Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 82

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

itu berbalik menghinanya dan hanya akan mengambilnya sebagai selir. Hwe-thian Mo-li menghajar pemuda itu dan kembali Li Ai menderita tekanan batin yang hebat. Berturut-turut dan bertubi-tubi kesialan hidup menimpa dirinya.
  Sekarang ia merasa terhibur dan senang hidup di Ban-hwa-san bersama Hwe-thian Mo-li dan anak buah Ban- hwa-pang. Akan tetapi muncul Bouw Cu An, putera seorang pangeran yang jatuh cinta kepadanya. Dan, baru sekali ini selama hidupnya Li Ai juga jatuh cinta kepada seorang pemuda.
  Ia mencinta Bouw Cu An dan mereka berdua sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mencinta. Bahkan ketika Bouw Cu An hendak meninggalkan Lembah Selaksa Bunga, mereka sudah saling menukar tanda mata.
  Bouw Cu An memberi sebuah kantung bersulam kupu-kupu yang indah, sedangkan pemuda itu memilih tusuk sanggul rambutnya berupa bunga teratai sebagai tanda mata. Biarpun tidak terucapkan, pemberian tanda mata itu bagi mereka mempunyai arti yang khusus, yaitu bahwa mereka saling mencinta dan secara batiniah saling terikat satu sama lain! Li Ai menghela napas panjang dan membelai kantung bersulam kupu-kupu indah yang sejak tadi dipegangnya, Bagaimana mungkin ia dapat berjodoh dengan putera pangeran itu? Ia sudah ternoda. Kalau kelak Bouw Cu An mendengar bahwa ia bukan perawan lagi, apakah pemuda itu dapat menerimanya? Apakah dia tidak akan memandangnya rendah dan menghinanya seperti yang pernah dilakukan Bong Kim, pemuda hartawan dari kota raja itu? Penghinaan dari Bong Kim itu hanya membuatnya marah, akan tetapi kalau sampai Bouw Cu An menolak dan menghinanya, ia tidak akan sanggup menerimanya. Hatinya akan hancur dan hidup tidak ada artinya lagi baginya karena ia sungguh mencinta pemuda itu! Tidak, lebih baik hubungan itu diputuskan sekarang yang hanya mengakibatkan kecewa dan duka. Kalau putus karena pemuda itu mengetahui keadaannya, menolak dan menghinanya, akibatnya akan terlalu berat dan hebat baginya.
  “Tidak ini tidak boleh terjadi. Tidaaakk......!” Ucapan “tidak” yang terakhir itu keluar sebagai jeritan hati yang terucapkan oleh mulutnya.
  “Heii, apanya yang tidak, Moi-moi?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki.
  Li Ai terkejut dan cepat menoleh ke belakang dan...... ia melihat Bouw Cu An melangkah menghampirinya! Cepat ia menyelipkan kantung bersulam itu ke ikat pinggangnya dan bangkit berdiri, menyongsong kedatangan pemuda itu.
  “Koko!” Li Ai berseru dan girang bukan main. “Eh, bagaimana engkau dapat tiba-tiba muncul di sini? Bagaimana dapat melalui jebakan-jebakan rahasia kami?”
  Cu An tersenyum. “Untung sekali di bawah sana aku bertemu dengan seorang anggauta Ban-hwa-pang yang telah mengenal aku maka ia mau menjadi penunjuk jalan sehingga aku dapat naik ke sini, Ai-moi.”
  “Mari kita masuk dan bicara di dalam rumah, An-ko.”
  “Tidak, Moi-moi. Keadaan di sini sungguh indah dan hawanya begini sejuk dan cerah. Aku ingin bicara denganmu di sini saja.”
  “Duduklah, An-ko.” Li Ai mempersilakan pemuda itu duduk di atas bangku panjang dan ia duduk di sebelahnya, agak jauh. “Ada apakah, An-ko? Aku melihat ada sesuatu yang membuatmu seperti orang bersedih.”
  Memang gadis itu melihat biarpun mulut pemuda itu tersenyum namun pandang matanya seperti orang sedang berduka, sinar mata itu sayu.
  Cu An menghela napas panjang. Dia lalu dengan terus terang menceritakan tentang pemberontakan ayahnya sampai akhirnya ayahnya berhasil dibujuknya dan berbalik menjebak para sekutunya sehingga pemberontakan itu dapat dihancurkan.
  “Aku merasa malu sekali, Moi-moi, mengapa Ayahku sampai melakukan pengkhianatan dan pemberontakan, padahal dia sudah mendapatkan kedudukan tinggi sebagai penasihat Kaisar dalam hubungan pemerintah dengan suku-suku asing dan luar negeri.”
