Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Kekayaan

Tags: kekayaan

Pendahuluan

Sebagai fenomena dunia, pilihan manusia yang ingin menggapai kesenangan dan kebahagiaan melalui kekayaan, tentu sebuah pilihan yang logis dan bisa dimengerti. Dengan insting atau nalurinya manusia berusaha keras untuk menggapainya, karena kaya itu adalah sesuatu yang menyenangkan, sebaliknya kemiskinan harus dijauhi.
Dengan memiliki harta kekayaan, seseorang akan terpandang mulia dan terhormat, bebas bergerak kemana saja, melakukan lebih banyak hal apa saja tanpa hambatan atau kendala apapun.
Dan soal jalur mana yang akan ditempuh untuk menjadi kaya, pilihan yang tersedia sungguh amat melimpah. Namun, tidak sedikit manusia yang hidupnya malah hanya mengejar harta kekayaan(materi), yang akhirnya terjebak dalam paradigma uang adalah segalanya. Sehingga untuk menjadi kaya, mereka melakukan hal-hal yang tidak bermoral yang merupakan buah dari akar kejahatan (keserakahan, ketidakadilan,kesombongan,kemunafikan, kekuatiran, kebencian dan kebodohan batin).
Saat ini banyak orang berlomba-lomba mengejar kekuasaan dan kekayaan. Hidup menjadi arena perburuan, yang memiliki kekuasaan atau kekayaan merasa tak pernah puas, mereka ingin lebih berkuasa dan lebih kaya lagi, dengan mengorbankan apa saja. Hal seperti ini menyebabkan budak kekuasaan dan kekayaan mencengkram selama hidupnya. Dalam persaingan untuk mendapatkan harta atau kekayaan yang semakin ketat pada dewasa ini, manusia cendrung semakin serakah dan menjadi makhluk yang hanya mementingkan dirinya sendiri (egois).

Pengertian

Pengertian kaya adalah mempunyai banyak harta (uang dsb.),sedangkan kekayaan adalah perihal (yang bersifat,berciri)kaya (KBBI)..Dengan demikian bahwa kekayaan itu dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya, baik berupa barang atau benda yang dapat diambil manfaatnya secara konkrit dalam upaya pemenuhan kebutuhannya.

Bentuk kekayaan dapat dibagi dalam dua macam, yaitu :
1. Kekayaan Materi/Finansial. Adalah kekayaan yang diukur tingkat kemampuan keuangan, harta benda.
2. Kekayaan Moril. Adalah kekayaan hati dan pikiran, yang diukur merupakan hal-hal yang bersifat non materi.
Porsi kedua jenis kekayaan itu, masing-masing orang berbeda, tergantung dari masing-masing untuk menyeimbangkannya. Yang pasti bahwa

KEKAYAAN MATERI / FINANSIAL + KEKAYAAN MORIL = KEBAHAGIAAN..

Kebahagiaan adalah kekayaan yang sesungguhnya atau “KAYA YANG BENAR’
Sesungguhnya ukuran atau batasan “KAYA dan MISKIN” itu bersifat psikologis, bersifat kejiwaan dan berlaku relative di dalam masing-masing manusia


Apa yang salah dengan kekayaan ?

Dalam kehidupan sosial yang terus berkembang, manusia sejak dini sudah dididik untuk belajar dengan rajin, agar memperoleh pekerjaan yang baik dan menghasilkan banyak uang atau gaji yang besar. Arti kekayaan semakin lama semakin berkembang seiring dengan perjalanan waktu, usia, pengertian, pengetahuan, wawasan dan kebajikan dalam diri manusia. Akhirnya muncul beragam mitos dalam masyarakat yang berkaitan dengan uang ataupun kekayaan, diantaranya :

- Uang/kekayaan tidak pernah cukup, maka harus terus dikejar dan diraih.
- Dengan uang/kekayaan orang dapat memenuhi semua keinginannya.
- Untuk menjadi kaya, orang harus berpendidikan tinggi
- Dengan uang/kekayaan, dapat menabung untuk hari tua.
- Kekayaan dapat membuat seseorang merasa bahagia.
- Materi/uang memiliki sesuatu nilai yang paling tinggi, dan merupakan
satu-satunya sumber kebahagiaan dan kemuliaan.
- Kekayaan tidak pernah akan berakhir, maka harus dikejar terus
- Raihlah kekayaan, jauhi kemiskinan.

