Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 7

Tags: ong siu coan
Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

Yang lebih daripada segalanya adalah melihat betapa Ong Siu Coan membiarkan anak buah pasukannya melakukan segala macam perbuatan kejam, bukan hanya membunuhi orang-orang yang dicurigai tanpa diperiksa, akan tetapi juga merampok dan memperkosa wanita ! Ong Siu Coan terlalu memanjakan anak buahnya, dan tentu saja di antara mereka terdapat banyak orang yang memang berwatak penjahat. Karena perbuatan-perbuatan kejam seperti memperkosa wanita dan merampok itu tidak dijatuhi hukuman, tentu saja yang lain-lain juga terseret karena perbuatan-perbuatan jahat yang menguntungkan dan menyenangkan diri sendiri mudah sekali menular dan dicontoh orang lain.
  Melihat kenyataan-kenyataan pahit ini, mulailah para pendekar mengundurkan diri setelah mereka itu dengan gagah perkasa membantu penyerbuan Wu-chang dan Nan-king sampai kedua kota itu berhasil diduduki. Yang mengundurkan diri banyak sekali termasuk pula Tan Ci Kong.
  Akan tetapi karena sudah merasa berhasil dan kekuasaannya mulai nampak sebagai hasil perjuangannya, Ong Siu Coan tidak perduli. Masih banyak orang yang suka menjadi pembantunya, pikirnya, apalagi setelah kini dia mengangkat diri menjadi pemimpin besar, bahkan raja dari Kerajaan Sorga Tai Peng ! Kalau saja Ong Siu Coan tidak berwatak sombong dan tinggi hati, kalau saja kesempatan yang amat baik setelah balatentaranya memperoleh kemenangan itu dia pergunakan sebaiknya dengan memperkuat pasukan, bersekutu dengan para pemberontak lain yang pada waktu itu juga bermunculan di utara dan barat, atau kalau saja dia mau bersekutu dan mempergunakan kekuatan orang-orang kulit putih yang agaknya akan suka membantunya mengingat bahwa dia mengaku sebagai penyiar Agama Kristen, agaknya sejarah akan membuat catatan lain dan mugkin sekali Tai peng ini akan menguasai seluruh daratan dan berhasil pula menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu ! Akan tetapi Ong Siu Coan terlalu tinggi hati dan mabok kemenangan, merasa bahwa balatenataranya tidak ada yang akan dapat mengalahkannya karena dia memperoleh bimbingan dari Tuhan sendiri! Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh balatentara Tai Peng membuat Ong Siu Coan tinggi hati dan lengah sehingga hampir saja kelengahannya itu menewaskannya pada malam hari itu. Malam itu gelap dan sunyi. Karena merasa aman dan tidak mungkin ada orang yang berani mengganggunya, Ong Siu Coan dan isterinya tidur di dalam istana mereka tanpa pengawalan pribadi. Mereka mengambil istana di Nan-king yang merupakan istana tua namun megah menjadi tempat tinggal mereka, hidup bagaikan seorang raja, megah dan mewah.
  Karena tidak ada pasukan pengawal pribadi yang melakukan penjagaan, ketika suami isteri ini sudah tidur, tidak ada orang dalam istana itu yang melihat berkelebatnya bayangan orang bergerak cepat sekali melayang turun dari atas genteng istana setelah tadi dia berlompatan seperti seekor burung terbang atau kucing saja.
  Para pelayan di istana itu terdiri dari orang-orang yang tidak berkepandaian silat, maka mereka tidak mendengar atau melihat sesuatu.
  Bayangan itu menyelinap dan akhirnya mengintai dari jendela kamar di mana Ong Siu Coan tidur bersama Tang ki, isterinya. Sebagai seorang yang berasal dari sebuah dusun di Hwa-sian, propinsi Kuang-tung, yang baru saja mengangkat diri menjadi kaisar, Ong Siu Coan belum dapat hidup sebagai layaknya seorang raja atau seorang pembesar tinggi. Dia masih belum mengerti dan masih hidup sebagai orang biasa, tidur sekamar dengan isterinya tanpa ada penjagaan ketat seperti yang biasa bagi seorang raja. Juga dia tidak memiliki selir.
  Hal ini bukan hanya karena dia mencinta isterinya, akan tetapi juga karena satu di antara peraturan agama barunya adalah melarang pria beristeri lebih dari seorang. Maka, di luar tempat tidurnya itu tidak nampak adanya pengawal dan hal ini membuat bayangan yang mengintai di luar kamar, mengeluarkan suara ketawa lirih mengejek.
  Bayangan yang dapat bergerak seperti setan itu bertubuh sedang dan tegap, pakaiannya indah seperti pakaian seorang pelajar, rambutnya mengkilap terpelihara rapi, akan tetapi mukanya tertutup saputangan sutera hitam sehingga tidak dapat dikenal, hanya sepasang matanya saja yang nampak dari dua buah lubang pada saputangan itu, sepasang mata yang tajam dan kadang-kadang mencorong ! Pada tubuhnya tidak nampak adanya senjata. Hal ini saja menunjukkan bahwa dia bukan seorang pencuri biasa, melainkan seorang yang sudah terlalu percaya kepada diri sendiri, tidak membutuhkan senjata lagi karena kaki dan tangannya sudah merupakan senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan senjata dari baja.
  Atau juga menjadi petunjuk bahwa dia adalah seorang yang sombong dan menganggap kepandaian sendiri terlampau tinggi sehingga memandang rendah orang lain.
