Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Pemberontakan Taipeng - 9

Tags: kaisar
Cerita Silat | Pemberontakan Taipeng | Karya Kho Ping Hoo | Pemberontakan Taipeng | Cersil Sakti | Pemberontakan Taipeng pdf

Boma Gendeng 1 Suka Suka Cinta Pedang Bintang Dewa Linglung 1 Raja Raja Gila Dewi Sri Tanjung 1 Jasa Susu Harimau Dewi Ular 30 Tumbal Cemburu Buta

bentuk tubuhnya juga amat menarik, dengan pinggang yang kecil ramping, tinggi semampai dan lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan. Gadis berusia tujuh belas tahun ini memang amat cantik manis, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar. pembawaannya lincah jenaka dan segala yang nampak di sekitarnya menjadi cerah menggembirakan. Dari bentuk pakaiannya mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis berbangsa Mancu yang pada saat itu menjadi dayang istana Terang Sempurna di taman Yuan-beng-yuan dan sebagai seorang di antara para dayang yang berada di situ, ia ditugaskan untuk menjaga dan mengurus sebuah pondok kecil di sudut taman.
  Gadis itu bernama Yehonala, sebuah nama Mancu yang berarti Anggrek Kecil. Ia adalah seorang di antara enam puluh empat orang perawan Mancu yang didatangkan oleh permaisuri kaisar untuk menggantikan selir-selir berbangsa Han karena permaisuri khawatir bahwa kelak suaminya akan mempunyai keturunan putera dari bangsa Han. Akan tetapi biarpun Yehonala amat menonjol dalam kecantikan dan sikapnya di antara semua perawan yang dibawa ke istana, ketika kaisar memeriksa gadis-gadis itu, datang berita yang amat tidak menyenangkan mengenai didudukinya Wu-cang dan Nan-king oleh pasukan pemberontak Tai Peng. Maka perhatian kaisar yang terpecah dan terganggu membuat Kaisar Sian feng tidak melihat Yehonala.
  Yehonala adalah puteri sulung seorang pejabat menengah berbangsa Mancu. Gadis ini sudah banyak mengunjungi banyak tempat, mengikuti ayahnya ketika ayahnya bertugas dan dipindah-pindahkan ke banyak kota. Hal ini membuat Yehonala lebih berpengalaman daripada gadis-gadis Mancu yang lain, dan ia memiliki banyak kelebihan. Bukan hanya kecantikan wajah dan kepadatan tubuhnya, juga ia pandai merias diri dan pandai pula menyanyi dengan suara merdu. Ia banyak mengenal lagu-lagu rakyat berbagai daerah dan pandai menyanyikannya dengan suara yang merdu. Selain itu, juga Yehonala berakal, cerdik dan pandangan luas dan jauh.
  Mula-mula ia memang merasa kecewa karena agaknya kaisar mengacuhkannya dan tidak memilihnya menjadi selir, bahkan semenjak ia berada di taman itu, belum pernah satu kalipun kaisar menaruh perhatian terhadap dirinya. Akan tetapi, ia menekan kekecewaannya dan kecerdikannya membuat ia berusaha sedapatnya untuk menarik perhatian kaisar. Mula-mula, selama berbulan-bulan ia mengecat, menghias dan memperbaiki pondok kecil yang dijaganya. Ia melukis banyak bunga anggrek, bunga kesayangannya yang menjadi namanya, dan menggantungkan lukisan-lukisan itu di dalam pondoknya. Juga dengan uang saku yang ditabungnya, ia mulai menyuap thaikam (orang kebiri) yang bertugas menjaga taman dan istana Yuan-beng- yuan sehingga bersahabat baik dengan mereka.
  Dua tahun lamanya Yehonala bersabar dan berusaha.Sementara itu ia telah menjadi seorang gadis yang masak dan semakin cantik saja. Hubungannya dengan para thaikam sudah semakin erat dan para thaikam itu suka membantunya, mencari kesempatan agar kaisar dapat melihatnya. Kesempatan itu tiba pada suatu sore hari yang hawanya panas.
  Pada waktu itu, Kaisar Sian Feng duduk di dalam tandu yang dipikul oleh delapan orang thaikam. Kaisar sedang dalam perjalanan mengunjungi seorang selir bangsa Han yang menjadi kesayangannya. Para thaikam yang sudah mengadakan kontak dengan Yehonala, sengaja memikul tandu itu dengan berputar, lewat di bawah pohon-pohon wu-tung yang teduh dan melalui pondok yang didiami Yehonala.
  Pada saat itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Yehonala, kaisar yang duduk melenggut oleh kantuk karena panasnya hawa, mendengar suara nyanyian merdu. Tentu saja dia tertarik sekali dan menyingkap tirai tandu di depannya.
  “Berhenti ...... !” kata kaisar, tertarik sekali karena begitu dia menyingkap tirai, dia melihat sebuah pondok yang dihias amat indah, dicat baru dan di depan pondok penuh dengan tanaman bunga beraneka warna. Sungguh merupakan sebuah pondok yang terbagus di antara pondok yang berada di taman itu.
