Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 61

Prabu Siliwangi | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | karya E. Rokajat Asura | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | Cersil Sakti | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya pdf

Lazie Si Mulut Terkunci - Jacqueline Wilson Anak Tanpa Rumah - Jacqueline Wilson Matahari Matahari - Ratih Tri Widowati Giri - Marc Olden Elemen Kekosongan - Nein Arimasen

keributan ini tidak berlanjut,” pinta Cakrabumi. Ketujuh
  ponggawa itu membereskan antrian dan menjaga agar tidak terjadi keributan. Rupanya karena memang
  dijaga oleh para ponggawa, tak ada seorang pun yang berani berbuat macam-macam. Cakrabumi bisa
  menyelesaikan pekerjaannya. Lalu membagi-bagikan kepada para langganan itu sesuai dengan jumlah
  pesanan mereka, sementara sisanya dibungkus untuk dipersembahkan kepada Adipati Palimanan.
  “Kami masih penasaran, Ki Cakra, kau kemanakan air perasan terasi itu? Tentu saja cukup banyak!”
  “Oh, ya, aku hampir lupa. Air perasan air rebon ini dimasak dengan diberi bumbu-bumu. Masakan perasan air
  rebon menurutku lebih enak. Kami menamakan Petis Bendrang,” ungkap Ki Cakrabumi.
  “Boleh aku mencicipinya, Ki Cakra?”
  “Tunggulah sebentar, kami masih memasaknya!” Selesai memasak, petis Bendrang itu disajikan. Mereka makan
  bersama. Para ponggawa terlihat lahap sekali. Petis Bendrang ternyata lebih gurih dan membangkitkan selera.
  “Perasan Cai Rebon lebih enak ketimbang terasinya,” komentar seorang ponggawa. Selesai makan ponggawa
  kepala mengumumkan kepada penduduk Dukuh Grage, agar mengganti nama dukuh ini dengan Cai Rebon
  yang lama kelamaan menjadi Cirebon.
  Seiring penetap nama menjadi Dukuh Cirebon, mulai ditetapkanlah aturan dan tata tertib sebaimana layaknya
  sebuah pedukuhan. Paling tidak harus ada seorang pemimpin yang akan menggerakkan rakyat serta
  membangun pedukuhan itu sesuai dengan garis yang telah ditetapkan Adipati Palimanan. Dipimpin ponggawa
  Palimanan, mereka mengadakan rembugan.
  “Kenapa tidak kita angkat saja Ki Cakrabumi sebagai pemimpin dukuh ini, Kakang?” usul seorang utusan
  Palimanan.
  “Tidak semudah itu! Kita harus kumpulkan penduduk pedukuhan ini, untuk memilih siapa menurut mereka yang
  pantas menjadi pemimpin di sini,” usul ponggawa yang lain.
  “Aku kan sudah tua, lebih baik yang muda-muda saja yang memimpin dukuh ini,” ungkap Ki Gedeng Alang-
  Alang ketika dimintai pendapatnya. Ki Cakrabumi menimpali.
  “Justru karena sudah sepuh, akan lebih baik memimpin dukuh ini. Agar dengan segala kebijaksanaan dan
  pengalamannya menghadapi kehidupan ini, bisa membawa dukuh ini ke arah yang lebih baik. Insya allah.”
  “Kalau begitu tidak ada salahnya usul dari utusan Palimanan ini, untuk menyerahkan semuanya kepada rakyat
  yang telah menetap di dukuh ini,” jelas Ki Gedeng Alang-Alang.
  Dikumpulkanlah penduduk dukuh Cirebon di lapangan cukup besar. Setelah semuanya kumpul, seorang utusan
  Palimanan mengumumkan maksud dan tujuan kenapa mereka dikumpulkan. Sebagai calon pemimpin dukuh
  saat itu diajukan tiga orang calon yaitu Ki Gedeng Alang-Alang, Ki Cakrabumi dan seorang nelayan pendatang
  yang sebenarnya kurang begitu paham dalam urusan memimpin pedukuhan.
  Tidak mengherankan ketika diajukan ke depan, calon ketiga tersebut dengan legowo mengundurkan diri.
  “Aku tidak pintar untuk memimpin pedukuhan. Lagipula aku baru beberapa saat diam di pedukuhan baru ini.
  Alangkah tidak pantasnya kalau aku memaksakan diri untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin pedukuhan
  ini. Aku yakin nanti pgnduduk juga akan memilih satu dari kedua tokoh yang telah kita ketahui bagaimana
  perannya dalam mengembangkan dukuh ini. Dengan segala hormat kepada kasepuhan Ki Gedeng Alang-Alang
  dan sahabat serta guru saya yang terhormat, Ki Cakrabumi, saya mengundurkan diri dari pemilihan ini,” jelas
  lelaki bertubuh tegap itu.
  Semua hadirin bertepuk tangan merasa senang dan kagum dengan kebesaran hatinya. Kendati dia sendiri
  dicalonkan oleh sekelompok orang yang telah pula mengetahui bagaimana sepak terjangnya selama berada di
  Dukuh Cirebon.
  “Baiklah, dengan mengundurkan diri salah seorang calon, berarti sekarang hanya tinggal ada dua orang
  calonpemimpin Dukuh Cirebon ini yaitu Ki Gedeng Alang- Alang dan Ki Cakrabumi. Nah, sekarang kalian semua
  harus memilih siapa di antara kedua calon pemimpin ini. Caranya cukup sederhana, cukup dengan masing-
  masing maju ke depan dan menunjuk pemimpin yang kalian inginkan. Kami semua akan mencatatnya,” jelas
