Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Biografi Imam Syafi'i

Abu Abdullah Muhammad asy-Syafi'i

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعيّ المطَّلِبيّ القرشيّ) atau singkatnya Imam Asy-Syafi'i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H/767 M - Fusthat, Mesir, 204 H/819 M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.

Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.

Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.



Kelahiran

Idris bin Abbas menyertai istrinya dalam sebuah perjalanan yang cukup jauh, yaitu menuju kampung Gaza, Palestina, di mana saat itu umat Islam sedang berperang membela negeri Islam di kota Asqalan.

Pada saat itu Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung, Idris bin Abbas gembira dengan hal ini, lalu ia berkata, "Jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan kunamakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi'i bin Asy-Syaib."

Akhirnya Fatimah melahirkan di Gaza, dan terbuktilah apa yang dicita-citakan ayahnya. Anak itu dinamakan Muhammad, dan dipanggil dengan nama "asy-Syafi'i".

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah SWT menakdirkan Imam Asy-Syafi`i."



Nasab

Idris, ayah Imam Syafi'i tinggal di tanah Hijaz, ia merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Dia adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.

Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:
"Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil dia menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan dia."





Masa belajar

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.

Kemudian dia juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.

Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah

Kemudian dia pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.

Di majelis dia ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Dia menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga dia menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Dia juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga dia menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Dia juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Dari berbagai pernyataan dia di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling dia kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru dia yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat dia, dia tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Di Yaman

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh dia ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, dia melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini dia banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga dia mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Baghdad, Irak

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Di Mesir Imam Syafi'i bertemu dengan murid Imam Malik yakni Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (qaul qadim). Kemudian dia pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (qaul jadid). Di sana dia wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya tulis

Ar-Risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar-risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Dia adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dia juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”

Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun dia bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan dia benci kepada Ahlil Kalam (maksudnya adalah golongan Ahwiyyah atau pengikut hawa nafsu yang juga digelari sebagai Ahlul-Ahwa’ seperti al-Mujassimah, al-Mu'tazilah, Jabbariyyah dan yang sebagainya) dan Ahlil Bid’ah.” Dia bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.” Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam (ilmu falsafah dan logika yang digunakan oleh golongan Ahwiyyah)”

Dia mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu dia banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan dia pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, dia menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga dia menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Dia mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
Ishaq bin Rahawaih,
Harmalah bin Yahya
Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Dalam masalah Al-Qur’an, dia Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Qalamullah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok,”

“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (ucapan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

"Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

Dia berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

Dia berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”

Dia mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Akhir Hayat

Pada suatu hari, Imam Syafi'i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.

Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, "Bagamana kondisi Anda wahai guru?" Imam Syafi'i menjawab, "Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?".

Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, "Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku," lalu sepupunya berkata, "Kami akan turun sebentar untuk salat." Imam menjawab, "Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku." Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, sang Imam bertanya, "Apakah engkau sudah salat?" lalu mereka menjawab, "Sudah", lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, "Biar kami campur dengan air hangat," ia berkata, "Jangan, sebaiknya dengan air safarjal". Setelah itu ia wafat. Imam Syafi'i wafat pada malam Jum'at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.

Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.

Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, "Apakah Imam meninggalkan hutang?", "Benar!" jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.

Jenazah Imam Syafi'i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, "Semoga Allah merahmati asy-Syafi'i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik."

Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi'i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi'i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.




"Kitab-kitab Fiqih Madzhab Syafi’i"



Kitab Fiqih dalam Madzhab Syafi’i rahimahullah yang dikarang oleh Ulama-ulama Syafi’i dari abad ke abad sudah banyak, tidak terhitung lagi banyaknya karena diantannya ada yang tidak sampai ke tangan kita, tidak pernah kita melihat dan bahkan kadang-kadang ada yang tidak pernah didengar. Sahabat-sahabat Imam Syafi’i rahimahullah (Ulama-ulama pengikut Syafi'i) sudah demikian banyaknya. Hampir setiap Ulama itu mengarang kitab Fiqih Syafi’i untuk dijadikan pusaka bagi murid-muridnya dan bagi pencinta-pencintanya sampai akhir zaman. Maka sudah tentu kita tidak dapat membuat daftar di sini, karena kita tinggal di Indonesia yang sangat jauh dari Mesir yang mencetak buku-buku Madzhab Syafi’i itu. Tetapi sungguhpun demikian, di bawah ini akan kami cantumkan juga nama kitab-kitab Fiqih dalam Madzhab Syafi’i yang kami ketahui. Kami akan mencatatkan yang penting-penting saja yang sebagian besar sudah beredar di Indonesia. Buku/Kitab-kitab itu adalah :

