Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 76

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

ah melukaimu? Katanya kau sering mengaco dalam tidurmu......”
  „Siapa yang mengatakan demikian?” tanya Khouw Kong Hu terperanjat.
  „Si iblis wanita, Hua Ceng Kin!”
  „Apakah si iblis wanita itu juga yang telah menggempur Tay-hiap?” tanya To Siok Keng.
  Khouw Kong Hu tidak lantas menyahut, ia berpikir sebentar dan ketika mengingat bahwa tidak ada salahnya untuk memberitahukan tentang peristiwa yang pernah terjadi di kuil Cit-po-sie, ia lalu bercerita.
  Bagaimana Pek Tiong Thian yang telah menyamar sebagai Yu Leng ingin merebut Tok-beng-oey-hong dan Cu- gan-tan dari tangan Bak Kiam Taysu. Bagaimana ia sendiri telah dilukai oleh Ji Cu Lok gadungan yang telah ditipu oleh Ouw Lo Si dan dibawa ke suatu tempat di dekat mulut lembah Yu-leng-kok.
  „Kita justru sedang menuju ke kuil tersebut,” kata Wei Beng Yan setelah mendengar seluruh kisah itu. „Apakah kiranya Tok-beng-oey-hong masih berada dalam kuil itu?”
  „Siohiap ingin mengambil benda mujizat itu?” tanya Khouw Kong Hu heran. „Untuk apakah?”
  „Untuk membunuh Pek Tiong Thian!”
  „Membunuh si jahanam she Pek dengan Tok-beng-oey-hong?! Bukankah siohiap memiliki ilmu yang dahsyat?”
  „Tenaga dalamku baru saja pulih kembali, sedangkan tulang betisku baru saja sembuh, kalau tidak pasti Pek Tiong Thian telah tewas dikeremus Thay-yang-sin-jiauw.”
  „Apa yang telah terjadi dengan tenaga dalam siohiap? Mengapa tulang betismu?”
  „Aku sendiri tidak mengetahui mengapa tiba-tiba aku jadi kehilangan tenaga dalamku, sehingga waktu aku meloncat turun dari suatu tempat yang tidak beberapa tinggi, tulang betisku patah!”
  Khouw Kong Hu jadi terbengong, karena ia adalah orang satu-satunya yang mengetahui mengapa pemuda itu tiba-tiba kehilangan tenaga serta semangatnya. Ia jadi serba salah, apakah ia harus memberitahukan siasat busuk Ouw Lo Si? Jika ‘ya’, ia menghianati saudara angkatnya! Jika ‘tidak’, si pemuda yang berwatak luhur, yang baru saja kemarin malam menolong jiwanya dari cengkeraman Soat-hay-siang-hiong, pasti akan mengalami lagi penderitaan yang terlebih hebat dari serangan racun yang berada dalam sampul nomor satu itu! Lama juga mereka bertiga tidak berbicara. Tetapi tiba-tiba Wei Beng Yan merogoh sakunya dan mengeluarkan satu sampul surat seraya kerkata.
  „Sebelum aku masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, kakek Ouw pernah memberikan aku tiga sampul surat dengan pesan agar aku baru membuka ketiga sampul itu setelah berhasil membunuh musuh-musuh ayahku.
  Aku telah membuka sampul nomor satu ketika membunuh Eu-yong Lo-koay, dan aku kira sudah tiba saat untuk membuka sampul yang kedua ini, setelah aku kemarin membunuh Su-to Eng Lok!”
  Butiran-butiran peluh dingin menghias dahi Khouw Kong Hu, tubuhnya agak bergemetar. Ia bergidik ketika membayangi betapa para luka yang akan dialami oleh pemuda itu kelak. Ia merasa yakin betul jika Wei Beng Yan membuka sampul yang kedua itu, setelah lewat delapan hari, tenaga dalam pemuda itu akan menghilang lagi dan......, jika sampul yang ketiga, yang berisikan racun terhebat dibuka, pembuluh-pembuluh darah Wei Beng Yan akan putus seluruhnya dan ia akan tewas karena kehabisan tenaga! Menurut aturan yang lazimnya berlaku, Khouw Kong Hu sebagai saudara angkat Ouw Lo Si yang telah bersumpah untuk sehidup semati dengannya, harus menganggap Wei Beng Yan sebagai musuhnya juga, tetapi Khouw Kong Hu tidak bisa menuruti saja aturan itu. Ia tidak tega melihat Wei Beng Yan mati meleras! Maka ketika melihat Wei Beng Yan sudah ingin membuka sampulnya yang kedua itu, lekas-lekas ia berkata untuk mencegah.
  „Wei siohiap!” katanya.
  Wei Beng Yan menoleh ke arah Khouw Kong Hu sambil menunda sampul itu. Ia merasa agak heran melihat sikap Khouw Kong Hu yang tidak sewajar tadi itu.
