Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 74

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

„Kau ingin membantu aku?” terdengar Pek Tiong Thian menanya Siauw Bie dengan suara mengejek. „Tetapi sayang sekali aku tidak lagi dapat percaya kau! Aku bahkan tidak percaya kepada semua keluarga Siauw!”
  „Mengapa Locianpwee beranggapan demikian?” tanya Siauw Bie yang sudah mulai agak tenang.
  „Kau dan kakakmu, Siauw Cu Gie adalah sama! Yalah bangsat-bangsat besar! Ha, ha, ha!”
  „Apakah kakakku pernah menipu Locianpwee?”
  „Ha, ha, ha! Aku telah pergi ke pegununga n Tay-piet-san, dan di luar lembah Yu-leng-kok aku tela h dikerubuti oleh lima orang!”
  „Apa hubungannya peristiwa itu dengan kakakku?”
  „Karena salah satu daripada ke lima bangsat itu adalah kakakmu, Siauw Cu Gie, yang telah aku utus ke akherat! Hee, hee, hee!”
  Siauw Bie jadi terbengong mendengar kakaknya telah dibunuh oleh Pek Tiong Thian. Kakaknya, yang semenjak ibu dan ayahnya meninggal dunia, telah memelihara serta mendidiknya dengan penuh kasih sayang.
  „Kau telah membunuh kakakku?” serunya lantang.
  „Betul! Dan kaupun akan mati sekarang!” sahut Pek Tiong Thian sambil mengejek terus.
  Siauw Bie yang semula ingin memberitahukan tentang tempat bersembunyi Wei Beng Yan dan To Siok Keng, tiba-tiba jadi beringas ketika mengetahui bahwa Siauw Cu Gie, orang satu-satunya yang sangat dicintai itu telah dibunuh dan diejek-ejek.
  „Jahanam!” bentaknya sambil tiba-tiba meronta dan berhasil melepaskan diri, setelah itu dengan sepenuh tenaga ia menyerang Pek Tiong Thian.
  Serangan yang dahsyat serta mendadak itu ternyata menemui juga sasarannya. Pek Tiong Thian yang sedang tertawa berkakakan sekonyong-konyong terpental mundur terpukul dadanya.
  Ia tidak pernah menyangka Siauw Bie yang cantik menggairahkan itu memiliki ilmu lebih lihay daripada kakaknya sendiri. Terjangan tinju gadis itu membuatnya seolah-olah dihajar oleh palu baja! Kalau saja ia tidak keburu melancarkan seluruh tenaganya menahan damparan serangan itu, pasti ia sudah roboh tidak berdaya! Siauw Bie yang sudah nekad lagi-lagi menyerang dan menghujani jotosan-jotosan sambil sebentar-sebentar berusaha menotok jalan-jalan darah yang mematikan.
  Pek Tiong Thian berkelit, meloncat dan berusaha mendekati tanpa menghiraukan rasa sangat sakit di dadanya.
  Suatu ketika ia berhasil mencengkeram lagi pundak Siauw Bie dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menyerang ke arah dada, hingga gadis itu menjerit seram, tubuhnya terdorong mundur untuk kemudian terjerumus ke dalam jurang! Pek Tiong Thian yang telah mengerakkan seluruh tenaganya pun tiba-tiba terhuyung dan roboh di tanah akibat serangan Siauw Bie di dadanya tadi! Semua kejadian itu dapat didengar jelas sekali oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Mereka bergidik mendengar jeritan Siauw Bie barusan.
  „Sumoay,” bisik Wei Beng Yan, „kita harus membantu Siauw siocia......”
  „Luka-lukamu belum sembuh seluruhnya, sedangkan aku belum tentu dapat mengalahkan si jahanam she Pek itu,” sahut To Siok Keng cemas, „jalan satu-satunya untuk mengalahkan dia itu, adalah dengan menyeruduknya dan mati bersama-samanya!”
  Wei Beng Yan mengawasi paras gadis yang cerdik itu, ia harus mengakui bahwa tenaganya sudah banyak berkurang, lagipula, dengan tulang betisnya yang masih belum sembuh seluruhnya, mana bisa ia melancarkan Thay-yang-sin-jiauw secara sempurna? „Kita harus bersabar,” bisik lagi To Siok Keng sambil menghampiri batu penutup goa dan mengintip keluar, ternyata Pek Tiong Thian sudah tidak lagi berada di situ! Setelah menunggu lagi beberapa lamanya, suasana sudah mulai menjadi gelap, kecuali suara serangga- serangga dan desiran-desiran angin senja pegunungan Oey-san, suasana di sekitarnya sunyi senyap.
  Mereka belum berani keluar dari tempat persembunyian itu. Mereka bertekad bermalam di situ meskipun harus menderita kelaparan dan kehausan sangat semalam suntuk! „Sumoay,” kata Wei Beng Yan tatkata fajar sudah menyingsing, „harap saja si jahanam sudah berlalu dari daerah pegunungan Oey-san ini.”
