Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Saat Kaum Murtad Merajalela…Bagian 2

Dengan demikian, tampaklah Mereka yang murtad dan mengaku nabi palsu serta membangkang membayar zakat. Interpretasi mereka ini jelas salah dan tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu Abu Bakar Al-Shiddiq mempersiapkan pasukan untuk memeranginya.
Jalannya peperangan Riddah
Abu Bakar Al-Shidiq tidak mau terburu-buru memerangi kaum murtad sampai pasukan Usamah kembali dari medan perang. Hal tersebut karena sebagian besar kekuatan Kaum Muslim berada dalam pasukan itu. Sayangnya, kaum murtad tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan berusaha memanfaatkannya. Hal yang kerap terulang dalam sejarah kaum Muslim ketika musuh-musuh Islam memanfaatkan setiap kesempatan yanga ada.
Kesempatan itu terwujud ketika Thulaihah Al-Asadi memprovokasi para pengikutnya dari kabilah Abs Dzubyan, Ghathfan, Fazarah, dan Thai untuk menyerang Madinah. Gerombolan tersebut kemudian bergerak sampai pekuburan Madinah dan memecah diri menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di Dzil Qishah, daerah paling dekat dengan Madinah, hanya berjarak 35 km dari arah Najd. Sedangkan, kelompok kedua di Abraq Rabadzah berjarak sekitar 120 km dari Madinah.
Gerombolan tersebut mengirimkan utusannya ke Madinah dan meminta agar Abu Bakar membiarkan mereka melaksanakan shalat, tetapi tidak membayar zakat. Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, andai mereka menolak memberikan tali kekang unta sebagaimana yang mereka lakukan pada masa Rasulullah, maka akan kuperangi mereka.” Utusan itu kembali ke kelompoknya dan mereka pun mengetahui kelemahan Madinah yang sedang terbuka tanpa ada yang dapat menghalanginya.
Abu Bakar menyadari hal tersebut, kemudian dia mengumpulkan orang-orang, lalu berkata, “Negeri ini sedang berada dalam kegelapan. Utusan mereka telah melihat sedikitmya jumlah kalian dan kalian tidak akan mengetahui apakah mereka menyerang pada malam atau siang hari. Kelompok mereka yang paling dekat sudah ada di depan pintu. Mereka berharap kita mau menerima kedatangan mereka. Namun, kita sudah menolak mereka dan menolak tuntutan mereka. Maka bersiaplah untuk berperang.”
Setelah itu, Abu Bakar memanggil Ali, Zubair, Thalhah, Abdullah ibn Mas’ud dan yang lainnya untuk memposisikan mereka di gerbang Madinah. Sebagai tindakan preventif dari penyerangan pihak musuh, Abu Bakar memerintahkan penduduk Madinah untuk terus-menerus mengunjungi masjid saat masa perang. Dan pada malam ketiga, musuh mulai menyergap Madinah. Sebagian dari mereka bersembunyi di Dzil Hissi.
Ketika sampai di gerbang Madinah, Ali dan yang lainnya berhasil memukul mundur mereka. Kabar ini sampai kepada Abu Bakar sehingga yang berjaga di masjid tidak terlalu kesulitan menghadapinya. Kemudian, Abu Bakar mengikuti pasukan tersebut hingga Dzil Hissi. Di tempat itu, kaum murtad keluar dengan kantong kulit berbentuk balon. Benda tersebut terikat tali dan digelindingkan dengan kaki mereka sehingga menakuti unta kaum Muslim. Akhirnya pasukan kaum muslimin terpaksa kembali ke Madinah.
Kemudian Abu Bakar mengumpulkan kaum Muslim dan memerintahkan untuk menyusuri jejak kaki pihak musuh. Ketika fajar tiba, pasukan kaum Muslim berada dalam posisi koordinat yang sama dengan pasukan kaum murtad tanpa sedikit pun diketahui mereka. Pasukan kaum Muslim memerangi mereka hingga mereka lari tunggang langgang. Kaum Muslim mendapatkan unta kaum murtad sebagai rampasan perang.