1. Al Hujjah, karangan Imam Syafi’i (wafat : 204 H.).

2. Al lmla', dalam ilmu Ushul Fiqih' 3- Al umm, dalam ilmu Ushul Fiqih'

4. Al Buwaithi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

5. Mukhtasar al Muzani, dalam ilmu Ushul Fiqih'

6. Ar Risalah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

7. Ahkamul Quran, dalam ilmu Ushul Fiqih'

8. Ibthalul Istihsan, dalam ilmu Ushul Fiqih'

9. Al Qiyas, dalam ilmu Ushul Fiqih'

10. Al Musnad, dalam ilmu Ushul Fiqih'

11. Jami'ul 'Ilmi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

12. Mukhtasar al Buwaithi, dalam ilmu Ushul Fiqih' 13. Harmalah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

L4. Jami'al Muzani al Kabiir, dalam ilmu Ushul Fiqih' 15. Jami'al Muzani as Shagier, dalam ilmu Ushul Fiqih'

16.Istiqbalul Qiblatein, dalam ilmu Ushul Fiqih'

17. Al Amali, dalam ilmu Ushul Fiqih'

18. Al Qassamah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

19. Al Jizyah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

20. Qital ahli Bagyi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

21. Al Watsaiq, karangan Imam al Muzanni (wafat 264 H.).

22. Masalah al Mu'tabarah, dalam ilmu Ushul Fiqih' 23. Al Muharrah fin Nazhar, karangan Imam Thabari, (wafat 305 H.).

24. Al Ifshah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

25. Syarah Mukhtasar, karangan Ibnu Abi Hurairah, (wafat 245 H.).

26. Talkhisah, karangan Ibnul Qashi, (wafat 335 H.). 27. Al Miftah, dalam ilmu Ushul Fiqih' 28. Adaabul Qadhi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

29. Al Mawaqiit, dalam ilmu Ushul Fiqih'

30. Al Waqi'a, dalam ilmu Ushul Fiqih'

31. Adaabul Qadha, dalam ilmu Ushul Fiqih'

32. Al Wakalah, karangan Imam Jarjani (wafat 392 H.).

33. Al Majmu', karangan Muhamili (wafat 360H.). 34. Al Muqra, dalam ilmu Ushul Fiqih' 35. Al Lubab, dalam ilmu Ushul Fiqih'

36. Al Muhadzab,karangan Abu Ishak as Syirazi (wafat 476 H.).

37. Tanbih, dalam ilmu Ushul Fiqih'

38. Al Luma', dalam ilmu Ushul Fiqih'

39. At Tabshirah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

40. Al Mulkhishi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

41. Al Ma'na, dalam ilmu Ushul Fiqih'

42. Al Hawi, karangan Al Mawardi (wafat 450 H.). 43. Al Iqna, dalam ilmu Ushul Fiqih'

44. An Nihayah, karangan Imamul Haramaini (wafat 505 H.).

45. Al Khuslashah, karangan Imam Ghazali, (wafat 505 H).

46.Al Wajiz, dalam ilmu Ushul Fiqih'

47. Al Wasith, dalam ilmu Ushul Fiqih'

48. Al Basith, dalam ilmu Ushul Fiqih'

49. Fathul 'Aziz, karangan Imam Rafi’i, (wafat 676H.).

50. Al Muharrar, dalam ilmu Ushul Fiqih'

51. Minhajut Thalibin, karangan Imam Nawawi (wafat 676H.).

52. Ar Raudhah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

53. Al Umdah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

54. Tanqih, dalam ilmu Ushul Fiqih'

55. Manasik, dalam ilmu Ushul Fiqih'

56. Al Fatawi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

57. Al Majmu', dalam ilmu Ushul Fiqih'

58. Al Irsyad, karangan Syeikh Ibnul Muqri.

59. Ar Raudhah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

60. Al Amali, karangan Izzuddin bin Abdissalan, (wafat 660 H.).

61. Al Qawaidul Kubra, dalam ilmu Ushul Fiqih'

62. Fatawi al Mishriyah, dalam ilmu Ushul Fiqih'

63. Fathul Aziz, karangan Zarkasyi (wafat 794 H.). 64. Takmilah Syarah Minhaj, dalam ilmu Ushul Fiqih' 65. Khadimur Rafi', dalam ilmu Ushul Fiqih'

