Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Sampul Maut - 80

Tags: lim ceng yao
Cerita Silat | Sampul Maut | Karya Wen Wu | Sampul Maut | Cersil Sakti | Sampul Maut pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

eorang yang betul-betul keji, licik dan licin seperti belut, yang pernah diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di kalangan Bu-lim! Sekali lagi selamat! Tertinggal hormatku Si pincang Ouw Lo Si Demikianlah bunyi surat yang kedua, yang hampir serupa dengan isi surat yang pertama. Dengan itu pula ia telah mengendus lagi semacam racun yang kekuatannya lebih hebat. Setelah merobek-robek surat surat itu, ia lalu merebahkan dirinya sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang lalu.
  Esok harinya, ia tidak merasakan akibat buruk apapun, begitu juga setelah hari yang kelima lewat, bahkan ia masih bisa mengikuti latihan berlima dengan ketiga susioknya dan To Siok Keng.
  Ketika sedang bersantap tengah hari, Song Thian Hui yang merasa kagum melihat kegesitan To Siok Keng tadi lalu menanya.
  „To siocia, mengapa sebagai sumoay Beng Yan, ilmu silatmu agaknya berlainan?”
  „Aku bukan murid Ji Cu Lok Tay-hiap!” sahut To Siok Keng.
  „Bukankah kau sumoaynya?”
  „Aku murid Thian-hiang-sian-cu Gui Su Nio, isteri Ji Cu Lok Tay-hiap,” To Siok Keng menjelaskan, „maka aku dengan sendirinya aku jadi pernah sumoay dengan Wei Koko......”
  „O...... To siocia murid Thian-hiang-sian-cu?’ seru Lim Ceng Yao, „bolehkah aku mengetahui siapa ayah siocia?”
  „Ayah sumoayku adalah Kiu It!”
  „Kiu It yang telah dibunuh sacara misterius bersama seluruh keluarganya?” tanya Lee Beng Yan terkejut.
  „Betul!” sahut To Siok Keng gemas.
  „Tetapi mengapa ber-she To?”
  „Untuk menghindarkan cengkeraman Pek Tiong Thian?” kata lagi To Siok Keng.
  Dan waktu melihat Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao agaknya tidak mengerti dengan pengakuannya itu, ia lalu menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang telah terjadi atas seluruh keluarga dulu, sehingga ketiga susiok Wei Beng Yan tiba-tiba jadi beringas.
  „Kejam!” seru mereka hampir serentak.
  „Dan aku merasa khawatir jika Hua Ceng Kin nanti membantu Pek Tiong Thian untuk menggempur kita di sini, itulah berbahaya sekali!” kata si gadis.
  „Ya, akupun mengetahuinya bahwa Pek Tiong Thian adalah sahabat karib si nenek iblis itu,” kata Lim Ceng Yao.
  „Beng Yan,” kau pernah bertarung dengan si jahanam she Pek, bagaimana pendapatmu, apakah kita berlima masih dapat melawan jika ia betul-betul datang membantu Hua Ceng Kin?” tanya Thian Hui.
  „Aku harus mengakui kepandaian kedua jahanam itu sangat lihay,” sahut Wei Beng Yan, „tetapi bukankah kepandaian mereka yang harus kita segani, tetapi senjata-senjata merekalah. Yalah senjata rahasia Hian-peng- tok-bong Hua Ceng Kin dan Ciam-hua-giok-siu Pek Tiong Thian!”
  „Mendengar kenyataan-kenyataan itu aku merasa tidak enak telah mengundang kalian datang di tempatku ini,”
  kata Lee Beng Yan sedih.
  „Lee Heng, kau kira kita ini orang macam apa?” tanya Lim Ceng Yao agak mendongkol. „Untuk membalas kebenaran, kita tidak takut mati, apalagi orang yang sedang terancam sekarang ini adalah kau sendiri, saudara angkat kita yang tertua!”
  „Aku sudah berusia lebih dari setengah abad, dan aku kira tidak lama lagi aku akan meninggal dunia,” kata Song Thian Hui, „Di masa muda, aku telah belajar silat dengan giat serta tekun dan setelah memiliki hasil daripada jerih payahku itu, aku lalu berkelana dan bolehlah dikatakan aku telah menjelajahi seluruh pelosok dunia persilatan.”
