Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Ini Bohong yang Boleh Dilakukan

Bohong yang Boleh Dilakukan


Dyardian Blog - Apakah kita boleh berbohong kepada orang lain? Dan dalam ajaran Islam apakah melakukan sebuah kebohongan tidak menimbulkan dosa?

Seandainya ada orang yang bertanya kepada kita dan pertanyaan yang Ia berikan sama persis seperti pada pertanyaan di atas, tentu saja jika kita ingin menjawabnya dengan cara umum plus singkat plus simpel, tentu kita dapat menjawabnya ; kita tidak boleh berbohong ataupun berdusta kepada/terhadap orang lain. Karena yang namanya kebohongan atau kedustaan sekecil apapun itu pastilah menimbulkan dosa. Bukan tidak mungkin, bagi orang yang melakukan sebuah kebohongan atau kedustaan mereka bakal menjadi penghuni neraka.

Akan tetapi taukah Anda, bahwa ada dari jenis perbuatan bohong atau dusta yang boleh dilakukan dalam agama Islam.
Bagi Anda yang belum mengetahui tentang bohong atau dusta seperti apa dan bagaimana yang boleh dilakukan serta tidak menimbulkan dosa dalam Islam, berikut di bawah ini ada beberapa penjelasanya tentang/mengenai jenis dari bohong yang boleh dilakukan demi mewujudkan suatu kebaikan.

Bolehkah berbohong dalam Islam?
Jawaban :
Bohong atau dusta adalah perbuatan haram. Tidak ada keringanan bagi orang yang berdusta dalam Islam, kecuali karena dalam situasi dan kondisi yang sangat darurat ataupun dikarenakan karena ada kebutuhan yang sangat mendesak. Itu pun bohong atau dusta hanya dapat dilakukan dengan batas yang sangat sempit. Dan yang dimaksud dengan batas yang sangat sempit adalah, dikarenakan tidak ada cara lain lagi yang di jumpai untuk mewujudkan tujuan serta niat yang baik itu. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan tujuan serta niat yang baik itu hanya dengan satu jalan saja, yaitu harus dengan cara melakukan perbuatan bohong.

Ada satu cara yang mirip dengan dusta tetapi bukan dusta. Dalam kondisi yang sangat mendesak "kepepet", seseorang bisa menggunakan cara ini untuk mewujudkan keinginannya tanpa harus terjerumus ke jurang kedustaan. Cara itu bernama/dinamakan ma'aridh atau tauriyah.
Bentuknya, seseorang menggunakan kata yang ambigu, dengan harapan agar dipahami lain oleh lawan bicara.

Sebagai contoh, disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

Suatu ketika Nabi Ibrahim pernah bersama istrinya Sarah. Mereka berdua melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zhalim. Ketika rakyatnya melihat istri Ibrahim, mereka lapor kepada raja, di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik - sementara penguasa ini punya kebiasaan, merampas istri orang dan membunuh suaminya - Penguasa itu mengutus orang untuk menanyakannya.
"Siapa wanita ini?" tanya prajurit.
"Dia saudariku." Jawab Ibrahim.
Setelah menjawab ini, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan,
"Wahai Sarah, tidak ada seorangpun di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong."

Dalam hal ini, Nabi Ibrahim 'alahis salam menggunakan kalimat ambigu atau tauriyah.
Kata "saudariku" dapat diartikan atau bisa bermakna saudari seagama atau saudara kandung. Yang diiginkan Ibrahim adalah saudara seiman/seagama, sementara perkataan beliau tersebut dipahami oleh prajurit, saudari kandung.
Inilah bohong yang dibolehkan yakni bohong untuk mewujudkan kemaslahatan atau menghindari bahaya yang lebih besar.

Dan diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti Uqbah, beliau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ;
"Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar- sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan Atau mengatakan kebaikan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud menumbuhkan kebaikan :
Ketika ada dua kubu, A dan B yang berseteru, datang C. Dia sampaikan bahwa kepada A tentang B, yang membuat A ridha dan mau memaafkan kesalahan B, dan sebaliknya. Meskipun bisa jadi, C tidak pernah mendengarnya. Semua itu dalam rangka perdamaian. Demikian keterangan di Syarh Sunnah Al-Baghawi.
Dalam riwayat yang lain ;
"Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal :
Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan)." (HR. Muslim)

Yang dimaksud berbohong antar-suami istri adalah berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan untuk melestarikan kasih sayang dan ketenangan dalam hubungan keluarga.
Seperti memuji istrinya hingga tersanjung, atau menampakkan kesenangan bersamanya sampai pasangannya tersipu malu, dan sebagainya.

Satu yang perlu di garis bawahi dan tebal, bukan termasuk bohong yang dibolehkan dalam hadits ini, berbohong untuk mengambil hak pasangannya atau lari dari tanggung jawab.
Demikian keterangan dari An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan ;
"Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya." (Fathul Bari, 5:300)

Sementara itu berbohong ataupun berdusta ketika perang bentuknya dengan cara berpura-pura menampakkan kekuatan atau menipu musuh dengan strategi perang dan lain sebagainya (segi perang).
Dan tidak termasuk bagian ini adalah mengkhianati perjanjian.

Akan tetapi seperti yang sama-sama kita ketahui, kalau di zaman kita sekarang ini, sangat jarang kita jumpai orang berbohong atau berdusta dikarenakan karena mereka ingin melakukan sebuah kebaikan. Mereka berbohong hanya untuk memperkaya dirinya sendiri.
Kita ambil sebagai contohnya ;
Bagi mereka yang bergelut di bidang politik, dapat kita lihat. Pada saat orasi (kampanye) tidak sedikit dari mereka para pemain politik yang tidak tanggung-tanggung untuk memberikan janji manis mereka kepada pendukungnya.
Dapat kita lihat setelah keinginan mereka terwujud/tercapai, apakah mereka ingat dengan janji-janji yang mereka berikan?

Tentu saja bukan seperti itu yang di maksud dengan bohong atau dusta yang boleh dilakukan. Semoga bermanfaat.


This post first appeared on Dyardian, please read the originial post: here

Share the post

Ini Bohong yang Boleh Dilakukan

×

Subscribe to Dyardian

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×