Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 78

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

sebelah kiri sedangkan akan masuk dari pintu yang di sebelah kanan, beri isyarat jika kau melihat ada orang di sana!”
  „Suko, gedung besar ini merupakan teka-teki, mungkin suatu jebakan, kita harus menyelidiki dan menggempur musuh bersama-sama. Mengapa kau justru mengambil siasat ini?”
  „Karena aku khawatir si jahanam dapat melarikan diri dari pintu yang di sebelah kiri itu.......”
  To Siok Keng yang mengira Wei Beng Yan ingin mengurung musuh, menuruti saja permintaan itu. Ia tidak mengetahui bahwa pemuda itu mempunyai suatu maksud tertentu, yalah untuk sementara berada sendirian dan membuka sampul pemberian Ouw Lo Si yang kedua! Maka begitu melihat Wei Beng Yan sudah berjalan ke arah pintu di sebelah kanan, iapun segera menghampiri pintu yang di sebelah kiri.
  TigapuLuh Dengan satu dorongan enteng saja Wei Beng Yan berhasil membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Ia segera masuk ke dalam ruangan samping, dari situ ia melihat serambi yang panjang sekali, yang menjurus ke bagian belakang rumah gedung itu.
  Keadaan tetap sunyi senyap, tidak tampak satu orang pun. Ia bersenyum girang dan mengeluarkan sampul Ouw Lo Si yang kedua tetapi baru saja ingin membeset sampul itu, sekonyong-konyong ia dibikin kaget oleh berkelebatnya satu bayangan di ujung serambi yang panjang itu.
  „Hei berhenti sebentar!” bentaknya sambil memasukkan kembali sampul suratnya dan mengejar orang itu yang mendadak membuka pintu dan menghilang di ujung serambi. Ia mengejar terus dan tiba di suatu taman bunga, dari situ ia dapat melihat satu ruangan besar yang bagian tengah-tengahnya digantungi selembar papan merek.
  „Ruangan untuk berlatih silat.”
  Justru ke ruangan itulah orang yang dikejarnya tadi menghilang. Ia menunggu sambil meneliti ke seluruh ruangan itu. Tiba-tiba tampak orang itu berlari mendatangi ke arahnya! Orang yang mengejar orang itu ternyata To Siok Keng.
  Orang itu agaknya menjadi nekad ketika mengetahui ia tidak lagi dapat melarikan diri. Ia mencabut goloknya dan menyerang To Siok Keng.
  „Hei, siapa kau?” tanya Wei Beng Yan gusar.
  Orang itu tidak manghiraukan, ia menyerang terus, sehingga To Siok Keng jadi sibuk mengegosi bacokan- bacokan golok yang ganas itu. Ternyata orang itu bukan tandingan si gadis she To, karena baru saja pertarungan berlangsung beberapa jurus, ia mendadak terhuyung terpukul kepalanya, dan ketika To Siok Keng meloncat ke depan dengan jurus Si-yun-kiauw-peng (Awan gelap meliputi angkasa), goloknya yang besar itu dapat direbut oleh gadis itu.
  Wei Beng Yan kagum sekali melihat kelincahan sumoaynya itu.
  „Hebat!” serunya tanpa terasa.
  Serentak dengan itu, terdengar suara tertawa berkakakan yang menegakkan bulu roma, dan sekejap saja tiga orang yang rata-rata sudah berusia limapuluh tahun sudah berada dalam ruangan untuk berlatih silat itu.
  Wei Beng Yan mengawasi ketiga orang yang baru datang itu, yang sudah berjalan menghampir i secara berdampingan.
  Yang di tengah berkulit muka kuning, kedua matanya bersinar tajam dan mengenakan pakaian yang indah sekali. Dengan tubuhnya yang tinggi besar serta tegap, ia tampaknya gagah sekali.
  Yang di sebelah kiri berwajah tampan, juga bertubuh tinggi besar dan bersenjata sebilah pedang hitam yang panjangnya satu meter lebih.
  Yang disebelah kanan bertubuh pendek tetapi kuat tegap seperti seorang jago yudo. Dari cahaya wajahnya, orang dapat segera melihat bahwa ia memiliki ilmu tenaga dalam yang lihay sekali.
