Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 83

Tags: bwe kiok hwa
Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

Dewi Ular - Perang Gaib Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden

14.41. Aku...... Bukan Perawan Lagi! “Moi-moi!” Cu An berseru kaget.
  “Benar, Koko...... dengarlah baik-baik, akulah yang tidak layak mendapat cintamu, tidak pantas mencintamu......
  aku sama sekali tidak berharga untuk menjadi sisihanmu...... aku adalah seorang gadis yang sudah ternoda, aku...... aku bukan perawan lagi...... aku telah diperkosa orang......”
  Tiba-tiba Cu An bangkit berdiri, mukanya merah karena marah sehingga Li Ai merasa hancur hatinya karena ia mengira bahwa seperti juga Bong Kim dahulu, pemuda itu pun akan memandang rendah dan menghinanya, maka ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.
  “Siapa dia? Katakan, Ai-moi, siapa laki-laki yang melakukan perbuatan biadab itu? Cepat katakan, sekarang juga akan kuhancurkan kepalanya si jahanam terkutuk itu!!”
  Mendengar betapa pemuda itu marah kepada si pemerkosa dan tidak memandang rendah atau menghinanya, Li Ai menahan tangisnya dan berani memandang muka pemuda itu dengan muka pucat yang basah air mata, lalu berkata lirih diseling isak.
  “Mereka...... adalah dua orang...... Pek-lian-kauw...... akan tetapi mereka...... sudah dibunuh oleh Enci Siang Lan......”
  Cu An menarik napas panjang, tampak lega mendengar ini.
  “Aah, kalau begitu, dendam sakit hatimu telah terbalas impas, Ai-moi. Mengapa engkau masih juga bersedih?”
  “...... akan tetapi...... aku...... aku sudah ternoda...... terlalu hina untukmu, An-ko......”
  “Uhh, siapa bilang? Engkau sama sekali tidak bersalah. Engkau dipaksa dan engkau sama sekali tidak hina bagiku!”
  “Tapi...... tapi...... aku...... bukan perawan lagi......” Li Ai menangis.
  Cu An bergerak maju dan merangkul gadis itu. Meledaklah tangis gadis itu sehingga terisak-isak dan ia tidak mampu bicara lagi. Cu An mendekap muka gadis itu ke dadanya sehingga air mata Li Ai membasahi dada bajunya, menembus baju bahkan seolah menembus kulit dadanya dan menyejukan hatinya.
  “Li Ai, kaukira aku ini laki-laki macam apa? Aku bukan hanya mencintai keperawananmu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu lahir batin, bukan hanya mencinta badanmu melainkan engkau seluruhnya. Engkau sama sekali tidak hina bagiku, engkau tetap bersih, tetap murni dan aku bahkan semakin mencintamu. Li Ai, jawablah, maukah engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi isteriku, isteri seorang anak pangeran pemberontak?”
  “Koko Bouw Cu An......!” Saking bahagia dan terharunya mendengar ucapan itu, Li Ai tiba-tiba terkulai dan cepat ia merangkul pinggang pemuda itu. Kalau Cu An tidak memeluknya erat, mungkin ia akan jatuh terguling. Ia hampir pingsan dan menjadi lemas dalam pelukan Cu An.
  “Moi-moi, jangan khawatir, aku akan melindungimu dan menyayangmu selamanya,” bisik Cu An sambil mendekap kepala itu erat-erat seolah hendak memasukan gadis itu ke dalam dirinya sehingga mereka tidak akan dapat saling berpisah lagi.
  Cinta sejati memang indah karena cinta seperti ini merupakan kasih sayang yang murni, sebagai pijar dari api kasih yang datang dari Tuhan. Cinta kasih seperti ini bebas dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri.
  Semua diperuntukkan orang yang dikasihi, demi kebahagiaan orang yang dikasihi, dan cinta seperti ini baru dapat dirasakan kalau diri sendiri tidak diperbudak oleh nafsu dan pementingan diri sendiri.