  Suasana menjadi hening setelah Cu An menceritakan keadaan ayahnya dengan panjang lebar. Ketika Li Ai memandang wajah pemuda itu yang kini tampak sedih sekali, ia merasa terharu dan berkata menghibur.
  “An-ko, sudahlah jangan terlalu bersedih. Setidaknya ayahmu telah menyesal dan menyadari kesalahannya, bahkan memperlihatkan penyesalannya dengan membantu pemerintah menjebak para sekutu pemberontak sehingga dapat dihancurkan. Hal itu merupakan hiburan besar bagimu, Koko.”
  “Benar memang, Moi-moi. Akan tetapi apa artinya perbuatan Ayahku itu kalau dibandingkan dengan dosa- dosanya? Dialah yang mendalangi terbunuhnya enam orang pembesar yang baik dan setia kepada Sribaginda Kaisar. Ah, aku malu sekali, Moi-moi.'' “Sudahlah, An-ko. Setelah Ayahmu berhasil membantu pemerintah menumpas pemberontak dan seperti kauceritakan tadi, engkau dan gurumu Ouw-yang Sian-jin membantu pula, mengapa sekarang engkau meninggalkan kota raja dan datang ke sini? Bukan aku tidak senang engkau datang berkunjung, akan tetapi kenapa Enci Siang Lan belum pulang?”
  “Hwe-thian Mo-li tentu masih banyak urusan di sana dan aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu, Ai- moi. Aku ingin menceritakan semua ini kepadamu dan sekalian mengucapkan selamat tinggal dan selamat berpisah untuk selamanya......” suaranya gemetar.
  Mendengar ini, saking kagetnya, wajah Li Ai menjadi pucat dan tanpa disadarinya ia memegang lengan pemuda itu erat-erat sambil menatap wajahnya.
  “Koko, mengapa engkau mengucapkan selamat tinggal? Apa maksudmu......?” Gadis itu memandang dengan khawatir sekali.
  Bouw Cu An diam sejenak, agaknya seperti mengumpulkan kekuatannya karena dia tenggelam dalam kesedihan. Kemudian dengan suara lirih dan gemetar dia berkata.
  “Moi-moi...... aku...... aku sungguh malu sekali kepadamu. Engkau puteri seorang pahlawan yang patriotik sedangkan aku...... aku hanya anak seorang pengkhianat, seorang pemberontak......” Cu An bangkit berdiri dan memutar tubuhnya untuk menyembunyikan air matanya yang menitik turun ke atas pipinya. “Aku...... aku......
  tidak pantas berdekatan denganmu, tidak pantas menjadi sahabatmu...... apalagi ...... menjadi...... ah, aku tidak boleh mencintaimu......”
  Li Ai merasa terharu sekali. Ia maklum bahwa pemuda itu menangis dan hendak menyembunyikan tangisnya.
  Hal dapat ia ketahui dari suaranya dan pemuda itu mengangkat tangan ke muka, tentu untuk menghapus air matanya. Li Ai merasa terharu dan tanpa terasa lagi ia pun mencucurkan air mata.
  “Tidak, Koko...... mendiang Ayahku juga melakukan kesalahan! Ayahku juga pernah membebaskan tawanan......”
  “Akan tetapi beliau melakukannya untuk menyelamatkanmu dan telah ditebusnya dengan nyawanya.
  Sedangkan Ayahku...... dia memberontak untuk mencari kedudukan, untuk dirinya sendiri......”
  “Akan tetapi Ayahmu juga sudah insaf dan membantu pemerintah membasmi para pemberontak.”
  “Jangan membela Ayahku, Moi-moi, aku...... aku merasa rendah dan hina sebagai anak pengkhianat yang akan selalu dikutuk. Aku tidak berhak dan tidak boleh mendekatimu...... engkau akan ikut tercemar...... aku tidak layak menjadi...... menjadi......” Cu An tidak dapat melanjutkan, lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku dengan tubuh lemas dan dia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
  Li Ai tidak dapat menahan keharuan dan kesedihannya mendengar ucapan itu. Ia memegang lengan pemuda itu dan memaksanya berputar sehingga mereka saling berhadapan. Dengan air mata membasahi sepasang matanya dan mengalir menuruni sepasang pipinya yang agak pucat, Li Ai berkata.
  “Koko, jangan berkata begitu. Aku tetap menghormatimu karena engkau memang layak dihormati. Jangan bilang engkau tidak pantas. Akulah yang tidak pantas mendekati. Akulah gadis yang hina......”


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 82

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×