Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 58

Tags: mereka
Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

iba pagi itu datang menyerbu, membakari tanaman untuk menghalau semua jebakan yang dipasang di bagian itu.
  “Mari, Kongcu, kita lihat keadaannya!” Li Ai mengajak Cu An dan mereka berdua lalu berlari cepat keluar dari bangunan induk itu, diikuti oleh Bwe Kiok Hwa yang masih memegang pedang. Tidak sukar mencari tempat yang dimaksudkan karena dari atas sudah tampak lereng di bagian utara yang mengepulkan asap tanda kebakaran.
  Semua anak buah Ban-hwa-pang tampak berlari-larian ke arah itu.
  “Bawa peralatan untuk memadamkan kebakaran!” teriak Li Ai. .
  “Bawa kayu-kayu pemukul dan air!” teriak pula Cu An.
  Para anggauta Ban-hwa-pang itu mentaati perintah ini dan ramai-ramai mereka lari ke lereng utara sambil membawa alat-alat untuk memadamkan kebakaran.
  Setelah mereka berdua menuruni lereng itu, Li Ai dan Cu An melihat sekitar duapuluh orang laki-laki, dipimpin seorang laki-laki tua bermuka penuh berewok yang memegang sepasang golok, sedang berkelahi melawan puluhan orang wanita anggauta Ban-hwa-pang. Karena para anggauta wanita Ban-hwa-pang baru sekitar setahun lebih belajar ilmu silat, mereka tampak kewalahan menghadapi serbukan gerombolan laki-laki yang tampak buas itu.
  Namun, karena yang menggembleng mereka adalah Hwe-thian Mo-li, maka dalam setahun itu mereka telah memperoleh tenaga dan kegesitan yang lumayan sehingga walaupun terdesak hebat, mereka masih mampu melakukan perlawanan. Sementara itu, para anggauta lain sibuk memadamkan api agar jangan menjalar ke atas.
  “Kongcu, mari kita hajar mereka!” kata Li Ai dan tanpa menanti jawaban gadis ini sudah mencabut pedangnya dan menerjang para penyerbu, diikuti Cu An yang juga sudah mencabut pedangnya.
  Dua orang muda ini menerjang dan mengamuk dengan hebatnya. Biarpun Li Ai tidaklah sehebat Cu An ilmu pedangnya, namun karena marah dan penuh semangat, gerakan Li Ai amat ganas. Pedangnya berkelebatan seperti halilintar menyambar-nyambar. Juga gerakan pedang Cu An amat kuat sehingga sebentar saja enam orang penyerbu telah roboh oleh pedang sepasang orang muda ini.
  Hal ini membakar semangat para anggauta wanita Ban-hwa-pang dan mereka melawan dengan lebih gigih.
  Sebaliknya, para penyerbu menjadi terkejut bukan main.
  Memang sebagian besar dari mereka sudah jerih terhadap nama Hwe-thian Mo-li. Mereka baru berani diajak menyerbu oleh pemimpin baru mereka setelah mendengar bahwa Hwe-thian Mo-li sedang tidak berada di Ban- hwa-kok. Akan tetapi ternyata sekarang muncul sepasang orang muda yang demikian ganas dan lihai ilmu pedangnya! Hal ini membuat nyali mereka menjadi semakin mengecil.
  Li Ai dan Cu An kini menerjang ke arah pemimpin gerombolan yang mukanya penuh berewok itu. Dia ini dahulunya merupakan pembantu utama Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang yang telah terbunuh oleh Hwe- thian Mo-li. Semua anggauta Ban-hwa-pang berikut ketuanya telah dibasmi dan dibunuh habis oleh Hwe-thian Mo-li yang menjadi seperti gila dan mengamuk setelah merasa dirinya dinodai dan Si Berewok ini adalah salah satu di antara beberapa orang saja yang sempat melarikan diri, walaupun terluka parah.
  Kini, dia mengumpulkan teman-teman para perampok untuk membalas dendam, membakar dan mencoba untuk menguasai kembali Ban-hwa-pang. Akan tetapi tidak disangkanya bahwa di situ terdapat Li Ai dan Cu An yang cukup lihai sehingga pihak mereka yang kini terdesak hebat.
  Si Berewok cukup lihai. Andaikata yang melawannya hanya Li Ai atau Cu An sendiri, kiranya dia tidak akan mudah dikalahkan. Akan tetapi kini dua orang muda itu maju bersama dan mereka saling melindungi dan saling bantu karena memang ada perasaan yang dekat dan saling menyayang di antara keduanya, maka pertahanan maupun penyerangan mereka dapat disatukan dan menjadi terlalu kuat bagi Si Berewok.
