Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pahala Amal Soleh

Al-Qur’an yang mulia telah menegaskan Pahala Amal Soleh yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan di dunia. Kesungguhan seseorang dalam berbuat bajik tidak akan berdampak negatif bagi dirinya dan orang lain. Maka, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, beramal soleh menuai kemuliaan.

Alasan yang paling mendasar untuk perolehan pahala amal soleh dengan kemuliaan adalah pertama, ajakan untuk berbuat bajik termasuk sunatullah bagi segenap umat manusia. Amal soleh berbuah akhlak mulia untuk setiap orang yang menjalankannya.

Kemuliaan sangat terkait dengan upaya-upaya yang dilakukan seseorang dalam beraktivitas di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apabila perbuatan-perbuatan seseorang tidak mencerminkan adanya nilai-nilai kebajikan saat berada di tengah-tengah kehidupan umat manusia, maka kebobrokan akan mengganti kebajikan.

Dengan demikian, beramal soleh dapat mempengaruhi suasana kepribadian seseorang dalam kedudukannya sebagai seseorang yang sudah ditetapkan oleh Allah menjadi calon kholifah di muka bumi. Adakah seseorang yang sudah dipersiapkan sebagai calon kholifah dapat menjadi mulia bila setiap perbuatannya dihiasi dengan kebejatan moral?

Kedua, amal soleh adalah amal yang mendasarkan kepada apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah. Perbuatan yang mengacu kepada perintah Allah akan berbuah pahala kebajikan jika tidak tercampur dengan apa yang dilarang-Nya. Apabila solat, misalnya, tidak menjadikan pelaku solat dapat menghindar dari perbuatan keji dan mungkar, maka solatnya belum disebut soleh atau berbuah kebajikan bagi dirinya.

Karena itu, perbuatan yang dapat mendatangkan kebajikan adalah perbuatan yang dapat menjadikan mulia bagi orang yang menjalankannya. Kemuliaannya disebabkan karena dia tidak berbuat mendua dalam bersikap, bertutur kata dan bertindak. Antara apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat sama, tidak saling bertolak belakang.

Ketidakkonsistenan, di sisi lain, bukanlah termasuk perbuatan yang dapat mendatangkan kemuliaan. Asal diperbuat tanpa berupaya sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang dikandung dari perbuatan tersebut, tidaklah disebut bajik. Dengan kata lain, amal soleh adalah amal yang apabila dilakukan benar-benar ajeg di setiap waktu menjalankannya sejalan dengan hakikat yang dikandung dari amal bersangkutan.

Saya akan menggambarkan keajegan suatu perbuatan bajik menurut hakikatnya. Jual beli barang dan jasa, misalnya, harus disandarkan pada hukum (syari’ah) jual beli. Dalam syari’ah disebutkan pentingnya konsistensi seorang penjual terhadap barang atau jasa yang ditawarkan kepada calon pembeli. Konsistensinya adalah penjual tidak boleh menyembunyikan barang jelek dari barang bermutu. Jika barang itu adalah tidak baik atau rusak, maka penjual dilarang menggabungkannya dengan barang yang berkualitas (baik mutunya).

Jelas di situ (jual beli) bukan sebuah transaksi yang didasarkan pada nilai-nilai kebohongan. Inilah hakikat dari jual beli. Karena itu, penjual yang berbohong tidak dapat beroleh pahala kebajikan dari apa yang telah diperbuatnya.

Keajegan dalam berbuat kebajikan harus disandarkan kepada syari’ah (hukum yang melandasi praktek peribadatan) disertai dengan ada terpenuhinya hakikat dari suatu perbuatan tersebut. Jika secara syari’ah suatu perbuatan telah dijalankan tetapi apa yang diperbuatnya tidak tercermin hakikatnya (berbuah kebajikan), maka perbuatannya tidak dikategorikan dalam amal soleh.

Gerakan spiritualitas dalam jiwa kaum mukmin seharusnya mencerminkan keduanya (syari’ah dan hakikat). Jika hanya syari’ah yang menonjol, maka ruh dari syari’ah tersebut akan sulit dicapai. Saya menyebut hakikat itu ibarat ruh dari jasad seseorang. Apabila ada jasadnya (sekali pun bagus), tapi ruhnya tidak diperhatikan, maka dia (seseorang) terlampau bangga akan jasadnya.

Ruhnya tidak mati meninggalkan jasadnya; dan memang ruh itu hidup. Hanya saja, ruh yang diperlakukan tidak sebagaimana fitrahnya, dia (ruh tersebut) tidak memiliki kesempatan untuk berkedudukan mulia di sisi Tuhannya.

Amal soleh itu dapat diperbuat sekiranya keduanya (syari’ah dan hakikat) bertumpu dalam satu kesatuan menjalankan apa yang diperintah dan yang dilarang Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui.

Adakah yang dapat menggunakan sandal jepit hanya sebelah ketika berwudhu untuk bersuci? Secara dhohir, sandal jepit dapat saja digunakan untuk alas kaki sekalipun hanya sebelah. Tetapi, betapa tidak seimbangnya kaki ketika harus melangkah sesudah berwudhu agar kakinya tetap bersih. Pasti ada adegan engklek (berjalan dengan kaki sebelah diangkat) yang dilakukan oleh orang tersebut. Sungguh sangat berat!

