Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Dalil Tata Cara Shalat ‘Id



Sifat Shalat ‘Id

Shalat Id itu dua rakaat. Pada rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh takbir berturut-turut, dan di antaranya ada takbiratul ihram. Kemudian membaca al-fatihah, lalu surat qaf atau surat sabbihisma rabbikal a'la (surat al-a'la). Namun, jika membaca yang lainnya juga boleh saja. Setelah itu bertakbir untuk ruku', lalu bertakbir seraya beri’tidal, dan kemudian bertakbir lagi untuk sujud, diikuti duduk di antara dua sujud. Kemudian bertakbir untuk sujud, diikuti bertakbir untuk berdiri. Setelah itu bertakbir lima kali takbir berturut-turut, kemudian membaca al-fatihah, diikuti dengan bacaan surat iqtarabatis sa’ah atau surat al-ghasyiyah. Namun, jika membaca surat selain keduanya, hal itu boleh-boleh saja. Setelah itu melakukan berbagai gerakan shalat lainnya seperti biasa, sama seperti dalam rakaat pertama. Dua rakaat ini ini dilaksanakan secara berjamaah, di mana imam menjahrkan bacaan pada kedua rakaatnya.

Kami katakan tujuh takbir berturut-turut dan lima takbir berturut-turut, untuk bisa menjelaskan bahwa runutan takbir-takbir tersebut tidak dipisahkan antara satu dengan yang lain oleh sesuatupun, dan tidak juga dengan diam sejenak yang diisi dengan dzikir tertentu, sebagaimana hal itu dikatakan oleh sejumlah ahli fikih. Kami katakan juga tujuh takbir berturut-turut, di antaranya adalah takbiratul ihram, untuk bisa menjelaskan bahwa takbiratul ihram termasuk dalam ketujuh takbir tersebut, dan bukan sesuatu di luar tujuh takbir ini, sebagaimana dikatakan pula oleh sejumlah ahli fikih.

Takbir-takbir tersebut hukumnya sunat, sehingga orang yang meninggalkannya tidak akan berdosa dan shalatnya pun tidak batal. Dari Umar ra. ia berkata:

“Shalat Idul Adha itu dua rakaat, shalat Jumat itu dua rakaat, shalat Idul Fitri itu dua rakaat, shalat musafir itu dua rakaat, sempurna tanpa pengurangan yang berasal dari lisan Nabi kalian Saw. Dan sungguh merugi orang-orang yang berdusta mengada-ada.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Majah dan al-Baihaqi)

Dari Amar bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya:

“Bahwa Nabi Saw. bertakbir pada satu Hari Raya dua belas takbir, tujuh takbir dalam rakaat pertama, dan lima takbir pada rakaat terakhir. Dan beliau Saw. tidak shalat sebelum dan sesudahnya.” (HR. Ahmad, Daruquthni dan al-Baihaqi)

Abu Dawud meriwayatkan hadits ini juga, di dalamnya disebutkan takbir dalam shalat idul Fitri: tujuh takbir dalam rakaat pertama dan lima takbir dalam rakaat terakhir.

Dari Umar bin Khattab ra. bahwa dia bertanya kepada Abu Waqid al-Laitsi:

“Apa yang suka dibaca oleh Rasulullah Saw. dalam shalat Idul Adha dan Idul Fitri?” Maka ia menjawab: “Beliau Saw. membaca pada keduanya qaf wal qur'anil majid (surat qaf) dan iqtarabatis sa’atu wan-syaqqal qamaru (surat al-qamar).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Malik)

Dari Samurrah bin Jundub ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. suka membaca dalam dua hari raya sabbihisma rabbikal a'la (surat al-a’la) dan hal ataaka hadiitsul ghasyiyah (surat al-ghasyiyah).” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Dari Nu’man bin Basyir ra.:

“Bahwa Nabi Saw. suka membaca dalam shalat dua hari raya -dan satu kali dia berkata dalam shalat hari raya- sabbihisma rabbikal a'la dan hal ataaka haditsul ghasyiyah. Dan jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat maka beliau Saw. membaca keduanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Ketika imam telah selesai dari shalat, maka ia berdiri di depan jamaah shalat. Dianjurkan bagi imam untuk memegang tongkat atau busur, kemudian berkhutbah dengan dua khutbah seperti dalam shalat jumat, yang mana dalam kedua khutbahnya sang imam mengingatkan dan memberi nasihat kepada manusia, mendorong mereka untuk bersedekah pada hari raya Idul Fitri, menjelaskan kepada mereka hukum memotong kurban dan mendorong mereka melakukannya pada hari raya Idul Adha. Tidak menjadi masalah apabila dalam khutbahnya itu dia memperbanyak takbirnya. Khutbah shalat dua hari raya ini hukumnya sunat, sehingga tidak wajib bagi para jamaah shalat untuk duduk dan mendengarkannya, jadi hanya disunahkan saja. Dari Abdullah bin Umar ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. shalat pada hari raya Idul Adha dan Idul Fitri, kemudian beliau Saw. berkhutbah setelah shalat.” (HR. Bukhari)

Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata:

“Bahwa Nabi Saw. keluar pada hari raya Idul Fitri, dan beliau Saw. memulai dengan shalat sebelum berkhutbah.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas ra.:

“Aku menyaksikan hari raya bersama Rasulullah Saw., Abu Bakar, Umar dan Utsman ra., dan mereka seluruhnya melaksanakan shalat sebelum khutbah.” (Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata:

“Adalah Nabi Saw. berkhutbah pada hari Jumat dengan dua khutbah, dan beliau Saw. duduk di antara keduanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

“Bahwa Nabi Saw. diserahi busur pada hari raya, dan berkhutbah sambil membawanya.” (HR. Abu Dawud)

Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, ia berkata:

“Termasuk sunnah, seorang imam bertakbir di atas mimbar pada dua hari raya sembilan kali sebelum khutbah dan tujuh kali setelahnya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazaq)

Dari al-Barra bin Azib ra. ia berkata:

“Kami duduk di tempat shalat pada hari raya Idul Adha, lalu Rasulullah Saw. datang kepada kami dan mengucap salam kepada orang-orang. Kemudian beliau Saw. berkata: “Sesungguhnya ritual awal yang dilakukan pada hari raya kalian ini adalah shalat.” Ia (perawi) berkata: lalu beliau Saw. maju dan shalat dua rakaat, setelah itu bersalam. Lalu beliau Saw. menghadapkan wajah kepada orang-orang, dan beliau Saw. diberi sebuah busur atau sebuah tongkat. Beliau Saw. bertopang padanya. Kemudian beliau Saw. memuji Allah dan menyampaikan sanjungan kepada-Nya, menyampaikan perintah dan larangan kepada mereka, dan beliau bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian yang terburu-buru menyembelih (sebelum shalat) maka itu menjadi kambing yang disembelih yang diberikannya untuk memberi makan keluarganya, karena sesungguhnya ritual menyembelih kurban itu dilaksanakan setelah shalat...” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata:

“Rasulullah Saw. keluar, lalu beliau Saw. shalat di samping rumah Katsir bin Shalt sebanyak dua rakaat, kemudian beliau Saw. berkhutbah, dan dia (perawi) tidak menyebutkan ada kumandang adzan dan iqamat.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai)

Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata:

”Aku menyaksikan shalat pada hari raya bersama Rasulullah Saw. Beliau Saw. memulai dengan shalat sebelum berkhutbah dengan tanpa adzan ataupun iqamat. Kemudian beliau Saw. berdiri bertopang kepada Bilal. Beliau Saw. memerintahkan kaum Muslim untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong mereka untuk mentaatinya. Beliau Saw. memberi nasihat pada mereka dan mengingatkan mereka. Setelah itu beliau Saw. berlalu dan mendatangi kaum wanita. Beliau Saw. menasihati mereka dan mengingatkan mereka, lalu beliau Saw. bersabda: “Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya kebanyakan dari kalian menjadi suluh(neraka) jahanam.” Seorang perempuan berdiri dari tengah kerumunan kaum wanita, dua pipinya sedikit kehitaman, seraya berkata: “Mengapa seperti itu wahai Rasulullah?” Beliau Saw. bersabda: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan keluarga.” Dia berkata: maka kaum wanita itu menyedekahkan perhiasan-perhiasan mereka berupa anting dan cincin dengan melemparkannya pada kain yang dibawa Bilal.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai)

Dari Abdullah bin Saib ra., ia berkata:

“Aku menyaksikan Rasulullah Saw. pada hari raya. Beliau Saw. melakukan shalat dan berkata: “Kita telah selesai melaksanakan shalat, maka barangsiapa yang mau dia boleh duduk mendengarkan khutbah, dan siapa yang hendak pergi maka boleh baginya untuk pergi.” (HR. Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, Abu Dawud dan an-Nasai)

Adalah Rasulullah Saw., ketika beliau Saw. dari menyampaikan khutbah pada kaum lelaki maka beliau Saw. pergi ke tempat shalat kaum wanita. Beliau Saw. kemudian menasihati mereka, mengingatkan mereka dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Dengan kata lain, beliau Saw. menyampaikan khutbah pada kaum lelaki, kemudian beliau Saw. pergi berkhutbah pada kaum wanita. Hal ini jelas dikatakan dalam hadits Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai dari jalur Jabir bin Abdullah yang sebelumnya telah kami sebutkan:

“Kemudian beliau Saw. berlalu dan mendatangi kaum wanita. Beliau Saw. menasihati mereka dan mengingatkan mereka, lalu beliau Saw. bersabda: “Bersedekahlah kalian.”

