Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 16

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Djoko lelono Dewi Penyebar Maut 1 Gento Guyon 1 Tabib Setan Jaka Sembung 1 Bajing Ireng Maling Budiman Wasiat Dewa Geledek Joko Sableng 1 Pesanggrahan Keramat

Lebah-lebah yang ratusan banyaknya berada di tabung- tabung bambu yang besar, dan di dalam tabung itulah tinggal ratu lebah dan semua telur yang telah menetas. Lebah-lebah itu buas dan menyerang siapa saja. Akan tetapi para anggauta Ang-hong-pai tidak takut karena mereka telah menggunakan semacam minyak yang terbuat dari daun putih. Bau minyak ini ditakuti lebah-lebah itu sehingga tidak seekorpun berani menganggu mereka.
  Kini tabung-tabung itu dibuka dan ribuan ekor lebah merah berterbangan. Mula-mula mereka nampak marah dan berterbangan di atas kepala para anggauta Ang-hong-pai, akan tetapi karena binatang-binatabg itu mencium bau yang amat ditakutinya,mereka lalu terbang tinggi mencari mangsa lain, dan tentu saja mereka segera terbang menuju ke arah Song Kim yang tidak memakai minyak anti lebah itu ! Ribuan lebah merah dengan mengeluarkan suara mendengung riuh kini menyerbu ke arah Song Kim yang berdiri tegak.
  Dia sudah mendengar akan keganasan lebah-lebah merah ini, maka sebelum naik ke bukit itu, dia sudah siap siaga untuk menghadapinya. Mula-mula dia mempergunakan jubahnya yang dilepas untuk diputar sedemikian rupa sehingga putaran jubah itu mendatangkan angin yang amat kuat. Lebah-lebah itu terseret oleh putaran arus angin yang dibuat oleh putaran jubah.
  Mereka ikut pula terputar-putar dan begitu Song Kim mengebutkan jubahnya dengan kekuatan besar, lebah- lebah itupun tertiup sampai pergi jauh. Akan tetapi, lebah-lebah itu kembali lagi. mereka kebingungan dan marah karena tabung-tabung itu ditutup oleh para pembantu Theng Toanio. Mereka kehilangan tempat tinggal mereka. Dengan ditutupnya tabung, maka tidak ada tanda apa-apa lagi bagi mereka untuk menemukan sarang mereka, maka mereka menjadi marah dan kembali kepada Song Kim untuk menyerangnya.
  Song Kim maklum bahwa tidak baik membunuh lebah-lebah itu. Kalau dia mau, tentu saja dengan mudah dia akan membunuh semua lebah dengan sambaran jubahnya, akan tetapi dia sayang kepada binatang-binatang yang dapat dipergunakan sebagai senjata itu, dan juga dia tidak mau membuat kesan buruk terhadap Ang- hong-pai. Akan tetapi, kalau hanya menggunakan jubah untuk mengusir mereka, tentu mereka akan datang kembali dan akhirnya dia yang akan menjadi lelah sekali, juga menghalangi dia untuk sampai di puncak bukit.
  Maka dipergunakanlah cara kedua yang sudah dipersiapkan. Setelah untuk kedua kalinya dengan jubah dia membuat lebah-lebah itu tertiup jatuh, dia cepat menyalakan api dan membakar beberapa batang hio biting yang sudah dipersiapkan lebih dahulu. Dia membuat hio itu dari ramuan yang dicampur belerang. Terciumlah bau yang amat menyengat hidung dan nampak asap mengepul tebal berwarna putih kekuningan.
  Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Song Kim, ketika lebah-lebah itu terbang kembali kepadanya, mereka tidak berani mendekatinya, hanya berterbangan saja mengelilingi di atasnya. bahkan ketika ada lebah-lebah yang terkena asap itu, mereka terbang kacau balau seperti mabok.
  Song Kim memegang dupa biting yang mengeluarkan asap itu dan dengan tenang melanjutkan langkahnya mendaki puncak. Lebah-lebah itu mengikutinya, akan tetapi karena asap menjadi semakin banyak, merekapun semakin menjauh. melihat ini, Theng Toanio menyuruh pembantunya untuk membuka tabung-tabung itu. Begitu tabung-tabung dibuka, tercium oleh lebah-lebah itu lalu ditutup kembali setelah semua lebah masuk tabung- tabung itu.
  Song Kim tiba di bawah puncak dan tiba-tiba muncullah Theng Toanio bersama puluhan orang anak buahnya.
  Melihat wanita yang gagah dan cantik itu, dikawal puluhan orang gadis yang manis-manis, Song Kim tersenyum dan memandang penuh perhatian dan kekaguman. Tidak salah berita yang didengarnya.
  Wanita itu nampak masih muda dan menggairahkan. Wajahnya tetap cantik, kulitnya halus dan tubuhnya nampak padat. Sama sekali tidak dipercaya kalau wanita itu sudah berusia enam puluh tahun ! Dan belasan orang wanita muda yang agaknya menjadi pembantu-pembantu utama ketua itu, nampak yang tercantik di antara semua anggauta. Pakaian mereka yang serba merah itu benar-benar mengagumkan, seolah-olah Song Kim merasa berhadapan dengan sekelompok bunga yang sedang mekar dengan indahnya ! Di atas puncak, nampak dari situ, terdapat perkampungan dengan bangunan-bangunan yang mungil, cocok untuk menjadi rumah tempat tinggal para wanita manis itu. Song Kim tidak merasa rendah diri berhadapan dengan mereka, maka dengan sikap tenang diapun tersenyum dan menghadapi Theng Toanio.
