Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Penyakit Jantung, Tertinggi Penyebab Kematian Jemaah Haji Indonesia

Tags:
Penyakit Jantung, Tertinggi Penyebab Kematian Jemaah Haji Indonesia


Ibadah haji tahun 2023 berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum mereda. Meski demikian, jemaah haji Indonesia tetap bersemangat untuk menunaikan rukun Islam kelima ini di Tanah Suci.

Namun, tidak semua jemaah haji Indonesia dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat. Sejak hari pertama ibadah haji dilaksanakan hingga Jumat (17/6/2023) waktu setempat, tercatat jumlah total jemaah haji yang meninggal di Arab Saudi mencapai 78 orang.

Angka ini berdasarkan data terbaru Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag) pada Jumat (17/6/2023) pukul 09.28 Waktu Arab Saudi (WAS).

Dari jumlah tersebut, 38,5 persen atau 30 jemaah haji yang meninggal ternyata di luar kategori jemaah dengan risiko tinggi (risti) kesehatan. Sementara itu, 61,5 persen sisanya atau 48 jemaah yang wafat merupakan kategori risti.

Sebagai informasi, Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun ini mengategorisasikan jemaah menjadi dua kelompok yakni risti dan non-risti. Dari total 210.680 jemaah haji reguler, 73,72 persen di antaranya masuk kategori risti, yaitu lansia (di atas 60 tahun) dan atau pengidap penyakit bawaan (komorbid) sejak dari Tanah Air.

Penyebab Kematian Jemaah Haji

Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Edi Supriyatna menjelaskan, penyebab jemaah haji non-risti wafat kebanyakan adalah penyakit jantung (syok kardiogenik dan infark miokard). Berdasarkan data, keduanya merupakan dua penyakit tertinggi yang menyebabkan kematian jemaah.

“Sebenarnya sudah memiliki penyakit jantung di Tanah Air. Banyak jemaah haji tidak menyadari telah memiliki penyakit jantung,” kata Edi kepada tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Makkah.

Menurut data Puskes Haji 2023, ada tiga penyakit penyebab banyaknya jemaah haji meninggal di Tanah Suci, antara lain penyakit infark miokard akut (20 kasus), syok kardiogenik (16 kasus), dan stroke (5 kasus) dari total 66 kematian yang terhitung per Kamis, 15 Juni 2023 pukul 24.00 WAS.

Infark miokard akut adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh sumbatan pada arteri koroner. Sementara, syok kardiogenik adalah suatu kondisi di mana jantung tidak dapat memompa darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh. Kondisi ini sering kali dipicu oleh serangan jantung berat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah KKHI Makkah, Aditya mengatakan, syok kardiogenik adalah salah satu fase akhir dari serangan jantung yang ditandai dengan kurangnya perfusi atau aliran darah ke organ tubuh akibat menurunnya curah jantung.

“Syok kardiogenik tidak terjadi dengan serta merta, ada beberapa faktor pemicu, terutama pada jemaah haji dengan risiko tinggi,” kata Aditya.

Dokter Aditya mengatakan, faktor risiko tersebut antara lain penyumbatan pembuluh darah jantung, hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi, dan perburukan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sebelumnya, hingga stres emosional.


Baca juga:  Kenali Apa Itu Syok Kardiogenik dan Infark Miokard

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Untuk mencegah dan menangani jemaah haji yang mengalami masalah kesehatan, pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah fasilitas dan tenaga kesehatan di Tanah Suci.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, jumlah tenaga kesehatan yang disiapkan mencapai 1.917 orang. Jumlah itu terdiri dari dokter, dokter spesialis, dan perawat.

“Kami sudah menyediakan 1.917 tenaga kesehatan yang akan membantu para jemaah. Terdiri dari 537 dokter dan 1.074 perawat, kemudian 306 dokter spesialias,” kata Dante.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan 10 rumah sakit, 36 klinik kesehatan haji Indonesia (KKHI), 12 puskesmas, dan 210 ambulans di Tanah Suci.

