Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 79

Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo

7.40. Pembukaan Sampul Maut Kedua Merah paras To Siok Keng mendengar ucapan yang sudah dapat menduga artinya itu. Ia menundukkan kepala dan tidak mengatakan sesuatu. Melihat demikian, Wei Beng Yan lekas-lekas berkata.
  „Mengapa ke tiga susiok berada di sini?”
  „Gedung ini adalah rumahku sendiri,” kata Lee Beng Yan, „yang berbareng dipergunakan juga sebagai markas besar partaiku. Kita bertiga merasa menyesal sekali sudah memperlakukan kalian dengan kasar tadi.......”
  Wei Beng Yan bersenyum dan menyahut.
  „Itu salahku sendiri yang telah lancang masuk di sini, tetapi mengapa kedatanganku di sini agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh ketiga susiok?”
  „Aku telah berdiam dengan tenteram di sini, tetapi entah mengapa, pada kira-kira satu bulan yang lalu Soat- hay-siang-hiong telah menyuruh orang membawa surat kepadaku yang memberitahukan bahwa pada hari ini mereka akan datang untuk membikin perhitungan dengan partaiku!” demikian Lee Beng Yan menjelaskan.
  To Siok Keng mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengar terus.
  „Karena khawatir aku tidak sanggup melawan kedua iblis itu,” Lee Beng Yan melanjutkan, „maka aku telah mengundang Lim dan Song kedua saudara angkatku ini untuk membantuku membasmi jahanam-jahanam itu.
  Kita telah membikin persiapan seperlunya untuk menyambut kedatangan mereka, tetapi ternyata yang datang adalah kau dan To siocia! Ha, ha, ha!”
  Keterangan itu membuat Wei Beng Yan maupun To Siok Keng berpendapat bahwa Hua Ceng Kin memang sengaja meninggalkan jejak-jejak kakinya di tanah dengan maksud mengadu dombakan mereka dengan Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao.
  Perangkap yang telah direncanakan dengan sempurna itu, hampir saja berhasil jika Lim Ceng Yao sendiri tidak mengenali pedang pusaka Ku-tie-kiam milik Wei Tan Wi.
  „Lee susiok,” kata Wei Beng Yan, „ke mana anggota-anggota partaimu? Mengapa gedung ini demikian sepinya?”
  „Aku sudah mengetahui kelihayan Soat-hay-siang-hiong,” sahut Lee Beng Yan, „maka setelah kedua saudara angkatku ini datang, aku segera membubarkan orang-orangku demi keselamatan mereka, karena kita bertiga telah bertekad untuk bertarung sampai mati untuk membasmi kedua jahanam itu!”
  Wei Beng Yan terharu sekali mengetahui ketiga susioknya itu rela berkorhan demi kepentingan orang banyak.
  „Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao. „Kau tadi mengatakan ingin membekuk ke dua jahanam yang telah mengancam kita itu, mengapa kau dan To siocia justru datang di sini?”
  „Karena kita telah mengikuti jejak kaki Hua Ceng Kin yang agaknya masuk ke dalam gedung ini!” sahut Wei Beng Yan.
  „Si nenek sudah datang di sini? Apakah nenek itu datang seorang diri saja?”
  „Soat-hay-siang-hiong kini tinggal seorang saja, karena Suto Eng Lok telah aku tewaskan!”
  „Bagus! Jika hanya tinggal Hua Ceng Kin, aku merasa yakin kita bertiga masih dapat melayaninya!”
  „Mungkin juga si nenek jahanam itu kini tengah bersembunyi dalam gedungku ini!” kata Lee Beng Yan, „Ayohlah kita cari!”
  Demikianlah, mereka segera berpencar untuk mencari si nenek jahanam itu. Entah berapa lama mereka berlima menjelajahi seluruh ruangan gedung yang besar itu, tetapi ketika mereka berkumpul lagi di tengah hari, Hua Ceng Kin tidak berhasil mereka temukan.
  Mereka lalu duduk mengitari satu meja bundar untuk memperbincang hal itu lebih lanjut.
  „Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao, „sebetuln ya hendak ke manakah kau bersama To siocia?”
  „Kita sedang dalam perjalanan menuju ke kuil Cit-po-sie,” sahut Wei Beng Yan.
