Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 19

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

Hwesio tua itu memperhatikan laki-laki yang disebut Lee Kongcu ini. Dia mengamati dari kepala sampai ke kaki, namun merasa belum pernah bertemu dengan orang ini. Namun dia dapat menduga bahwa orang yang pesolek dan tampan ini tentu bukan orang sembarangan. Hanya apa maksud undangannya inilah yang membuat dia merasa heran dan tidak mengerti.
  “Omitohud ...... pinceng (aku) adalah seorang yang sudah tua sekali dan mugkin pelupa. Agaknya kongcu sudah mengenal pinceng akan tetapi sebaliknya pinceng lupa lagi siapakah kongcu ini. Dan kapankah kita pernah saling bertemu, dan di mana ?”
  Lee Song Kim tersenyum, bangga akan pengetahuannya yang luas sehingga dia mengenal hampir semua tokoh persilatan di dunia dan telah memberi tahu semua anak buahnya sehingga begitu melihat hwesio tua ini lewat, anak buahnya juga sudah mengenalnya. Dia memandang wajah hwesio tua yang sudah duduk di depannya sambil tersenyum.
  “Siapkah yang tidak mengenal locianpwe? Locianpwe adalah Thian Khi Hwesio, wakil ketua Siauw-lim-pai yang gagah perkasa dan berilmu tinggi. kalau locianpwe hendak mengenal saya, orang memanggil saya Lee Kongcu.
  Melihat locianpwe lewat di sini, timbul keinginan saya untuk mengundang makan locianpwe dan belajar kenal lebih dekat karena hendaknya locianpwe ketahui bahwa saya adalah orang yang amat kagum terhadap para tokoh dunia persilatan dan ingin mengenal mereka semua. Ah, mari silakan, locianpwe. Hidangan telah dipersiapkan. Jangan khawatir, semua hidangan ini di buat istimewa untuk para hwesio dan pertapa yang tid ak makan daging. Dan minumannya juga teh yang amat harum dan baik. Silahkan !” Lee Song Kim mengajak hwesio tua itu makan minum dan memang benar, masakan yang dihidangkan tanpa daging sedangkan munumannya air teh wangi, sesuai dengan pantangan seorang hwesio.
  Karena dia memang lelah dan merasa lapar, Thian Khi Hwesio tidak sungkan-sungkan atau ragu-ragu lagi, segera makan minum, apalagi melihat tuan rumah juga makan minum dari mangkok dan cawan dengan hidangan dan minuman yang sama pula.
  Setelah makan kenyang, Lee Kongcu mengajak kakek itu ke lian-bu-thia.
  “Marilah, locianpwe, pertunjukan akan segera dimulai dan locianpwe merupakan seorang tamu kehormatan kami di antara banyak tamu yang hadir.”
  “Eh ? Apakah kongcu sedang mengadakan sebuah pesta ?”
  Laki-laki tampan itu tertawa. “Boleh dinamakan pesta, ya memang pesta, pesta adu silat ! Marilah, locianpwe akan menyaksikan sendiri,” katanya sambil mengajak tanunya memasuki lian-bu-thia (ruangan bermain silat) yang amat luas dan bersih, di samping sebuah taman yang besar dan indah pula.
  Ketika memasuki ruangan terbuka ini, Thian Khi Hwesio terbelalak heran dan terkejut. Ada belasan orang yang hadir di situ dan kesemuanya membayangkan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia hanya mengenal dua orang saja di antara belasan orang itu. Yang seorang adalah seorang kakek yang terkenal dengan nama Kam-kauwsu (guru silat Kam), seorang tokoh persilatan aliran Bu-tong-pai yang terkenal gagah perkasa, menjadi guru silat bayaran tinggi di Thian-cin.
  Dia tahu bahwa Kam-kauwsu ini memiliki ilmu silat yang tangguh, terkenal sebagai seorang ahli gwa-kang (tenaga luar) yang kekuatannya dibandingkan dengan kekuatan gajah ! Adapun orang kedua yang dikenalnya adalah Tan-siucai (Mahasiswa Tan), seorang murid Pek-hwa-pai dari utara yang juga terkenal sekali sebagai seorang pendekar dari utara, dan ahli silat yang juga merupakan seorang ahli sastera yang selalu berpakaian sebagai seorang sasterawan. Sasterawan tua ini amat terkenal dengan pedang tipisnya yang dapat digulung dan dipakai menjadi sabuk.
  Dua orang gagah inipun terkejut melihat munculnya tuan rumah dan seorang hwesio tua yang mereka kenal sebagai wakil ketua Siauw-lim-pai ! Belasan orang lain juga memandang kepada hwesio tua itu dan mereka semua memandang kagum dan hormat ketika Lee Kongcu memperkenalkan Thian Khi Hwesio sebagai tamu agung dan wakil ketua Siauw-lim-pai. Kalau masih ada keraguan sedikit di hati para tamu ini, kini terhapus karena melihat betapa wakil ketua Siauw-lim-pai sendiripun hadir sebagai tamu dari orang she Lee yang aneh dan penuh rahasia ini. Mereka itu semua menerima undangan seperti halnya Thian Khi Hwesio, bahkan di antara mereka ada yang datang sebagai tawanan karena dipaksa! Namun, setelah berada di rumah laki-laki kaya raya yang aneh itu, merekapun diberi kamar dan dibiarkan bebas sampai pada hari itu mereka semua diminta berkumpul di lian-bu-thia setelah semua orang mendapatkan hidangan mewah di kamar masing- masing ! Ketika semua orang berkumpul di lian- bu-thia yang amat luas itu, baru mereka tahu bahwa di tempat ini berkumpul tokoh-tokoh pilihan dari aliran-aliran persilatan yang menjagoi di dunia kang-ouw. Apakah maksud Lee Kongcu, demikian nama tuan rumah seperti yang mereka kenal, mengundang dan mengumpulkan semua tokoh persilatan yang lihai ini ? Thian Khi Hwesio memperoleh tempat duduk kehormatan di dekat tuan rumah dan setelah tuan rumah duduk, Lee Kongcu memberi tanda kepada para penjaga sambil berseru, “Persilakan Kwa-enghiong hadir !”
