Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

DANAU : SETITIK ASA UNTUK INDONESIA

Tags: danau
Prolog
Kalau saya dan kawan - kawan berdebat dalam menentukan tempat wisata, pilihan kami mengerucut pada dua hal : pantai atau gunung?. Saat ini saya baru menyadari, ada suatu tempat lain nan ciamik yang dimana air dan daratan yang tinggi dapat menyatu : danau.

Monolog
Kedua opsi itu sangat wajar jika tercipta pada saya yang ketika itu masih berdomisili di Kota Gudeg Yogyakarta; berstatus sebagai mahasiswa. Silahkan ditebak, kira - kira apakah nama danau terkenal yang ada di pulau Jawa?. Cukup sulit bukan.

Toba, bukan di Jawa. Singkarak (mungkin yang habis menyaksikan tour d'Singkarak), bukan juga di Jawa. Sentani, bahkan jauh berada di pelosok timur Indonesia. Tempe, Poso, dan Matano pun bukan berada di Jawa. Segara Anak, Batur, ataupun Buyan juga bukan terposisi di tengah - tengah pulau Jawa.

Jadi wajar saya kebingungan jika ingin bertandang pada objek wisata danau di Pulau Jawa. Belakangan baru saya ketahui, disalah satu sudut kabupaten Magetan ada sebuah objek dengan view yang elok yang disebut Telaga Sarangan. Now, saya berdomisili di Mataram, Lombok, yang orang kata sebagai surga terpendam di sebelah Bali. Dan di pucuk gunung Rinjani, disanalah sebuah danau cantik berada : Danau Segara Anak.



Dialog
Cas-cis-cus masalah lingkungan di Indonesia memang tiada matinya. Dan akhirnya, saya memicingkan mata kepada dua buah artikel yang sama - sama memiliki kata kunci 'danau' pada situs VOA Indonesia. Saya yang mulai jatuh cinta pada keindahan Danau harus tersentak oleh sebuah artikel yang berjudul Danau di Indonesia Alami Kekeringan dan Pencemaran (VOAIndonesia.com, 20-07-2012). Cukup langka memang rasanya berita ini, sebab hal mainstream yang pokok menjadi bahasan pada kebanyakan media tentang urusan pencemaran ialah hanya dikerucutkan pada dua hal : pencemaran sungai dan pencemaran nama baik. Kekeringan pun hampir senada : kekeringan sawah, ladang, sungai, hingga keringnya kepercayaan terhadap pemimpin.

Aktivis Desak Pemerintah Lebih Serius Tangani Danau Kritis di Indonesia (VOAIndonesia, 17-06-2012) menjadi artikel kedua yang saya temui; membikin saya berselimut rasa cemas. Lagi - lagi soal danau, lagi - lagi soal kualitas yang malah semakin mundur, bahkan limit mendekati titik kritis. Bahkan kuping pemerintah kita harus sampai dijewer oleh peringatan dari aktivis lingkungan hidup akibat lalai mengurusi kondisi lingkungan danau.

Dari Danau Untuk Siapa?
Tidak dapat dipungkiri, tiada satupun ciptaan Tuhan yang tidak bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Termasuk pula danau. Danau menawarkan banyak hal untuk manusia dalam kepentingannya melanjutkan hidup. Danau memiliki ekosistem, baik secara hewani maupun secara vegetasi. Secara teknis, manusia dapat mengambil manfaat langsung dari danau seperti beternak ikan lewat media keramba hingga menjadi pemandu wisata. Air dari danau pun dijadikan sebagai bulir - bulir penyambung hidup bagi para petani disekitar kawasan danau.

Kereta Wisata di Danau Singkarak. [2]
Hampir sebagian besar pemerintah daerah setempat, yang menjadi dimana lokasi danau tersebut berada, yang sudah gembar - gembor untuk memajukan sektor pariwisata mereka menjadi 'danau-sentris'. Danau Toba, yang menjadi sebuah destinasi wisata domestik maupun mancanegara dengan Samosirnya, bahkan sudah mencicipi menjadi nominator Tujuh Keajaiban Dunia [1]. Singkarak-Maninjau digadang - gadang menjadi ikon pariwisata setelah Rumah Gadang pada provinsi yang beribukota di kota Padang. Sudah berapa kali sih diadakan lomba balap sepeda disana?. Bahkan saya pun baru tahu, terdapat rel kereta api di tepian Danau Singkarak dan masih dalam kondisi aktif [2]. Belum lagi wisata asyik nan sejuk di Danau Tondano, Sulawesi Utara. Dan yang tentu tidak dapat saya tutupi adalah keindahan Danau Segera Anak yang berada dipuncak gunung Rinjani yang menjadi paket tujuan wisata andalan di Pulau Lombok. Puncak Rinjani dicap sebagai salah satu seven summits versi Indonesia sebagai puncak tertinggi pada wilayah Bali dan Nusa Tenggara [3] dan ada danaunya!. Wow!

