Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Kenapa Honda MotoGP Balik Lagi Ke Mesin Backward Rotating Crankshaft dan Bigbang ?

cengkareng-shop

440x100_tirei

TMCBlog.com – Bro sekalian, Honda Boleh dibilang Superior dalam hal power di tahun 2014 dan 2015 (terlepas dari hilangnya gelar di 2015 )  dan pada saat itu boleh dibilang merupakan puncak masa dari tingginya tingkat kesenjangan kekuatan yang terjadi antara Factory team dan Satelite / Customer team. Setelah itu Dorna mengambil inisiatif dengan mengubah secara signifikan regulasi mengenai elektronik secara bertahap . . pertama tama ECU diseragamkan, lalu yang paling perih bagi team factory adalah saat kolaborasi ECU dan Software diseragamkan. Kalau Softwarenya mirip atau selevel dengan software factory sih kayaknya nggak terlalu Masalah. Namun sepertinya software buatan Magneti Marelli ini punya spek di bawah spek software buatan Factory Sebelumnya . . . . dan ternyata resep Dorna ini manjur, Factory team ‘kelabakan’ dan memang yang paling terasa sepertinya adalah HRC karena boleh dibilang state of The art Software HRC saat itu sangat tinggi.

Sebenarnya Dorna sudah memberikan aba aba dan masa persiapan untuk memasuki era baru ini dengan memperkenalkan Open Class. Dengan Open Class, Pabrikan/ factory seperti dapat ‘masa orientasi’ atau masa pengenalan mengenai bakal seperti apa software yang akan dipakai oleh Mereka di era baru nanti ( mulai 2016 )  . . namun Ya itu dia  . . Honda always Take The Hard Way . .  alih alih konsentrasi sama software baru dengan serius memeperbanyak data dan development di sana, Honda Mungkin malah sibuk dan konsentrasi di Motor baru Yakni Honda RCV1000R  . . sementara Factory lain Seperti Yamaha dan Ducati lebih memilih memberdayakan mesin Lama untuk dijadikan Riset berjalan dan pegambilan data Software di Open Class . . hasilnya . . . ? Mungkin ini yang menyebabkan Honda kalah start dalam riset software dan membuat di awal 2016 mereka kelabakan karena paling telat memahami software Magneti Marelli. IMHO

Namun Ya itu dia Honda, di awal 2016 mereka langsung bikin Strategic Plan . . Marc Marquez diminta untuk Tidak 100 % beringas di awal Musim 2016 dan bersabar sementara Honda mencoba Step awal penggunaan Mesin Screamer namun dengan perubahan di Counter/ Backward Rotating CrankShaft ( BRC) sembari menunggu hasil test tengah musim 2016 IRTA di Brno . . . ternyata kesabaran berbuah hasil Positif ( bro bisa baca soal bagaimana struggle dan bersabarnya seorang Marc Marquez pada Strategy plan ini di artikel Marc Marquez dan Honda RC213V di Musim 2016 . . From Nothing To Something  ) .  . . . yang jadi pertanyaan , kenapa di Awal sebelum era 2016 Honda keukeuh dengan mesin Screamer Plus Forward Rotating CrankShaft (FRC) ?

Adalah Lucio Cicchinello dari Team LCR Honda menjelaskan bahwa ternyata sudut pandang dari pemilihan jenis mesin saat itu adalah masalah Konsumsi Bahan Bakar . . . Menurut Lucio dengan Mesin Screamer dibantu lagi dengan putaran Crankshaft yang sejalan dengan arah putaran Ban ( Forward Rotating CrankShaft ) maka Konsumsi bahan bakar bisa dimaksimalkan di angka 18 literan saat itu. . . si its all about irit dan irit ternyata . .

Dengan Screamer Engine Plus Forward Rotating Crank shaft menurut yang tmcblog bisa simpulkan dari Penjelasan Lucio Via speedweek tersebut adalah Honda Bisa Irit, kencang namun memang punya efek negatif yakni Karakter mesin yang beringas dan Butuh pebalap Khusus yang bisa menjinakkannya. Nah datang Era baru 2016 dimana Kapasitas bbm dinaikkan, Honda mulai berfikir kearah backward Rotating Crankshaft untuk mengatasi liarnya RCV di tikungan walaupun ada harga yang harus dibayar yakni penggunaan bbm yang lebih boros dibanding saat menggunakan Mesin Forward Rotating Crankshaft.

Namun sepertinya Honda melihat bahwa RC213V Screamer bukan motor yang Mudah untuk dibesut hanya dengan mengubah putaran Crankshaft saja. Sobat tmcblog manuel Pecino di Media centre Sepang dua pekan yang lalu dengan berapi api mengungkapkan hasil pengamatan di sisi Track ( Trackside ) tentang perbedaan Yamaha M1 dan Honda RC213V sesaat sebelum memasuki tikungan 1 ( T1 ) sirkuit sepang.