  Tempat itu terjaga oleh anak buah Lee Kongcu dan semua orang merasa kagum melihat betapa pemuda- pemuda yang tegap, gadis-gadis yang cantik, semua mengenakan pakaian serba indah dan seragam, berjaga di situ dengan sikap tegak dan gagah. Mendengar perintah Lee Kongcu, dua orang lalu memberi hormat dan masuk ke bagian belakang rumah gedung besar itu. Tak lama kemudian merekapun datang lagi bersama seorang laki-laki yang kusut sekali rambut dan pakaiannya, seorang laki-laki tinggi kurus yang usianya sekitar lima puluh tahun. Banyak di antara para tamu yang tidak mengenal laki- laki ini, akan tetapi Thian Khi Hwesio yang melihat orang ini, terkejut sekali.
  “Omitohud ...... ! Kiranya Huang-ho Sin-to (Golok Sakti dari Huang-ho) juga berada di sini !”
  Laki-laki yang kusut pakaian dan rambutnya itu menoleh dan ketika dia melihat Thian Khi Hwesio, dia mengerutkan alisnya. “Eh? Thian Ki Lo-suhu juga berada di tempat aneh ini? Tempat macam apakah ini dan orang-orang macam apakah yang menjadi penghuninya ?”
  “Kwa-enghiong, silahkan duduk dan pertanyaanmu itu akan segera terjawab,” kata Lee Song Kim dengan muka ramah.
  Kwa Ciok Le memandang kepada tuan rumah dan agaknya dia teringat akan sesuatu yang tidak menyenangkan, terbukti dari suaranya yang cukup lantang sehingga terdengar oleh semua orang, “Hemm, sebaiknya segera terjawab sebelum kesabaranku habis dan terpaksa aku menggunakan kekerasan !”
  “Kwa-taihiap, silakan duduk dan mari kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Thian Khi Hwesio yang khawatir kalau-kalau terjadi ketegangan karena dia mengenal watak keras dari pembasmi bajak dari Huang- ho ini. Mendengar penawaran Thian Khi Hwesio, tokoh Siauw-lim-pai yang dihormatinya itu, Kwa Ciok Le merasa tidak enak kalau bersikap kasar terus, maka dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk di sebelah kiri hwesio tua itu.
  Lee Song Kim sendiri lalu duduk di atas sebuah kursi gading dan di sebelahnya nampak seorang wanita yang berpakaian serba merah muda. Wanita itu kelihatannya berusia tiga puluh tahun, wajahnya masih nampak cantik bersemangat, tubuhnya masik padat dan ramping. Padahal, wanita ini adalah Theng Ci, ketua Ang-hong- pai yang telah menakluk kepada Lee Song Kim dan kini menjadi pembantu Lee Kongcu itu ! Pasukan wanita yang nampak cantik-cantik dan gagah, yang kini berjaga bersama dengan pasukan pria anak buah Lee Kongcu, adalah bekas anak buah Ang-hong-pai. Di sebelah belakang Lee Kongcu, nampak duduk dua orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang juga kelihatan gagah perkasa. Mereka itu adalah pembantu-pembantu utama dari Lee Kongcu, yang juga merupakan murid-muridnya yang paling pandai.
  “Di antara para tamu yang kami hormati sudah tahu apa sebabnya kami mengundang berkumpul demikian banyaknya tokoh-tokoh kang-ouw dan ahli-ahli persilatan yang berilmu tinggi. Akan tetapi kalau ada yang belum mengarti, baiklah, kami ingin menjelaskan. Kami adalah orang yang suka sekali melihat ilmu silat, suka sekali melihat tokoh-tokoh besar memperlihatkan ilmu silat simpanan masing-masing. kami amat menghormati ahli silat yang pandai, karena itu, kami mohon dengan hormat dan sangat kepada cu-wi (anda sekalian) yang hadir sudilah memberi demostrasi ilmu silat simpanan masing-masing untuk memperkenalkan kelihaian dan untuk membuka mata kami dan memperluas pengetahuan kita bersama. Kami persilakan saudara yang gagah perkasa Tiat-pi Kim-wan (Lutung Emas Tangan Besi) untuk memperlihatkan kelihaiannya ! Harap cu-wi suka menyambutnya dengan tepuk tangan untuk memberi selamat kepada pendekar perkasa Tiat-pi Kim-wan !”
  Mendengar ini, sebagian dari para tamu bertepuk tangan dan seorang yang duduk di sebelah kiri bangkit berdiri. Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya yang hitam memang pantas kalau berjuluk Lutung karena hidungnya pesek mulutnya lebar mirip monyet, sepasang matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar jalang dan sejak tadi matanya jelilatan menyambar ke arah pasukan wanita yang cantik-cantik, dan mulutnya yang lebar menyeringai. Hati orang ini girang bukan main, karena julukannya yang keren itu, Lutung Emas Tangan besi, diperkenalkan, dan lebih bangga lagi dia disebut “pendekar perkasa”, padahal, dia lebih pantas dinamakan


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 19

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×