Dante juga mengimbau para jemaah haji untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah haji. Ia menyarankan jemaah untuk minum air putih yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan menghindari paparan sinar matahari langsung.

“Jaga kesehatan dengan minum air putih yang cukup, makan makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, hindari paparan sinar matahari langsung. Jika merasa tidak enak badan segera hubungi petugas kesehatan terdekat,” ujarnya.


Rencana Perjalanan Haji

Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 1444 Hijriah/2023 Masehi sebagai panduan bagi para tamu Allah. RPH yang ditandatangani Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (RPH) Kemenag pada 16 Januari 2023 berisi rangkaian tahapan kegiatan penyelenggaraan ibadah haji. Mulai dari awal masuknya jemaah ke asrama haji, lalu terbang ke tanah suci, hingga kepulangan terakhir jemaah dari Madinah ke Indonesia.

Berikut adalah rincian lengkapnya:

  • Tanggal 23 Mei 2023 (3 Zulkaidah 1444): Jemaah masuk asrama haji;
  • Tanggal 24 Mei 2023 (4 Zulkaidah 1444): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari tanah air ke Madinah;
  • Tanggal 2 Juni 2023 (13 Zulkaidah 1444): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Madinah ke Makkah;
  • Tanggal 7 Juni 2023 (18 Zulkaidah 1444): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Indonesia ke Madinah;
  • Tanggal 8 Juni 2023 (19 Zulkaidah 1444): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Indonesia ke Jeddah;
  • Tanggal 16 Juni 2023 (27 Zulkaidah 1444): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Madinah ke Makkah;
  • Tanggal 22 Juni 2023 (4 Zulhijah 1444): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Indonesia ke Jeddah;
  • Tanggal 22 Juni 2023 (4 Zulhijah 1444): Closing date Bandara KAAIA Jeddah (Pukul 24.00 Waktu Arab Saudi/WAS);
  • Tanggal 26 Juni 2023 (8 Zulhijah 1444): Pemberangkatan jemaah haji dari Makkah ke Arafah;
  • Tanggal 27 Juni 2023 (9 Zulhijah 1444): Wukuf di Arafah (Hari Selasa);
  • Tanggal 28 Juni 2023 (10 Zulhijah 1444): Iduladha 1444 Hijriah;
  • Tanggal 29 Juni 2023 (11 Zulhijah 1444): Hari Tasyrik I;
  • Tanggal 29 Juni-1 Juli 2023: Hari Tasyrik I, Hari Tasyrik II (Nafar Awal), Hari Tasyrik III (Nafar Tsani);
  • Tanggal 4-18 Juli 2023: Pemulangan jemaah Haji Gelombang I dari Jeddah ke Tanah Air;
  • Tanggal 10-24 Juli 2023: Jamaah Haji Gelombang II berangkat dari Makkah ke Madinah;
  • Tanggal 16 Muharam 1445 H atau 3 Agustus 2023: Akhir kedatangan jemaah haji di Indonesia.
  • Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Di tahun 2023, Idul Adha akan berlangsung pada tanggal 29 Juni 2023. Jadi, hari tasyrik tahun 2023 bertepatan dengan tanggal 30 Juni, 1 dan 2 Juli 2023.

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 yang disusun oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i disebutkan bahwa umat Islam dilarang berpuasa di hari tasyrik. Ini dikarenakan hari tersebut merupakan hari untuk makan, minum, serta berzikir kepada Allah SWT.

    Dari Aisyah RA mengatakan, "Rasulullah SAW melarang berpuasa pada hari tasyrik, hari itu merupakan hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah,".

    (source:berbagai sumber)



This post first appeared on LDII Sampit - Kalimantan Tengah, please read the originial post: here

Share the post

Penyakit Jantung, Tertinggi Penyebab Kematian Jemaah Haji Indonesia

×