Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 73

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

7.37. Pelarian Sepasang Muda-mudi Pendekar Ia telah berubah demikian beringasnya, namun ketika dapat melihat selubung kuningan yang sudah patah dua itu, lagi-lagi hatinya jadi bercekat.
  „Apakah di dalam selubung itu masih terdapat sesuatu yang membahayakan jiwa?” pikirnya. Sejenak kemudian, karena rasa ingin tahunya, ia lalu menghampiri benda itu dengan sikap waspada sekali.
  Apa yang dilihatnya? Tok-beng-oey-hong palsu! Apa yang dilihatnya hanya selubung kuningan kosong dengan bekas-bekas sisa semacam bubuk racun, hampir serupa dengan bubuk racun yang dipergunakan oleh Ouw Lo Si untuk mencelakai Wei Beng Yan, yalah yang berbau harum semerbak. Tetapi Racun To Siok Keng tidak membahayakan jiwa, racun itu hanya sekedar untuk menyerang urat syaraf lawannya.
  „Bangsat! Aku telah diselomoti......!”
  Memang Pek Tiong Thian telah diingusin oleh puteri Kiu It yang cerdik itu. Selagi tadi kelabakan mengira telah diserang oleh Tok-beng-oey-hong, To Siok Keng dengan lincah sekali telah mengajak Wei Beng Yan meninggalkan puncak itu dan bersembunyi di semak belukar. Karena meskipun telah mewarisi ilmu Thian- hiang-sian-cu, tetapi jika begitu jauh Pek Tiong Thian masih mempergunakan Ciam-hua-giok-siu sebagai senjata, ia merasa kewalahan juga.
  Mereka berlari terus, setelah melalui beberapa belokan, mereka lalu tiba di suatu tempat yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.
  „Su-ko,” kata To Siok Keng sambil menahan langkahnya, „betismu belum baik betul, aku kira ada baiknya jika kita bersembunyi saja dalam goa ini.”
  „Baiklah,” sahut Wei Beng Yan. „tetapi dimanakah goa yang kau maksud itu?”
  „Di sana!” kata To Siok Keng sambil mengajak Wei Beng Yan berjalan lagi. Kira-kira sepuluh meter dari tempat mereka tadi berhenti, tampak satu batu yang setelah digeser merupakan suatu goa.
  „Dari mana kau ketahui di situ ada goa?” tanya Wei Beng Yan.
  „Masakan aku tidak mengetahui keadaan tempat yang masih termasuk lingkungan daerahku ini,” sahut To Siok Keng, „Ayohlah masuk!”
  Setelah mereka berada di dalam, si gadis lalu menutupi lagi mulut goa, sehingga sukar bagi seseorang untuk mengetahui tempat persembunyian mereka itu.
  „Su-moay,” tiba-tiba Wei Beng Yan berkata dengan wajah memerah, karena merasa canggung mengetahui tubuhnya berada berdempetan dengan tubuh To Siok Keng, karena goa atau tempat yang lebih mirip lobang kecil itu sempit sekali. „Apakah tidak ada lain tempat yang lebih luas untuk tempat kita bersembunyi?”
  „Tidak,” sahut To Siok Keng, „tetapi, biarlah aku menjaga di luar goa saja.......”
  „Aku berkeberatan.....”
  „Jika..... demikian.... kita harus tetap bersembunyi dengan cara ini.....”
  „Ya...... keselamatan kita bersama adalah yang terpenting......”
  To Siok Keng perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan denyutan jantungnya jadi berdebar-debar ketika sinar matanya bertemu dengan sinar mata Wei Beng Yan yang sedang berpegangan pada pundaknya. Sebelum bertemu dengan puteri Kiu It itu, Wei Beng Yan telah jatuh cinta kepada Siauw Bie yang kemudian ternyata bukan saja telah cemburu tidak keruan, juga berwatak congkak serta kejam.
  Justru sifat-sifat jelek yang telah disebutkan itulah yang telah memindahkan cinta pemuda itu kepada si gadis she To, yang bukan saja lemah lembut tetapi telah berhasil menolong jiwa si pemuda dari serangan Ciam-hua- giok-siu Yu Leng gadungan. Dan dilihat dari sikap To Siok Keng tatkala itu, dapatlah ditafsirkan bahwa cinta Wei Beng Yan telah mendapat sambutan yang sehangat-hangatnya dari pihak si gadis! Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, namun mereka dapat ‘mendengar’ apa yang dikatakan oleh sorotan mata mereka masing-masing! Selagi berada dalam keadaan yang mesra itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa Pek Tiong Thian.
  „Su-ko, si jahanam sedang mendatangi!” bisik To Siok Keng „Aku kira ia tidak akan berhasil menemukan tempat bersembunyi kita ini,” sahut Wei Beng Yan.