  Wei Beng Yan belum pernah melihat ke tiga orang itu, begitu pun To Siok Keng, tetapi dari wajah-wajah yang telah dilihat itu mereka segera dapat mengambil kesimpulan bahwa ketiga orang itu bukanlah orang-orang yang jahat.
  Begitu berada cukup dekat, tanpa mengatakan apapun orang yang berada di sebelah kiri tiba-tiba meloncat dan menyabetkan pedangnya ke arah Wei Beng Yan.
  Dengan serentak Wei Beng Yan dan To S iok Keng meloncat mundur mengelakkan sabetan peda ng yang dahsyat itu.
  „Tay-hiap!” seru Wei Beng Yan sambil menghunus pedangnya sendiri, „kedatangan kita di sini yalah untuk menjumpai tuan rumah di sini.”
  Orang itu agaknya kagum sekali melihat gerakan kedua muda mudi itu, tetapi dengan gusar ia membentak.
  „Apakah untuk menjumpai tuan rumah, kalian harus mendobrak pintu rumah ini?!”
  Baru saja Wei Beng Yan ingin menjelaskan mengapa ia mendohrak pintu rumah itu, sekonyong-konyong orang itu telah menyerang lagi. Maka terpaksa ia menangkis.....
  „T i n g.........!!”
  Kedua pedang itu beradu di udara dan menggetarkan yang menyerang maupun yang diserang! „Hei,” bentak orang itu, „Pedang apakah yang kau pergunakan itu?”
  „Tentu saja pedang Ku-tie-kiam,” sahut Wei Beng Yan, „pernahkah kau melihat lain pedang, yang berwarna seperti pedang ini?”
  „Ku-tie-kiam?! Apakah kau memperoleh pedang itu dari Soat-hay-siang-hiong?”
  „Dari Wei Tan Wi!”
  „..................???!!”
  „Yang telah dibunuh secara keji oleh Soat-hay-siang-hiong. Justru kedatanganku di sini yalah untuk membekuk jahanam itu!”
  „Ada hubungan apa Wei Tan Wi dengan kau sendiri?”
  „Beliau ayahku!”
  „Aai! Tidak kunyana Wei tay-hiap mempunyai seorang putera segagahmu ini!”
  „Kau kenal ayahku?”
  „Kita bukan saja kenal, tetapi ayahmu adalah saudara angkat kita yang keempat!”
  Terkejut sekali Wei Beng Yan mengetahui bahwa ketiga orang itu adalah susiok-susioknya. Ia mengawasi orang yang barusan bertempur dengannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke orang yang di tengah dan yang di kanan.
  „Anak muda,” kata orang yang tadi sambil menyimpan pedang. „siapakah namamu?”
  „Aku...... aku Wei Beng Yan....... bolehkah aku mengetahui nama susiok......?” sahutnya agak gugup.
  „Aku bernama, Lim Ceng Yao, Ji-susiokmu! Marilah kuperkenalkan. -- Yang berdiri di tengah ini adalah Toa- susiokmu yang bernama Lee Beng Yan, pemimpin partai di ibu kota, yang bernama julukan Hian-hok-lay-ji, si Orang sakti yang berbudi luhur! Dan..... yang di sebelah kanan ini adalah Sam-susiokmu, Song Thian Hui yang bernama julukan Kim-gan-sin-tiauw, si Rajawali sakti bermata mas!”
  Wei Beng Yan membungkukkan tubuhnya kepada kedua orang yang telah diperkenalkan Lim Ceng Yao tadi, kemudian ia berkata.
  „Dan apakah nama julukan Lim susiok sen diri?”
  Lim Ceng Yao bersenyum ditanya demikian. Sebelum ia menjawab, Song Thian Hui sudah mendahului berkata.
  „Dia adalah seorang ahli pedang dari propinsi Hok-kian yang bernama julukan Bun-tiong-it-kiam, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian!”
  „Ha, ha, ha!” Lim Ceng Yao tertawa berkakakan girang, „Tetapi siapakah siocia ini?”
  „O...... ia sumoay ku.....”
  „Aku To Siok Keng merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan ketiga Locianpwee!” To Siok Keng mendahului memperkenalkan dirinya.
  „O..... kalian adalah saudara-saudara seperguruan?” kata Lee Beng Yan sambil tertawa, „Aku kira kalian.....”


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 78

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×