Berdasarkan sebuah data, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Simalungun mengalami penurunan seiring dengan menurunnya kunjungan wisata pada kawasan wisata Danau Toba [4]. Pada studi lain, dinyatakan bahwa kawasan Danau Ranau, yang berada di perbatasan Sumatra Selatan dan Lampung, memiliki potensi sebagai kawasan yang dapat menunjang Pendapatan Asli Daerah pada Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan [5]. Belum lagi ketika pemerintah daerah gencar melakukan promosi tentang potensi - potensi yang dimiliki kawasan danau mereka, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara dengan Danau Semayang-nya [6]. Hal yang senada dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan Danau Towuti-nya [7]. Tentu dari sini dapat kita tarik sebuah benang merah bahwa kawasan danau dapat dan seharusnya menjadi sebuah lokomitif ekonomi bagi masyarakat serta pemerintah daerah setempat.

Peka Terhadap Perubahan
Ada gula, ada semut. Dimana ada obral, disitulah para ibu - ibu berkumpul. Dan nampaknya kedua perumpamaan ini ada benarnya. Dimana ada rezeki, di situlah manusia akan berkumpul. Tetapi, apakah kita mengetahui dampak negatif jika semangat membangun tersebut tidak berdasarkan koridor yang telah diatur?

“Misalnya di Danau Toba, penyusutan mencapai lima sampai 6 meter, ini sangat luar biasa. Penyusutan ini diikuti dengan tindakan mereklamasi. Jadi kawasan di pinggir danau, daratan diperluas untuk berbagai aktivitas. ..." --Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Nasional WALHI [8].

Danau Laut Tawar di Aceh alami pencemaran karena pengembangan daerah perkotaan. [8]
Danau yang mula - mula berpredikat pelosok saat ini sudah mulai dijamah. Pembangunan demi pembangunan dilakukan oleh pemerintah daerah berserta investor sebagai pihak ketiga untuk dapat menambang Rupiah dari hasil menjual view yang sedap dipandang mata. Tidak ada yang salah dengan yang ini. Namun, pembangunan yang kelewat tidak terkendali, seperti yang digambarkan pada sebuah foto tampak atas dari pesisir Danau Laut Tawar di atas, menjadi sebuah tanda tanya besar untuk masa yang akan mendatang : Apakah keindahan ini tetap akan abadi jika pencemaran masih terus berlangsung?

Tidak hanya dari pengembangan daerah perkotaan saja, kegiatan ekonomi yang menjamur tiada terkendali yang menggunakan ekosistem danau pun akan memberikan dampak negatif. Budidaya keramba yang tidak terkendali hingga penggunaan lahan pada sekitar kawasan danau yang salah adalah salah satu contoh yang marak diperbincangkan belakangan. Seperti yang menjadi isu hangat pada kondisi alam Danau Tondano.

"...Penyebab utama kerusakan lingkungan ini (pada Danau Tondano), adalah kesalahan dalam penggunaan lahan-lahan sekeliling danau. Tidak jelasnya batas tata ruang pemanfaatan (landuse) di kawasan ini, telah berakibat penggundulan hutan dan erosi yang tidak terkendali lagi.... Hasil penelitian UNSRAT tahun 2000 melaporkan produksi ikan tahun 1998 sudah mencapai 2000 ton dan meningkat terus dari tahun ke tahun. Tiap hari berton-ton pakan ikan (pellet terkonsentrasi) disebar di usaha-usaha karamba dan menjadi sampah yang sangat banyak dan selain mempercepat pendangkalan, eutrofikasi juga menyuburkan hama algae dan eceng gondok... Akhirnya, pelepasan detergen sebanyak kl. 50 ton per tahun, limbah padat dari hunian, pupuk dan pestisida (sebanyak 750 ton urea dan 250 ton fosfat) dari pertanian masuk ke dalam danau..." --Universitas Sam Ratulangi [9]
Gambaran di atas tidak hanya terjadi pada danau Tondano saja. Berangkat dari data Pusat Litbang SDA Dinas Pekerjaan Umum, masih terdapat banyak lagi danau - danau di Indonesia yang memiliki masalah yang cukup serius.

