Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 84

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

kemudian dihina oleh Bong Kim, Li Ai seolah menjadi pembenci laki-laki.
  “Karena...... karena kami berdua ahh......” sukar bagi Li Ai untuk mengaku saling mencinta dengan Cu An. Melihat kekasihnya kebingungan, Cu An segera membantu.
  “Pang-cu......”
  Siang Lan tidak merasa aneh dipanggil Pang-cu (ketua) karena ia memang merupakan Pang-cu dari Ban-hwa- pang.
  “Terus terang saja, Adik Kui Li Ai dan aku saling mencinta dan kita merencanakan perjodohan. Karena yang menjadi walinya, menurut pengakuan Adik Li Ai adalah engkau, maka aku sengaja menanti engkau pulang agar kalau engkau sudah setuju, aku akan minta kepada orang tuaku untuk mengirim lamaran resmi kepadamu.”
  Siang Lan membelalakkan kedua matanya, bukan marah melainkan heran dan juga ragu. Ia memandang kepada Li Ai yang menundukkan mukanya sambil tersenyum malu-malu.
  “Akan tetapi engkau, Li Ai......”
  “Jangan khawatir, Enci Siang Lan. Aku telah menceritakan dan mengaku terus terang kepada An-ko tentang malapetaka yang menimpa diriku, bahwa aku telah diperkosa dua orang Pek-lian-kauw yang kaubunuh itu.”
  Kini wajah Siang Lan berseri karena ia merasa gembira sekali mendengar keterangan Li Ai itu. Ia memandang kepada pemuda itu dengan kagum dan bertanya.
  “Bouw Kongcu, benarkah engkau rela dan mau menerima Li Ai sebagai calon isterimu setelah ia......”
  “Pang-cu, aku bahkan merasa kasihan dan semakin cinta kepada Li Ai, sama sekali tidak mem andang rendah.
  Yang kucinta adalah manusianya, pribadinya bukan hanya jasmaninya. Cinta itu bagiku urusan hati, bukan sekedar urusan jasmani. Pula, kalau mau bicara tentang kerendahan dan kehinaan, akulah yang rendah dan hina, tidak sepadan dengan Adik Li Ai. Ia puteri seorang pahlawan, sebaliknya aku hanya anak seorang pengkhianat dan pemberontak.”
  “Hushh! Jangan sekali-kali kau ulangi kata-katamu itu, Bouw Cu An!” Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan membentak sehingga Cu An dan Li Ai memandang kaget. “Biarpun pernah melakukan kesalahan besar, namun akhirnya mendiang Pangeran Bouw Ji Kong adalah seorang pahlawan besar!”
  Wajah Cu An berubah pucat sekali. Biarpun hatinya merasa lega dan ada sinar kegirangan mendengar Siang Lan memuji ayahnya sebagai pahlawan, namun ayahnya disebut mendiang oleh gadis itu.
  “Mendiang......? Apa...... apa maksudmu...... Pang-cu?” tanyanya dengan muka pucat dan suara tergagap.
  Baru Siang Lan teringat bahwa pemuda ini belum mengetahui bahwa ayahnya telah tewas, maka ia menghela napas panjang dan mengajak mereka berdua duduk.
  “Bouw Kongcu, setelah engkau pergi meninggalkan kota raja, terjadi peristiwa yang amat besar dan gawat.
  Para pemberontak itu, seperti kauketahui karena yang membujuk Ayahmu adalah engkau dan susiok (Paman Guru) Ouw-yang Sianjin, dapat dibasmi atas bantuan Ayahmu. Akan tetapi urusannya bukan hanya berhenti sampai di situ.
  “Tiba-tiba saja Sribaginda Kaisar diculik orang dan banyak pengawal dan pelayan istana terbunuh. Penculiknya tidak ketahuan siapa dan tidak diketahui pula ke mana Sribaginda Kaisar disembunyikan. Kemudian setelah melakukan penyelidikan, kiranya yang menculik Sribaginda dan juga Ayahmu yang hilang pula, adalah seorang pelayan di gedung Ayahmu, seorang pelayan tua yang tampak lemah......”
  “Ah...... Kakek A-kui?” tanya Cu An yang masih pucat.
  “Dia adalah Cui-beng Kui-ong yang menyamar dan berhasil menyusup menjadi pelayan di rumah Pangeran Bouw Ji Kong. Dia menyembunyikan Sribaginda yang diculiknya ke ruangan bawah tanah di bawah kamar tidur Ayahmu. Karena Ayahmu hendak menentangnya, maka dia pun menangkap Ayahmu dan menahannya di ruangan bawah tanah itu.”
