Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 77

Tags: wei beng yan
Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

7.39. Tiga Saudara Angkat Ayah „Jahanam!” bentak Wei Beng Yan setelah mengenali jarum itu.
  „Suko kenalkah orang yang telah menyerang itu?”
  „Orang yang keji itu adalah Hua Ceng Kin, salah satu dari kedua Soat-hay-siang-hiong!”
  „Bagaimana kau mengetahui hal itu?”
  „Benda yang kau pegang itu adalah senjata rahasia yang terkenal dengan nama Hian-peng-tok-bong, yang telah merenggut jiwa ayahku!”
  „Belum tentu!”
  „Mengapa belum tentu?!”
  „Suko, kau adalah seorang yang jujur, dan selalu mengurus segala sesuatu dengan ketulusan hati. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa kebanyakan orang berhati palsu -- terlalu mementingkan diri sendiri!”
  „Lalu?”
  „Apakah tidak mungkin karena khawatir rahasianya terbongkar, Ouw Locianpwee lalu mempergunakan senjata rahasia ini untuk membunuh Khouw Tay-hiap?”
  Wei Beng Yan bersenyum mendengar kesimpulan yang agaknya masuk diakal juga itu.
  „Sumoay,” katanya, „pendapatmu itu beralasan, tetapi jika kau mengatakan bahwa Ouw Lo Si bermaksud menganiaya aku, aku tidak dapat percaya......”
  „Mengapa tidak?”
  „Karena untuk membunuh aku, Ouw Locianpwee hanya perlu memberikan aku petunjuk-petunjuk keliru dan memberikan aku satu lentera kertas yang bentuknya tidak disukai oleh guruku Ji Cu Lok dan aku sudah mati dua tahun lebih yang lalu!”
  To Siok Keng jadi bungkam mendengar keterangan itu. Sejenak kemudian parasnya tiba-tiba berubah kaget.
  „Suko!” serunya, „apakah kau tahu siapakah yang telah membunuh seluruh keluargaku?”
  „Tidak!” sahut Wei Beng Yan terkejut melihat paras gadis itu yang tiba-tiba jadi beringas. „Mengapa kau menanyakan demikian?”
  „Karena aku sudah mengetahui!”
  „Siapa?!”
  „Yu Leng gadungan, Pek Tiong Thian!”
  „Siapa yang mengatakan demikian?”
  To Siok Keng atau Kiu Su Yin, puteri Kiu It, menunjuk ke arah mayat Khouw Kong Hu dan berkata.
  „Dialah yang telah memberitahukan!”
  „.......................????!”
  „Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir,” To Siok Keng melanjutkan, „Khouw Tay-hiap dengan nada suara yang menyayatkan sekali telah meratap......”
  „Apa ratapnya?” tanya Wei Beng Yan bernapsu.
  „Ouw Si-ko!” To Siok Keng mengulangi kata-kata Khouw Kong Hu tadi, „Jika si jahanam Pek Tiong Thian tidak dibasmi, arwah Ku It sekeluarga akan penasaran sekali..... aai! Kiu Jiko.......”
  Wei Beng Yan menggertak giginya mengetahui Pek Tiong Thian juga telah membunuh seluruh keluarga Sumoaynya.
  „Didengar dari panggilannya Kiu Ji-ko,” katanya sengit, „Khouw Tay-hiap dan Ouw Locianpwee adalah saudara- saudara angkat ayahmu!”
  „Maka dengan itu pula kau harus mendengar peringatan Khouw Tay-hiap untuk tidak membuka sampul surat pemberian si kakek Ouw itu!” To Siok Keng menekankan permintaan Khouw Kong Hu.
  „Sumoay, mengapa kau begitu keras kepala? Masakan dalam sampul yang setipis ini tersimpan senjata rahasia untuk menganiayaku.......?”
  „Tetapi apa salahnya jika kau memperhatikan peringatan Khouw Tay-hiap?”
  „Baiklah.....” sahut Wei Beng Yan kewalahan.
  Dengan jawaban itu, ia bermaksud membuka juga sampul surat itu jika To Siok Keng tidak berada di dekatnya, karena di samping ingin mengetahui isi surat, ia tidak mau melanggar janjinya terhadap si kakek pincang. Ia masuki lagi suratnya itu dan segera menggali sebuah lobang untuk mengubur jenazah Khouw Kong Hu.
  Baru saja selesai melakukan itu semua, tiba-tiba hujan turun yang seolah-olah ingin turut mengunjuk rasa belasungkawanya atas tewasnya Khouw Kong Hu.
  Terpaksa mereka harus menunggu berhentinya hujan di dalam kuil bobrok itu.
  „Sumoay,” kata Wei Beng Yan, „Sebelum kita lanjutkan perjalanan kita ke kuil Cit-po-sie, bagaimana jika kita mengejar Hua Ceng Kin dulu?”
