Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Dongeng Kancil dan Buaya Raksasa

Suatu ketika seekor Buaya raksasa berkata kepada temannya sesama buaya penghuni sungai yang aliran airnya membelah hutan, bahwa dia bosan memakan ikan setiap hari. Si Buaya Raksasa ingin makan anak kecil yang menurut dia rasanya sangat nikmat, dagingnya empuk dan gurih.




















"Aku sudah bosan setiap hari makan ikan melulu. Apalagi makan ikan lele. Wuhhh... nggak level lah buat diriku. Rasanya kurang nikmat, baunya anyir, bau tanah busuk!. Lagipula sudah saatnya aku berhenti menjadikan perutku sebagai kuburan ikan lele" kata Buaya Raksasa

"Wah-wah sombong sekali dirimu. Aku masih suka makan ikan di sungai. Ikan lele aku juga suka. Rasanya bagiku enak-enak saja. Jika kamu tidak mau makan ikan, kamu ingin makan apa?" tanya temannya si buaya semenjana.  duniashinichi.blogspot.com

"Aku ingin makan anak kecil. Rasanya jauh lebih gurih daripada ikan lele. Lagipula ukurannya besar, jadi perutku bisa kenyang dan lidahku puas menikmati kenikmatan rasanya!" kata Buaya Raksasa

"Wowww! Makan anak kecil? Keren sekalli seleramu, tapi juga sangat berbahaya! Kamu bisa tertangkap saat memasuki kota. Bisa-bisa nasibmu berakhir menjadi tas kulit karena tertangkap para penjaga kota!" kata temannya

"Wah. Aku sudah punya strategi jitu. Tak mungkin aku akan tertangkap oleh manusia. Aku kuat, cepat dan cerdik. Mereka tidak akan mampu menangkapku!" jawab Buaya Raksasa dengan sombong

"Ah sudahlah jika kamu tak ingin mendengarku! Silakan saja kamu pergi ke kota dan makan anak kecil di sana. Yang penting jangan ganggu aku" kata buaya semenjana.

^_^

Jadilah Si Buaya Raksasa keluar dari sungai, berjalan melintasi hutan  raya menuju kota. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seekor gajah yang tengah merumput. Si Gajah terkejut melihat seekor buaya yang biasanya tidak pernah pergi jauh dari sungai kini berjalan jauh melintasi hutan. Karena penasaran, Si Gajah kemudian bertanya:


"Wooy Aya! Mengapa dirimu berjalan melintasi hutan? Mau kemanakah gerangan dirimu pergi?"

"Hai Gajah! Aku hendak pergi ke kota mencari makanan enak. Biar perutku kenyang dan hatiku puas!" jawab Buaya Raksasa

"Mau makan apa dirimu Aya?"

"Makan anak kecil. Dua orang anak kecil yang gurih dan tentu saja mengenyangkan. Jauh lebih enak dan mengenyangkan dibanding ikan lele yang setiap hari kumakan di sungai" jawab Buaya Raksasa

"Wooy bahaya itu!. Tapi terserah kamu. Bahaya tanggung sendiri deh sama kamu. Silakan makan anak kecil sepuasnya di kota. Yang penting kamu jangan ganggu aku di sini" kata Si Gajah 

^_^

Buaya Raksasa melanjutkan perjalananya. Di pinggir hutan, Si Buaya Raksasa bertemu seekor monyet dan kijang yang sedang makan pisang. Mereka terheran-heran melihat Buaya Raksasa pergi jauh dari sungai.