  „Apa maksud kunjungan kalian ke kuil yang katanya sudah dihancur leburkan oleh Pek Tiong Thian?”
  „Susiok sudah ketahui hal itu?”
  „Ya berita itu sudah tersiar luas!”
  „Apakah kepergian kalian ke pegunungan Ngo-tay-san itu hanya untuk sekedar melihat akibat perbuatan si orang she Pek yang katanya telah menyamar sebagai Ji Cu Lok?” tanya Song Thian Hui „Bukan!” sahut Wei Beng Yan, „Kunjungan kita ke kuil itu untuk mencari benda mujizat Tok-beng-oey-hong!”
  „Mencari Tok-beng-oey-hong?” tanya Lim Ceng Yao. „Untuk apakah?”
  „Untuk membunuh Pek Tiong Thian!”
  „Apakah kau ingin membalaskan dendam Bak Kiam Taysu?”
  „Ya! Tetapi di samping itu semua, untuk mencuci nama guruku yang telah dinodai oleh si orang she Pek itu!”
  kata Wei Beng Yan.
  Dan agar ketiga susioknya itu mengetahui dosa-dosa Pek Tiong Thian, ia lalu menceritakan bagaimana Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai Ji Cu Lok, gurunya, untuk kemudian melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Bagaimana ia telah diperintahkan membunuh Ceng Sim Lo-ni tetapi dilarang membunuh Soat-hay- siang-hiong yang justru menjadi musuh-musuh besar ayahnya.
  To Siok Keng tidak berdiam saja, iapun bantu memberikan keterangan bagaimana ketika Wei Beng Yan sudah bertekad membunuh guru gadungannya itu, tiba-tiba si pemuda kehilangan tenaga dalam sehingga tidak mampu melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dengan sempurna, ia lalu menutup keterangannya dengan menanyakan.
  „Sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman, apakah ketiga Locianpwee mengetahui mengapa tenaga Suko ku bisa dengan tiba-tiba menghilang dari tubuhnya?”
  Pertanyaan itu membuat Lee Beng Yan dan Song Thian Hui menggeleng-gelengkan kepala mereka, tetapi Lim Ceng Yao, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian berpikir dan berusaha memecahkan teka-teki yang telah dialami oleh si pemuda she Wei itu. Setelah agak lama berpikir, baru ia berkata.
  „Aku mengetahui ada serupa bubuk racun yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga serta semangatnya setelah mengendus racun tersebut, dan keadaan Beng Yan agaknya mirip benar dengan gejala- gejala orang yang telah terkena racun itu!”
  „Suko,” kata To Siok Keng, „Mungkinkah Siauw siocia yang memberikan kau racun itu?”
  „Tidak mungkin! Jika aku diracuni tentu aku sudah lama meninggal dunia. Mungkin aku kehilangan tenaga dalamku karena lain sebab,” si pemuda menolak pendapat itu.
  Demikianlah mereka menebak-nebak, tetapi meski bagaimanapun Wei Beng Yan tetap tidak merasa yakin jika ia telah terkena racun. Malam harinya, setelah bersantap, Lee Beng Yan dan To Siok Keng, mereka langsung ke masing-masing kamarnya untuk beristirahat.
  Kesempatan yang baik itulah telah dipergunakan oleh Wei Beng Yan untuk membuka sampul surat Ouw Lo Si.
  Sambil bersenyum lebar ia mengawasi sampul yang sedang dipegangnya itu, tiba-tiba.....
  „Breet!”
  Serentak dengan itu, bau harum semerbak yang ganjil dan tajam sekali merangsang hidungnya, tanpa menghiraukan itu semua ia lalu membaca isi surat itu, yang berbunyi.
  „Selamat! Lagi sekali aku menghaturkan selamat!”
  demikian kata pembukaan surat itu, ia bersenyum dan melanjutkan membaca.
  „Dua orang musuhmu telah tewas! Dan aku yakin dalam waktu singkat kaupun akan berhasil membunuh yang masih ketinggalan itu! Bila semua musuh-musuhmu telah kau basmi habis, dan pembalasan dendam ayahmu sudah terlaksana, aku minta kau tidak lupa untuk membuka sampul surat nomor tiga! Tetapi justru musuhmu yang paling belakang inilah yang harus kau hadapi dengan hati-hati sekali, karena dialah s


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 79

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×