Hal ini jelas dikatakan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dari jalur Ibnu Abbas ra.:

“Aku keluar bersama Rasulullah Saw. pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, lalu beliau Saw. shalat dan kemudian beliau berkhutbah. Setelah itu beliau Saw. mendatangi kaum wanita, memberikan nasihat kepada mereka, mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah.”

Begitu pula hal ini dilakukan oleh para Khalifah setelahnya.

Ketika kondisi yang ada di zaman dahulu tidak memungkinkan seorang imam bisa menyampaikan suaranya kepada kaum wanita yang duduk di bagian belakang, yakni di belakang kumpulan jamaah laki-laki yang berjumlah besar yang hadir di mushalla (tempat shalat) yang datang dari segenap penjuru, karena besarnya dorongan untuk melaksanakan shalat dua hari raya, maka (saat itu, yang dilakukan oleh) imam (adalah) turun menemui kaum wanita, mendekati kerumunan mereka dan berkhutbah di hadapan mereka. Seandainya suara imam sampai ke telinga kaum wanita, niscaya sang imam tidak perlu turun mendekati mereka. Makna seperti ini telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa dia berkata:

“Aku menyaksikan Rasulullah Saw. shalat sebelum menyampaikan khutbah. Dia berkata: kemudian beliau Saw. berkhutbah, lalu beliau Saw. melihat bahwa beliau tidak bisa memperdengarkan suaranya kepada kaum wanita. Maka beliau Saw. mendatangi mereka, mengingatkan mereka, menasihati mereka dan memerintahkan mereka bersedekah. Bilal menyertainya dengan membawa kain, lalu kaum wanita melemparkan cincin, anting dan perhiasan lainnya.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Karena itulah maka saya katakan, dengan adanya pengeras suara sekarang ini, maka cukup bagi seorang imam untuk mengarahkan sebagian ucapannya kepada kaum wanita tanpa perlu turun menemui mereka. Dengan kata lain, imam mengkhususkan sebagian dari khutbahnya untuk kaum wanita.

Hukum asal shalat dua hari raya itu dilaksanakan di mushalla (tempat shalat), yakni suatu tempat di luar kota, dan bukan di dalam masjid-masjidnya. Dari Abu Said al-Khudri ra., ia berkata:

“Rasulullah Saw. keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri ke mushalla, lalu beliau Saw. shalat mengimami mereka, kemudian pergi.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Dari Bakar bin Mubasyir al-Anshari ra. ia berkata:

“Aku berangkat bersama para sahabat Rasulullah Saw. ke mushalla pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha, dan kami berjalan di tengah lembah Bath-han hingga kami tiba di mushalla. Lalu kami shalat bersama Rasulullah saw. Setelah itu kami pulang melalui lembah Bath-han ke rumah-rumah kami.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baghawi)

Sebelumnya beberapa hadits yang menyebutkan keluarnya Rasulullah Saw. menuju mushalla telah kami ungkapkan dalam pembahasan kami ini, sehingga ada baiknya Anda ulang kembali.

Namun, jika ada penghalang sehingga tidak memungkinkan dilaksanakannya shalat di mushalla, seperti hujan atau kondisi sangat panas yang menyulitkan bagi kaum Muslim yang shalat di sana, maka tidak menjadi masalah apabila shalat tersebut dilaksanakan di masjid. Dari Abu Yahya Ubaidillah at-Taimi dari Abu Hurairah:

“Bahwa pada suatu hari raya mereka ditimpa hujan, maka Nabi Saw. shalat mengimami shalat Id mereka di masjid.” (HR. al-Hakim dan dishahihkan dan disepakati oleh ad-Dzahabi)

Disunahkan agar dalam shalat dua hari raya ini imam menetapkan sutrah, di mana ia shalat ke arahnya. Rasulullah Saw. senantiasa menempatkan sesuatu sebagai sutrah untuk shalat dua hari raya ini. Dari Ibnu Umar ra.:

“Bahwa Nabi Saw. menancapkan tombak pendek di hadapannya pada hari raya Idul Fitri dan hari raya kurban, kemudian beliau Saw. shalat.” (HR. Bukhari)

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits ini dan menambahkan: “dan beliau Saw. berkhutbah setelah shalat. ”

Dalam riwayat yang kedua dari Ibnu Umar ra., bahwa dia berkata:

“Adalah Nabi Saw., beliau berangkat ke mushalla dan sebuah tombak kecil yang ada di depannya dibawa dan ditancapkan di mushalla di depan beliau Saw., lalu beliau Saw. shalat ke arahnya.” (HR. Bukhari)

Hal ini telah kami bahas dalam tema menempatkan sutrah dalam pembahasan “sutrahbagi orang shalat” pada bab “kiblat dan sutrah.”

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)



This post first appeared on NEOPLUCK, please read the originial post: here

Share the post

Dalil Tata Cara Shalat ‘Id

×

Subscribe to Neopluck

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×