Susutnya hutan di wilayah Sumatera menjadi indikasi semakin menurunnya kapasitas hutan sebagai kawasan penyangga cadangan air tanah dan memberikan andil terhadap menurunnya kualitas ekosistem danau di kawasan Sumatera [10]

"Danau yang mengalami sedimentasi yang berat antara lain Danau Tondano, Tempe, Limboto di Sulawesi, Danau Jampang, Semayang, Melintang di Kalimantan. Danau Rawapening di Jawa Tengah dan danau lainnya mengalami sedimentasi ringan. Danau yang mengalami pengurangan luas antara lain Danau Limboto, Rawapening, Cidanau di Banten. Danau yang ditumbuhi oleh eceng gondok sehingga menutupi luas danau lebih dari 10% antara lain danau Rawa Pening, Kerinci di Jambi. Danau yang mengalami penurunan muka air yang nyata, yang disebabkan airnya digunakan untuk membangkitkan listrik antara lain danau Toba, Maninjau, dan Singkarak. Danau yang mengalami pencemaran oleh bahan nutrien (nitrogen, posfat) yang berasal dari limbah penduduk, pertanian, akitifitas perikanan dengan Keramba Jaring Apung (KJA) antara lain Danau Maninjau, Tondano, dan Toba." --Pusat Litbang SDA, Dinas Pekerjaan Umum [11]
Wajar saja jika aktivis lingkungan hidup harus berteriak lantang tentang lambannya respon pemerintah tentang penangangan 15 danau kritis di wilayah NKRI ini [12]. Dan saya pun ingin turut berkoar - koar disini dengan nada yang sama : SAVE OUR LAKE!

Kritis Untuk Bangsa
Mari kita menggunakan sebuah kacamata yang lain. Jika laut dan danau merupakan tempat dimana air menggenang, maka danau masih dapat mengering, tidak seperti laut. Seperti kisah pada Danau Kasai di Sumatra Barat yang dikeringkan untuk menjadi lahan pertanian [13] dan seperti fantastisnya cerita di luar negeri yang terjadi pada Laut Aral (danau Aral) yang mendadak tandus [14].

Sebuah jokes sering terlontar ketika kita mendapati barang elektronik kita rusak parah : "buang saja ke laut". Ya, hanya di laut, bukan di danau. Mengapa? Karena jika kita membuangnya di danau, maka barang tersebut tidak akan pergi kemana - mana alias tetap mengendap di dasar danau, berbeda jika kita membuangnya ke laut. Paling - paling barang tersebut akan dihanyutkan oleh arus menuju tengah laut yang dalam. Begitu juga ketika kita membuang limbah menuju perairan danau. Tentu ia akan tetap mengendap disana bukan?. Dan ketika perlahan danau tersebut mengering, yang tersisa hanyalah tumpukan racun. Apalagi jika air danau tersebut untuk dikonsumsi secara publik. It is almost like suicide!.

Kembali ke masalah ekonomi di atas. Tidak mungkin kita sebagai tuan rumah membiarkan lapak dagangan kita tergerus rusak oleh kesalahan kita sendiri. Tentu sejatinya kita harus mampu mencegah semaksimal mungkin agar barang dagangan yang kita miliki tetap terjaga kualitasnya. Bila kualitas rusak, maka apalagi yang akan kita jual kepada pembeli. Tentu saja ini juga berlaku kepada objek - objek wisata danau nan rupawan yang masih kita miliki.

"Tokoh masyarakat selalu mengingatkan, setiap pertemuan kampung-kampung disekitar (danau) Laut Tawar ini, (agar) jangan menebang pohon, jagalah kelestarian danau. (Kegiatan tersebut) termasuk dalam pelaksanaan kuliah kerja nyata mahasiswa Universitas Gajah Putih untuk (terlibat dalam) pelestarian danau dengan menanam pohon di rawe (bukit), di gunung di sekeliling danau itu" --Azir Zabri, Pemuda Aceh [12]
Pernyataan di atas seharusnya menjadi cambuk bagi kita sebagai masyarakat Indonesia -umumnya- dan masyarakat yang hidup menjadi stakeholder ekosistem danau -khususnya- untuk tetap giat menjaga kelestarian danau. Bukankan menjaga sebuah anugrah yang telah diciptakan oleh-Nya termasuk perbuatan yang terpuji dan termasuk ke dalam ibadah?

