Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

PENGALAMANKU DI NII KW9 (update 2020)

Tags: atau mereka juga

Ini merupakan tulisan ulang dari tulisan lama :
https://niikw9.wordpress.com/2009/02/13/pengalamanku-di-nii-kw9/
karena banyak adik-adik generasi milenial yang terjebak ajaran sesat NII DI TII, ngakunya berjuang atas nama agama Islam, ternyata isinya pemerasan harta, tenaga dan pikiran.

Awalnya, pada akhir tahun 1994, kira-kira generasi milenial sudah lahir belum yaa di tahun tersebut . . . ?

Saya selalu didekati kakak angkatan waktu kuliah di UGM beda jurusan, Abdullah Arif, Teknik Sipil UGM angkatan 1992 – akhirnya Drop Out alias D.O. Saya kuliah di Jurusan Teknik Nuklir angkatan 1993. Saya sering bincang-bincang dengan kakak angkatan tersebut karena waktu itu saya sudah cukup percaya dengannya, yang dulu Juga kakak kelas saya waktu di SMA, SMA AL Islam 1 Surakarta. Ternyata alumni SMA tersebut banyak juga yang terjebak ajaran NII, baik putra maupun putri. Hal ini saya ketahui dari beberapa pesan WA yang masuk ke HP saya, menanyakan ajaran aneh tersebut, setelah bincang-bincang, ternyata alumni SMA yang sama.

Kembali pada Dul Arif Atau DoeL Kemin, panggilan waktu SMA dulu, pertamanya dia sering mengajak bicara tentang kondisi sosial, agama, dan politik pada masa itu. Kemudian pembicaraan mulai intensif ke masalah agama. Terus menjelaskan agama sebagai suatu sistem, yang dikongkritkan dalam bentuk negara. Menjelaskan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Waktu saya masih muda sehingga saya nggak berani melakukan bantahan. Saya cuma mengiyakan, walau dalam hati banyak keraguan.

Tahap berikutnya saya mulai ditemukan temennya. Sang teman namanya Saifullah Qohari asal Kebumen, mahasiswa MIPA Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O juga, menanyai tema-tema atau materi-materi yang sama seperti yang telah disampaikan kakak tadi. Bahkan seperti menguji dengan ayat-ayat tentang jihad, berkorban, atau perniagaan. Kemudian diakhiri dengan materi “hijrah”.

Tahap berikutnya, saya diajak keluar kota Yogyakarta, yaitu ke kota Kebumen, kecamatan Prembun. Di sana, diulang lagi materi-materi di atas kemudian dijelaskan yang di maksud sistem Islam adalah . . . . . NII/DI/TII. Walaupun dalam hati masih ragu-ragu juga, karena sejak awal sepertinya saya dikondisikan untuk tidak dapat mengelak atau mengatakan tidak. Akhirnya saya iyakan apa yang Mereka inginkan, yaitu agar saya hijrah dari RI ke NII.

Beberapa hari setelah itu, saya disuruh hijrah. Yaitu di Kulon Progo, tanggal 24 November 1994. Saya hijrah dengan sodaqoh Rp. 250.000,00. Saya juga diberi nama baru, yaitu : Ja’far Rabbani. Menurut mereka saya resmi masuk menjadi warga Negara Islam Indonesia, propinsi Jawa Bagian Selatan. Sayang sekali saya lupa nama pimpinan-pimpinan yang menghijrahkan dan menyaksikan saya hijrah waktu itu. Yang saya ingat cuman Sugi (Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O). Sugi ini teman satu SMA Kebumen Saifullah Qohari.

Setelah itu, saya masuk dalam dunia NII. Saya kaget karena, saya mulai difahamkan bahwa dalam masa perang antara NII dengan RI, tidak perlu melakukan “sholat wajib”. Sholatnya yaa diganti dengan tilawah atau mencari anggota baru. Boleh melakukan fai’ atau mencuri, karena semua harta yang ada di dunia ini diperuntukkan bagi manusia yang sholeh, yaitu warga NII. Boleh melakukan tipu muslihat, atau makar yang dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan NKRI. Karena nota bene itu adalah kehidupan RI, jahiliyah mereka bilang. Saya juga disarankan untuk meninggalkan kuliah, dengan alasan itu didikan thogut.

Alhamdulillah itu tidak saya ikuti, walaupun senior-senior (mereka menyebut: bapak-bapak) banyak yang udah Drop Out atau DO dari kampusnya masing-masing. Saya juga diwajibkan untuk menyetor infak tiap bulan yang jumlahnya tidak boleh sama atau kurang dari bulan yang lalu. Kalau ini terjadi mereka akan mengacam dengan hadis… “barang siapa yang hari ini sama atau lebih jelek dari kemaren … maka …dst”.