  Sebaliknya, cinta yang sepenuhnya didorong oleh nafsu hanya mementingkan diri sendiri, hanya bertujuan untuk menyenangkan diri sendiri. Kalau diri sendiri tidak lagi mendapat kesenangan dari orang yang dicintai, maka cinta itu akan berubah, lenyap atau bahkan berbalik menjadi benci.
  Bukan berarti bahwa cinta sejati tidak mengenal nafsu berahi. Seperti juga nafsu-nafsu lain, nafsu berahi sudah ada pada setiap orang manusia yang sehat dan wajar. Hanya bedanya, dalam cinta kasih sejati itu nafsu berahi menjadi pelayan kita. Sebaliknya dalam cinta nafsu, nafsu berahi menjadi majikan kita.
  Cinta kasih yang berada dalam diri Bouw Cu An dan Kui Li Ai adalah contoh cinta sejati. Cinta seperti ini adanya hanya keinginan untuk saling membahagiakan.
  Sampai lama mereka saling rangkul dengan ketat seolah telah menjadi satu, lupa tempat dan waktu, bahkan lupa akan diri sendiri.
  Tiba-tiba terdengar suara batuk seorang wanita. Suara ini cukup untuk menarik kedua orang yang sedang asyik-masyuk itu ke dalam sadar. Mereka menengok dan melihat bahwa di situ telah berdiri seorang wanita dengan sikap hormat dan ragu. Wanita itu adalah Bwe Kiok Hwa, kepala pembantu dan murid tertua di Ban- hwa-kok yang usianya sudah tigapuluh satu tahun.
  Melihat Bwe Kiok Hwa, kedua orang muda itu saling melepaskan rangkulan dan wajah keduanya berubah kemerahan.
  “Eh, Enci Bwe Kiok Hwa......” kata Li Ai.
  Bwe Kiok Hwa tampak ragu dan sungkan. “Nona Kui Li Ai...... saya kira engkau sudah tahu akan peraturannya......”
  Li Ai mengangguk. “Aku tahu dan mengerti, Enci kiok Hwa. Jangan khawatir, aku yang akan laporkan kepada Enci Nyo Siang Lan kalau ia pulang.”
  Bwe Kiok Hwa mengangguk. “Maaf, bukan maksud saya untuk mengganggu.” Setelah memberi hormat kepada sepasang orang muda itu, ia lalu pergi.
  “Ai-moi, apa sih artinya ucapanmu kepadanya tadi?” tanya Bouw Cu An.
  “Begini, An-ko. Setelah Enci Siang Lan menjadi pemimpin Ban-hwa-pang yang anggautanya semua wanita, yang tidak menikah, ia mengadakan peraturan bahwa siapa yang menikah harus keluar dari Ban-hwa-kok.
  Setiap orang anggauta Ban-hwa-kok tidak boleh bergaul dengan pria kalau tidak akan menjadi suami isteri, dan kalau ada pria yang berani mempermainkan anggauta Ban-hwa-pang, akan dibunuh. Maka setelah tadi Enci Bwe Kiok Hwa melihat kita, ia peringatkan padaku tentang peraturan itu. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir, bukan, An-ko?”
  Cu An tersenyum dan memegang kedua tangan kekasihnya. “Tentu saja tidak, Moi-moi. Kita berdua tidak main-main, dan aku akan memberitahu orang tuaku agar mengajukan pinangan secara resmi. Akan tetapi, karena...... Ayah dan Ibu kandungmu telah tiada, kepada siapakah orang tuaku harus mengajukan lamaran? Menurut ceritamu, tentu engkau tidak ingin orang tuaku melamar kepada ibu tirimu, bukan?”
  “Aih, jangan! Aku tidak sudi dinikahkan oleh wanita berengsek itu! Kalau orang tuamu datang melamar, kuminta agar melamar kepada Enci Nyo Siang Lan, karena ialah yang kini menjadi waliku, kakak angkatku, juga guruku.”
  “Bagus, kalau begitu, aku akan menanti di sini sampai ia datang. Bolehkah aku bermalam di sini, Ai-moi?”
  “Tentu saja boleh, An-ko, akan tetapi di kamar tersendiri, kamar tamu.”
  “Tentu saja! Aku belum gila untuk minta sekamar denganmu, Moi-moi!”
  “Aih, bukan begitu maksudku.” Li Ai tertawa senang karena kelakar itu menunjukkan penghormatan dan penghargaan yang tersembunyi. “Akan tetapi sebetulnya ini melanggar peraturan, akan tetapi......”