  Ketika sepasang mata yang mencorong itu mengamati keadaan di dalam kamar yang remang-remang karena hanya diterangi lampu minyak yang dikerudungi kain hijau dan melihat benda yang dicarinya, sepasang mata itu mengeluarkan sinar berkilat. Benda itu adalah Giok-liong-kiam yang diletakkan berdiri di atas sebuah meja, bersandar pada dinding yang dihias indah dan di atas dinding terdapat gambar Yesus.
  Ada dua buah lilin kecil bernyala di kedua ujung meja yang diberi tilam sutera putih yang dipinggirnya berenda.
  Giok- liong-kiam seolah-olah menjadi sebah benda keramat, benda pujaan di bawah gambar Yesus ! Dan memang Ong Siu Coan selalu menonjolkan Pedang Naga Kemala itu sebagai benda keramat, sebagai pusaka dan lambang kejayaan Tai Peng.
  Senyum simpul agaknya menghias pada mulut yang tertutup saputangan itu karena matanya juga membayangkan kegembiraan ketika dia melihat pedang itu. Setelah meneliti beberapa saat lamanya dan merasa yakin bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan dari suara pernapasan di dalam kamar itu dia dapat mengetahui bahwa orang-orang yang tidur di balik kelambu itu tentu sudah pulas, orang itu lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka daun jendela.
  Daun jendela itu terkunci dari dalam dan terbuat dari papan kayu yang tebal dan terukir indah, karena daun jendela itu dipasang di kamar induk dari istana itu. Tidak akan mudah orang membongkarnya dari luar, karena engsel dan kunci jendela terbuat dari besi, buatannya kokoh bukan main. Akan tetapi, dengan jari-jari tangannya yang amat kuat, orang itu dapat membuka daun jendela tanpa mengeluarkan banyak suara ! Hal ini membuktikan bahwa orang berkedok ini memang benar lihai sekali.
  Setelah daun jendela terbuka, dia meloncat ke dalam kamar melalui lubang jendela, gerakannya tiada bedanya dengan gerakan seekor kucing meloncat, ketika kedua kakinya turun ke lantai kamar, sama sekali tidak terdengar suara berisik.
  Harus diingat bahwa dua orang yang tidur di balik kelambu tempat tidur itu adalah Ong Siu Coan dan Tang Ki, dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, yang telah melatih diri sedemikian rupa sehingga panca indera mereka demikian pekanya dan biarpun tertidur nyenyak, kalau ada suara sedikit saja yang mencurigakan sudah cukup untuk menggugah mereka ! Akan tetapi sekali ini, mereka tidak mendengar sesuatu dan tetap tidur nyenyak, seperti dapat diketahui oleh orang itu dengan mendengarkan pernapasan mereka yang panjang dn halus tak terkendali. Hal ini kembali membuktikan kelihaian orang itu.
  Sesaat lamanya dia berdiri saja memandang ke arah kelambu, sambil mendengarkan pernapasan dan melihat kalau-kalau kelambu itu bergoyang. Akan tetapi semuanya tetap hening dan dia menganggu-angguk girang, melihat ke arah dua pasang sepatu di bawah pembaringan, sepasang sepatu pria dan sepasang sepatu wanita.
  Kemudian dia menoleh ke arah meja di mana terdapat Giok-liong-kiam yang berada dalam sarungnya. Dia melangkah maju, langkahnya juga lembut tanpa suara, dan dilain saat dia telah mengambil pedang pusaka itu, mencabutnya dari dalam sarung dan matanya kembali mencorong dan berkilauan ketika dia melihat bahwa benda itu benar Giok-liong-kiam yang dicarinya. Tak disangkanya bahwa benda itu akan dapat dia temukan sedemikian mudahnya ! Dia lalu menyelipkan pedang itu ke balik jubahnya, di ikat pinggangnya, dan kakinya melangkah mendekati jendela. Akan tetapi, dia berhenti dan menoleh ke arah ranjang, lalu kakinya bergerak menghampiri. Agaknya timbul suatu keinginan yang membuatnya menghampiri ranjang, menggunakan tangan kiri menyingkap kelambu dan dia menjenguk ke dalam.
  Ong Siu Coan tidur miring membelakangi isterinya yang tidur terlentang. Keduanya tidur pulas. Orang itu berdiri memandangi wajah dan tubuh Tang Ki yang tertutup pakaian tidur yang tipis, dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar lembut. Tangan kirinya masih menyingkap kelambu dan kini tangan kanannya bergerak ke depan, dengan lembut meraba dan mengusap kaki Tang Ki di bagian paha.
  Rabaan halus ini cukup bagi Tang Ki untuk merasakan sesuatu yang tidak wajar dalam tidurnya. Ia membuka mata dan seketika ia mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat dan menerjang ke arah orang berkedok itu ! Tang Ki adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi sekali, mungkin tidak kalah lihai dibandingkan suaminya. Ia adalah puteri tunggal Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, dan selain telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang hebat dari ayahnya, juga ia telah mewarisi ilmu meringankan tubuh yang istimewa ciptaan Tat Mo Couwsu yang ditemukan di dalam sebuah kitab yang bernama Hui-thian-yan-cu (Burung Walet terbang ke Angkasa)! Maka, terjangannya tadi, biarpun dilakukan dalam keadaan baru saja terbangun dari tidur nyenyak, dan dari keadaan rebah terlentang, berlangsung cepat bukan main dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat naik, ke depan dan kedua tangannya telah melancarkan pukulan maut ke arah kepala


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 7

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×