  salah seorang utusan Palimanan.
  Dimulailah pemilihan langsung itu.
  Sementara itu Ki Gedeng Alang-Alang dan Ki Cakrabumi duduk di atas bangku dengan ditutup kepala. Hal ini
  dimaksudkan agar pemilihan itu berlangsung dengan jujur dan disaksikan oleh semua pemilih tanpa diketahui
  oleh yang dipilihnya.
  Pemilihan langsung itu dimulai. Seorang penduduk menunjuk ke arah Ki Cakrabumi, lalu petugas mencatat
  hasilnya di atas tanah lapang itu.
  Penduduk yang kedua menunjuk Ki Gedeng Alang-Alang, kemudian petugas pencatatan melakukan hal yang
  sama yaitu mencatatnya di atas tanah lapang.
  Begitulah seterusnya hingga semua pemilih telah menentukan pilihannya. Setelah selesai pemilihan, kemudian
  penutup mata Ki Gedeng Alang- Alang dan Ki Cakrabumi dibuka. Disaksikan utusan Palimanan, masyarakat
  pemilih dan kedua calon pemimpin dukuh itu, penghitungan dimulai. Ternyata setelah dilakukan berkali-kali
  penghitungan, mereka merasa yakin bahwa perhitungannya tidak salah. Hasilnya Ki Gedeng Alang-Alang
  unggul satu suara dibanding Ki Cakrabumi.
  Dengan demikian saat itu juga utusan dari Palimanan menetapkan Ki Gedeng Alang -Alang sebagai kuwn
  Dukuh Cirebon dan Ki Cakrabumi sebagai wakilnya. Sehari setelah pemilihan dilaksanakan, utusan Adipati
  Palimanan pulang untuk melaporkan hasilnya.
  Dalam waktu singkat Ki Gedeng Alang-Al ang telah terkenal sebagai kuwu Dukuh Cirebon. Nama nya semakin
  termasyhur karena berhasil mengembangkan pembangunan dukuh itu. Masyarakatnya terkenal rajin bekerja,
  kehidupan mereka makmur tidak kurang suatu apa.
  Penduduk yang bertani berhasil dalam pertaniannya, sehingga tidak saja mencukupi untuk dimakan tapi bisa
  menyisihkan untuk dijual atau ditukar dengan barang lain. Demikian pula penduduk yang sehari-harinya
  menjadi nelayan. Ki Gedeng Alang-Alang secara rutin setiap tahun memberikan upeti kepada Adipati Palimanan
  berupa segelondongan terasi buatan Ki Cakrabumi sekeluarga.
  Matahari hampir tenggelam di garis cakrawala ketika seorang tamu yang mengaku santri dari Gunung Jati,
  bertamu dan bermalam di rumah Ki Gedeng Alang- Alang. Keesokan harinya ia menitipkan tas.
  ‘Aku mau bertemu dengan Syaikh Nurjati. Tidak sopan rasanya kalau harus membawa barang ini. Aku titipkan
  kepada Ki Kuwu tas ini, nanti sepulang dari Syaikh Nurjati aku akan ambil kembali,” jelas santri tersebut.
  “Kalau kau percaya, Nak, silakan saja. Aku tidak keberatan untuk dititipi tas ini,” jelas Ki Gedeng Alang- Alang.
  Santri itu kemudian keluar dan meneruskan perjalanannya. Setelah santri itu tidak terlihat lagi, Ki Gedeng
  Alang-Alang memanggil Nyimas Rarasantang.
  “Nyai, ada seorang santri yang akan bertemu dengan Syaikh Nurjati menitipkan tas ini. Simp anlah baik-baik
  agar jangan sampai terbuka apalagi hilang. Nanti ketika santri itu pulang, berikan tas ini,” ungkap Ki Gedeng
  Alang-Alang. Nyimas Rarasantang mengangguk.
  “Baiklah, Ki, aku akan menyimpan tas ini,” Nyimas Rarasantang menerima tas itu kemudian beringsut dari
  hadapan Ki Gedeng Alang-Alang.
  Saat sendiri di dalam kamar, rasa penasaran untuk membuka tas itu tak bisa dikendalikan. Dilihatnya lekat-
  lekat, namun tetap tidak bisa mengetahui apa sebenarnya isi tas tersebut. Kenapa harus dititipkan di sini? Kalau
  dibawa pun tidak akan memberatkan selama di perjalanan, gumam Nyimas Rarasantang.
  “Aku harus membukanya, biar tahu apa sebenarnya isi tas ini!” desak batinnya. Lupa sudah bahwa ia sedang
  memegang amanat. Sebelah hatinya melarangnya. “Jangan! Tas ini milik orang lain. Kalau kau membukanya
  berarti berkhianat.”
  “Ah, buka saja! Bagaimana kalau isinya ternyata membahayakan, bukankah bisa mengancam keselamatan
  kau, Rarasantang?”
  “Benar juga!”
  “Cepatlah buka!”
  “Jangan, Rarasantang! Kau diberi amanat, jangan coba-coba khianat!”
  “Ah, kenapa takut? Toh di kamar ini tidak ada siapa- siapa dan nanti setelah dibuka, kau bisa menutupnya
  kembali, Ki Gedeng Alang-Alang pun pasti tidak akan mengetahuinya.”
  “Buka?”
  “Buka saja!”
  “Jangan!”
  “Buka!”
  “Jangan!”
  Pergulatan semakin memuncak, saling mendesak seperti antrian penonton bola yang tak kebagian tiket.
  Nyimas Rarasantang tak kuasa didera rasa itu. Akhirnya dengan perasaan waswas takut ketahuan oleh Ki
  Gedeng Alang-Alang, akhirnya Nyimas Rarasantang membuka tas titipan santri tersebut. Ketika dibuka, ia
  menemukan cupu hijau. Entah kenapa ketika ia memegang cupu itu, hatinya bergetar hebat. Akibat hebatnya
  geta


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 61

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×