Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 33

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

hkan diri berlutut di depan penolongnya. Juga Han Le yang tadi nonton dengan mata terbelalak dan kagum, kini berlutut dan mengangkat mukanya memandang kepada nya.
  Sejenak Bu Beng Kwi menatap wajah anak itu, kemudian dia berkata, “Anak baik, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Maukah engkau?”
  “Tentu saja aku mau dan terima kasih banyak atas kebaikan locianpwe,” jawab anak itu dan diam-diam si muka setan kagum melihat sikap sopan dan baik dari anak itu. seorang anak yang terdidik baik, pikirnya.
  “Kalau begitu, engkau ikutlah denganku.” berkata demikian, Bu Beng Kwi membalikkan tubuhnya dan terus melangkah pergi. Sampai beberapa lamanya dia melangkah, kemudian membalik dan menatap ibu dan anak itu.
  “Aku hanya mengajak anak ini untuk menjadi muridku.”
  Mendengar ini Sheila dan Han Le kembali menjatuhkan diri berlutut.
  “Taihiap, sampai matipun kami tidak dapat saling berpisah. Di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bagaimana mungkin Henry anakku akan dipisahkan dariku ? Taihiap, kalau anakku kau ambil murid, aku berterima kasih sekali akan tetapi biarkanlah aku ikut pula ...... ”
  Wajah yang buruk sekali itu nampak semakin buruk ketika dia mengerutkan alisnya. “Akan tetapi ...... aku tidak membutuhkanmu ...... ”
  “Aku mengerti, taihiap. Akan tetapi biarlah aku berdekatan dengan anakku, aku tidak akan mengganggumu, aku bahkan akan bekerja apa saja, menjadi pembantu rumah tanggamu, mengerjakan semua pekerjaan rumah ...... tapi jangan pisahkan aku dari anakku karena hal itu berarti membunuhku ...... ”
  “Suhu, kalau benar suhu ingin mengambil teecu sebagai murid, teecu baru mau kalau ibu juga diperbolehkan ikut serta. Ibu tidak mempunyai keluarga lain dan teecu sampai matipun tidak tega untuk meninggalkan ia hidup seorang diri saja.” kata pula Han Le dengan sikap yang tegas.
  Kembali sinar kekaguman terpancar keluar dari pandang mata Bu Beng Kwi. Seorang anak yang mencinta ibunya, berbakti dan keras hati. diapun mengalihkan pandang matanya, menatap kepala berambut keemasan yang menunduk itu dan dia menarik napas panjang, wajahnya yang buruk itu tergores penuh penyesalan dan iba membayang di sinar matanya.
  “Baiklah, asal engkau tahu saja bahwa aku adalah seorang yang hidup miskin dan mengasingkan diri dari dunia ramai. Akan tetapi, nyonya, perjalanan menuju ke tempat tinggalku terlampau jauh dan sulit kalau ditempuh dengan jalan kaki biasa. Karena itu maafkanlah kelancanganku !” Tiba-tiba saja Sheila dan Han Le merasa betapa tubuh mereka terangkat naik kemudian meluncur dengan amat cepatnya. Mula-mula, mereka terkejut bukan main dan terutama sekali Sheila yang merasa betapa tubuhnya dipanggul di pundak kanan orang itu. Melihat ke bawah, ternyata orang itu membawanya berlompatan jauh dan cepat sekali sehingga ia menjadi pening dan ngeri, cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya. Akan tetapi Han Le yang mula-mula takut, kini tidak merasa takut lagi melihat dirinya dipanggul di pundak kiri. Dia malh membuka matanya lebar- lebar dan bersorak gembira.
  “Wahhh, aku terbang ! Suhu sungguh hebat, kelak harap ajarkan ilmu terbang ini kepada teecu !”
  Bu Beng Kwi memnggul tubuh ibu dan anak itu dan kedua kakinya berlari amat cepatnya seperi terbang saja.
  Jurang- jurang diloncatinya dan dengan ilmu berlari cepat yang luar biasa ini, pada keesokan harinya tibalah dia di puncak sebuah bukit yang sunyi dan jauh dari dusun-dusun. Di puncak bukit itu, di antara pohon-pohon besar, nampak sebuah pondok sederhana terbuat dari kayu-kayu besar dengan kokoh kuat dan cukup luas, dikelilingi ladang yang penuh dengan tanaman sayur-mayur dan pohon-pohon buah. Bu Beng Kwi menurunkan ibu dan anak itu dari pundaknya.
  “Kita telah tiba di rumah.”
