Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Kekasih Pilihan (cerita pendek)

Kekasih Pilihan


Judul Cerpen Kekasih Pilihan
Cerpen Karangan: Ai Nurnendah
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 24 September 2016


“Pokoknya ayah akan jodohkan kamu dengan anak sahabat ayah”. Dan seketika ucapan itu pun menggema ke seluruh pendengaran Meyra. Membuat seluruh sendinya terasa layu. Memuncak hingga ke ujung relung jiwanya. Hingga luahan tangis pun meluap di pelukan sang ibunda.
“Bagaimana dengan nasib penantianku selama ini, Bu?” Meyra merangkul ibunya semakin erat. Airmatanya semakin deras menyayangkan jika penantiannnya pada Ali harus berakhir dengan perjodohan. Tak bisa apa-apa lagi, ibunya hanya mengelus menenangkan putri kesayangannya.


“Mey. Aku masih harus kuliah dulu, Mey. Maafkan aku, Mey.” Kata-kata itu terngiang lagi di telinga Meyra. Betapa pun ia selalu mengingat kata demi kata saat Ali memutuskan untuk pergi ke luar kota. Melanjutkan sekolahnya. Membawa seluruh cintanya walau meskipun entah apa hubungan mereka. Hanya terikat oleh perasaan yang sama semasa SMA. Lalu terpisah di persimpangan masa depan. Saling berjanji untuk setia menunggu. Saling membenahi diri. Saling menjaga kepercayaan.

Lalu apa namanya hubungan semacam ini. Pacarankah? Ta’arufkah? Atau inikah penantian yang akan menghantarkannya pada dunia nyata sesungguhnya.

“Ali pasti datang, Bu. Ali pasti datang untuk melamarku. Katakan pada ayah, Bu, kalau Ali pasti datang menemuiku.” Tangisnya memecah. Ayahnya yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar mulai merasa geram dengan rengekan anaknya. Tak terima jika anaknya harus masih menunggu ketidakpastian dari pemuda tak dikenal. Khawatir. Takut-takut anaknya itu akan menjadi perawan tua.
“Sudah!!! Keputusan ayah adalah demi kebaikanmu juga, Meyra! Lebih baik kau tidur dan persiapkan dirimu untuk lamaran besok.” Bentakan ayahnya membuat hati Meyra terasa sesak. Sakit sekali. Tidak seperti biasanya ayahnya semarah itu. Menghukum dirinya tanpa kesalahan apapun juga.

Rembulan malam ini entah kemana. Menyembunyikan cahayanya dan membuat Meyra menghabiskan malamnya sendirian. Masih tak bisa tidur. Mata indahnya sembab oleh kenangan-kenangan lima tahun silam.
Ia terpejam memeluk bantal. Bola matanya berputar dalam kelopak malam yang hanya baginya. Mungkin teringat saat dimana ia mengenal Ali pertama kali. Saat sama-sama tersesat waktu pertama masuk sekolah. Dipertemukan dalam satu kelas yang sama. Dalam satu ekskul yang sama. Bagaimana bisa Meyra menolak gejolak itu.

Ia pun teringat. Saat diam-diam ia memendam perasaannya. Saat harus berpura-pura tersenyum ketika Ali ditugaskan berdua dengan Zahra. Sampai akhirnya disatu senja. Di bawah gerimis yang bagai siraman salju. Seorang siswa kelas 3 SMA berseragam sederhana, menyandang tas selempang, itu berkata “Aku tau kau menyukaiku. Hanya saja kau tak berani mengatakannya, ‘kan?” Ucapnya saat Meyra hendak pulang. Meyra hanya menghentikan langkahnya sekejap. Kemudian berlari menghindar saat pria itu berteriak

“Jangan khawatir, Mey!! Aku pasti datang!!” Dan setelah itu, ucapan lelaki itu, selalu meneguhkan hati Meyra untuk tidak memberikan hatinya kepada siapapun hingga saat ini. Termasuk pada Zul. Meski mau tidak mau, Meyra harus menuruti keinginan ayahnya juga.
“Duhai insan yang selalu tersemat dalam hati ini. Menantimu adalah suatu keputusan terindah saat jarak memisahkan kita. Tapi mengapa engkau pergi begitu lama.
Duhai insan yang selalu kukagumi secara diam-diam. Jika Allah telah menciptakanmu sebagai kekasih pilihan untukku. Aku percaya. Engkau dan aku akan segera dipertemukan.
Tapi apalah guna tangisan ini. Permohonan yang selalu terucap dalam istikharahku. Sekiranya engkau bukan jodohku, sedekat apapun itu, kita akan tetap saling menjauh”.

Saat ini langit begitu cerah. Warnanya biru begitu mempesona. Di balik kamar ini, Meyra tak lagi menitikkan airmatanya. Setelah melewati penantian itu dan cintanya dalam diam, setidaknya telah membuat Meyra semakin mampu dalam mengolah rasa. Tak ada lagi kesedihan yang tampak pada wajah cantiknya. Ia cukup dewasa. Ia yakin, Allah maha tahu apa yang terbaik bagi dirinya.

Sementara di ruang utama, ayahnya tengah berbicara serius bersama tiga orang lainnya. Terlihat begitu berwibawa. Pakaiannya pun rapi sekali.
“Baiklah saya mengerti. Kalau begitu akan saya panggilkan Meyra untuk ke luar” kata ayahnya sembari tersenyum. Meyra pun keluar dari kamarnya. Dan betapa ia terkejut saat yang ia lihat di hadapannya itu adalah…

“Ali datang untuk melamarmu, Mey. Aku tahu kau sangat mencintainya. Dan aku pun tidak bisa melanjutkan perjodohan kita. Aku telah memilih gadis lain. Ini..” Kata Zul seraya menyerahkan sebuah foto.
“Zahra?” Meyra terheran.
“Iya. Seperti kalian. Aku dan Zahra juga ternyata saling mencinta dalam diam. Tak banyak yang tahu tentang hal ini kecuali Ali sepupuku. Dan sekarang, aku dan ayahku hendak mengantar Ali untuk melamarmu. Apa kau bersedia, Meyra?”. Seketika Meyra pun menitikkan airmata bahagia. Berusaha menatap Ali. Mengulum senyum.
“Telah kutepati janjiku untuk menemuimu, Mey. Terimakasih atas penantian dan kesabaranmu untukku. Hari ini, akan kutepati janjiku. Meyra, bersediakah kau untuk menjadi pendamping hidupku?” tanya Ali.

“Selalu aku yakini. Sejauh apapun itu, sekiranya engkau adalah kekasih pilihan, kita akan tetap dipersatukan. Demi mengharap ridho Allah. Bismillah, aku siap”. Mereka mengucap syukur.




This post first appeared on Info Khasiat Herbal Dan Cara Pengobatan Tradisional, please read the originial post: here

Share the post

Kekasih Pilihan (cerita pendek)

×

Subscribe to Info Khasiat Herbal Dan Cara Pengobatan Tradisional

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×