Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 80

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

yi dan di mana pula Sribaginda disembunyikan.
  “Aku lalu cepat pergi menjelang pagi itu ke gedung Panglima Chang dan membicarakan hasil penyelidikanku.
  Selagi kami berdua bicara, datang Nyonya Bouw yang menceritakan bahwa yang menculik Sribaginda Kaisar adalah pelayannya yang bernama A-kui dan bahwa suaminya, Pangeran Bouw, juga ditawannya. Ia menceritakan bahwa engkau datang pula hendak menolong Sribaginda. Mendengar itu, aku segera menyusulmu ke sini karena aku tahu bahwa yang di sebut A-kui itu tentu Cui-beng Kui-ong yang amat lihai dan aku mengkhawatirkan dirimu.”
  “Hemm, jadi setan tua yang mengaku A-kui itu adalah Cui-beng Kui-ong?” kata Siang Lan.
  “Benar, dengan cerdiknya orang-orang Pek-lian-kauw dapat menyelundupkan dia ke kota raja, bukan itu saja, bahkan berhasil membuat dia diterima sebagai seorang pelayan yang kelihatan setia kepada Pangeran Bouw Ji Kong. Ketika aku tiba di sana, aku melihat dia hendak membunuhmu dengan senjata tasbehnya......”
  “Ah, aku ingat sekarang! Seperti dalam mimpi saja! Aku melihatmu datang, Paman, aku memanggilmu dan......
  selanjutnya entah aku tidak ingat lagi.”
  “Agaknya engkau jatuh pingsan, Siang Lan. Lukamu parah karena mengandung hawa beracun yang amat jahat. Aku lalu berkelahi dengan Cui-beng Kui-ong. Dia lari keluar dari ruangan bawah tanah, kukejar dan kami berkelahi di kamar Pangeran Bouw. Akhirnya dengan susah payah aku berhasil merobohkannya. Dia tewas terkena pukulannya sendiri yang membalik.
  “Aku lalu memasuki ruangan bawah tanah dan membawamu ke sini. Kudorong keluar hawa beracun dari dalam dadamu dengan pengerahan sin-kang dan setelah dua hari dua malam, barulah aku berhasil membersihkan hawa beracun dari dalam tubuhmu. Begitulah ceritanya, Siang Lan.”
  Dengan hati terharu Siang Lan memegang kedua tangan Bu-beng-cu yang menghampiri pembaringan ketika ia memberi isyarat agar laki-laki itu mendekat.
  “Paman, berulang kali engkau menyelama tkan nyawaku. Kalau tidak ada engkau, sudah lama Ny o Siang Lan tidak berada di dunia ini lagi.”
  “Hushh, jangan bicara begitu, Siang Lan. Mati hidupnya setiap orang berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan tidak menghendaki seseorang itu mati, siapa dan apa pun tidak mungkin dapat membunuhnya. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, siapa dan apa pun tidak akan mampu mencegahnya! Jadi kalau kebetulan aku datang menolongmu, itu adalah kehendak Tuhan.”
  “Bukan kebetulan, Paman. Akan tetapi memang engkau selalu membela dan melindungi aku. Aih, budimu sudah bertumpuk-tumpuk, Paman. Entah bagaimana aku akan dapat membalas budi kebaikanmu itu.”
  Wajah Bu-beng-cu menjadi merah. “Sudahlah, sekarang ceritakan pengalamanmu ketika menyelidiki gedung Pangeran Bouw.”
  Siang Lan lalu menceritakan apa yang dialaminya di gedung itu sampai ia melihat sikap A-kui terhadap Nyonya Bouw sehingga akhirnya Nyonya Bouw memberitahu kepadanya bahwa A-kui telah menawan Sribaginda Kaisar dan Pangeran Bouw di dalam ruangan bawah tanah. Ia menceritakan betapa ia bertanding melawan A- kui dan roboh terkena hawa beracun dan totokan kakek yang amat lihai itu.
  “A-kui melihat sendiri betapa Pangeran Bouw membela Sribaginda dengan mati-matian. Dia bukan lawan kakek itu akan tetapi aku tidak dapat bergerak. Aku melihat dia terbunuh.”
  “Ah, sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Bagaimanapun juga, Pangeran Bouw telah menerima hukuman dari pengkhianatan dan pemberontakannya dan perbuatannya yang terakhir itu sedikit banyak telah menebus dosanya terhadap Sribaginda Kaisar. Aku yakin bahwa setelah peristiwa itu, Sribaginda akan mengampuni keluarganya dan mereka akan dibebaskan dari hukuman akibat pemberontakan Pangeran Bouw.”
  “Kuharap begitu, Paman.” Siang Lan hendak bangkit duduk, akan tetapi kembali Bu-beng-cu mencegahnya.
  “Jangan bangkit dulu, Siang Lan. Engkau sudah sembuh, akan tetapi badanmu masih lemah. Engkau perlu minum obat penguat badan. Tinggallah di sini dulu, aku akan membelikan obat itu di toko obat.” Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu keluar dari kamar itu dan menutupkan daun pintu kamar dari luar.