  Ibu dan anak itu menggeliat karena tubuh mereka terasa penat-penat dan kaku setelah semalam suntuk dipanggul dan dibawa lari cepat. Akan tetapi Han Le sudah melupakan kelelahannya dan anak ini sudah berl ari- lari di sekitar rumah itu, nampaknya gembira sekali. Di lain saat dia telah memanjat pohon buah per di mana bergantungan banyak buah yang sudah tua dan masak. Melihat ini,legalah hati Sheila dan wanita ini merasa bahwa ia dan puteranya kini berada di tempat aman, dan suasana di tempat itu tenang dan tenteram, juga indah sekali pemandangannya.
  Bu Beng Kwi memandang ke arah Han Le sambil tersenyum, kemudian dia menghadapi Sheila. “Lihat, aku hidup di sini sendirian saja dan makan dari hasil ladang dan kebun. Bagaimana seorang seperti engkau dapat hidup di tempat seperti ini ?”
  Sheila tersenyum, senyum yang manis sekali. “Taihiap, aku adalah seorang wanita yang sudah banyak mengalami kehidupan yang serba pahit dan penuh dengan kekerasan dan kesulitan. Tempat ini indah, rumahmu juga cukup besar.
  Apalagi dengan kebun dan ladang sedemikian luasnya, apalagi yang dikehendaki ? Andaikata tempat tinggalmu tidak sebaik ini sekalipun, aku akan hidup berbahagia.”
  Bu Beng Kwi menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata yang kebiruan dan jernih itu.
  Teringat dia betapa tadi tubuh yang berkulit lembut, halus dan hangat itu dipanggulnya, betapa bau badan wanita itu semalam membuat dia harus mengerahkan tenaga batin untuk melawan rangsangan yang sudah bertahun-tahun tak pernah dirasakannya.
  “Engkau ...... engkau seorang wanita yang tabah, dan puteramu adalah seorang anak yang baik, berbakti, mencinta ibunya dan gagah perkasa.”
  “Tentu saja, taihiap, karena mendiang ayahnya juga seorang pendekar gagah perkasa, seorang pejuang yang berjiwa pahlawan,” kata Sheila dengan suara mengandung kebanggaan ketika dia teringat kepada mendiang suaminya, yaitu pendekar Gan Seng Bu.
  Mendengar ini, Bu Beng Kwi memundukkan mukanya lebih dalam, lalu memutar tubuh membelakangi Sheila, agaknya hendak pergi, akan tetapi kakinya ditahannya dan dia berkata dengan suara lirih, “Di dalam pondok terdapat dua buah kamar, kamar depan adalah kamarku, dan kamar belakang yang besar boleh kaupakai bersama puteramu. Di belakang terdapat dapur dan perabotnya yang lengkap. kau dan puteramu tentu sudah lapar, kalau hendak membuat makanan, di gudang dekat dapur terdapat semua bahan keperluannya.”
  “Terima kasih, taihiap. Jangan khawatir, aku akan mengerjakan itu semua, dan aku akan membersihkan pondok ini, kelihatan agak tidak terawat,” kata nyonya itu sambil menyambar sebuah sapu yang bersandar pada dinding tembok depan.
  “Oh.. ya, siapa nama puteramu itu ?” Tiba-tiba Bu Beng Kwi yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah itu tiba-tiba bertanya tanpa menengok, hanya menahan langkahnya.
  “Namanya Han Le, taihiap, aku sendiri menyebutnya Henry,”
  “Han Le, nama yang bagus !” kata Bu Beng Kwi sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
  “Shenya Gan, taihiap !” Sheila menambahkan.
  “Hemmm...... !” hanya itulah jawaban Bu Beng Kwi dan dia sudah menghilang ke dalam kamarny a.
  Demikianlah, mulai hari itu, Sheila dan Han Le tinggal di dalam rumah itu, dan Sheila segera bekerja keras untuk membersihkan rumah itu, mencuci, memasak dan semua pekerjaan rumah dikerjakannya dengan baik.
  Rumah itu nampak bersih semenjak Sheila tinggal di situ, dan makin lama Sheila semakin betah tinggal di situ karena Bu Beng Kwi jarang sekali mengajak dia bicara, bahkan jarang bertemu dengannya. pendekar yang bermuka buruk itu hanya keluar untuk melatih ilmu silat kepada Han Le, dan tidak pernah mengganggu Sheila, bahkan seolah-olah Bu Beng Kwi menjauhkan diri dari Sheila, seperti orang yang takut !


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 33

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×