  “Kalau begitu, biar aku bermalam di kaki bukit saja, Ai-moi. Jangan sampai engkau mendapat marah dari Hwe- thian Mo-li!”
  “Tidak, An-ko. Kalau aku membiarkanmu bermalam di kaki bukit, di tempat terbuka, aku malah pasti akan ditegur Enci Siang Lan. Engkau boleh bermalam di sini atas tanggunganku, hanya saja, engkau tidak boleh keluar dari rumah induk, paling jauh engkau hanya boleh memasuki tempat ini.”
  Cu An tersenyum. “Baiklah, aku akan menaati peraturan Ban-hwa-pang. Tidak apa dikeram dalam rumah asal setiap hari dapat melihatmu!”
  Demikianlah, dengan hati berbunga-bunga sepasang kekasih itu lalu memasuki rumah induk dan Li Ai lalu mempersiapkan kamar tamu yang berada di bagian belakang untuk Bouw Cu An. Kepada Bwe Kiok Hwa dan para anggauta Ban-hwa-pang lainnya Li Ai mengaku terus terang bahwa pemuda itu adalah tunangannya calon suaminya yang menanti kembalinya ketua mereka dan akan sementara tinggal di situ sampai Hwe-thian Mo-li pulang. Ia yang akan bertanggung jawab kalau ketua mereka marah. Karena baik Li Ai maupun Cu An bersikap wajar dan sopan, menjaga sikap mereka satu sama lain tetap sopan dan tidak memperlihatkan cinta mereka secara mencolok, maka para anggauta Ban-hwa-pang merasa tenang dan tetap menghormati sepasang kekasih ini.
  Kasih yang mendasari satu saja keinginan yaitu membahagiakan orang yang dikasihi sungguh mendatangkan perasaan yang luar biasa. Melihat kebahagiaan terpancar pada sinar mata dan senyum di wajah kekasihnya membuat mereka merasa luar biasa senang dan bahagianya. Karena itu, dengan hanya saling pandang tanpa ungkapan dengan sentuhan atau kata-kata cinta karena hendak menjaga kesopanan dalam pandangan para anggauta Ban-hwa-pang, bagi mereka berdua lebih dari cukup. Senyum di bibir sang kekasih seolah menambah keindahan segala sesuatu yang tampak, menambah hangat dan cerahnya sinar matahari, menambah indah dan harum bunga-bunga di taman dan hati mereka diliputi kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
  Dua minggu kemudian Siang Lan pulang. Ketika para anggauta Ban-hwa-pang menyambut di lereng bukit, tak seorang pun dari mereka berani memberitahu akan kehadiran Cu An yang sudah dua minggu menjadi tamu di rumah induk yang menjadi tempat tinggal Ketua Ban-hwa-pang itu.
  Ketika Siang Lan tiba di rumah dan disambut oleh Li Ai dan Cu An, ia agak terkejut dan merasa heran karena ia mengenal pemuda itu yang telah menjadi murid Ouw-yang Sianjin. Ia pun tahu bahwa pemuda itu adalah putera Pangeran Bouw Ji Kong.
  “Hei, bukankah engkau Bouw Cu An putera Pangeran Bouw Ji Kong? Setelah pemberontakan dapat dipadamkan berkat bantuan Ayahmu, mengapa engkau pergi menghilang dan kini tahu-tahu berada di sini?”
  Siang Lan bertanya, suaranya mengandung teguran karena pemuda itu menjauhkan diri sehingga tidak tahu akan malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya.
  “Aku...... aku ikut dengan suhu Ouw-yang Sianjin......” kata Cu An, agak canggung mendengar teguran Hwe- thian Mo-li.
  “Enci Siang Lan, sebelum engkau nanti mengetahui dan marah-marah kepada Koko Bouw Cu An, sebaiknya aku lebih dulu mengaku kepadamu bahwa dia sudah tinggal di sini selama dua minggu untuk menunggumu pulang dan akulah yang menanggung dan bertanggung jawab, yang minta dia tinggal di sini selama ini, maka akulah yang melanggar peraturan dan aku siap menerima hukuman.”
  “Aih-aih, mengapa engkau begini nekat, Li Ai?” Siang Lan bertanya heran karena setelah ia mengalami perkosaan


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 83

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×