Seandainya tempat bewudhu itu jauh dari tempat untuk bersujud, ditambah tiadanya kekuatan kaki untuk terjaga dari jatuh, bagaimanakah kemungkinan kaki sebelah tersebut tetap bersih?

Saya hanya memberi perumpamaan saja untuk menggambarkan adanya kesulitan seseorang yang tekun beribadah tanpa adanya keseimbangan jasmani dan ruhaninya. Apa pun perumpamaannya, keseimbangan tetap harus terjaga sekiranya berharap memperoleh kesempurnaan dalam beribadah.

Adakah yang dapat mengerjakan solat secara khusyu’ sekiranya hatinya dipenuhi dengan kebencian, dendam, permusuhan, justifikasi dan berbagai ghil (penyakit hati) lainnya? Amal soleh sangat sulit dicapai sekiranya di dalam hatinya tersimpan penyakit! Karena itu, seorang ahli ibadah tidak cukup mengetahui secara syar’i dalam pelaksanaannya bila tidak dibarengi dengan hakikat peribadatan tersebut.

Pahala amal soleh patut diberikan kepada orang-orang yang tidak hanya memperhatikan syari’ah saja, melainkan hakikatnya juga. Kemuliaan seseorang tercermin dari setting amal ibadahnya yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan ibadah secara seimbang, jasmani dan ruhaninya.

Orang yang bersungguh-sungguh mendudukkan hati dan akalnya dalam kekuasaan Allah, maka baginya akan dianugerahi kebijaksanaan Allah dapat memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana mengilhamkan ke dalam jiwanya ketakwaan.

Mengapa Allah Yang Maha Mulia mengilhamkan ketakwaan ke dalam jiwa orang-orang seperti itu? Ketakwaan terkait dengan kesucian jiwa. Itu adalah jawabannya.

Kesucian jiwa, bukan kebersihan jasmani, adalah suatu kondisi jiwa seseorang yang terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Akal manusia dapat memikirkan apa yang ditangkap oleh panca inderanya, tetapi akal akan menemukan kesulitan ketika hatinya dibiarkan dari kedudukannya secara fitrah menerima kebenaran.

Hati yang dibiarkan lalai dari mengenal nilai-nilai kebenaran akan menemukan kesulitan sekiranya tidak diajak secara langsung oleh akalnya. Allah Yang Maha Pencipta menjadikan keduanya berpadu dalam keberadaan manusia di dunia. Akal yang bijaksana tidak akan mengedepankan setiap produk pemikirannya dari hatinya.

Allah Yang Maha Bijaksana mendudukkan hati, saya sering mengelompokkannya dengan jiwa atau diri atau ruh, dalam lingkup yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (lahir). Kebijaksanaan Allah berbuat demikian karena hati sesungguhnya adalah aku yang sesungguhnya, bukan ‘saya’ yang hadir di wilayah tampak yang dapat dilihat.

Aku yang sesungguhnya tercipta di wilayah yang tak tampak untuk dikembalikan kepada Allah bersamaan dengan tugasnya dalam beribadah kepada-Nya. Ujung dari keberadaannya di dunia telah diserahkan kepada jasmani dengan kematiannya. Sedangkan ruh akan ditempatkan di “tempat”-nya sejalan dengan ketetapan-Nya, yaitu alam baqa.

Allah Yang Maha Pencipta mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan jiwanya untuk hanya beribadah kepada-Nya bukan berarti mengabaikan akalnya. Justru firman Allah dilahirkan ke alam dunia agar dapat dipahami oleh akalnya, bahwa Allah bakal mengembalikan jiwanya kepada-Nya.

Orang-orang yang menggunakan akalnya pastilah memahami bahwa kehendak Allah memang begitu. Jiwalah yang akan dikembalikan dan dimintai pertanggungjawaban sesudah Allah menjelaskan melalui ayat-ayat-Nya yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya saw. Beliau adalah utusan-Nya, yang terlahir dengan kedudukan yang mulia, telah mengemban amanat-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia.

Allah Swt telah menjelaskan semuanya di Al-Qur’an. Kitab-Nya bukan sekedar berisi firman-firman yang tak bermakna, melainkan Allah menganugerahkan pemahaman yang mendalam kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Sinar-Nya telah memancar di setiap ayat-ayat-Nya, dan tak ada yang mengetahuinya kecuali yang telah dibuka mata hatinya.

Agung, mulia, bijaksana, luhur dan bersemangat adalah sifat-sifat terpuji. Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia telah mempertegas sifat-sifat semacam itu bagi orang-orang yang dicurahkan rahmat Allah ke dalam jiwanya. Itulah pahala amal soleh.



This post first appeared on Agama, Hati Dan Ilahi, please read the originial post: here

Share the post

Pahala Amal Soleh

×

Subscribe to Agama, Hati Dan Ilahi

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×