Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Tiga Hal Yang Dibenci Allah (1)

Dalam hidup ini, ada hal-hal yang kita suka dan yang kita benci. Kadangkala apa yang kita suka ternyata dibenci oleh Orang lain, sedangkan hal-hal yang kita benci justeru disuka orang lain. Begitu pula dengan Allah SWT, ada hal-hal yang dibenci-Nya meskipun bisa jadi banyak manusia yang suka melakukannya. Namun karena ridha Allah SWT yang kita ingin raih, maka kita akan menyesuaikan diri sehingga hal-hal yang tidak disukai-Nya tidak akan kita lakukan. Rasulullah SAW menyebutkan tentang hal-hal yang dibenci-Nya sehingga hal ini akan kita hindari, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيْلَ وَقَالَ, وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian: desas desus, membuang-buang harta, dan banyak bertanya (hal yang tidak penting) (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Dari hadits di atas, ada tiga hal yang dibenci Allah SWT yang membuat kita harus menghindarinya.

1.    Desas Desus

Salah satu ciri orang fasik yang sangat menonjol adalah selalu berusaha untuk melakukan kekacauan sehingga ia merusak jalinan hubungan antar manusia dengan menyebarkan fitnah melalui penyampaian berita yang tidak benar menyangkut seseorang atau sekelompok orang sehingga sesama orang yang hubungannya sudah baik menjadi saling curiga, bahkan membenarkan tuduhan yang tidak benar. 

Karena itu, kaum muslimin harus waspada terhadap adanya informasi yang negatif tentang kaum muslimin sehingga ia akan mengecek terlebih dahulu kebenaran suatu informasi apalagi bila menyangkut keburukan orang lain, Allah SWT mengingatkan hal ini dalam firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS Al-Hujurat/49:6).

Asbaabun nuzuul (sebab turunnya ayat) tersebut di atas adalah, suatu ketika Al Harits datang menghadap Nabi Muhammad SAW, beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk. membayar Zakat. Kepada Rasulullah, Al Harits menyatakan: “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya”. Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah SAW mengutus Al Walid Bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun ditengah perjalanan hati Al Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al Harits tidak mau menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliaupun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al Harits ia berkata: “Kami diutus kepadamu”. Al Harits bertanya: “Mengapa?”. Para sahabat menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya”. 

Al Harits menjawab: “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang dating kepadaku”. Maka ketika mereka sampai kepada Nabi SAW, beliaupun bertanya: “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?”, Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian”. Maka turunlah ayat itu. 

Surat Al Hujurat/6 di atas menggunakan kata naba’ bukan khabar. KH. M. Quraish Shihabdalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi, hal 262 membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan “berita penting”, sedangkan khabar menunjukkan ”berita secara umum”. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi”.


Ust. Drs. H. Ahmad Yani


This post first appeared on Musholla RAPI Online, please read the originial post: here

Share the post

Tiga Hal Yang Dibenci Allah (1)

×

Subscribe to Musholla Rapi Online

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×