjalan lancar. Bahkan sudah berkembang biak menjadi enam. Seluruhnya bernama Sari Bumi Raya dan yang mengelola adalah anak-anaknya.

Toko Sari Bumi dirintis oleh Mumtahanah bib Kayat, seorang yang berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Pada Awalnya, ia pembuat kapur putih (salah satu bahan bangunan) di Gresik. Setiap harinya, ia menggenjot sepedanya ke Surabaya untuk memasarkan kapur putihnya. Kerja kerasnya tidak percuma. Dagangannya laris manis. Dari sinilah ia mencium peluang usaha berjualan bahan bangunan. Tekadnya kemudian betul-betul bulat. Sekitar pada tahun 80-an ia membuka toko bangunan yang diberi nama "Sari Bumi" dengan menyewa tempat di daerah Rungkut. "Mdal awalnya cuma 150 ribu rupiah. Yang dijual juga masih terbatas misalnya bata, paku, pasir," kata Anas , putra sulung Mumtahanah.

Penciuman Mumtahanah terbukti tajam. Tokonya laris. Ia kewalahan melayani. Tak sanggup ia bekerja sendiri. Untuk membantunya, ia lalu memanggil Ahmad said dan karim. Mereka berdua adalah keponakannya. Dalam perjalanannya, mereka berdua tak hanya bekerja, tapi juga belajar. Mumtahanah sendiri membuka pintu lebar-lebar. Tidak hanya membimbing, ia juga membantu modal kelak saat keduanya membuka toko sendiri. Bantuannya bukan berupa uang, melainkan barang dagangan seperti cat, kayu, dan sebagainya. Toko milik said dan Karim terus berkembang. Karim saja misalnya, kini sudah memiliki 6 toko. Mumtahanah sendiri sudah sekarang punya 13 toko. Kuncinya kata Anas, ialah saling membantu. Tak hanya dalam bentuk barang, bantuan itu bahkan berupa toko itu sendiri. Tokonya dipinjamkan kepada saudaranya untuk dikelola dalam waktu tertentu. Keuntungan sepenuhnya diberikan kepada yang minjam. Dari keuntungan itulah ia punya moda untuk membuka toko sendiri. Saat mengembalikan toko, barang yang dikembalikan harus seperti sedia kala.

Untuk memperkuat sikap saling membantu, mereka mengadakan pertemuan sebulan dua kali. Bentuknya berupa arisan dan pengajian. Ini juga bisa memperdalam ilmu agama. Salah satu wujud dari keimanan itu yakni dengan berinfaq. Oleh sebab itu, setiap anggota diserukan untuk berinfak yang besarnya tak ditentukan. Dari infak itu diperoleh sekitar 40 jutaan dalam tiap bulannya. Dana tersebut disalurkan kepada lembaga sosial dan pendidikan daerah setempat. Pada beberapa tahun ini dana tersebut sudah dikelola sendiri oleh yayasan. Bahkan bisa mendirikan sebuah sekolah. 

Dalam rangka memperkuat jaringan bisnis, kelompok Sari bumi kemudian membentuk holding, tiga tahun lalu. Selain itu juga menjaga perputaran uang tidak keluar dari kelompok sendiri. Sebanyak 20 % keuntungan holding ini masuk yayasan. Kini asetnya holding sudah mencapai 3,5 Milyar rupiah. Bentuk pengembangan Sari Bumi lainnya yakni dengan kemitraan. Kini selain keluarga boleh buka toko menggunakan nama Sari Bumi. Tentu ada persyaratan yang meski dipenuhi. Pihak mitra meski setor uang Rp 500 juta. Dari jumlah tersebut, Rp 50 juta untuk membayar royalti selama 7 tahun, sedangkan sisanya untuk modal. Dengan modal itu, seluruh isi toko akan dikirim dan dibantu juga manajemen pengelolaanya. Syarat lain, tidak diperbolehkan menggunakan uang dari bank riba. Bagi anas, riba dapat menghilangkan keberkahan dan disisi lain menimbulkan dosa. Semoga kisah sukses tersebut memberikan inspirasi para usahawan lainnya. Baca juga peluang usaha rumahan.



This post first appeared on BERBAGI INFO PELUANG USAHA, please read the originial post: here

Share the post

Suksesnya Toko Bangunan Dengan 120 Jaringan

×

Subscribe to Berbagi Info Peluang Usaha

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×