  „Ya, nenek itu dululah yang harus kita gempur!” sahut To Siok Keng.
  Setelah menunggu lagi sekian lamanya, barulah hujan mereda, mereka segera mengejar ke arah larinya Hua Ceng Kin tadi. Mereka tidak menjumpai siapapun sepanjang jarak duapuluh lie, hanya di permukaan tanah yang agak basah karena air hujan tampak jejak-jejak kaki.
  Di antara satu jejak dan jejak kaki yang lain jaraknya kira-kira hampir dua meter. Yang aneh yalah, di samping bekas jejak-jejak kaki itu terlihat juga tanda bekas sodokan, kayu atau tongkat.
  „Suko,” kata To Siok Keng sambil menghentikan larinya, „Apakah Hua Ceng Kin memakai tongkat?”
  „Betul!” sahut Wei Beng Yan sambil menunjuk ke arah jejak-jejak kaki di tanah itu. „Aku baru ingat memang si nenek jahanam selalu. membawa tongkat. Melihat jejak kakinya yang masih segar ini, aku yakin kita masih keburu mengejarnya sekarang!”
  To Siok Keng mengawasi permukaan tanah dan meneliti dengan cermat.
  „Sumoay, ayolah!” kata Wei Beng Yan sambil membetot tangan gadis itu.
  „Nanti dulu!” To Siok Keng mencegah. „Hua Ceng Kin terkenal sebagai iblis keji, ia sudah memperhitungkan bahwa ia akan kita kejar, maka ia telah meninggalkan tanda-tanda bekas kaki dan ujung tongkatnya ini. ia sengaja menunjukkan kepada kita ke mana ia telah melarikan diri!”
  „Apakah kau menganggap jahanam itu tengah memasang perangkap?”
  „Itu sudah jelas, jika kita mengejar terus, di suatu tempat kita akan dibokong dan dibinasakan dalam perangkapnya!”
  „Tetapi inilah kesempatan terbaik untuk membalas dendam ayahku.....”
  „Kita harus mengejar! Aku hanya memperingatkan agar kita berlaku hati-hati! Ayohlah!”
  Mereka segera mengikuti jejak kaki itu, setelah berlari kira-kira satu lie, dari kejauhan tampak sebuah rumah gedung besar yang dilingkari oleh tembok setinggi hampir dua meter.
  Gedung itu terletak di tempat yang terpencil sekali dan agaknya sudah ditelantarkan, yang ganjil yalah, bekas- bekas telapak kaki justru menuju ke arah rumah gedung itu.
  Wei Beng Yan yakin bahwa tenaga dalamnya sudah pulih kembali, dengan demikian ia dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dengan sempurna, maka dengan berani ia lalu mengajak To Siok Keng menghampiri pintu gedung tersebut yang tertutup rapat.
  Dengan cermat mereka memeriksa keadaan di sekitarnya.
  „Apakah di dalam gedung sudah menunggu orang-orang lihay undangan Hua Ceng Kin?” tanya To Siok Keng perlahan.
  „Kita lihat saja!” sahut Wei Beng Yan sambil tiba-tiba mengetuk kedua belah daun pintu rumah itu.
  Tetapi setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil-manggil, dari dalam tidak terdengar suara sahutan apapun.
  To Siok Keng memutar gagang pintu dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Segala sesuatu yang berada di dalam pun agaknya sudah ditelantarkan. Mereka segera melangkah masuk dan melihat semua jendela dan pintu depan gedung itu juga tertutup rapat.
  „Hei,”seru Wei Beng Yan lantang, „apakah tidak ada orang-orang dalam gedung ini?”
  Dan ketika masih tidak mendengar suara sahutan, ia segera mengangkat tangannya dan menyerang ke arah pintu......, tiba-tiba saja kedua daun pintu itu roboh sambil menerbitkan suara gaduh. Namun masih tidak tampak ada orang keluar dari rumah itu.
  Dengan hati-hati sekali mereka lalu menghampiri untuk melongok ke dalam, keadaan di situ ternyata teratur rapih dan lantainya berkilat dan tidak terdapat abu sedikitpun. Suatu bukti bahwa rumah gedung itu ada penghuninya! „Heran!” kata Wei Beng Yan. „ke mana perginya penghuni rumah ini?”
  Perlahan-lahan mereka bertindak masuk ke dalam ruangan depan rumah itu, di ke dua tembok yang kiri dan kanan dalam ruangan itu terdapat pintu.
  „Sumoay,” bisik Wei Beng Yan. „kau masuk dari pintu yang


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 77

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×