Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 75

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

7.38. Rahasia Tiga Sampul Maut Setelah mereka puas menikmati mata air itu, To Siok Keng segera meloncat dan dalam pakaiannya yang basah kuyup itu potongan tubuhnya yang menggiurkan jantung tampak jelas sekali......
  Wei Beng Yan lekas-lekas membuka bajunya sendiri dan berkata.
  „Sumoay, kerudungilah tubuhmu dengan bajuku ini.......”
  To Siok Keng sambil bersenyum menerima saja tawaran itu.
  „Terima kasih, Suko! Tetapi, dapatkah kau membuat api?”
  „Aku harus berusaha atau mati kelaparan!” sahut Wei Beng Yan yang segera berlalu untuk mencari kayu-kayu kering. Kemudian dengan menggosok-gosokkan satu kayu dengan kayu yang lain, ia berhasil membuat api unggun untuk memanggang kedua ekor kelinci itu. Tidak lama kemudian mereka sudah dengan lahap sekali menikmati daging binatang yang terkenal lezat serta halus itu.
  „Daerah di sekitar puncak ini luas sekali, dan jika kita turun dari satu jalan yang terdapat di sini, aku kira kita takkan menjumpai Pek Tiong Thian,” kata Wei Beng Yan sambil mengunyah daging kelinci panggang.
  „Baiklah,” sahut To Siok Keng. „kita akan turun setelah makan.”
  „Sumoay, aku mendengar bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan masih tersimpan dalam kuil Cit-po-sie di atas puncak Beng-keng-ya yang letaknya di daerah pegunungan Ngo-tay-san......”
  „Mengapa Suko mengatakan sukar untuk memperoleh benda itu?”
  „Aku merasa sangsi jika pemimpin kuil itu sudi menyerahkan Tok-beng-oey-hong kepada kita.......?”
  „Kita coba saja.......”
  Begitulah, setelah menghabiskan kedua ekor daging kelinci itu To Siok Keng lalu mengembalikan baju Wei Beng Yan, karena bajunya sendiri sudah hampir kering lagi.
  Mereka lalu turun dari puncak itu, dengan perut sudah diisi, dalam waktu yang singkat saja mereka sudah tiba di bawah untuk terus melanjutkan perjalanan ke pegunungan Ngo-tay-san, tanpa diketahui oleh Pek Tiong Thian yang masih menunggu di suatu tempat yang bert entangan! Setelah menempuh jarak kira-kira seratus lie, Wei Beng Yan dan To Siok Keng terkejut sekali tatkala mendengar berita bahwa pemimpin kuil Cit-po-sie, Bak Kiam Taysu telah ditewaskan oleh seseorang yang menopengi mukanya dengan selembar kain hitam.
  „Menopengi mukanya?!” tanya Wei Beng Yan kaget. „Mungkinkah orang itu......”
  „Orang itu pasti guru gadunganmu, Pek Tiong Thian!” sahut To Siok Keng tegas.
  „Seperti telah kita lihat, si jahanam belum memiliki benda itu. Dengan demikian Tok-beng-oey-hong dan Cu- gan-tan masih berada di dalam kuil Cit-po-sie! Ayohlah kita lekas-lekas kesana!”
  Demikianlah mereka meneruskan lagi perjalanan mereka.
  Sepuluh hari telah lewat, dan mereka sudah berada di suatu desa yang terletak tidak beberapa jauh dari lereng gunung Ngo-tay-san. Makin hari makin akrab saja pergaulan mereka, tetapi setiap mereka bermalam di suatu rumah penginapan, mereka selalu menyewa dua kamar sebelah menyebelah, begitupun malam itu, Wei Beng Yan tidur sendiri dalam kamarnya.
  Di tengah malam yang sunyi dan dingin, tiba-tiba Wei Beng Yan terjaga dari tidurnya. Peluh membasahi sekujur badannya, tetapi ia merasa mendadak tenaga serta semangatnya pulih kembali. Yang paling menggirangkan yalah, ia tidak lagi merasa apapun ketika membanting-banting kedua kakinya, tulang betisnya yang patah sudah sembuh! Karena rasa girangnya yang meluap-luap itulah ia jadi tidak bisa tidur lagi, tetapi mendadak ia merandek dapat mendengar sesuatu yang agak ganjil di atas kamarnya. Lekas-lekas ia meniup lilin dan menengadah sambil mendengari lagi.
  „Apakah kau merasa yakin memang dia itu yang kita sedang cari?”
  Demikian terdengar seseorang berbisik.
  Bercekat hati Wei Beng Yan ketika mendengar suara yang parau serta sember itu. Ia berusaha mengingat-ingat dan tiba-tiba telapak tangannya jadi berkeringat, „Soat-hay-siang-hiong!” serunya tertahan.