  “Kalau tidak salah duga, aku berhadapan dengan Theng Toanio, ketua Ang-hong-pai bersama para anggauta Ang-hong- pai yang cantik-cantik dan gagah perkasa,” katanya. Dilihatnya betapa pandang mata para pembantu ketua itu berseri mendengar pujiannya. Akan tetapi Theng Toanio mengerutkan alisnya dan sinar matanya berkilat. Agaknya wanita ini masih merasa penasaran dan marah karena semua serangannya tadi digagalkan dengan mudah oleh pendatang ini.
  “Benar dugaanmu, sobat. Akan tetapi siapakah engkau yang demikian berani mendaki bukit Ang-hong-san dan melanggar wilayah kami ?”
  “Aku bernama Lee Song Kim dan dikenal dengan sebutan Lee Kongcu. Aku sengaja datang ke sini karena mendengar kebesaran nama Ang-hong-pai, untuk berkenalan dan menjadi sahabat, juga ingin sekali menguji sampai di mana kelihaian Ang-hong-pai.”
  “Hemmm, dan bagaiaman pendapatmu tentang Ang-hong-pai kami ?”
  “Tempat yang indah, dengan perangkap-perangkap yang berbahaya, harimau buas, lebah-lebah berbahaya, anak buah yang manis-manis dan gagah. Akan tetapi biarpun semua itu cukup mengesankan, aku masih belum merasa puas kalau belum melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketuanya !”
  “Lee Kongcu, engkau menantangku ?” tanya Theng Toanio, mulai tertarik karena pria ini ternyata tidak sombong dan tidak berniat buruk. Seorang pria yang menarik sekali dan selama ini ia sendiri hanya ditemani dan dilayani laki-laki yang lemah walaupun ia boleh memilih orang-orang yang ganteng. Belum pernah ia berdekatan dengan pria segagah ini, kecuali tentu saja ketika ia berada di samping Thian-tok. Akan tetapi Thian-tok hanya tinggi ilmunya saja, sebaliknya ia seorang kakek tua yang bertubuh gendut tidak menarik sama sekali ! “Theng Toanio, aku hanya ingin membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu. Ketahuilah bahwa aku paling suka dengan ilmu silat, ingin aku mengenal semua orang yang dikabarkan berilmu tinggi, dan aku ingin menaklukkan mereka semua.”
  “Ehh ? Menaklukkan mereka ? Engkau juga ingin menaklukkan aku ?”
  “Maksudku mengalahkan mereka semua. Aku ingin disebut sebagai Thian-he Te-it Bu-hiap (jago Silat Nomor Satu di Kolong Langit).”
  “Hemmm ...... engkau masih muda akan tetapi cita-citamu setinggi langit. baiklah, aku akan melayani barang beberapa jurus. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai engkau kalah olehku ?”
  “Kalau aku kalah, biarlah engkau yang akan menentukan apa yang akan kaulakukan terhadap diriku.”
  “Dan kalau engkau menang ?”
  “Kalau aku menang, hal yang sudah pasti bagiku, maka Ang-hong-pai harus selalu mentaati perintahku dan menjadi taklukanku.”
  “Engkau ingin menjadi ketua di sini menggantikan aku ?”
  “Tidak, jangan salah mengerti, Theng Toanio. Aku hanya ingin agar Ang-hong-pai memandang aku sebagai sekutu dan setiap saat aku membutuhkan, Ang-hong-pai harus membantuku. Yang pertama, Ang-hong-pai harus mengakui aku sebagai ketua kehormatan dan tiga belas orang anggautanya akan kupilih untuk menemaniku di perkampunganku, selanjutnya setiap kali kuminta, mengganti tiga belas orang itu dengan orang-orang baru yang pilihan.”
  Theng Toanio tersenyum mengejek, akan tetapi terdengar suara cekikikan karena para gadis itu merasa senang sekali dengan syarat ini. Agaknya mereka akan berebut untuk dapat dipilih karena siapa orangnya tidak akan senang menemani pria yang segagah dan seganteng ini ? “Baiklah, syaratmu itu dapat kuterima. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus tinggal di sini selama satu tahun untuk menjadi pelayan pribadiku.”
  Song Kim tertawa. “Ha-ha-ha, betapa senangnya menjadi pelayan pribadimu di sini, toanio, di antara kembang- kembang merah yang begini cantik dan segar. Baik, kuterima syarat itu dan mari kita mulai.”
  “Bersenjata ataukah bertangan kosong ?” tanya Theng Toanio yang masih memandang rendah lawannya.
  Biarpun, lawannya tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya, namun ia merasa yakin bahwa kalau melawan ia dalam ilmu silat, ia tentu akan dapat mengalahkan laki-laki itu. Selama ini belum pernah ada yang mampu menandinginya setelah ia digembleng ilmu oleh Thian-tok.
  Song Kim memang ingin menguras ilmu dari manapun juga datangnya, maka mendengar tantangan wanita itu, dia tersenyum. “Biarlah kita main-main dengan tangan kosong dulu, kalau engkau kewalahan, baru boleh engkau mengeluarkan senjatamu, toanio.”
  Mendengar ucapan yang memandang rendah ini, lenyap senyum simpul di bibir wanita itu dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat. “Orang sombong, kalau tidak kau jaga mulutmu, aku khawatir sebelum aku mengeluarkan senjata, engkau telah lebih dulu roboh dan mungkin tewas !”
  Song Kim masih tersenyum. “Tewas dalam pibu (adu ilmu silat) adalah hal yang lumrah, toanio dan aku tidak akan merasa menyesal kalau aku tewas di tangan toanio, walaupun aku menyesal karena tidak sempat bermesraan dengan nona-nona manis yang berada di sini.”
  “Cukup, tak perlu banyak cakap lagi, orang she Lee. majulah !” Theng Toanio berseru.
  “Aku adalah seorang


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 16

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×