Dari kaca mata pandang ekonomi, uang adalah hasil dari perkembangan peradaban manusia yang menciptakannya sebagai alat tukar dan standar penilaian yang efektif dan efisien. Fungsi uang pun kemudian berkembang tidak hanya sebagai alat tukar, namun sudah menjadi komoditas yang memperoleh posisi yang begitu tinggi dan menjadi pusat perhatian dalam kehidupan umat manusia. Dunia pun akhirnya berputar dan bergerak karena uang. Uang sudah menjadi sangat penting, , sehingga tanpa uang menjadi sesuatu hal yang lebih menakutkan dibanding dengan kematian. Budaya materialistis melanda kehidupan ini, materi menjadi ukuran kehidupan. Dengan uang manusia mengira dapat memiliki dan menikmati segala hal yang ada di dunia, dapat menghindari diri dari ketidakberdayaan, ketidakamanan. Cinta uang menjadikan orang serakah dan bertindak tidak adil. Secara kasat mata dapat dilihat bahwa kebanyakan orang yang tenggelam dalam dosa, korupsi, dan kemaksiatan adalah orang yang terlena dengan kekayaan harta, yang lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat/rohani. Artinya orang-orang kaya lebih suka memikirkan kekayaannya dan tenggelam dalam kemewahan, kesombongan, memamerkan kekayaan, kenikmatan duniawi sesaat dan menganggap rendah terhadap orang miskin.
Perburuan kekayaan sebagai tujuan tunggal dan utama serta untuk memenuhi kenikmatan-kenikmatan duniawi adalah sesungguhnya pemberhalaan nafsu duniawi manusia.
Walaupun demikian bukan berarti manusia tidak berhak untuk menjadi kaya, namun harus ada keseimbangan ideal antara kekayaan rohani dan kekayaan duniawi. Namun manusia lebih mudah berpihak pada kekayaan duniawi dengan perlahan tapi pasti mengeliminir kekayaan rohani.. Begitu merasakan nikmatnya punya uang, manusia mulai mempertahankannya, terus mengejarnya dan selalu merasa tidak pernah berkecukupan. Sekali kekayaan dikejar sebagai objek keinginan belaka, maka bathin telah menjadi serakah dan kekayaan tidak lagi menjadi berkah.


Hati nurani kita telah menjadi tumpul karena sudah tercemar dan
terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan, kenikmatan dan kenyamanan yang
ditawarkan dunia.
Ungkapan ini memandang bahwa kekayaan materi adalah perintang bagi
kekayaan rohani.
Dari beragam pemahaman atas kekayaan tersebut diatas,maka manusia dapat dibagi ke dalam 4 kelompok/golongan, yakni :
1. Orang kaya yang kaya
2. Orang kaya yang miskin
3. Orang miskin yang kaya
4. Orang miskin yang miskin.


Doktrin teologi kemakmuran/sukses.

Doktrin yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses adalah tanda-tanda eksternal bahwa yang bersangkutan dikasihi Allah. Kasih Allah ini diperoleh sebagai suatu takdir atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat orang tersebut.

Doktrin teologi kemakmuran menyampaikan slogan-slogan sebagai berikut :

-Anda bisa memiliki segala sesuatu yang anda inginkan
- Anda miskin karena Anda belum beriman kepada Allah
- Menjadi sakit dan miskin adalah sebuah dosa.
- Anda belum sembuh dari sakit karena anda belum memiliki iman yang
cukup
- Kekayaan secara materi merupakan wujud berkah Allah.

Slogan-slogan tersebut kedengaran menarik bagi orang-orang yang rakus akan kekayaan, dan senjata pembenar bagi praktek-praktek kotor dan serakah untuk memburu kekayaan/kemakmuran. Namun sadar atau tidak slogan tersebut merupakan upaya manipulasi rohani untuk tujuan keuntungan materi dan kenyamanan duniawi. Sebagian umat memang menjadi pemuja setia doktrin tersebut, dengan nafsu keserakahan mengejar kekayaan. Yang lebih tragis lagi bahwa kekayaan yang diperoleh dari hasil rampokan, korupsi, manipulasi dan kejahatan lainnya diklaim sebagai berkah Allah.