  “Aduh...... semua ini salahku. Kalau aku tidak meninggalkan rumah, tentu aku dapat mencegahnya......”
  “Tidak, Bouw Kongcu, bahkan mungkin engkau pun terancam bahaya maut. Cui-beng Kui-ong itu sakti bukan main. Dengarkan ceritaku selanjutnya. Aku mendengar dari Ibumu bahwa Sribaginda dan Ayahmu disembunyikan di ruangan bawah tanah itu. Aku terlalu memandang rendah Kakek A-kui, maka aku segera menyerbu. Akan tetapi A-kui muncul di kamar Ayahmu dan kami berkelahi. Akibatnya, aku sendiri tertawan olehya, tertotok dan dimasukkan dalam ruangan bawah tanah itu.
  “Ibumu lalu melarikan diri dari rumah dan melapor kepada Panglima Chang Ku Cing tentang A-kui. Kebetulan ketika itu panglima Chang kedatangan Paman Bu-beng-cu. Paman Bu-beng-cu segera menuju ke rumah Ibumu dan Panglima Chang mengerahkan pasukan mengepung rumah itu.
  “Ketika itu, Cui-beng Kui-ong alias A-kui tahu bahwa Ibumu pergi meninggalkan rumah. Dia menjadi marah dan tahu bahwa tentu tempat persembunyian itu akan ketahuan dan akan diserbu, maka dia membunuh tujuh orang pelayan di rumahmu dan pada saat itu terdengar teriakan Paman Bu-beng-cu dari luar yang minta kepada Cui-beng Kui-ong untuk menyerah.
  “Cui-beng Kui-ong menjawab dan berteriak minta agar para tawanan pemberontak dibebaskan. Kalau tidak dia akan membunuh Sribaginda Kaisar. Ketika permintaannya ditolak, dia hendak membunuh Sribaginda, akan tetapi Ayahmu, Pangeran Bouw Ji Kong yang memungut pedangku yang terjatuh, membela Sribaginda Kaisar dengan gagah berani. Akan tetapi Cui-beng Kui-ong terlalu lihai sehingga Ayahmu kalah dan tewas di tangan Cui-beng Kui-ong.
  “Setelah membunuh Ayahmu, kakek sakti itu juga hendak membunuh aku yang tidak mampu bergerak karena tertotok dan luka dalam. Untung pada saat yang amat gawat bagi keselamatanku itu muncul Paman Bu-beng- cu dan setelah melalui perkelahian yang amat hebat, akhirnya Cui-beng Kui-ong roboh dan tewas.
  “Nah, bukankah Ayahmu telah menebus kesalahannya dengan dua hal yang amat hebat. Pertama, membantu pemerintah membasmi para pemberontak dan kedua, telah mengorbankan nyawa demi melindungi Sribaginda Kaisar? Maka jangan kau berani mencaci Ayahmu dengan kata-kata yang keji, Bouw Kongcu!”
  “Ayah......!” Bouw Cu An lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis! “Maafkan aku, Ayah!”
  “An-ko, jangan terlalu bersedih......!” Li Ai juga berlutut di dekat pemuda itu dan memegang pundaknya, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata. Ia ikut merasa terharu dan sedih melihat kekasihnya menangis.
  Melihat ini, Siang Lan tersenyum, diam-diam merasa berbahagia sekali bahwa Li Ai telah menemukan laki-laki yang benar-benar mencintainya walaupun dia sudah tahu akan keadaan Li Ai yang telah ternoda. Cu An merupakan calon suami yang baik sekali bagi Li Ai dan ia merasa ikut berbahagia! Maka, melihat keduanya bertangisan, ia lalu meninggalkannya, memasuki kamarnya.
  Dalam kamar, Siang Lan termenung. Ia teringat kepada Bu-beng-cu. Bu-beng-cu juga amat mencintanya, seperti cinta Cu An kepada Li Ai. Bu-beng-cu juga sudah tahu bahwa ia telah dinodai orang, akan tetapi tetap mencintanya! Akan tetapi, sebelum ia membuka perasaan hatinya kepada pria yang juga menjadi gurunya itu, ia harus menyelesaikan dulu masalah yang teramat penting bagi hidupnya, yaitu membalas dendam kepada Thian-te Mo-ong (Raja Iblis Langit Bumi) yang telah memperkosanya itu. Setelah ia berhasil membunuh Thian-te Mo-ong, barulah ia akan menyatakan hubungan cintanya dengan Bu-beng-cu?


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 84

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×