Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 62

Prabu Siliwangi | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | karya E. Rokajat Asura | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya | Cersil Sakti | Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya pdf

Anak anak Nakal - Jacqueline Wilson The Last Empress - Anchee Min Kepala Kepala Yang Hilang Korban Balas Dendam - Sam Edy Yuswanto Sebelum Matahari Mengetuk Pagi - Leila S.Chudori

ran itu tangannya bergetar sehingga cupu hijau itu hampir terjatuh.
  “Aku harus membuka apa isi cupu ini,” pikir Nyimas Rarasantang.
  Dengan mengatur napas agar tidak terlalu memburu, ia mulai membuka cupu hijau tersebut; “Ya, ampun,
  ternyata isinya air. Wangi sekali air ini...” Nyimas Rarasantang lagi-lagi tersentak kaget. Lama ia memandangi
  air dalam cupu hijau itu. Air wangi tersebut membuat ia semakin kehilangan akal sehatnya.
  “Minumlah air itu...”
  “Jangan!”
  “Minum...kau akan merasakan kesegaran luarbiasa...”
  “Minumlah...”
  " Jangan... "
  “Minum...”
  Suara-suara itu terus datang silih berganti. Menggoda. Mendera. Ia hampir menangis dibuatnya. Tapi semakin
  ditahan keinginan itu semakin besar pula desakan untuk melakukan sensasi pelanggaran itu.
  “Apa pun yang terjadi, aku harus meminumnya. Hanya dengan cara itu aku tidak akan merasa penasaran lagi,”
  tekad Nyai Rarasantang akhirnya. Ia meneguk air itu. Sekali teguk saja, air dalam cupu hijau itu langsung
  tandas. Setelah airnya habis, cupu hijau itu ditutup kembali dan dimasukkan ke dalam tas. Belum juga menutup
  tas yang tergeletak di tempat tidur, Nyimas Rarasantang diserang kantuk yang hebat. Dalam hitungan detik
  saja ia langsung terkulai lemas dan tidur, diikuti kemudian suara dengkur.
  Kehadiran Prabu Anom Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang di Pajajaran, meninggalkan duka di hati
  Prabu Siliwangi. Rasa cinta yang menggunung
  ternyata membuatnya lalai. Ia selama ini terlalu percaya kepada Argatala sebesar kepercayaannya kepada Ki
  Nalaraya. Ia mencintai mendiang Ratu Subanglarang sebesar rasa cintanya pada kedua putra-putrinya itu. Tapi
  siapa sangka rasa percaya itu ternyata begitu mudah dikhianati, sebesar rasa cinta yang ternyata berakhir
  duka.
  Pertemuan amat singkat itu dengan gemilang membuka mata hati Sri Maharaja Prabu Siliwangi. Kini ia mulai
  merasakan kemesraan tumbuh menjadi rasa cinta pada Nyai Kentring Manik Mayang Sunda. Tapi agak sulit
  untuk menyejajarkannya dengan Ratu Subanglarang. Buah cintanya dengan Nyai Kentring Manik, telah tumbuh
  sempurna pemuda tampan, Surawisesa. Pemuda inilah yang akan menggantikan posisi Prabu Anom
  Walangsungsang yang telah memilih jalan sendiri.
  Suatu hari Prabu Siliwangi mengajak Argatala berburu. Lain dari kebiasaannya, kegemaran berburu itu hanya
  dilakukan berdua. Prabu Siliwangi melarang yang lain ikut serta. Bagi Argatala hal ini dianggap sebagai
  perlakuan istimewa. Jelas, ia sangat tersanjung dan sama sekali tak punya sangkaan lain selain mendapatkan
  kehormatan. Ia semakin yakin, kedekatannya dengan Mayang Sunda berbuah manis. Ia tidak saja dekat tapi
  mendapat perlakuan istimewa dari Prabu Siliwangi. Argatala merasakan hatinya kian mekar.
  Perburuan dilakukan di hutan tak terlalu jauh dari Keraton Pakuan. Di tempat itu hewan hutan semacam kijang,
  akan gampang ditemui. Saat embun bening masih bergelayut malas pada ujung-ujung rumput, keduanya telah
  berangkat. Saat matahari sepenggalah sudah sampai di tempat tujuan.
  “Lama tak pernah berburu, gampang capek, Argatala,” seru Prabu Siliwangi dan memperlambat laju kudanya.
  Argatala melakukan hal yang sama, sehingga posisinya hampir sejajar.
  “Istirahat saja dulu, Gusti Prabu. Siang masih panjang. Dua tiga kijang cukup.”
  “Ya, lebih baik memang istirahat dulu,” jelas Prabu Siliwangi, mengarahkan kudanya ke arah tanah datar di
  bawah pohon yang rindang. Prabu Siliwangi turun dari kuda dengan loncatan ringan, menambatkan tali kendali
  di pohon. Argatala pun melakukan hal serupa. Ia turun dari kuda, menuntunnya mendekati kuda Prabu
  Siliwangi, menambatkan tali kendali di pohon lain. Prabu Siliwangi bersipongang, menghirup udara hutan yang
  segar dengan aroma pinus dan pohon-pohon tua. Bau tanah lumut yang agak basah menambah suasana khas
  belantara.
  “Dulu setiap aku berburu, Ki Nalaraya selalu menyertai!”
  “Benar, Gusti Prabu!”
  “Kau tahu sebenarnya dia belum meninggal?”
  “Benar, Gusti Prabu!”
  “Kenapa kau tidak melaporkan keadaannya? Kau sendiri yang bilang, Ki Nalaraya kecelakaan di hutan saat
