Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Miris dengan Urbanisasi, Tahruri cs Kembangkan Budidaya Jamur Tiram

PARA pemuda banyak urbanisasi ke kota. Merantau. Mereka malas terjun ke sawah. Keadaan tersebut membuat miris Tahruri, pemuda Kecamatan Pagerbarang. Bersama pemuda Kecamatan Pagerbarang lainnya, Satori, Ali Zamroni, Dedi, Wahyu, dan Yusron, Tahruri membuat usaha di desa.

Pada Tahun 2017, terbentuklah usaha budidaya Jamur Tiram di Desa Surokidul, Kecamatan Pagerbarang, sebagai proyek pertama. “Saya belajar budidaya jamur tiram sudah lama. Untuk project pertama budidaya jamur tiram di Desa Surokidul,  dengan modal awal Rp 4 juta. Rp 3juta untuk bangun kumbung sederhana. Dan 1 juta untuk bikin baglog bibit jamur,” ungkap Tahruri.

Dari penjualan hasil panen dikembangkan untuk memperbanyak buat baglog bibit jamur. Usaha makin berkembang dengan menjadi paguyuban jamur tiram Kecamatan Pagerbarang. Dan, anggota cukup banyak. Tahuri dinobatkan menjadi ketua paguyuban. Dalam paguyuban, ada bagian pemasaran, pelatihan budi daya jamur tiram, manajeman perusahana dan lain-lain

Tahruri  mengungkapkan, di pasaran harga jamur mentah  -belum diolah –  bisa mencapai Rp15.000 –  Rp20.000  per kilogram. Dengan harga tersebut, satu kelompok bisa mengantongi  Rp 3juta – Rp4 juta dalam sebulan.  “Sebab, dalam sehari, bisa memanen sebanyak 8 kg,” kata dia.

Saat ini, sambung Tahruri, peminat jamur tiram cukup banyak. Apalagi, dengan menjamurnya waralaba-waralaba yang mengolah jamur menjadi berbagai menu khas.

Untuk pemasaran, menurut Tahruri, tidak ada kendala. Hanya masalah pembudidayaan yang masih terbatas. “Permintaan jamur tiram sangat besar. Kita cuma bisa menghasilkan jamur selama satu hari 300 kilogram. Sedangkan permintaan pasar sampai 1,6 ton,” ungkap dia.

Satu kelompok pemuda desa pembudidaya jamur ini tak hanya bergerak dalam pembudidayaan jamur tiram saja. Tahruri mengungkapkan, mereka juga mulai membuat baglog untuk jamur. Baglog dijual kepada pihak-pihak yang membutuhkan atau akan membudidayakan jamur tiram. Dalam sehari, mereka bisa menghasilkan ratusan  baglog.

“Hanya butuh ketelatenan selama perawatan dan kebersihan lokasi jamur tiram agar bisa menghasilkan produk yang bagus dan menghasilkan  panen yang banyak,” kata dia.

20 Petani

Di Kecamatan Pagerbarang,  petani jamur tiram saat ini berjumlah 20 petani yang tersebar di Desa Pesarean, Desa Surokidul, Desa Randusari, Desa Pagerbarang, Desa Jatiwangi, Desa Sidomulyo, Desa Kertaharja. Dan dari luar kecamatan dari kecamatan Margasari.

Paguyuban jamur tiram Kecamatan Pagerbarang pernah mendapat  penghargaan dari mahasiswa KKN Unsoed. Anggota paguyuban mewakili paguyuban maju menjadi pemuda pelopor di tingkat kabupaten dan mendapat juara 3 pada tahun 2018. Dan dibantu mahasiswa membuat produk untuk expo dan transfer ilmu jamur tiram.

“Budi daya jamur tiram itu asik dan menarik. Namanya usaha, ada gagal ada berhasil. Tapi kami yakin kita akan berhasil,  ungkap anggota jamur tiram. (bentar)

The post Miris dengan Urbanisasi, Tahruri cs Kembangkan Budidaya Jamur Tiram appeared first on Jadi Mitra Panturabisnis.com, Hubungi 085867717830.



This post first appeared on Pantura Bisnis, please read the originial post: here

Share the post

Miris dengan Urbanisasi, Tahruri cs Kembangkan Budidaya Jamur Tiram

×

Subscribe to Pantura Bisnis

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×