Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 60

Prabu Siliwangi | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | karya E. Rokajat Asura | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | Cersil Sakti | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya pdf

Anak anak Nakal - Jacqueline Wilson The Last Empress - Anchee Min Kepala Kepala Yang Hilang Korban Balas Dendam - Sam Edy Yuswanto Sebelum Matahari Mengetuk Pagi - Leila S.Chudori

Prabu Rajagaluh sedang melaksanakan pertemuan dengan para abdi dalem. Seluruh bupati, sentana,
  mantri dan para penggede negeri sudah berkumpul. Adipati Palimanan, Ki Gedeng Kiban, pun telah menghadap
  raja. Prabu Rajagaluh bicara.
  “Aku dengar, Adipati Palimanan, tanah pantai yang dijadikan dukuh itu sudah banyak orang berkebun. Hasil
  palawijanya selalu jadi rebutan para tengkulak dari Palimanan dan Rajagaluh. Bukankah itu daerah ke-
  kuasanmu, Adipati?”
  “Benar, Gusti!”
  “Ceritakan padaku siapa mereka itu? Aku dengar penduduk di sana juga senang mencari ikan dan rebon di
  laut, benarkah?”
  “Tidak salah lagi, Gusti!”
  “Aku tertarik dengan tumbukan ikan rebon itu yang katanya sedap dan nikmat untuk dimakan. Tugasmu
  sekarang, cobalah hubungi mereka, siapa petani dan nelayan itu! Aku yakin pasti ada yang menjadi pe­
  mimpinnya. Karena ada di bawah kekuasaanmu, mulai sekarang tetapkan upeti kepada mereka. Bilang kepada
  pemimpin penduduk di sana, Prabu Rajagaluh meminta upeti dalam setahun sepikul rebon yang halus dalam
  bentuk gelondongan,” titah Prabu Rajagaluh.
  Ki Gedeng Kiban menerima perintah itu dan siap untuk melaksanakannya.
  Selesai pertemuan Ki Gedeng Kiban memanggil tujuh orang ponggawa atau mantri. Ketika ketujuh ponggawa
  itu sudah berkumpul, berkatalah Ki Gedeng Kiban.
  “Hai ponggawa pepitu sekarang periksalah dukuh baru di pinggir pantai itu, ada berapa jumlah penghuninya
  dan nelayan penangkap ikan rebon itu. Katakan kepada pemimpinnya bahwa setiap tahun wajib menyetor
  upeti sepikul bubuk rebon halus dalam bentuk gelondongan. Periksalah dengan benar, Gusti Prabu sangat
  menyenangi gelondongan bubuk rebon itu,” perintah Ki Gedeng Kiban. Ketujuh ponggawa itu menerima
  perintah dan segera melaksanakannya.
  Menuju dukuh itu tidaklah terlalu jauh tapi menjadi terasa sangat lama karena banyak rintangan di perjalanan.
  Mereka pun terheran-heran, jangan-jangan ini firasat akan mendapat pengalaman tidak menyenangkan di
  dukuh baru itu.
  “Kita harus melaporkan kejadian ini kepada Adipati Palimanan,” usul seorang ponggawa
  “Tidak perlu, buang-buang waktu saja!”
  “Aku khawatir akan terlalu lama kita sampai ke sana, padahal jaraknya lidak terlalu jauh. Bagaimana kalau
  Adipati curiga dan menganggap kita tidak sungguh- sungguh melaksanakan tugas ini?” tanya ponggawa lain.
  Akhirnya mereka berembuk, dan hasilnya tujuh ponggawa itu dibagi dua kelompok, satu kelompok
  meneruskan perjalanan dan kelompok kedua kembali menghadap Adipati Palimanan.
  Ki Gedeng Kiban hanya tercenung mendengar laporan yang dipandangnya aneh tersebut.
  “Berjalanlah kalian lurus, jangan sekali-kali melihat ke belakang. Apa pun yang terjadi, pandangan harus lurus
  ke depan,” ungkap Ki Gedeng Kiban setelah beberapa saat termenung. Para ponggawa itu melanjutkan
  perjalanan. Mereka kini diberi keleluasaan, tak perlu risau dengan waktu tempuh yang bisa molor, yang penting
  asal jangan saat Prabu Rajagaluh menanyakan perkembangan dukuh itu, kita belum punya gambaran apa-apa.
  Setelah ada kesepakatan seperti itu, ketiga ponggawa pelapor menjadi lebih bersemangat. Kejadian ini terus
  jadi bahan pikiran Adipati Palimanan.
  Pinggir luar dukuh itu sudah ada di depan mata. Orang-orang sibuk bekerja, bertani dan berkebun.
  Kehidupan mereka pun terlihat lebih sejahtera dibanding beberapa pedukuhan yang pernah dilewati utusan
  Adipati Palimanan tersebut. Ki Cakrabumi saat itu sedang berkumpul bersama adik dan istrinya, sesaat setelah
  pulang dari ladang. Sekalipun istirahat tapi tidak benar-benar bebas dari kegiatan, lihat saja sekarang, mereka
  sedang menumbuk rebon. Beberapa orang tengkulak hilir-mudik di halaman, menunggu hasil bubuk rebon
  gelondongan itu.
  Seorang bocah datang tergopoh.
  “Ki Cakra...Ki Cakra...” teriak bocah itu, napasnya masih terengah-engah.
  “Ada apa, Nak?” Ki Cakrabumi memeriksa, menghentikan pekerjaannya ketika melihat anak itu seperti dikejar-
  kejar binatang buas.
  “Itu...Ki Cakra...ada tujuh ponggawa datang... menuju ke arah sini....Mereka akan menyerang dukuh kita, Ki
  Cakra!” jelas anak itu. Mendengar ada tamu yang datang, Ki Cakrabumi hanya tersenyum. Sambil memberi