  „Ada apa tay-hiap memanggil aku?” tanyanya.
  „Wei siohiap, aku...... aku.....”
  „Kau mengapa Tay-hiap?”
  „Hua Ceng Kin belum jauh melarikan diri dari desa ini, mengapa kita tidak mengejarnya?” sahut Khouw Kong Hu gugup.
  Ucapan yang dikeluarkan bernada dengan penuh keragu-raguan itu membuat To Siok Keng melirik. Semenjak melihat butiran-butiran peluh di dahi si orang she Khouw tadi, ia memang sudah merasa curiga. Maka dengan ucapan yang hati-hati sekali ia lalu berkata.
  „Khouw Tay-hiap, mengapa kau tiba-tiba jadi demikian gelisah?”
  Khouw Kong Hu tidak bisa menyahut, ia tampaknya gugup sekali.
  „Bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan yang mungkin tidak enak didengar oleh Tay-hiap?” tanya lagi To Siok Keng.
  „Pertanyaan apakah yang mungkin tidak enak?” tanya Wei Beng Yan heran.
  „Aku tidak berkeberatan untuk mendengar pertanyaanmu itu,” sahut Khouw Kong Hu.
  „Wei Koko telah memberitahukan padaku bahwa kau adalah seorang yang berbudi luhur dan kesatria, tetapi mengapa kau sekarang agaknya ragu-ragu? Kau agaknya menyembunyikan sesuatu dari kita,” kata To Siok Keng tanpa tedeng aling-aling.
  „Aai! Mata To siocia tajam sekali!” kata Khouw Kong Hu sungguh-sungguh sambil menoleh ke arah Wei Beng Yan dan melanjutkan.
  „Wei siohiap, jika aku harus, menceritakan satu persatu, aku akan dicap sebagai penghianat, aku memang ingin meminta dengan sangat agar kau TIDAK membuka sampul surat yang kedua itu!”
  „Mengapa?!” tanya Wei Beng Yan.
  „Aku tidak dapat memberitahukan mengapa, tetapi jika kau dapat menyanggupi permint aanku itu, aku sangat herterima kasih!”
  „Apakah surat di dalam sampul ini akan memerintahkan aku untuk melakukan suatu perbuatan yang terkutuk?”
  „Aku tidak tahu apa yang tertera dalam surat itu, aku hanya minta kau tidak MEMBUKA sampul pemberian Ouw Lo Si!”
  „Tetapi mengapa?!”
  „Ya, mengapa Khouw Tay-hiap? Akupun ingin mengetahui!” To Siok Keng ikut mendesak.
  Khouw Kong Su menundukkan kepalanya dan tidak lantas menyahut.
  „Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan, „Ouw Locianpwee adalah seorang sahabatku yang merupakan juga saudara sekandungku, apakah aku harus membangkang terhadap permintaannya agar aku membuka satu dari ke tiga sampul ini setelah aku berhasil membunuh seorang musuh ayahku?”
  „Wei siohiap, jika Ouw Si-ko berada di sini dan mengetahui bahwa kau telah menolong aku, dia pasti akan mengambil kembali kedua sampul itu!”
  „Tetapi, mengapa?”
  „Karena kau telah diberikannya TIGA SAMPUL MAUT!”
  Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba Khouw Kong Hu menjerit seram dan roboh! Cepat luar biasa Wei Beng Yan meloncat keluar kuil dan masih dapat melihat satu bayangan berkelebat dengan gerakan yang pesat, yang dalam beberapa detik saja telah meninggalkannya jauh sekali! Ia mengejar, namun setelah mengejar kira-kira satu lie jauhnya, di suatu pengkolan bayangan itu menghilang.
  Ia mengejar lagi tetapi bayangan itu sudah entah ke mana larinya, maka dengan perasaan kecewa ia lalu berlari balik.
  Setibanya di kuil yang hampir runtuh tadi, ia melihat paras To Siok Keng sudah berubah sedangkan Khouw Kong Hu menggeletak di tanah.
  „Sumoay, bagaimana keadaan Khouw Tay-hiap?” tanyanya cemas.
  „Ia sudah tewas!” sahut si gadis sedih.
  „Mati?!”
  „Ya! Ia tewas diserang oleh senjata rahasia! Apakah kau mengenal siapa orang yang telah menyerangnya tadi?”
  „Tidak! Ilmu meringankan tubuhnya lihay sekali sehingga aku kehilangan jejaknya di tempat yang agak gelap......”
  To Siok Keng mencabut satu benda yang menancap di punggung Khouw Kong Hu sedalam sepuluh sentimeter.
  „Benda inilah yang telah membunuh Khouw Tay-hiap!” katanya sambil mengangsurkan sebuah jarum yang sudah agak berkarat.


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 76

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×