  Lekas-lekas ia mengintip melalui celah-celah jendela dan dapat melihat bayangan dua orang yang baru saja meloncat turun dari atas atap dan tengah menghampiri kamar di seberang kamarnya sendiri. Betul saja kedua orang itu adalah kedua jahanam Soat-hay-siang-hiong yang bernama Suto Eng Lok dan Hua Ceng Kin.
  „Tadi aku dapat melihat dengan terang dan aku tidak melihat keliru!” sahut si nenek she Hua.
  „Jika betul dia ini si Gaitan baja tinju besi, aku betul-betul tidak mengerti!” kata Suto Eng Lok, „bukankah ia selalu menyertai si pincang!”
  „Mungkin mereka sudah bertempur dengan Pek Tiong Thian di kuil Cit-po-sie. Dari pemilik rumah penginapan ini aku dapat keterangan bahwa di waktu ia datang di sini, ia sudah terluka parah, ketika diserang demam katanya ia sering mengaco dan sebentar-sebentar menyebut Tok-beng-oey-hong! Apakah kemujizatan benda itu?”
  „Aku tidak ingin mengetahui kemujizatan benda itu, aku hanya ingin menewaskannya malam ini!”
  Setelah berkata begitu, mereka lalu mengintip ke dalam kamar.
  Dari percakapan mereka itu, Wei Beng Yan segera mengetahui bahwa orang yang ingin dibunuh oleh kedua jahanam itu adalah Khouw Kong Hu, yang diketahuinya sebagai seorang pendekar luhur dan telah melakukan banyak kebaikan di kalangan Bulim.
  „Aku harus mencegah perbuatan kedua jahanam itu,” pikirnya, „di samping itu, inilah kesempatan yang terbaik untuk aku membalas dendam ayahku terhadap kedua musuh besarku ini!”
  Perlahan-lahan ia membuka pintu kamarnya, dan begitu berada di luar, ia segera mengangkat tangan kanannya yang berjari seperti cakar burung garuda dan......
  „B u n g !!”
  Suto Eng Lok terpental sambil melepaskan jeritan seram, seluruh tubuhnya sudah terbakar oleh Thay-yang-sin- jiauw! Hua Ceng Kin yang sangat cerdik dan licik masih keburu meloncat, hingga belum lagi Wei Beng Yan keburu melancarkan ilmunya yang dahsyat itu, ia sudah melarikan diri dan menghilang di tengah kegelapan malam......
  „Suko, ada apa?” tanya To Siok Keng yang sudah bangun mendengar suara jeritan Suto Eng Lok tadi. „Siapakah orang yang kau tewaskan itu?”
  „Suto Eng Lok!” sahut Wei Beng Yan bangga, „salah satu musuh besar ayahku, Soat-hay-siang-hiong.”
  „Kau sudah dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw?”
  „Sudah!”
  To Siok Keng merasa girang sekali mendengar jawaban itu.
  „Tetapi kita harus lekas-lekas berlalu dari sini!”
  „Mengapa?”
  Kita tidak boleh menarik perhatian orang banyak atau rencana kita akan gagal!”
  „Mengapa kedua iblis ini berada di sini?”
  „Mereka ingin membunuh Khouw Tay-hiap yang sedang menderita luka parah dalam kamar ini,” sahut Wei Beng Yan sambil menghampiri pintu kamar. „Mari kita tengok padanya sebelum kita berangkat.”
  Baru saja Wei Beng Yan selesai berkata demikian, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Khouw Kong Hu sudah berada di hadapan mereka.
  „Wei siohiap,” kata si orang she Khouw, mendadak mukanya yang memang sudah pucat jadi bertambah pucat saja ketika melihat mayat Suto Eng Lok, „apakah kau yang telah membunuh jahanam itu?”
  Wei Beng Yan mengangguk dan berkata.
  „Betul! Kedua jahanam itu ingin membunuh Khouw Tay-hiap dan aku kebetulan dapat melihat mereka.......”
  Khouw Kong Hu jadi terpaku sambil mengawasi mayat Suto Eng Lok.
  „Khouw Tay-hiap,” kata lagi Wei Beng Yan, „ayohlah kita lekas-lekas berlalu dari sini agar tidak menarik perhatian orang!”
  „Marilah!” sahut Khouw Kong Hu.
  Wei Beng Yan segera mengangkat mayat Suto Eng Lok dan mendahului berlari keluar rumah penginapan itu diikuti oleh To Siok Keng dan Khouw Kong Hu.
  Setelah mengubur mayat Suto Eng Lok di suatu tempat yang terpencil, mereka lalu menjauhkan diri ke arah suatu hutan belukar. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di suatu kuil tua yang terbengkalaikan dan hampir ambruk. Di dalam kuil itulah mereka beristirahat sambil menantikan datangnya fajar.
  „Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan. „Siapa yang tel


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 75

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×