  “Ah, sungguh mungil sekali pondok ini,” kata kaisar dan dibantu oleh para thaikam, diapun turun dari atas tandu, lalu menghampiri pondok dan karena daun pintu pondok terbuka, kaisar lalu masuk ke dalam. Setibanya di dalam pondok, kembali dia tertegun. Di dalam pondok tergantung lukisan- lukisan bunga anggrek beraneka bentuk dan warna, indah sekali dan perabot pondok itupun dicat dan diatur penuh dengan kerapian yang nyeni.
  Kaisar masih mendengar suara wanita bernyanyi, maka diapun menjenguk jendela belakang dan ia semakin terpesona. seorang gadis Mancu dengan baju Mancu sutera merah muda sedang duduk di dekat kolam ikan kecil di belakang pondok. Gadis itu sedang mengipasi tubuh yang kegerahan dengan kipas sambil menyanyikan sebuah lagu rakyat daerah Soo-chouw. Suaranya merdu sekali dan nyanyian itu adalah nyanyian rakyat tentang seorang gadis yang sedang menanti datangnya sang kekasih. Romantis sekali sehingga kaisar merasa terharu, hanyut oleh nyanyian itu dan terpesona oleh kecantikan gadis itu. Heran dia mengapa selama ini dia tidak pernah melihat dayang yang manis dan mempesona ini ? Setelah Yehonala berhenti bernyanyi, Kaisar Sian Feng lalu menghampiri gadis itu dari belakang. Tentu saja Yehonala sudah tahu akan kehadiran kaisar, akan tetapi dengan cerdik ia berpura-pura terkejut, membalikkan tubuh dengan sikap semenarik mungkin. Ia nampak terkejut ketika melihat bahwa yang memujinya itu adalah kaisar sendiri. cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.
  “Mohon paduka sudi mengampuni hamba, karena tidak tahu akan kunjungan yang mulia Sribaginda, maka hamba tidak menyambut dengan selayaknya.” Suaranya penuh dengan kemerduan, dengan kata-kata yang teratur dan sopan sehingga kaisar menjadi girang bukan main. Tak disangkanya di tempat yang indah itu dia akan bertemu dengan seorang gadis secantik dan sepintar ini. Dia tertawa bergelak.
  “Nona manis, angkat mukamu dan biarkan aku melihatnya,” katanya sambil tertawa.
  Yehonala tersipu malu sehinga wajahnya yang putih bersih, mulus dan cantik itu menjadi kemerahan, menambah kemanisan wajahnya. Dengan malu-malu, senyum dikulum ia mengangkat mukanya menengadah sambil berlutut dan Kaisar Sian Feng menjadi girang bukan main. Kini dia dapat melihat wajah itu dengan jelas dan memang sebuah wajah yang amat menggairahkan hatinya. Dia lalu menglur tangannya, membelai pipi dan leher yang berkulit halus dan hangat itu.
  “Siapakah namamu ?”
  Dengan sikap tersipu malu sehingga daya tariknya menjadi kuat, gadis itu menjawab lirih, “Nama hamba Yehonala ...... sudah dua tahun hamba mengabdi di ..”
  “Dua tahun ?” Kaisar Sian Feng terkejut dan memaki kebodohannya sendiri. Selama dua tahun dia membiarkan setangkai bunga yang demikian indahnya tanpa pernah menyentuhnya, apalagi memetiknya, melihatpun belum pernah.
  “Yehonala, nama indah, seindah lukisan-likisanmu. Yehonala, hari amat panas dan aku merasa gerah sekali.
  Aku ingin mandi di dalam pondokmu ...... ”
  Tentu saja Yehonala menjadi girang bukan main. Tidak sia-sia semua kesabaran selama ini, tidak sia-sia semua rencana yang telah dilakukannya. dengan girang ia lalu mempersilahkan kaisar memasuki pondok, ia lalu mempersiapkan air harum untuk mandi junjungannya itu dan dengan sikap malu-malu seperti layaknya seorang anak perawan yang belum pernah berdekatan dengan pria, ia membantu kaisar mandi di sore hari yang panas itu.
  Setelah merasa puas mandi, juga puas membelai dan menciumi dara itu, kaisar mengenakan pakaiannya dan berbisik, “Yehonala, bersiaplah engkau untuk melayani dan menemaniku malam nanti.”
  Yehonala berlutut dan menyatakan kesanggupannya dengan sikap malu-malu, namun di dalam hatinya ia bersorak penuh kemenangan. Ia harus dapat menundukkan hati junjungannya ini, ia harus berhasil memenuhi cita-citanya, yaitu menjadi selir terkasih kaisar, kalau mungkin menjadi ibu dari putera kaisar agar kelak ia dapat menjadi ibu suri ! Cita-citanya amat besar, dikandung semenjak ia dipilih untuk dibawa ke istana kaisar.
 


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Pemberontakan Taipeng - 9

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×