Yamaha M1 itu karakter saat melakukan hard Brake bersiap menyambut tikungan terlihat kedua ban depan dan belakangnya berada pada satu aksis yang sama  . ..  Pengereman Yamaha M1 terkoordinasi bagus antara ban depan dan ban belakang sedangkan Honda RC213V ? Manuel pun meneruskan cerita , bahwa Roda belakang Honda RC213V selalu ‘mis-align ( misalign )’ jadi tidak dalam satu garis aksis yang sama karena oversteer entah ban belakang punya tendensi maju ke kanan atau ke kiri tergantung arah tikungan dan Nah ternyata Peralihan Putaran Crankshaft dari forward ke Backward tahun 2016 tidak signifikan mengobati masalah RC213V ini..

Sedangkan di kubu Yamaha, Sobat bisa lihat betapa Mudahnya Maverick Vinales menorehkan Laptime Bagus di debut pertamanya dengan M1 . . selain talenta Vinales, tentu faktor M1 yang ‘ rider Friendly ‘ sepertinya punya peran utama  . . Mau fakta yang lebih ekstrim lagi? Menurutmu kenapa Johan Zarco dan Jonas Folger di masa debut awalnya dengan M1 ( walau sepertinya versi mesin 2016 ) bisa tampil impresif pada Test Pramusim sepang 2017 untuk ukuran debutan / rookie ?

Dari omongan Lucio Cicchinello, terasa sense bahwa sebenarnya menurut beliau Honda memang mau nggak mau harus berkompromi dengan regulasi  . ..  harus Come Back ke karakter mesin yang sudah lama mereka tinggalkan – Luccio mengatakan Baik Big bang dan backward Rotating Crankshaft sebenarnya Honda adalah Pionirnya . . . menurut Luccio, Big Bang engine digunakan pertama kali di Honda GP500 dan menurutnya pula Honda pula Yang menemukan Backward Rotating Crankshaft.

Kenapa Dulu Honda mau menggunakan BigBang ? Jika kita mau sedikit Flashback . . di saat GP500 2 tak berlangsung tahun 2001, bahan Bakar yang bisa dibawa saat Race sebanyak 36 liter  . . which is bbm bukan masalah utama saat itu. . Lalu saat era MotoGP 4 tak diperkenalkan di 2002 bahan bakar bisa dibawa sebanyak 26 Liter. Lalu setelah musim 2002 berakhir, threshold maksimum bahan bakar menyusut ke 24 liter, Tahun 2007 menyusut lagi menjadi 21 Liter ketika Kubikasi mesin turun ke 800 cc dan tahun 2015 seperti kita ketahui hanya 18 liter bbm yang boleh di gendong . . ini artinya tahun 2014/2015 punya regulasi bbm setengah dari Kapasitas bbm saat era dua tak tahun 2001 ( 36 liter )  . .

Saat  era pembatasan bahan bakar diperketat, Honda konsentrasi banget di sana dan ketika bahan bakar kembali dilonggarkan dengan ketambahan 4 liter lagi menjadi 22 liter di 2016 honda melihat bahwa Harga yang mereka bayar untuk bisa irit dengan membuat Motor yang liar sepertinya sudah tidak worth lagi kedepan . . so mereka seperti mau nggak mau harus meninggalkan ego factory dan jadilah seperti Musim 2017 ini . . engine 4 Tak 4 silinder V dengan Backward Rotating Crankshaft dan berkarakter Big Bang  . . . Harusnya sih, teorinya Bukan hanya bisa mengantarkan Marquez bisa lebih positif,namun dengan efek Motor yang lebih ‘kalem’ ( walau power berkurang) akan membuat rider honda lainpun bisa lebih merasakan motor yang lebih Friendly  . . . Semoga Berguna

Taufik of BuitenZorg

MVAI-Banner-1

Silahkan bersilaturahmi dengan TMCBlog melalui

  • email : [email protected]
  • instagram : tmcblog
  • telegram chanel : tmcblog
  • Facebook TMCBlog
  • Twitter Resmi TMCBlog @motoupdate
  • blog alternatif ; http://ringpiston.com
  • Video Blog : kanal Youtube TMCBlog
  • Android App : Google Play Store
  • iOS App : App Store

EnglishHindiIndonesianJapaneseSpanishThaiVietnamese



This post first appeared on TMC-MotoNews | 1st Home Of TMCBlog, please read the originial post: here

Share the post

Kenapa Honda MotoGP Balik Lagi Ke Mesin Backward Rotating Crankshaft dan Bigbang ?

×

Subscribe to Tmc-motonews | 1st Home Of Tmcblog

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×