Selanjutnya, Abu Bakar mengikuti pasukan kaum Muslim sampai ke Dzil Qishah. Di sana, dia mengetahui kabar kemenangan pasukannya. Sebelum kembali ke Madinah dia menempatkan Al-Nu’man ibn Muqarrin bersama sejumlah orang Muslim lainnya di Dzil Qishah.
Kemenangan kaum Muslim dalam peperangan kali ini punya pengaruh baik. Penduduk Madinah dengan Abu Bakar sebagai pemimpinnya dan jumlah Muslim yang tidak seberapa dapat berdiri tegak di hadapan gerombolan berjumlah besar yang terdiri atas suku Abs, Dzubyan, Ghathfan, Fazarah, dan Thai. Pertempuran saat itu telah membuktikan kepada orang Arab bahwa kaum Muslim mampu menghalau semua musuh bahkan dalam kondisi tidak adanya pasukan Usamah.
Setelah pertempuran berakhir banyak kabilah yang kembali kepada Islam. Banyak pula utusan kabilah yang membayarkan zakat kepada khalifah Rasulullah tersebut. Di antara mereka yang pertama menunaikan kewajiban zakat adalah Shafwan ibn Shafwan, Zabarqan ibn Badr dari Bani Tamim, dan Adi ibn Hathim Al-Thai yang merupakan salah seorang ketua Bani Thai.
Pada Rajab 11 H (September 632 M) pasukan Usamah kembali dengan kemenangan dan membawa rampasan perang. Setelah pasukan Usamah beristirahat selama dua minggu, Abu Bakar memobilisasi mereka semua untuk memerangi kaum murtad. Dia ke Dzil Qishah dan kaum Muslim dari berbagai penjuru berkumpul di sekelilingnya. Abu Bakar ingin menghancurkan kaum murtad dengan telak. Oleh karena itu dia membagi sebelas panji dan menunjuk panglima untuk setiap panji serta arah yang harus dituju. Abu Bakar memperhatikan rasio kekuatan dan kepemimpinan pasukan dengan kabilah yang menjadi target serangan.
Sebelum semua pasukan tersebut diberangkatkan untuk melakukan penyerangan, Abu Bakar sudah mengirim surat kepada kaum murtad sebagai peringatan. Dalam isi suratnya, Abu Bakar mengajak mereka untuk kembali kepada Islam dan jalan kebenaran juga menerangkan kesalahan dan kesesatan mereka. Sebagian mereka merespons dengan positif, sedangkan yang lain tetap dalam kesesatannya. Maka, pasukan kaum Muslim memerangi mereka dengan sengit selama setahun penuh dan kemenangan berpihak kepada kaum Muslim.
Sepanjang peperangan itu, Abu Bakar mengawasi setiap pergerakan pasukan dari berbagai medan perang juga menerima laporan dari para panglima serta membalasnya. Dia pun mengarahkan sebagaian pasukannya untuk membantu pasukan lain, jika memang hal tersebut dibutuhkan.
Ada beberapa faktor kemenangan kaum Muslim dalam Perang Riddah, antara lain : Kekuatan akidah Islam dalam diri para penganutnya. Mereka memegang kukuh keislaman dan berjihad karena Allah. Keteguhan tekad Abu Bakar r.a dan perhatiannya yang besar serta manajemen krisis yang bagus. Militansi para pejuang Muslim ditambah dengan strategi bantuan, yaitu berperang di berbagai lini dalam satu waktu dengan ketersediaan bantuan dari berbagai arena peperangan. Bobroknya fondasi yang dibangun oleh kaum murtad membuat sebagian mereka kembali memeluk Islam. Mereka tidak memiliki tujuan yang pantas untuk dibela.
Peperangan ini menyajikan hikmah yang bermanfaat. Kalaupun ada yang murtad di antara umat, Allah akan memudahkan untuk mengembalikan mereka kepada jalan-Nya asalkan pemimpinnya tetap istiqamah. Namun, hal sebaliknya terjadi bila pemimpinnya kafir dan murtad.(jk/rol)


This post first appeared on Misteri Dunia Unik Aneh, please read the originial post: here

Share the post

Saat Kaum Murtad Merajalela…Bagian 2

×

Subscribe to Misteri Dunia Unik Aneh

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×