  Betul saja suara tertawa itu makin lama makin menjauh sehingga akhirnya tidak terdengar lagi, dan sebagai ganti suara tertawa itu kini terdengar suara tindakan kaki yang agaknya berhenti tidak jauh di depan mulut goa itu.
  To Siok Keng lalu mengintip melalui satu lobang kecil.
  „Siapa?” tanya Wei Beng Yan berbisik.
  „Siauw siocia!”
  „Ha? Siauw Bie?”
  „Dia agaknya juga sedang mencari tempat berlindung, bagaimana jika kita ajak ia berlindung di sini?”
  Wei Beng Yan berpikir sejenak dan menyahut.
  „Baiklah!”
  Mendengar persetujuan itu, To Siok Keng segera memanggil. „Siauw siocia!”
  Bukan main kaget Siauw Bie mendengar namanya dipanggil orang, ia memang sedang melarikan diri dari kejaran Pek Tiong Thian.
  „Siapa?!” tanyanya sambil meneliti keadaan di sekitarnya.
  Dibalik satu batu besar ia melihat To Siok Keng melambai-lambaikan tangannya seraya berkata d engan suara rendah.
  „Lekas sembunyi di sini!”
  Sekonyong-konyong saja Siauw Bie jadi gusar melihat saingannya itu.
  „Wanita liar!” bentaknya sambil melotot beringas, „mengapa, kau tidak berpeluk-pelukkan terus dalam lobang sesempit itu? Apakah kau ingin membanggakan bahwa kau telah berhasil merebut si pemuda she Wei dari tanganku?”
  Wei Beng Yan jadi serba salah mendengar caci maki itu, ia lekas-lekas keluar dan turut berkata.
  „Bie moay, To siocia dan aku dengan setulus hati ingin membantu, tetapi mengapa kau.....”
  „Puih! Membantu?!” Siauw Bie memotong gusar. „Ketahuilah bahwa aku merasa jemu melihat wajahmu maupun paras si wanita cendil itu!”
  Wei Beng Yan betul-betul putus asa melihat sikap Siauw Bie yang sudah seperti orang kurang waras pikirannya itu.
  „Yah, jika kau mengatakan demikian,” sahutnya, „akupun tidak dapat berbuat apa-apa......”
  Siauw Bie mengawasi sebentar, setelah itu ia meludah dan meninggalkan tempat itu.
  To Siok Keng lekas-lekas mengajak Wei Beng Yan masuk lagi sambil menutupi mulut goa itu, dengan batu besar.
  Karena rasa cemburunya yang sudah meluap-luap, Siauw Bie berlari-lari ke dalam hutan tanpa menghiraukan segala sesuatu yang berada di samping atau di belakangnya. Ia baru terkejut ketika merasakan suatu cengkeraman menjambret pundak kirinya, hingga ia tidak lagi dapat bergerak! „Sia..... siapa kau?!” tanyanya cemas sambil terus meronta-ronta nekad, tetapi cengkeraman itu tidak mau terlepas.
  „Anjing betina kecil,” kata orang itu, „kau ingin mengetahui aku ini siapa?”
  Mendengar suara orang itu, mendadak Siauw Bie jadi menggigil ketakutan, karena ia sudah dapat mengenali bahwa suara yang pecah seperti kecer itu adalah suara Yu Leng gadungan alias Pek Tiong Thian! „Aku..... aku mengetahui siapa..... sebenarnya lo-cianpwee.....” sahutnya terputus-putus. „Tetapi........”
  Pek Tiong Thian yang sedang gusar telah diingusi oleh To Siok Keng, sebetulnya ingin melampiaskan amarahnya itu kepada Siauw Bie, tetapi ketika mendengar kata ‘tetapi’ , ia berusaha menahan perasaannya itu dan menanya.
  „Tetapi apa?!”
  „Meskipun aku telah melarikan diri, tetapi aku kira...... sekarang aku dapat membantu Locianpwee......” jawab Siauw Bie.
  Percakapan itu dilakukan di tempat yang tidak beberapa jauh dari goa yang dipakai bersembunyi oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng, hingga ucapan-ucapan dapat didengar dengan jelas sekali oleh ke dua muda-mudi itu.
  „Su-ko......” bisik To Siok Keng, „lebih baik kita lekas-lekas keluar dari tempat persembunyian kita ini...... aku khawatir Siauw siocia membongkar rahasia kita!”
  „Sshh......!” sahut Wei Beng Yan sambil menggeser mendekati mulut goa, „kita harus berlaku tenang......”
  Kecemasan To Siok Keng memang sangat beralasan, bukankah jika Siauw Bie, yang karena ingin terhindar dari maut itu membeber rahasia tempat persembunyian me reka di dalam goa itu kepada Pek Tiong Thian, mereka pasti akan diganyang hancur?


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 73

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×