Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 55

Prabu Siliwangi | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | karya E. Rokajat Asura | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | Cersil Sakti | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya pdf

Lazie Si Mulut Terkunci - Jacqueline Wilson Anak Tanpa Rumah - Jacqueline Wilson Matahari Matahari - Ratih Tri Widowati Giri - Marc Olden Elemen Kekosongan - Nein Arimasen

. Tapi anehnya pukulan itu seperti terus mengikutinya ke mana saja ia bergerak,
  bergelombang seperti angin topan bisa menerbangkan segala apa yang dilewatinya. Nyai Nini Indangayu
  kemudian berputar seperti gangsing dan melesat ke udara. Pukulan itupun mengikutinya. Sesaat sebelum
  menginjak tanah, pukulan berikutnya tetap membabat kaki Nyai Nini Indangayu.
  Ia pun seketika roboh mencium tanah. Lalu tak bergerak lagi. Pingsan.
  Sebelum sosok misterius itu pergi, Walangsungsang yang sempat kehilangan jejak sampai juga di tanah lapang
  itu. Ia baru saja akan mengirimkan pukulan, tapi matanya melirik istrinya yang terkapar di tanah.
  Dengan kekuatan penuh istrinya dibopong dan melesat dibawa kabur. Nyai Nini Indangayu dibaringkan di
  kamarnya. Dengan berbagai cara ia mulai mengobati Nyai Nini Indangayu yang terkena pukulan dahsyat tadi.
  Pengejaran sosok misterius itu kini dilakukan Nyimas Rarasantang. Sosok itu terus berlari menjauhi pondok
  Syaikh Nurjati. Seperti sengaja sosok itu menjauh dan Nyimas Rarasantang terus mengejarnya. Ia seperti tidak
  kehabisan tenaga. Sesekali sosok yang dikejarnya tertawa menghina, bertambah semangatlah Nyimas
  Rarasantang untuk mengejarnya hingga ia lupa bahwa kini ia mengejar dengan rasa angkuh dan kemarahan
  yang membuncah.
  “Jangan kau tertawa, bangsat, aku akan terus mengejarmu,” sesumbar Nyimas Rarasantang sambil terus
  mengejar.
  Namun untuk kesekian kalinya sosok itu tak juga bisa dikejarnya. Akhirnya dalam satu kesempatan Nyimas
  Rarasantang mulai kehabisan napas dan berhenti sejenak. Ketika ia mengejarnya lagi, sosok misterius itu sudah
  tidak ada lagi di hadapannya. Nyai Ratnaeling tercenung menyesali apa yang telah diperbuatnya.
  “Kenapa aku istirahat?” gumamnya menyesali.
  Gagal mengejar sosok yang berkelebat tadi, Nyimas Rarasantang kembali ke pondok. Di pondok bertemu
  Walangsungsang yang baru saja berhasil menyembuhkan luka di tubuh istrinya akibat pukulan lawan.
  Mereka tetap tidak mengetahui siapa gerangan bayangan hitam itu. Baru menjelang subuh ketika
  Walangsungsang akan pergi ke masjid, ia melihat bayangan hitam itu lagi lalu mengejarnya. Anehnya
  bayangan itu masuk ke dalam masjid. Saat ia sampai di dalam masjid, Walangsungsang tidak menemukan
  siapa-siapa selain Syaikh Nurjati.
  ‘Apakah bayangan hitam yang mengganggu tadi malam juga guru? Untuk apa maksudnya? Apakah salah aku
  membicarakan tugas itu dengan adik dan istriku sendiri?”
  Pikiran-pikiran itu berputar-putar dalam otaknya. Sampai selesai shalat ia masih memikirkan masalah itu.
  Rupanya hal ini cepat diketahui oleh Syaikh Nurjati sehingga tanpa diminta pun menjelaskannya.
  “Bayangan hitam itu akan menjelma dalam pandanganmu kalau hatimu masih bergejolak perang untuk
  menentukan mana yang baik dan mana yang buruk,” jelas Syaikh Nurjati.
  “Pantas bayangan itu tidak bisa kami kejar, Guru!”
  “Tak akan pernah kau bisa menangkap bayangan hitam yang ada di depanmu, ketika hati masih terpecah
  memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk,” tambah Syaikh Nurjati; “bawalah hatimu pada titik
  cahaya, setelah itu kau pasti tidak akan diganggu bayangan hitam lagi.
  Walangsungsang mengangguk. Ia bisa memahami ungkapan gurunya itu.
  Selesai shalat subuh, Walangsungsang bersama adik dan istrinya pamit kepada Syaikh Nurjati untuk
  meneruskan perjalanannya, hijrah membuka dukuh. Tapi sebelumnya mereka bertiga minta izin untuk
  menyelesaikan urusan di Keraton Pakuan. Ada beberapa hal yang harus diluruskan, seperti keinginannya
  semula.
  Syaikh Nurjati mempersilakan dengan tetap mengingatkan satu syarat “jangan sampai ketemu waktu shalat
  yang sama”.