  Siang Lan rebah telentang dan termenung memikirkan Bu-beng-cu. Laki-laki itu terlalu baik kepadanya dan kini ia semakin yakin bahwa ia mencintai Bu-beng-cu. Dan melihat semua perlindungan dan pembelaan yang diberikan pria itu kepadanya, juga pemberian latihan ilmu silat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia hampir yakin bahwa sebenarnya Bu-beng-cu juga mencintanya.
  Akan tetapi gambar wanita yang selalu dibawa-bawa Bu-beng-cu itu! Siapakah itu? Pria itu mengakui bahwa itu adalah gambar seorang wanita yang teramat penting baginya. Walaupun dia tidak mengaku bahwa dia mencinta wanita dalam gambar itu, namun Siang Lan sudah dapat menduganya. Bu-beng-cu tidak pernah menikah, jadi gambar itu bukanlah gambar isterinya. Apakah itu gambar seorang kekasihnya dan dia merasa malu untuk mengaku? Timbul keinginan yang besar sekali dalam hatinya untuk melihat gambar wanita itu.
  Ia menenangkan jantungnya yang berdebar, lalu menguatkan hati dan badannya, bangkit dan biarpun dengan lemah, ia menghampiri almari yang berada di sudut kamar. Dibukanya almari itu. Tidak banyak benda yang berada di dalamnya. Hanya buntalan pakaian dan...... gulungan gambar itu! Dengan jari-jari tangan gemetar karena merasa bahwa ia mencuri, Siang Lan mengambil gambar itu lalu membuka gulungannya. Ia memandang gambar seorang wanita dan sepasang matanya terbelalak, kedua tangan yang memegang gambar menggigil sehingga gambar itu terlepas dari tangannya, bergulung kembali dan menggelinding ke bawah meja.
  Ia menjatuhkan diri duduk di atas kursi, jantungnya berdebar penuh kejutan dan perasaan bahagia memenuhi hatinya. Kemudian, setelah ia dapat menenangkan jantungnya yang berdebar, ia memungut lagi gulungan gambar itu dan dibentangkannya, dipandangnya dengan teliti seolah ia belum percaya akan penglihatannya sendiri. Gambar itu adalah lukisan seorang wanita, lukisan dirinya! “Paman Bu-beng-cu!” Bibirnya berbisik dan senyum penuh kebahagiaan mengembang di bibirnya. Tidak salah dugaannya. Bu-beng-cu mencinta dirinya! Ia adalah wanita yang amat penting itu, wanita yang gambarnya selalu dibawa ke mana pun Bu-beng-cu pergi! Bu-beng-cu mencintanya! Pengetahuan ini membuat cintanya terhadap pria itu semakin mendalam. Ia lalu teringat bahwa Bu-beng-cu hendak menyembunyikan rahasia hatinya itu. Maka ia segera mengembalikan gulungan gambar itu ke dalam almari, lalu ia merebahkan diri lagi, telentang di atas pembaringan dengan perasaan yang demikian bahagianya sehingga ia lupa akan semua perasaan lemahnya dan ingin rasanya ia menari dan bernyanyi! Tak lama kemudian Bu-beng-cu membuka daun pintu kamar dari luar dan masuk. Dia melihat Siang Lan merintih lirih, mengaduh sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.
  “Aduh...... aduh......!” gadis itu mengerang kesakitan.
  Bu-beng-cu melompat dekat pembaringan, duduk di tepi pembaringan dengan wajah kaget dan khawatir.
  “Kenapa Siang Lan?”
  “Kepalaku...... ah, kepalaku...... sakit sekali......”
  Bu-beng-cu cepat memeriksa kepala gadis itu dengan kedua tangannya, meraba seluruh kepala, merasakan denyutnya dengan ujung jari-jarinya dan terheran-heran karena dia tidak menemukan sesuatu yang tidak beres.
  “Bagaimana rasanya? Di bagian mana yang nyeri?” Bu-beng-cu bertanya penuh perhatian, sambil memijit-mijit kepala itu dengan sentuhan lembut.
  “Ah...... semua sakit...... akan tetapi sekarang mendingan, terasa enak kalau dipijit-pijit......” kata Siang Lan manja, namun suaranya masih terdengar seperti merintih. Mendengar ini, Bu-beng-cu lalu memijati kepala Siang Lan dengan kedua tangannya, membuat gadis itu membuka dan memejamkan matanya karena nikmat.
  “Aduhh...... aduh......” Siang Lan mengerang dan kini ia menggerak-gerakkan kaki kirinya seolah kaki itu kesakitan.
  “Ah, apanya lagi yang nyeri?” Bu-beng-cu bertanya heran.
  “Kakiku yang kiri...... aduh...... kakiku sakit sekali......” gadis itu merintih.
  Bu-beng-cu cepat mengalihkan kedua tangannya, dari kepala kini pindah ke kaki kiri Siang Lan, memeriksa dengan teliti. Akan tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar.
  “Maaf, harus kuperiksa dengan teliti!” katanya dan dia menggulung celana kiri itu ke atas sampai lutut. Jari-jari tangannya memijat dan mengurut, merasakan betapa lembut dan putih mulus betis kaki itu. Akan tetapi lagi- lagi dia tidak menemukan apa-apa yang tidak beres. Dia memijat-mijat dan mengurut dengan lembut dan perlahan-lahan Siang Lan berhenti mengeluh.


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 80

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×