Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 86

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

ung nyawa melawan musuh yang amat sakti. Kalau mereka melihatnya seperti itu, ia lebih pantas sebagai seorang gadis yang menyongsong kedatangan kekasihnya, demikian cantik, rapi dan penuh semangat! Suasana di Ban-hwa-pang sunyi sekali. Padahal hari itu, tidak ada seorang pun anggauta Ban-hwa-pang yang keluar dari perkampungan mereka. Tidak ada yang bekerja seperti biasa. Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan tempat berlatih tak jauh dari rumah induk, memandang ke arah halaman depan rumah itu dengan hati tegang.
  Tak seorang pun mengeluarkan suara sehingga suasana menjadi sunyi. Bunyi yang ada hanya gemercik air di belakang perkampungan, desah angin membelai daun-daun pohon, dan ayam biang berkotek memanggil anak- anaknya. Bahkan burung-burung tidak berbunyi lagi karena karena mereka semua telah pergi menuju ke sawah ladang mencari makan.
  Setelah sinar matahari mulai mengusir sisa kabut di puncak Ban-hwa-san itu, sinarnya yang hangat seakan membangunkan bumi yang tidur semalam, menggugah ribuan bunga di lembah itu, datanglah orang yang dinanti-nanti oleh Siang Lan, dan juga oleh para anggauta Ban-hwa-pang. Kedatangannya saja membuat para anggauta Ban-hwa-pang merasa ngeri. Mula-mula berhembus angin lalu disusul suara yang menggelegar.
  “Hwe-thian Mo-li, aku datang......!!”
  Sesosok bayangan berkelebat dan Thian-te Mo-ong sudah tampak di pekarangan depan rumah induk yang menjadi tempat tinggal Siang Lan. Pakaiannya yang dari kain kasar dan agak terlalu besar itu membuat tubuhnya tampak besar menyeramkan. Mukanya tertutup sebuah topeng dari kulit batang pohon, bentuknya seperti muka setan. Muka itu sama sekali tertutup dan yang tampak hanya sepasang mata mencorong yang sinarnya keluar dari lubang di depan kedua mata itu.
  Mendengar suara itu, Siang Lan melompat dari dalam rumah. Hanya tampak bayangan berkelebat dan gadis itu sudah berhadapan dengan musuh besarnya. Sepasang mata yang indah itu seolah menyinarkan api ketika ia menatap wajah bertopeng itu, topeng yang selalu muncul mengganggu dalam mimpi, topeng yang amat dibencinya.
  “Thian-te Mo-ong, hari ini kalau tidak engkau, akulah yang menggeletak kehilangan nyawa. Aku tidak akan berhenti berkelahi sebelum salah seorang di antara kita mati!” Setelah berkata demikian, Siang Lan lalu mengerahkan seluruh tenaga saktinya, menekuk kedua lututnya dan mendorongkan ke arah lawan.
  “Hyaaaattt......!” Pukulan ini hebat sekali. Angin dahsyat menyambar ke arah Thian-te Mo-ong. Orang bertopeng itu menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.
  “Wuuuuttt...... blaarrr......!” Keduanya terpental ke belakang sejauh tiga langkah! Ternyata tenaga mereka seimbang dan Siang Lan merasa girang sekali. Timbul semangatnya karena kini ia sudah mampu mengimbangi sin-kang lawan yang dulu membuatnya kewalahan. Ia lalu nencabut Lui-kong- kiam dan jiwa kependekarannya membuat ia menahan serangannya melihat lawan bertangan kosong.
  “Cabut senjatamu! Aku tidak mau menyerang orang yang tak memegang senjata, tidak sudi menjadi pengecut macam engkau!” Siang Lan memaki, teringat betapa orang ini dulu memperkosanya selagi ia tidak berdaya.
  Thian-te Mo-ong tidak menjawab, hanya tertawa bergelak lalu tubuhnya melompat ke atas, ke arah pohon.
  Terdengar suara dahan patah dan ketika dia turun, tangannya sudah memegang sebatang ranting pohon sebesar lengan dan panjangnya seperti sebatang pedang. Sekali dia menggetarkan ranting itu, daun-daunnya terlepas dan meluncur jauh! Hal ini saja sudah menunjukkan betapa dia mampu menyalurkan tenaga saktinya kepada ranting itu sehingga daun-daun yang menempel pada ranting itu terlepas dan bahkan terpental kuat sehingga meluncur jauh! Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gentar. Setelah kini musuh besarnya memegang tongkat ranting pohon, ia lalu mengeluarkan pekik melengking dan menyerang dengan dahsyatnya. Pedang Lui-kong-kiam itu berubah menjadi sinar kilat menyambar ke arah dada lawan. Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting itu menangkis.