  mencari putra-putriku...”
  “Hamba, Gusti Prabu!” Argatala menunduk malu. Ia mulai waswas.
  “Kau tahu di mana sekarang ia tinggal?”
  “Hamba, Gusti Prabu! Tidak tahu....”
  “Di bawah tepi jurang hutan Parahyangan. Sayang, aku tak tahu di mana persisnya. Tapi kabar terakhir ada
  yang mengatakan kalau dia tertimbun puluhan gerobak batu. Tak masuk akal memang, buat apa batu-batu itu
  dibuang ke dalam jurang. Bagaimana menurutmu?”
  Tubuh Argatala tiba-tiba bergetar hebat. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Prabu Siliwangi
  mengerling dengan sinar mata tajam, seperti harimau yang mengancam korban. Hati Argatala yang berbunga
  mendadak ciut.
  “Kau tak menjawab?”
  “Ampun, Gusti Prabu, aku belum mendengar berita itu... "
  “Kau tahu siapa yang menyuruh tukang batu menumpah batu-batu itu ke bawah jurang?”
  “Ampun, Gusti Prabu, tidak tahu!”
  “Sebagai patih, apa yang kau ketahui, Argatala?” Argatala diam seribu bahasa. Ia menunduk seperti perempuan
  ditanya-orangtua atas kesiapannya menerima pinangan. Ia benar-benar telah kehilangan jati dirinya sebagai
  seorang laki-laki. Tubuhnya terasa ringan. Melayang.
  Prabu Siliwangi membuka ikatan tali kendali, lalu meloncat ke atas kuda. Tali kendali ditarik, kuda itu memutar
  berlawanan arah, menghadap pada Argat ala yang masih berdiri lunglai.
  “Temukan Ki Nalaraya sebelum senja!” teriak Prabu Siliwangi menahan amarah yang mulai memuncak. Sorot
  matanya yang tajam telah mencabik-cabik perasaan Argatala. Ketika Argatala mengangkat wajah, Prabu
  Siliwangi telah melesat kembali ke keraton, meninggalkan bekas pijakan kuda dan awan debu yang
  mengambang. Argatala benar-benar mati kutu. Ia melangkah gontai. Hampir ambruk.
  Ki Nalaraya saat itu menuntun kuda yang ditunggangi Ceuk Srinten, lurus ke arah timur menantang matahari.
  Langkahnya berderap seiring langkah kuda, penuh semangat sekalipun tak pernah tahu di mana ia akan
  berhenti. Hanya berbekal keyakinan bahwa di arah timur, di suatu tempat, ia akan bisa bertemu dengan Prabu
  Anom Walangsungsang.
  Ketika senja mengambang Argatala benar-benar putus asa. Dari beberapa tempat sesuai dengan laporan anak
  buahnya telah ia jajaki, tapi tak menemukan saung tempat Ki Nalaraya dan Ceuk Srinten tinggal. Bahkan tak
  ditemukan bekas-bekasnya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke keraton seiring di ufuk barat terlihat
  sinar kemerahan memulas langit.
  Apa pun hukuman yang akan diberikan, aku akan menerima, gumamnya. Ia memacu kudanya ke arah barat
  tak peduli keadaansekelilingnya. Ia terus memacu seolah sedang berlomba dengan waktu. Berkelebat rupa Nyi
  Ratu Mayang Sunda. Akankah ia juga menolongnya saat kepepet, seperti yang selama ini ia lakukan? Entah
  kenapa Argatala dilanda keraguan yang pekat. Ia mendekati dan mau bersekongkol dengan Nyi Ratu Mayang
  Sunda semata untuk menjaga posisi di hadapan Sri Maharaja Prabu Siliwangi, agar tak tergantikan Ki Nalaraya.
  Argatala merasa wajahnya menyengat mengingat nama itu. Dadanya terasa sesak. Ia ingat benar ketika Ki
  Nalaraya mendapatkan kepercayaan karena kedekatannya dengan Ratu Subanglarang, berb uah manis dengan
  mendapat perhatian dari Prabu Siliwangi. Ia ingin melakukan hal yang sama, tapi tidak pada orang yang sama.
  Saat itulah ia melihat peluang terbuka pada diri Mayang Sunda. Tapi kini, langit terasa menghimpitnya.
  Argatala teriak kencang dari atas kudanya minta dibukakan pintu gerbang begitu sampai ke areal keraton.
  Teriakan itu menggema ke mana-mana menjadi teror yang menakutkan. Prajurit penjaga pintu tergopoh-
  gopoh. Ia berhasil membuka pintu sebelum kuda yang ditunggangi Argatala berhenti. Tapi kerja kerasnya itu
  hanya berbuat umpatan dan cacian, yang meluncur deras dari mulut Argatala.
  “Setan alas, membuka pintu saja tidak becus!” hardik Argatala; “tutup gerbang itu sebelum kau diserang ayan.”
  Prajurit penjaga pintu tahu persis kalau Argatalasedang marah. Ia tak banyak bicara selain melaksanakan
  tugas sebaik mungkin. Protes saja sebuah temparan akan mendarat sukses di pipi.
  Dua lecutan di punggung menjalarkan rasa panas dan sakit tak terkira. Argatala mengerang tapi tidak
  tumbang. Ia masih berdiri bahkan siap menerima hukuman lebih keras dari itu, karena ia telah gagal
  membawa Ki Nalaraya sementara senja sudah benar- benar tenggelam.
  **********
 


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Bara di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya - 62

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×