  Semua orang jadi terbengong mendengar kata-kata yang diucapkan sungguh-sungguh itu.
  „Sewaktu-waktu aku merasa terhibur juga jika mengenang peristiwa-peristiwa yang telah lampau itu,” Song Thian Hui melanjutkan, „karena aku yakin telah banyak berbuat kebaikan-kebaikan, maka jika sekarang aku memperoleh kesempatan untuk mengulangi perbuatan-perbuatanku dulu itu. Apalagi terhadap kau, Toa- suhengku, apakah aku harus lari tunggang langgang karena mengetahui lawan atau mungkin lawan-lawan yang akan itu dari kaliber berat?!?”
  Lee Beng Yan jadi berlinang air mata karena terharu mendengar kesetiaan saudara angkatnya yang ketiga itu.
  „Baiklah......” katanya parau, „Tetapi bagaimana kita harus menghadapi mereka itu, maksudku, apakah kita berlima sekalian mengerubuti?”
  „Jika Hua Ceng Kin betul-betul mengajak Pek Tiong Thian,” kata To Siok Keng, „bagaimana jika diatur begini saja. Lim Locianpwee harus bertarung melawan Hua Ceng Kin, sedangkan kita berempat akan menghadapi si jahanam she Pek?”
  „Bagus! Siasat yang baik sekali!” seru Lim Ceng Yao.
  Begitulah setelah siasat pertahanan itu disetujui oleh semua orang, mereka lalu menantikan kedatangan musuh mereka itu.
  TigapuLuh Satu Sambil menantikan, berturut-turut lima hari mereka berlatih di ruangan yang khusus disediakan untuk berlatih silat.
  Pada pagi hari yang keenam, seperti biasa semua orang sudah berkumpul di ruangan berlatih kecuali Wei Beng Yan. Mereka menantikan dan mengira si pemuda she Wei terlambat bangun, maka setelah sekian lamanya menunggu dan pemuda itu masih juga belum muncul, To Siok Keng segera berkata.
  „Lee Locianpwee, biarlah aku pergi menengok di kamarnya.”
  Baru saja selesai kata-kata itu diucapkan, ketika mendadak tampak Wei Beng Yan dengan tindakan agak limbung, mukanya pucat pasi.
  „Suko!” seru To Siok Keng, „Mengapa kau? Apakah kau sakit?”
  Wei Beng Yan memaksakan diri untuk bersenyum dan berkata.
  „Pagi ini aku merasa lelah sekali, lagi-lagi tenagaku agaknya sudah menghilang......”
  „Dapatkah kau melancarkan Thay-yang-sin-jiauw seperti waktu kau membunuh Suto Eng Lok?”
  „Aku....... aku rasa tidak.....”
  „Heran!” kata Lim Ceng Yao. „Gejala-gejala yang kau alami itu membuktikan bahwa kau telah terkena semacam bubuk racun tepat seperti yang telah aku ceritakan beberapa hari yang lalu! Aai...... heran.”
  „Lim Tay-hiap,” kata To Siok Keng sambil mengawasi si pemuda she Wei, „apakah kau yakin bah wa bubuk racun yang kau ceritakan itu tidak lantas menewaskan orang yang mengendusnya?”
  „Aku yakin!” sahut Lim Ceng Yao tegas, „bubuk racun itu hebat sekali, tetapi cara bekerjanya betul-betul sangat ganjil, yalah perlahan-lahan merusak pembuluh-pembuluh darah orang yang mengendusnya untuk kemudian menyeret orang itu ke liang kubur!”
  To Siok Keng tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan berkata lagi.
  „Suko, akuilah bahwa kau sudah membuka SAMPUL KEDUA pemberian Ouw Lo Si!”
  „Tidak..... aku...... aku belum......”
  „Jika belum, dapatkah kau membuktikan kata-katamu itu?”
  „Sumoay, apakah kau tidak percaya?”
  „Aku tidak percaya sebelum melihat sampul itu! Ayohlah perlihatkan!”
  „Tidak dapat aku.......”


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Sampul Maut - 80

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×