  „Aku yakin jahanam itu tidak demikian mudah ingin meninggalkan daerah ini,” sahut To Siok Keng.
  „Tetapi kita tidak dapat terus menerus berdiam secara ini.....”
  „Bagaimana kesehatanmu?”
  „Aku merasa tenaga serta semangatku telah pulih, hanya tulang betisku masih memerlukan sedikit waktu lagi untuk menjadi sembuh seluruhnya......”
  „Kita akan naik ke atas puncak Cie-sin-hong, dapatkah kau lakukan itu?”
  „Mengapa justru naik ke atas, bukankah kita harus mencari jalan keluar?”
  To Siok Keng bersenyum manis dan menyahut.
  „Si jahanam tentu sedang menunggu di kaki puncak, maka untuk menghindarkan diri dari cengkeramannya kita justru harus mengambil jalan naik ke atas!!”
  „Bagus!” seru Wei Beng Yan, „Ayohlah kita berangkat sekarang!”
  Perlahan-lahan To Siok Keng mengerahkan tenaganya, kemudian dengan satu gentakan mendadak ia membetot batu besar yang menutupi mulut goa. Setelah meneliti keadaan di luar tetap aman, ia lalu memberi isyarat kepada Wei Beng Yan untuk lekas-lekas keluar dan mengikutinya mendaki puncak itu.
  Dengan napas tersengal-sengal akhirnya kedua muda mudi itu berhasil mencapai puncak Cit-sie-hong. Suasana di tempat yang tinggi itu tenteram sekali. Justru ketenteraman itulah yang memaksa mereka untuk tidak berbicara dengan suara keras, karena khawatir kehadiran mereka di situ diketahui oleh Pek Tiong Thia n.
  Sambil melepaskan lelahnya di atas rumput, Wei Beng Yan merasa cemas sekali telah gagal membunuh Pek Tiong Thian ilmu Thay-yang-sin-jiauw.
  „Setelah tenagaku pulih seluruhnya, dapatkah aku menewaskan jahanam she Pek itu?” demikian pikirnya.
  „Suko,” kata To Siok Keng yang dapat melihat gelisahan Wei Beng Yan itu, „apa yang tengah kau pikirkan? Bukankah sekarang kau sudah bebas untuk membunuh musuh-musuh besar ayahmu?”
  „Yu Leng, guruku sudah meninggal dunia,” sahut Wei Beng Yan, „dan orang yang menyamar sebagai guruku pun telah terbuka kedoknya, tetapi...... bagaimana aku tiba-tiba jadi kehilangan tenaga dalamku? Apa yang menyebabkan itu semua?”
  Betapapun cerdiknya To Siok Keng, ia tidak mungkin dapat menuduh bahwa Ouw Lo Si lah yang telah menyebabkan malapetaka itu, karena dari pengakuan si pemuda sendiri, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa tanpa kakek pincang itu Wei Beng Yan mungkin sudah menjadi korban cakaran Thay-yang-sin-jiauw! „Suko,” akhirnya ia berkata. „meskipun tenagamu sudah banyak berkurang, tetapi aku yakin kau masih dapat menggempur Soat-hay-siang-hiong! Percayalah!”
  „Mungkin kedua musuh ayahku itu masih dapat aku tewaskan. Aku hanya khawatir terhadap Pek Tiong Thian yang telah membuktikan bahwa ia dapat menahan cakaran Thay-yang-sin-jiauw!”
  „Tetapi aku meragukan jika iapun mampu menahan Tok-beng-oey-hong!”
  „Tetapi...... aku kira tidak mudah untuk memperoleh benda itu......”
  „Kita akan mencari betapapun sukarnya! Yang harus kita kerjakan sekarang yalah mencari makanan dan air......”
  kata To Siok Keng sambil berbangkit dan mengajak Wei Beng Yan pergi ke tempat yang banyak pohon-pohon besar.
  DuapuLuh Sembilan Mereka masuk ke semak-semak dan untuk kegirangan mereka, belum lagi lama mencari, tiba-tiba tiga ekor kelinci meloncat. Secepat kilat To Siok Keng menubruk dan berhasil menangkap dua ekor, tetapi ia sendiri terjerumus ke dalam suatu lobang kecil yang tergenang air! „Sumoay!” seru Wei Beng Yan terkejut sambil menghampiri dan melihat To Siok Keng sedang menikmati air yang menggenangi lobang itu.
  „Suko,” kata To Siok Keng, „peganglah dua ekor kelinci ini, aku akan mengambilkan air untukmu!”
  Wei Beng Yan lekas-lekas bertiarap dan memegang kedua kelinci yang diangsurkan To Siok Keng lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya untuk kemudian dituang ke dalam mulut si pemuda.


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 74

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×