66. Khabaya Zasraya, dalam ilmu Ushul Fiqih'

67. Ad Dibaji fi Taudhihil Minhaj, dalam ilmu Ushul Fiqih'

68. Syarah Tanbih, dalam ilmu Ushul Fiqih'

69. Takmilah al Majmu', karangan Taqiyuddin Subki (wafat756 H.).

70. Syarah Kitabul Minhaj, dalam ilmu Ushul Fiqih' 71. Tahbirul Madzhab, dalam ilmu Ushul Fiqih'

72. Ibtihaj fi Syarhil Minhaj, dalam ilmu Ushul Fiqih' 73. Nurul Mishbah fi Shalatit Tarawih, dalam ilmu Ushul Fiqih'

74. Al Ibab, karangan Syeikh Mazjad.

75. Al Hawi, katangan Imam Quzuwaini.

76. Tuhfatul Muhtaj lisyarhil Minhaj, karangan Ibnu Hajar al Haitami (wafat 974H.).

77. Fathul Jawad, dalam ilmu Ushul Fiqih'

78. Al I'ab Syarah al'Ubab, dalam ilmu Ushul Fiqih' 79. Al Imdad, dalam ilmu Ushul Fiqih'

80. Al Fatawi, dalam ilmu Ushul Fiqih'

81. Minhajut Thulab, karangan Zakariya Al Anshari, (wafat 926 H.).

82. Thahrir, dalam ilmu Ushul Fiqih'

83. Fathul Wahab Syarah Minhajut Thulab, dalam ilmu Ushul Fiqih'

84. Asnal Mathalib, dalam ilmu Ushul Fiqih'

85. Al Gayah wat Taqrib, karangan Abu Syuja', (wafat 593 H.).

86. Mughni al Muhtaj Syarah Minhaj, karangan Syeikh Syarbaini Al Khatib, (wafat 746 H.).

87. Al Iqna', dalam ilmu Ushul Fiqih'

88. Fathul Qarib Syarah Al Gayah wat Taqrib, karangan Imam Qasim Al Ghazi, (wafat 892 H.).

89. Nihayatul Muhtaj, karangan Ar Ramli, (wafat 1004 H.).

90. Kifayatul Akhyaar, karangan Taqiyuddin Al Husaini. (wafat 829 H.).

91. Syarqawi al at Tahrir, karangan Imam Syarqawi, (wafat 1227 H.).

92. Hasyiyah al Bajuri, karangan Imam Ibrahim al Bajuri (wafat 1276H.).

93. Al Mahalli Syarah Minhaj, karangan Imam Jalaluddin Al Mahalli (wafat 864 H.).

94. Fathul Muin, karangan Imam Zainuddin al Malibari.

95. I'anatut Thalibin, karangan Sayid Abi Bakar Syatha.

96. Nihayatuzzein, karangan Syeikh Nawawi Bantan.

97. Matan Zubad, karangan Ibnu Ruslan (wafat 844H.). Inilah 97 (sembilan puluh tujuh) buah kitab dalam fiqih Syafi’i yang sangat terbaik untuk orang yang ingin mempelajari fiqih dalam Madzhab Imam Syafi’i rahimahullah. Kitab-kitab yang tersebut di atas banyak yang tebal-tebal dan besar, umpamanya Al-Majmu' karangan Imam Nawawi 13 jilid. Tuhfatul Muhtaj kanngan Imam Ibnu Hajar 10 jilid. Nihayatul Muhtaj karangan Ramli 8 jilid besar. I'anatut Thalibin karangan Said Syatha 4 jilid besar. Al Mahalli karangan Syeikh Jalaluddin al Mahalli 4 jilid besar dan begitulah seterusnya. Untuk diketahui lebih mendalam di bawah ini kami buatkan suatu Ranji yang dapat menggambarkan situasi yang telah berlangsung dalam memperterang, memperinci dan meringkaskan kitab-kitab Syafi'iyah dari dulu sampai sekarang.
posted from Bloggeroid


This post first appeared on Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, please read the originial post: here

Share the post

Biografi Imam Syafi'i

×

Subscribe to Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×