Namun bertolak belakang dari teologi kemakmuran ini, ada sebuah ungkapan yang sangat fenomenal yang dikutip dari salah satu kitab suci mengatakan:

“LEBIH MUDAH SEEKOR UNTA MASUK MELALUI LUBANG JARUM DARIPADA SEORANG KAYA MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH”.

Dua kutub paradoks ini perlu mendapat perenungan mendalam bagi kita umat manusia

Ungkapan-ungkapan bijak tentang kekayaan :

* Sekali kekayaan dikejar sebagai objek keinginan belaka, maka batin telah
menjadi serakah dan kekayaan tidak lagi menjadi berkah.

* Sesungguhnya kekayaan tidak lebih bernilai daripada kemiskinan.

* Batin yang lepas bebas adalah batin yang kaya, ia membuat kita mampu
berjuang dengan damai ditengah dunia yang penuh ketamakan dan
keserakahan.

* Keinginan untuk kaya menimbulkan rasa takut menjadi miskin.

* Tidak takut menjadi miskin, orang sudah menjadi kaya.

* Kebanyakan orang serakah ingin memiliki lebih daripada yang ia
butuhkan.

* Bathin yang serakah penuh ketakutan dan konflik.

* Bathin yang serakah akan mengejar kekayaan sebagai nilai paling utama
kehidupan.

* Bathin yang serakah tidak akan terpuaskan baik oleh harta kekayaan
duniawi maupun rohani.

* Begitu merasakan nikmatnya kekayaan, manusia mulai
mempertahankannya, terus mengejarnya, selalu merasa tidak pernah
berkecukupan.

*Orang yang pedoman hidupnya hanya mengejar kekayaan, dia akan rela
mengorbankan segalanya demi mendapatkan kekayaan itu.

* Ketika keinginan kaya sedemikian sangat mendikte, maka kekayaan dan
keinginan untuk kaya berhenti menjadi kawan, Ia akan berubah menjadi
monster yang sangat menakutkan, penyakit, perceraian, permusuhan
stress, bunuh diri menjadi menu kehidupan kemudian.

* Semakin banyak kekayaan yang ditumpuk semakin mengerikan
wajah kehidupan.

Beberapa tips melepas jeratan orientasi hidup yang hanya perpusat pada kekayaan duniawi:

- Memahami hakekat hidup sejati, yang mengandung dimensi sebagai
mahkluk individu, sosial, kesusilaan dan keberagamaan

- Senantiasa bersyukur terhadap apa yang sudah diperoleh, sebagai
manifestasi dari suara hati kekayaan spiritual. Karena kekayaan
spiritual tidak akan pernah dikendalikan dan dikuasai oleh materi,
jabatan, ataupun kedudukan.

-Patuhi dan berdamai dengan ketentuan Tuhan, yaitu dengan iman dan taqwa

Penutup

* Jangan pernah berpikir bahwa uang/kekayaan merupakan satu-satunya
cara untuk mencapai tujuan hidup anda

* Jika anda masih merasa belum mampu mendapatkan uang/kekayaan
dalam jumlah yang memadai, bukan berarti kiamat.

* Berapapun kekayaan anda sebenarnya tetap cukup sepanjang anda
mampu mengadakan penyesuaian.
* Perasaan berkecukupan itulah kekayaan termulia yang sangat
membahagiakan.

* Karena hidup dan alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja,
yang memberikan beragam pilihan yang mengagumkan, maka bekerja dan
lakukanlah tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya, namun
terimalah hasilnya dengan rasa cukup dan bersyukur.

* Begitu merasa cukup dan bersyukur menjadi sebuah kebiasaan, manusia
seperti terhenyak nyaman dan aman masuk keladang pembantaian
buasnya kehidupan.

* Kekayaan harus kita peroleh dengan cara-cara yang jujur dan terutama
tidak melanggar hati nurani dan merugikan orang lain.

* Hidup yang ideal adalah kaya di luar sekaligus di dalam, yaitu kombinasi
antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di sisi lain. Rasa cukup
membawa manusia perlahan-lahan mengurangi ketergantungan akan
penilaian orang lain.

* Kekayaan itu sebenarnya bersifat netral, namun baik dan tidaknya
sebuah kekayaan sangat tergantung pada bagaimana cara mendapatkan
dan menggunakannya.


27 November 2008



This post first appeared on Morlan Augus Siahaan, please read the originial post: here

Share the post

Kekayaan

×

Subscribe to Morlan Augus Siahaan

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×