Selain itu saya juga diwajibkan mencari merekut anggota atau kader-kader baru, dengan jalan mencari kenalan, menemui teman-teman lama, untuk kemudian ditilawah dan ditaftis. Untuk mempermudah pekerjaan ini saya digabungkan dengan anggota lain yang bernama : Nurmansyah Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1989, ini akhirnya lulus.

Setahun hidup dalam suasana batin sebagai warga NII, saya mendapatkan anak (kader) sebanyak tiga orang (1 cowok, 2 cewek). Saya renungi kembali makna hidup saya di NII …. sepertinya saya ini jadi aneh yaa … Saya makin dijauhi temen-temen dekat saya, karena sebagian mereka ada yang menolak saat saya tilawah, kemudian bilang pada teman yang lain, bahwa saya telah “berubah”. Nilai kuliah saya amburadul karena jarang kuliah…. kata senior saya, “nggak apa-apa demi tugas negara”. Hubungan saya dengan orang tua kandung jadi “dingin” karena saya menganggap mereka kafir, tapi hidup saya secara materi masih tergantung pada mereka berdua. Rasa percaya diriku juga makin luntur, hidup rasanya penuh pesimistik, dan lain-lain.

Pernah saya dibuat terkejut saat diberi materi oleh senior saya tentang pernikahan. Bahwa perjodohan yang telah ditentukan pimpinan harus dilaksanakan, apapun rintangannya termasuk halangan dari orang tua kandung masing-masing. Yang penting pimpinan udah menikahkan, kemudian dihamili, pasti ortu kandung mereka nggak kuasa untuk menolak, Astagfirullah.

Bulan Oktober 1995 M, saya membaca artikel di Tempo, bahwa ada NII putih, ada pula NII merah. Kata senior saya, bahwa NII saya emang yang merah tapi tetep satu komando dengan yang dipusat (kata mereka pimpinan pusat dipegang Adah Jaelani). Saya yang baru dengar nama Adah Jaelani, yaa nurut aja apa kata mereka ….. Tapi makin lama, kegalauan, kegelisahan, dan kebingungan menyelimuti hidupku di NII. Akhirnya aku mulai mencari-cari cara bagaimana bisa keluar dari kebingungan ini, kalau perlu keluar dari NII. Umat nabi dulu optimis, aku kok pesimis … apanya yang salah yaa : diriku sendiri atau NII ?

Puncaknya di bulan Desember 1995. Temen satu timku harus pulang ke Semarang (orang tua) karena lulus kuliah, hubunganku dengan senior yang di Jogja juga mulai nggak harmonis, temen-temen NII yang selevel dengan aku juga mulai banyak yang keluar. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1995 kuputuskan keluar dari NII, dengan bilang pada seniorku, yang bernama Abdan Syakuro (atau Saifullah Qohari) lewat telpon bahwa saya sudah keluar, tidak percaya lagi dengan apa yang ia katakan. Amin. Aku juga bilang pada yunior-yuniorku apa yang telah kuputuskan. Anehnya kok mereka juga ikut keluar sama sepertiku …. yang nggak beres itu aku sendiri, yuniorku, seniorku, atau NII ?????

Setelah keluar, aku kucing-kucingan dengan senior-seniorku, karena mereka mengancam akan membunuku, darah orang murtad itu halal kata mereka. Tapi kalau pas ketemu kok mereka malah yang ngacir nggak karuan … yang salah itu : aku, RI, atau NII ????? Alhamdulillah aku tidak merasa menyesal meninggalkan NII.

Masa-masa berikutnya kuisi dengan pemulihan baik jasmani yang kurus kering karena dulu kurang gizi (duit habis untuk infak / shodaqoh / tabungan / dll). Juga rohani yang kehilangan rasa percaya diri. Kedua bidang itu berupa, menjalin kembali persahabatan dengan temen-temen lama, rajin kuliah, bakti dengan orang tua, dan lain sebagainya.

============

Update 2009 : Saya dah berkeluarga tinggal di Tangerang kerja di Jakarta, saya terbuka buat temen2 untuk berbagi cerita, silahkan WA di https://wa.me/6281328484289 atau berkirim email di [email protected]

Update 2020 : kepada teman-teman yang pernah terjebak di NII DI TII, ayo ulurkan tanganmu, ceritakan pengalamanmu, agar adik-adik generasi milenial atau generasi selanjutnya tidak ada lagi yang tertipu ajaran serupa.

Share the post

PENGALAMANKU DI NII KW9 (update 2020)

×

Subscribe to Serial Penyadaran Korban Nii Gadungan | Nii Gadungan : Menawarkan Islam, Ujung-ujungnya Pemerasan Dan Meng-kafir-kan Orang Lain

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×