"Hai Buaya! Mengapa kamu pergi jauh sekali dari sungai? Apakah kamu akan pergi ke kota?" tanya Si Monyet

"Benar Monyet! Aku mau pergi ke kota. Di sana banyak anak kecil yang cocok buat makanan buaya keren seperti aku. Biarlah ikan lele dimakan buaya biasa. Anak kecil khusus untuk buaya hebat seperti aku!" jawab buaya dengan bangga

"Wah wah wah. Berani sekali dirimu menyelinap ke kota untuk memangsa anak kecil? Apa dirimu tidak takut tertangkap terus dijadikan tontonan di kebun binatang? Apa dirimu tidak takut tertangkap oleh petani lalu mulutmu diikat dengan tali rami?" tanya Kijang

"Ho ho ho... Buaya cerdas seperti aku tidak takut sama manusia. Aku lebih cepat dan lebih kuat dibanding manusia. Mereka tak mungkin bisa menangkapku!" kata Si Buaya Raksasa dengan pongah

"Ya sudahlah jika kamu berpendapat begitu. Silakan makan anak kecil berapa saja. Yang penting jangan ganggu aku dan anak-anakku" kata Kijang

"Benar kata Kijang. Silakan kamu makan anak kecil sepuasnya. Risiko tanggung sendiri. Kami tidak akan menghalangi. Yang penting kamu jangan ganggu kami" tambah Monyet

^_^

Menjelang tengah hari Buaya Raksasa sampai di kota. Dia beruntung karena di perbatasan kota terdapat sungai kecil yang mengalir menuju taman di tengah kota. Buaya Raksasa turun ke sungai dan leluasa menyelam hingga ke taman kota. Lalu dia mengendap-ngendap memasuki taman, dan menyamar sebagai batang kayu tempat duduk bagi para pengunjung taman.

Tak berapa lama kemudian muncul lima orang anak kecil yang kegirangan melihat ada batang kayu yang bisa dijadikan tempat duduk. Sudah hampir satu jam mereka berkeliling taman, semua tempat duduk telah penuh terisi anak-anak lain. Kini mereka menemukan sebuah tempat duduk yang panjang dan cukup luas untuk mereka berlima. Namun baru saja mereka berlima duduk, tiba-tiba Si Buaya Raksasa melahap tiga orang anak sekaligus. Mereka bertiga ditelannya bulat-bulat. Sementara dua anak yang lain berhasil kabur sambil berteriak-teriak ketakutan.

^_^

Sebulan berlalu setelah buaya pergi ke kota untuk memakan anak kecil. Sang Kancil yang baru pulang dari perjalanan jauh heran melihat kondisi hutan raya yang sepi. Di sana-sini terlihat pohon bekas dibabat dan rerumputan di kanan kiri jalan setapak yang melintasi hutan tampak rusak bekas diinjak-injak. Sang Kancil semakin kaget tatkala melihat bangkai kijang teronggok di sebuah lubang di batang pohon.. Rupanya dia bersembunyi disitu setelah tertembak oleh senapan. Kancil semakin kaget ketika melihat rumah Monyet di atas pohon tampak bekas dirusak, dan Si Monyet tidak terlihat. 

Saat Sang Kancil memasuki hutan semakin dalam, dia melihat bangkai gajah bergelimpangan di sepanjang jalan setapak di dalam hutan. Gading-gading gajah itu telah hilang, tampak bekas digergaji. Rupanya baru saja terjadi perburuan massal hewan-hewan di hutan ini. Entah oleh siapa. Setelah hampir seharian mencari-cari para penghuni hutan raya, akhirnya Sang Kancil bertemu dengan seekor buaya sungai yang bersembunyi di dalam gua yang gelap. Gua yang sebulan lalu tak diminati oleh seekor binatang hutan pun untuk dijadikan tempat tinggal, kini dilihatnya telah penuh sesak oleh bermacam hewan. Gua tersembunyi itu ditempati oleh seekor buaya sungai, belasan kelinci, beberapa ekor ayam hutan, dua ekor angsa, lima ekor kerbau, tujuh ekor kucing hutan, sembilan ekor landak dan ratusan burung kecil yang bersembunyi di lubang-lubang yang terdapat di dinding gua.

