Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 21

Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

memandang kepada Malaikat Copet sambil tertawa. Si Malaikat Copet yang warna mukanya sudah merah itu kini warna itu menjadi kehitaman, tanda bahwa dia merasa marah dan malu. Song Kim tidak memberi komentar karena tidak mau berat sebelah, tidak pula tertawa, hanya menaruh barang-barang itu di atas meja di depannya.
  “Lutung Emas, sambutlah seranganku !” bentak si Malaikat Copet dan diapun sudah menerjang. Gerakannya cepat bukan main, kedua tangan yang bergerak itu sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu tangan kiri sudah menampar ke arah pelipis sedangkan tangan kanan menyelonong ke arah lambung lawan dengan totokan keras ! “Wah, cepatnya ...... !” teriak Si Lutung Emas dan diapun segera meloncat ke belakang dengan gaya seekor kera yang cekatan. Biarpun serangan kedua tangan yang cepat itu luput, tak urung Si Lutung Emas merasa betapa ada angin pukulan yang dingin lewat leher dan membuat bajunya di bagian perut berkibar. Maklumlah dia bahwa lawannya, selain memiliki kecepatan yang mengejutkan juga memiliki tenaga sinkang yang tak boleh dipandang ringan.
  Dan dugaannya memang tepat. Baru saja dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan serangan pertama, lawan sudah menerjang lagi dan tahu-tahu kedua tangan yang cepat sekali seolah-olah dua ekor ular yang ganas itu telah menghujankan serangan bertubi-tubi, setiap pukulan, tamparan atau cengkeraman mengandung tenaga yang amat kuat. Seng jiu Sin-touw mengeluarkan seruan kaget dan cepat dia melindungi tubuhnya dari serangan dengan jalan mengelak ke sana-sini, kadang-kadang menangkis ! Perkelahian itu berjalan dengan cepat sekali, akan tetapi karena penontonnya adalah ahli-ahli silat jagoan, mereka semua dapat mengikuti perkelahian itu dan merasa kagum. Sin-touw memang cepat bukan main, akan tetapi pertahanan Kim-wan (Lutung Emas) juga rapat sekali sehingga semua serangan dapat digagalkan.
  Tiba-tiba Si Lutung Emas yang menghadapi tendangan lawan, tiba-tiba terjengkang seolah-olah terkena tendangan, padahal dia sengaja melempar diri ke belakang untuk menghindar. tubuhnya terjengkang akan tetapi bigitu tiba di tanah, tubuh itu bergulingan dan ketika dia mengeluarkan teriakan nyaring, ada dua benda kecil menyambar ke arah mata Sin-touw ! “Heiiittt !!” Sin-touw berteriak dan cepat merendahkan tubuhnya. Kiranya karena lantai itu bersih, Lutung Emas tidak dapat mencengkeram pasir atau tanah atau kerikil, maka sebagai gantinya, dia telah merenggut lepas dua buah kancing bajunya dan dua buah benda kecil ini meluncur menuju ke mata lawan. Pada saat itu lawan merendahkan tubuh untuk mengelak, tubuhnya sendiri yang tadinya berada di atas lantai, tiba-tiba menerjang ke atas dan kedua tangannya yang kuat itu sudah menyambar, didahului oleh sebuah tendangan kakinya yang panjang! Si Malaikat Copet mengelak dari serangan kedua tangan, maka ketika kaki itu menendang, dia tidak sempat lagi mengelak lalu menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
  “Dukkk !” Hebat tendangan itu, akan tetapi tangkisan itupun mengandung tenaga yang kuat dan akibat benturan kedua tenaga itu, dua orang jagoan terdorong mundur sampai tiga langkah ! Kini Lutung Emas sudah marah sekali. Sejak tadi dia didesak dan sekali membalas, kakinya tertangkis sampai rasanya nyeri. sambil mengeluarkan suara menggereng dengan amat cepatnya.
  Song Kim menanti-nanti sampai Lutung Emas mengeluarkan jurusnya yang ampuh tadi, yang dianggapnya sebagai jurus terbaik. Akhirnya, apa yang diduganya terbukti. Kiranya memang jurus itu dipergunakan Lutung Emas untuk berusaha mengalahkan lawannya. Tangan kiri Si Lutung Emas menyambar dengan pukulan dahsyat dibarengi tangan kanan mencengkeram ke depan. Dua serangan ini memang hebat sekali nampaknya dan pasti dapat mengelabui lawan yang menyangka bahwa dua tangan itu merupakan inti serangan, atau setidaknya satu di antaranya. Maka lawan tentu akan mengerahkan tenaga dan perhatian menghadapi dua serangan ini. Demikian pula dilakukan oleh Malaikat Copet. Pukulan ke arah kepalanya dengan tangan kiri lawan itu dielakkan dengan miringkan kepala, dan cengkeraman tangan kanan lawan di sambutnya dengan tangkisan tangan kiri. Pada saat itulah tendangan pendek kaki Lutung Emas menyambar ! Bukan main kagetnya Malaikat Copet. Dia maklum bahwa untuk mengelak atau menangkis tendangan itu tidak keburu lagi, maka tangan kanannyapun memukul ke arah leher lawan untuk mengadu nyawa sedangkan kedua kakinya agak ditekuk untuk memberi kekuatan tambahan pada perut ke bawah yang sudah diisi tenaga sinkang untuk melindunginya.