  minum kepada anak kecil itu, Ki Cakrabumi meneruskan bicaranya.
  “Nggak apa-apa...barangkali mereka itu mau membeli bubuk rebon. Sudah, sekarang kamu istirahat saja,
  minum dulu ya...atur napasmu jangan terengah- engah begitu!”
  Anak itu mengangguk lalu pamit. Cakrabumi meneruskan pekerjaanya. Para tengkulak rebon berebut saling
  mendahului, berdesak-desakan takut tidak kebagian bubuk rebon. Begitulah memang pemandangan sehari-hari
  manakala Cakrabumi sedang menumbuk rebon. Sebelum bubuk rebon itu selesai, calon pembeli justru telah
  antri. Sambil menunggu bubuk rebon para tengkulak itu tak henti-hentinya berceloteh:
  “Oga age geura age, geura bebek !”
  Cakrabumi, istri dan adiknya terus menumbuk memenuhi permintaan mereka. Para tengkulak itu terus
  berceloteh “oga age, geura age...oga age geura age...” sehingga akhirnya pedukuhan yang dibuka Cakrabumi
  itu kemudian termasyhur dengan nama Grage.
  Belum sapanyeupahan, tujuh ponggawa utusan Palimanan datang. Mereka memeriksa dukuh baru itu.
  Berdasarkan catatan mereka, dukuh baru yang dikenal sebagai Dukuh Grage itu sudah dihuni tidak kurang oleh
  346 orang.
  “Sampurasun, Ki Sanak!” ujar seorang ponggawa ketika bertemu dengan Ki Cakrabumi.
  “Rampes, Ki Semah, mari masuk!” ajak Cakrabumi. Para tamu masuk, sementara Cakrabumi membersikan
  tangan di belakang, menghilangkan bau amis yang menempel. Setelah berganti pakaian, Cakrabumi
  menghadapi para tamu. Pemimpin ponggawa itu kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya. Cakrabumi
  mengangguk menyetujui aturan tersebut.
  “Adipati Palimanan sangat terasih dengan bubuk rebon hasil olahan kalian di sini!”
  “Kalau memang itu telah menjadi kewaji ban kami, tentu akan kami penuhi. Untuk satu pikul bu buk rebon
  selama setahun menurutku tidak terlalu memberatkan. Haturkan salam dari kami kepada Gusti Adipati,” ujar
  Cakrabumi tanpa merasa keberatan, la justru sedang berpikir, seandainya bisa menjalin hubungan baik dengan
  para pejabat negeri, tentu akan memudahkan urusannya. Ia sedang membayangkan urusan besar di
  depannya.
  “Karena Adipati Palimanan sangat terasih dengan bubuk rebon itu, mulai sekarang aku namakan saja bubuk
  rebon itu dengan nama terasi. Bagaimana, apa kau tidak keberatan?”
  “Oh, terima kasih, dulu kami justru tidak terlalu memikirkan hal itu,” jawab Cakrabumi. Sementara itu adik dan
  istrinya mengintip dari ruang belakang. Mereka rupanya khawatir kedatangan ketujuh tamu itu akan
  mengancam keselamatan Cakrabumi.
  “Adipati Palimanan juga tidak lupa menghaturkan salam kepada Andika. Beliau pun ingin mengetahui
  bagaimana cara menangkap rebon itu dan mengolahnya menjadi terasi. Ceritakanlah kepada kami, untuk
  menyenangkan hati Adipati!” pinta seorang ponggawa.
  “Tentu saja kami tidak keberatan. Jangankan untuk menyenangkan hati Gusti Adipati, siapa pun yang bertanya
  tentu akan kami jawab dengan senang hati.
  Dalam agama kami, setiap setetes ilmu akan bermanfaat manakala diamalkan dan diajarkan kepada orang
  lain,” jelas Cakrabumi. Para ponggawa itu hanya saling pandang; “Cara menangkap rebon sama seperti
  menangkan ikan di laut, dengan jala tiap malam, lalu pagi-pagi sekali jala itu diambil. Kalau sedang beruntung,
  rebon-rebon itu terkumpul dalam jala. Rebon hasil tangkapan itu kami garami dan dibiarkan beberapa saat.
  Setelah cukup waktu sampai garam meresap, rebon- rebon diperas dan hasilnya dijemur. Nanti setelah kering
  lalu ditumbuk dan digelondongi, demikianlah tak ada yang kami rahasiakan lagi!” ungkap Cakrabumi.
  Ketujuh ponggawa itu mengangguk, mengerti dengan apa yang baru dijelaskan tuan rumah.
  “Sebentar, Ki Cakra, kau ke manakan air perasan rebon itu?” tanya salah seorang ponggawa. Sebelum
  Cakrabumi menjawab, di depan terjadi keributan.
  Rupanya para tengkulak yang sedari tadi menunggu telah tidak sabar sehingga satu demi satu menyerbu ke
  dapur. Sebelum kekacauan terjadi, Cakrabumi bertindak cepat mengamankan suasana.
  “Kalau kalian tidak sabar, kami tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini,” Cakrabumi memberi pengertian.
  Terdengar para tengkulak teriak-teriak. Melihat keadaan seperti itu ketujuh ponggawa dari Palimanan ingin
  membereskannya namun cepat-cepat dilarang oleh Cakrabumi. Bagaimana pun mereka adalahlangganan yang
  selama ini telah turut membesarkan usaha para pengarajin terasi ini, katanya.
  “Kalau tak keberatan, tolong jaga di depan agar


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 60

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×