"Hai buaya! Apa yang terjadi dengan hutan kita? Kemana binatang-binatang penghuni hutan yang lain pergi?" tanya Kancil

"Aduh Sang Kancil. Saya melaporkan berita sedih ini kepada Sang Kancil. Sebulan yang lalu ratusan manusia datang ke hutan ini untuk memburu Buaya Raksasa"

"Mengapa mereka memburu Buaya Raksasa?" tanya Sang Kancil

"Si Buaya Raksasa telah memangsa tiga anak kecil di taman kota, lalu kabur ke hutan raya. Para manusia rupanya tidak mau membiarkan buaya itu lepas. Mereka datang ke sini beramai-ramai. Awalnya mereka hanya memburu Buaya Raksasa. Namun akhirnya mereka memburu kami semua. Mereka memburu semua binatang hutan. Semua binatang buas ditangkap tanpa kecuali. Semua macan, singa, serigala, ular dan beruang diburu tanpa ampun. Binatang-binatang lain seperti kijang, monyet dan gajah juga ditangkapi. Semua buaya di sungai telah dibunuh kecuali aku. Pokoknya semuanya mengalami bencana gara-gara Si Buaya Raksasa!" kata buaya sambil tersedu-sedu

"Bagaimana mungkin kamu dan kawan-kawanmu sesama buaya sungai membiarkan Buaya Raksasa pergi ke kota untuk memangsa anak kecil?. Apakah kamu tidak berpikir bahwa itu sangat berbahaya?. Bukan hanya buat Buaya Raksasa, tapi juga buat kalian semua penghuni hutan?" kata Sang Kancil

"Ampun Sang Kancil! Saya khilaf! Saya lupa nasehat Sang Kancil bahwa kita tidak boleh membiarkan salah seorang penghuni hutan memangsa manusia. Kami membiarkan Buaya Raksasa melakukannya karena lupa dengan nasehat Sang Kancil. Padahal kami buaya-buaya sungai sebenarnya jumlahnya cukup banyak dan cukup kuat untuk memaksa Buaya Raksasa tetap tinhggal di sungai. Kami membiarkan dia melakukan keburukan sesuka hatinya. Kami mengira akibatnya akan ditanggung sendiri oleh Buaya Raksasa. Ternyata kini kami semua menerima akibatnya. Maafkan kami khilaf melupakan nasehatmu" kata buaya sambil terisak-isak.

"Dengar wahai buaya!. Aku dijuluki cendekiawan hutan karena aku telah belajar banyak dari sejarah masalalu. Aku belajar bahwa kesalahan seekor penghuni hutan tidak boleh dibiarkan, karena balasannya akan merugikan kita semua. Kalian semua membiarkan buaya melakukan perbuatan buruk karena mengira tidak berakibat buruk pada kalian. Kini kalian dapat merasakan sendiri akibatnya. Tapi sudahlah!. Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Jadikan ini pelajaran bagi kita semua. Kita tidak akan membiarkan lagi seseorang berbuat keburukan sesuka hati tanpa kita cegah, walaupun keburukan itu tidak langsung merugikan kita" (Undil - 2014)

 Diilhami cerita Roald Dahl berjudul The Enormous Crocodile 
gambar diambil dari  internationalposter.com

tags: cerita anak Kancil Dan Buaya; dongeng kancil dan buaya; cerpen kancil dan buaya; cerita pendek kancil dan buaya; kisah kancil dan buaya; legenda kancil dan buaya; sang kancil dan buaya; cernak kancil dan buaya; drama kancil dan buaya; drama pendek kancil dan buaya; naskah drama pendek kancil dan buaya; naskah drama kancil dan buaya; drama TK kancil dan buaya; drama anak kancil dan buaya; naskah drama anak kancil dan buaya;  cerita anak kancil dan buaya; dongeng kancil dan buaya; cerpen kancil dan buaya; cerita pendek kancil dan buaya; kisah kancil dan buaya; legenda sang kancil dan buaya; sang kancil dan buaya; cernak kancil dan buaya; drama kancil dan buaya; drama pendek kancil dan buaya; naskah drama pendek kancil dan buaya; naskah drama kancil dan buaya; drama TK kancil dan buaya; drama anak kancil dan buaya; naskah drama anak kancil dan buaya;


This post first appeared on Cerita Pendek Warna-Warni Dunia Shinichi, please read the originial post: here

Share the post

Dongeng Kancil dan Buaya Raksasa

×

Subscribe to Cerita Pendek Warna-warni Dunia Shinichi

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×