  Si Lutung Emas tidak ingin membunuh lawan. Biarpun tubuh di bawah pusar itu sudah dilindungi sinkang, kalau terkena tendangannya pasti akan pecah dan lawan akan tewas.
  Dia tidak mau melakukan hal ini dan mengarahkan tendangannya ke lutut kiri lawan. Akan tetapi dia terkejut melihat betapa lawan menjadi nekat dan memukul dengan tangan miring ke arah lehernya. Pukulan yang mengadu nyawa ini sungguh tak pernah disangkanya, dan datangnya demikian cepatnya ! Maka, satu-satunya jalan hanya melempar tubuh ke samping untuk mengelak. Dia tidak mugkin melempar tubuh ke belakang karena dalam posisi menendang sehingga kalau hal itu dilakukan, dia akan terbanting dan terjengkang ! Tepat pada saat ujung sepatu Lutung Emas mengenai lutut kaki Malaikat Copet, pukulan tangan miring itu mengenai pundak Lutung Emas. Akibatnya, Malaikat Copet terjungkal karena lututnya terkena tendangan, akan tetapi sebaliknya lawannya juga terpelanting oleh pukulannya pada pundak.
  Diam-diam Song Kim yang melihat jelas gerakan mereka itu menjadi girang dan kagum. sekaligus dia telah menemukan dua gerakan yang sama-sama hebat ! Cepat dia bangkit dan membantu keduanya untuk bangun.
  Kedua orang itu meringis kesakitan karena seperti sambungan lutut Malaikat Copet yang terlepas, ternyata sambungan tulang pundak Lutung Emas juga terlepas.
  “Ji-wi sama-sama tangguh dan lihai, tidak ada yang kalah atau menang, biarlah hadiah dibagi berdua, baru adil.”
  Semua orang menyatakan setuju dan kedua orang itupun kembali ke kursinya, membawa lima puluh tail perak. Si Malaikat Copet terpincang-pincang ketika menghampiri kursinya, sedangkan Si Lutung Emas juga miring-miring jalannya seperti layang-layang yang berat sebelah.
  Dengan sikapnya yang ramah dan sopan, sedikitpun tidak memperlihatkan pamrih aslinya, melainkan memberi kesan bahwa dia memang seorang penggemar silat seratus persen.
  Lee Song Kim berhasil membujuk para tamunya seorang demi seorang untuk mendemonstrasikan ilmu-ilmu simpanan masing-masing. Para tamu itu, di bawah pengaruh arak yang baik, berusaha menonjolkan kepandaian silat masing-masing. Akan tetapi sudah tujuh orang yang maju mendemonstrasikan ilmu silatnya, Lee Song Kim diam-diam kecewa karena mereka ini tidak memiliki jurus-jurus ampuh seperti dua orang tamu terdahulu. Karena itu, dia tidak memberi komentar apa-apa dan tidak memancing adanya pibu. Kini hanya tinggal lima orang yang belum mendemonstrasikan ilmu silatnya. mereka itu adalah Kam-kauwsu dari Thian-cin, Tan-siucai tokoh Pek-hwa-pai, Kwa Ciok Le jagoan Kun-lun-pai. Thian Khi Hwesio sendiri, dan seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun yang mukanya buruk dan di punggungnya terdapat sebatang pedang.
  Kini Lee Song Kim menunjuk kepada wanita itu dan memperkenalkan.
  “Sekarang kami mohon kepada saudari Sin-kiam Mo-li untuk memberi petunjuk kepada kami akan kehebatan ilmu pedangnya. Silakan, lihiap.
  Wanita itu bangkit berdiri, melangkah dengan tenang ke tengah ruangan dan menjura kepada Lee Kongcu, kemudian kepada semua orang yang memandang dengan hati tertarik.
  Beberapa orang di antara mereka termasuk Thian Khi Hwesio terkejut mendengar disebutnya nama Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti) itu karena nama itu adalah nama seorang tokoh sesat yang terkenal kejam dan sakti, yang membuat nama besar di dunia selatan ! Tak disangkanya bahwa tokoh sesat yang ditakuti itu ternyata hanya seorang wanita berusia empat puluh tahun dan kini bahkan hadir sebagai tamu Lee Kongcu ! “Lee Kongcu, ketahuilah bahwa aku tidak pernah memamerkan kepandaian, dan pedangku ini hanya dicabut kalau berhadapan dengan lawan. Entah sekarang ada yang mau menjadi lawanku atau tidak, terserah kepada yang hadir. Kalau tidak ada, sebaiknya aku pergi sekarang. Kalau ada, silakan maju, karena bagaimanapun juga, aku sudah menerima kebaikan kongcu dan ingin sedikit menghibur dengan pertunjukan pibu. Akan tetapi, pedang tidak bermata, kalau sampai kesalahan tangan membunuh atau melukai lawan, harap jangan menjadi kecil hati.”
 


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 21

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×