  Perjalanan dari Amparan Jati ke Keraton Pakuan bisa ditempuh dalam waktu singkat. Kedewasaan pikiran dan
  kematangan ilmu kidang kancana, Walangsungsang bisa mengatasi rentang waktu dan tempat.
  Di pondok tempat Ki Nalaraya bersembunyi, Prabu Anom Walangsungsang dan Nyimas Ratnaeling mengatur
  siasat. Saat itu sesuai janjinya, Nyai Nini Indangayu disimpan di dalam cincin Ampal.
  Selama Walangsungsang pergi, beberapa kejadian berlangsung. Ki Nalaraya menceritakan hal itu; “sejak
  kepergian mendiang Gusti Ratu, Gusti Prabu sulit ditemui, Raden! Beliau lebih banyak mengurung diri. Kejadian
  ini rupanya yang dikehendaki Argatala...”
  “Juga Kanjeng Ibu, Kentring Manik, Ki?” Walangs ingsang memotong. Ki Nalaraya diam mematung.
  “Benar kan, Ki, apa yang ditanyakan Kakang Walangsungsang itu?” Nyimas Rarasantang mendesak. Akhirnya Ki
  Nalaraya mengangguk.
  “Kalau begitu keadaannya, niat Kanjeng ibu, Nyai Kentring Manik sudah kesampaian. Upayanya dari dulu untuk
  membuat kami tidak betah tinggal di istana, sudah kesampaian...” jelas Walangsungsang tak sadar. Nyimas
  Rarasantang yang penasaran langsung menyusulnya dengan pertanyaan.
  “Maksud Kakang memang benar dari dulu mereka tidak senang dengan keberadaan kita di istana? Kenapa
  baru bicara sekarang, Kakang?”
  “Begitulah keadaan sebenarnya, Nyimas! Tapi kau tidak sadar karena usiamu masih terlalu mud a. Tapi Allah
  sudah memberi jalan, mengirim impian padaku tentang pertemuan dengan guru sejati agar aku mencari ilmu
  Islam!” jelas Walangsungsang.
  “Sudah ketemu, Raden?” Ki Nalaraya yang kini penasaran.
  Walangsungsang mengangguk pelan.
  “Kalau begitu ajaklah aku masuk ke dalamnya, Raden!”
  “Memangnya kenapa, Ki?”
  “Sejak dulu sudah diperkenalkan dengan Islam oleh ibumu, Gusti Ratu Subanglarang. Tapi sebelum selesai,
  Raden keburu pergi dan urusan menjadi kacau-balau...” jelas Ki Nalaraya.
  Walangsungsang hanya saling lirik dengan adiknya.
  “Sudah sejauhmana Ki Nalaraya tahu tentang Islam?”
  “Banyak dan sedikit, Raden!”
  “Maksud Aki?”
  “Sudah banyak mendengar dari Gusti Ratu, tapi sedikit sekali yang bisa masuk pikiranku. Kalau memang cara
  masuk ke dalamnya itu bisa ditempuh oleh manusia sepertiku, Raden harus membimbingnya masuk sebelum
  aku meninggalkan dunia ini!”
  “Ki Nalaraya pernah mendengar ucapan ini?” tanya Walangsungsang seraya membacakan dua kalimat
  syahadat.
  Ki Nalaraya mengernyit mengingat-ingat. Tapi akhirnya ia menggelengkan kepala. Walangsungsang kemudian
  membagi ilmu itu dan ketika Ki Nalaraya sudah memahami, disaksikan Nyimas Rarasantang dan Ceuk Srinten,
  Walangsungsang membimbing Ki Nalaraya untuk masuk Islam.
  “Tinggal Embi!” Nyimas Rarasantang bercanda dan melirik Ceuk Srinten.
  “Biarkah Embi berpikir dulu! Embi takut disebut ikut-ikutan!”
  “Ya, silakan, Embi!” ujar Walangsungsang tak memaksa.
  Setelah mempersiapkan untuk kepergian ke Keraton Pakuan, Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang
  melanjutkan perjalanan.
  Sebelum pergi Walangsungsang berpesan, jika ada angin gemuruh di depan pondok tapi tidak menggerakkan
  pohon-pohon, loncatlah ke dalam pusaran angin itu. Ki Nalaraya hanya mengangguk. Ketinggian ilmu
  Walangsungsang memang sudah bukan bandingannya lagi. Ki Nalaraya yakin, tidak semata-mata
  Walangsungsang bicara seperti itu kalau tidak ada maksud dan tujuan tertentu.
  Walangsungsang akhirnya sampai di gerbang Keraton Pakuan. Diam-diam Walangsungsang dan Nyimas
  Rarasantang menyamar memasuki istana.
  Penjaga melihatnya dan langsung menyerang. Tapi sebelum ia mengeluarkan jurus-jurusnya dan seorang
  temannya memukul kentongan tanda ada bahaya di depan gerbang, Walangsungsang membuka penyamar­
  annya.
  Prajurit jaga itu terhenyak, lalu ia membungkuk memberi hormat.
  “Maaf, Raden! Aku pikir ini siapa?” Walangsungsang tersenyum.
  “Tak perlu kau meminta maaf, karena tugasmulah untuk memeriksa siapa saja yang akan masuk istana!”
  Prajurit itu tertawa lebar merasa mendapat pembelaan dan masa dep


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 55

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×