  “Trangg......!” Pertemuan antara pedang pusaka dan pedang kayu itu menimbulkan suara nyaring seolah Lui- kong-kiam itu bertemu dengan pedang lain yang sama ampuhnya! Kemudian terjadi perkelahian ilmu silat pedang yang amat hebat. Gerakan nnereka sama gesitnya dan dalam gin-kang (ilmu meringankan tubuh) mereka memiliki tingkat seimbang.
  Juga agaknya sin-kang (tenaga sakti) mereka tidak berselisih jauh, mungkin tenaga Thian-te Mo-ong lebih kuat sedikit, namun hampir tidak terasa oleh Siang Lan. Kini mereka mengadu ilmu silat dan dalam hal ini ternyata Siang Lan lebih untung.
  Perlu diingat bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan adalah murid terkasih dari Pat-jiu Kiam-ong (Dewa Pedang Lengan delapan) Ong Han Cu dan dewa Pedang yang kini telah tiada itu telah menurunkan semua ilmu pedangnya kepada Siang Lan yang amat dikasihinya. Maka, setelah kini Siang Lan mendapat gemblengan dari Bu-beng-cu sehingga gin-kang dan sin-kangnya maju pesat, ilmu pedangnya menjadi semakin dahsyat.
  Para anggauta Ban-hwa-pang hanya berani menonton. Biarpun mereka merasa gelisah sekali dan juga tegang, namun mereka tidak berani mendekat, apalagi membantu ketua mereka. Kalau saja Siang Lan tidak memesan kepada mereka, tentu mereka sudah maju mengeroyok dan mereka tidak takut kalau sampai roboh dan tewas.
  Mereka rela berkorban nyawa demi ketua mereka yang mereka sayang dan hormati. Akan tetapi Siang Lan telah melarang mereka sehingga kini mereka hanya berani menonton dari jauh dengan jantung berdebar- debar.
  Perkelahian itu sudah berlangsung delapanpuluh jurus lebih! Akan tetapi belum juga ada yang terdesak. Mereka masih saling serang dan matahari mulai naik tinggi sehingga panasnya mulai menyengat, tubuh kedua orang yang bertanding mati-matian itu mulai basah oleh keringat.
  Tubuh Siang Lan melompat ke atas, berjungkir balik di udara lalu meluncur turun, pedangnya menyambar ke arah kepala Thian-te Mo-ong.
  Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting menangkis, akan tetapi tanpa diduga, tangan kiri Siang Lan menghantam dengan pukulan tenaga sakti ke arah muka. Ini merupakan serangan yang amat dahsyat dan berbahaya sekali. Thian-te Mo-ong menggeser tubuh ke kanan sehingga dia dapat menyambut dorongan tangan kiri gadis itu dengan tangan kirinya pula dan begitu kedua telapak tangan bertemu, Siang Lan menggunakan kesempatan itu untuk menggerakkan pedangnya menusuk dada! Thian-te Mo-ong mengelak ke kiri, akan tetapi agak kurang cepat sehingga Lui-kong-kiam sempat menusuk pundaknya.
  “Cappp......!!” Siang Lan cepat mencabut pedangnya yang menembus pundak dari depan ke belakang. Tubuh Thian-te Mo-ong terpelanting dan dia rebah telentang, rantingnya terlepas dari tangan kanan yang terasa lumpuh karena pundaknya terluka parah.
  Bagaikan seekor burung cepatnya, tubuh Siang Lan sudah turun di depan tubuh lawan dan pedangnya sudah menodong leher lawan. Ujung pedang Lui-kong-kiam yang runcing tajam itu menempel pada kulit leher bagi an tenggorokan.
  “Hwe-thian Mo-li, aku sudah kalah. Bunuhlah aku untuk menebus kesalahanku!” terdengar Thian-te Mo-ong berkata.
  Siang Lan meragu, karena ia merasa heran. Thian-te Mo-ong yang biasanya bersikap sombong dan tekebur, akan tetapi sekarang sikapnya berubah, tidak sombong lagi, juga tidak ketakutan, melainkan dengan tenang dan gagahnya minta dibunuh untuk menebus kesalahannya! Timbul keinginan tahunya dan ia berseru.
  “Sebelum kubunuh engkau, ingin aku mel ihat macam apa rupanya jahanam keji seperti engkau i ni!”
  Pedangnya digerakkan ke atas dan topeng kayu itu terbuka dan terlempar. Pedang itu sudah diangkat, siap untuk memenggal leher.
  Tiba-tiba Siang Lan melepaskan pedangnya yang jatuh ke atas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Ia kini menatap muka yang tidak lagi tertutup topeng itu, muka yang dagu bawahnya robek oleh ujung pedangnya ketika ia membuka topeng dan yang pundaknya bercucuran darah, muka y ang memandang kepadanya dengan sedih dan pasrah, muka yang pucat karena kehilangan banyak darah.


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 86

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×