Ataukah kita hanya berpura - pura ketika mengisi jawaban ketika ujian IPA tentang pentingnya menjaga kelestarian hayati?

Danau : Setitik Asa Untuk Indonesia
Saya tidak akan habis pikir bagaimana jika keindahan pada Danau Segara Anak yang berada di wilayah saya (Lombok) berubah menjadi rusak akibat ulah pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab. Pendapatan daerah mungkin akan mengalami penurunan dan para penduduk akan juga mengalami penurunan pendapatan akibat hilangnya objek wisata andalan kami. Barangkali hal ini akan seirama terhadap kawan - kawan di daerah lain yang menjadikan kawasan danau menjadi tumpuan asa penyambung nafas yang tersengal ini.

Penampakan danau Segara Anak dari pucuk gunung Rinjani [15]


Dan, saya rasa Ebiet G. Ade akan marah besar jika suatu saat nanti salah satu danau yang menjadi inspirasi lirik sebuah lagunya hilang akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab.

"Menyeberangi danau biru terbentang
bersama istri dan anakku belayar
Singgah di sana, di pulau yang terpencil
di tengah hamparan telaga, menyimpan keindahan ..."

--Ebiet G Ade, Nyanyian Bumi Seberang [16]
  
Epilog
Rumah saya berada di komplek perumahan yang dimana pada setiap jalannya dinamai dengan nama danau. Rumah saya berada di jalan danau Towuti. Itulah mengapa ketika saya masih berseragam sekolah dasar dulu, jika sudah mendengar kata 'danau', yang ada dipikiran saya hanyalah jalanan di sekitar komplek.

Ibu Guru : Dimanakah letaknya danau Sentani, anak - anak? 
Para murid : di samping sekolah buuu..
...padahal sekolah kami berada ribuan kilo disebelah barat dari kota Jayapura, sedangkan danau Sentani yang kami maksudkan adalah jalan danau Sentani yang persis melintang di sebelah barat sekolah kami.

Jika saya ingin bermain Nintendo, maka saya tinggal pergi ke rumah teman saya yang berada di jalan danau Laut Tawar atau di jalan danau Diatas. Kalau saya ingin bermain kelereng, maka saya tinggal bertandang di sebuah lapangan di samping jalan danau Surubik. Jika saya menulis alamat sekolah, saya menulisnya dengan jalan danau Paniai. Atau, jika saya ingin belanja sesuatu, saya menuju ke warung kelontong di jalan danau Jempang. Masih banyak lagi nama - nama danau lain yang diabadikan sebagai nama dari jalan di komplek saya ini.

Melihat peliknya kondisi alam danau - danau Indonesia saat ini, saya tidak mau anak - anak saya hanya dapat mengenal dan mengenang nama - nama danau tersebut hanya pada sebatas tulisan di plang - plang jalanan ini.


Pustaka :
[1] : Krakatau, Danau Toba & Taman Komodo Nominasi 7 Keajaiban Alam
[2] : Kereta Api Wisata Danau Singkarak, Musium Sawahlunto, dan Kereta Wisata Mak Itam
[3] : 7 Puncak Tertinggi di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia)
[4] : Analisis Pemanfaatan Kawasan Danau Toba (Thesis)
[5] : Analisis Rencana Pengembangan Sektor Pariwisata Danau Ranau
[6] : Potensi Ekonomi Danau Semayang
[7] : Pemanfaatan Sumberdaya Danau Towuti Sebagai Perairan Umum
[8] : Danau di Indonesia Alami Kekeringan dan Pencemaran
[9] : Lampu Merah Danau Tondano
[10] : Apakah Menebangi Hutan Hujan untuk Kertas dan Bubur Kayu Bantu Kurangi Kemiskinan di Indonesia?
[11] : Kondisi Danau dan Waduk di Indonesia
[12] : Aktivis Desak Pemerintah Lebih Serius Tangani Danau Kritis di Indonesia
[13] : Tidak Ada Lagi Rawa/Danau Kasai
[14] : Laut Aral

[15] : Gunung Rinjani National Park and Lake Segara Anak Lombok Island
[16] : Nyanyian Bumi Seberang (Bumi Ni Pasogit)


This post first appeared on Santai Sejenak | Secangkir Teh Dan Sekerat Roti, please read the originial post: here

Share the post

DANAU : SETITIK ASA UNTUK INDONESIA

×

Subscribe to Santai Sejenak | Secangkir Teh Dan Sekerat Roti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×