  Setelah melawan mati-matian selama duapuluh jurus, akhirnya Si Berewok roboh terkena sabetan pedang Li Ai dan tusukan pedang Cu An. Dia roboh dan tewas.
  Melihat ini, sisa para gerombolan menjadi panik, sebaliknya para wanita anggauta Ban-hwa-pang menjadi semakin bersemangat. Bagaikan harimau-harimau betina mereka berteriak-teriak menerjang sisa gerombolan, dipimpin Li Ai dan Cu An sehingga akhirnya semua anggauta gerombolan yang menyerbu telah dapat dirobohkan dan ditewaskan! Para wanita itu bersorak gembira karena kemenangan ini, kemenangan dalam pertempuran yang pertama kali mempertahankan tempat kediaman mereka! Hanya ada enam orang wanita rekan mereka yang terluka.
  Mereka segera dirawat dan atas perintah Li Ai, semua mayat para gerombolan itu dikubur dalam beberapa lubang, jauh di kaki bukit Ban-hwa-san.
  Li Ai dan Cu An berjalan berdampingan naik kembali ke puncak Ban-hwa-kok. Sejak itu, mereka merasa semakin dekat satu kepada yang lain. Terasa suatu kemesraan yang amat membahagiakan hati mereka.
  Wajah mereka cerah penuh senyum, terutama setiap kali pandang mata mereka saling bertemu dan bertaut.
  Walaupun mulut mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sinar mata mereka telah mengutarakan seluruh isi hati mereka yang dapat mereka tangkap dan mengerti sedalam-dalamnya.
  Mereka saling jatuh cinta! Ada perasaan bahagia yang mendalam, namun kebahagiaan yang mendatangkan duka apabila mereka mengingat akan keadaan diri masing-masing. Li Ai teringat akan keadaan dirinya yang sudah ternoda, dan Cu An teringat akan keadaan dirinya sebagai putera seorang pengkhianat dan pemberontak! Akan tetapi peristiwa penyerbuan gerombolan itu membuat Cu An mendapatkan alasan dan kesempatan untuk bermalam satu malam lagi di Ban-hwa-kok, dalam waktu itu membuka peluang bagi mereka untuk saling memperlihatkan perasaan hati masing-masing, walaupun hanya melalui pandang mata dan senyum penuh madu. Tanpa bicara pun mereka yakin bahwa mereka saling mencinta. Mereka makan siang, lalu makan malam bersama.
  Pada keesokan harinya, setelah mandi dan makan pagi, suasananya diliputi keharuan dan kes edihan karena saatnya telah tiba bagi mereka untuk saling berpisah. Pagi itu setelah sarapan, Cu An harus meninggalkan Ban- hwa-pang, menyusul gurunya ke kota raja! Mereka berdua sarapan, akan tetapi tidaklah senikmat biasanya.
  Bahkan rasanya sukar menelan makanan menghadapi perpisahan di depan mata.
  Setelah selesai makan, Cu An berkata lirih. “Sekarang aku harus berkemas......”
  “...... Kongcu...... mengapa tergesa-gesa? Hari masih amat pagi.”
  Cu An memandang wajah gadis itu dengan sinar mata tajam. “Nona Kui, setelah apa yang kita alami bersama, rasanya kaku dan tidak enak mendengar engkau masih menyebut aku Kongcu.”
  “Engkau pun menyebut aku Siocia......” bantah Li Ai.
  Cu An tersenyum dan gadis itu pun ikut tersenyum pula. Tanpa bicara lagi mereka sudah saling mengetahui isi hati masing-masing yang ingin mendapatkan sebutan yang lebih akrab lagi, bukan sebutan bersopan-sopan seperti dua orang yang asing satu sama lain.
  “Baiklah mulai sekarang, aku akan menyebutmu Moi-moi (Adik Perempuan), bolehkah, Ai-moi?”
  “Tentu saja, dan aku akan senang kalau boleh menyebutmu An-ko (Kakak Laki-laki An).”
  Keduanya saling tersenyum lagi dan kini pandang mata mereka lebih leluasa mengirim sinar-sinar kasih.
  “Sekarang aku harus berkemas dan siap untuk turun dari sini, Ai-moi.”
  “Baiklah, silakan An-ko.”
  Cu An lalu memasuki kamarnya dan mengemasi buntalan pakaiannya. Setelah dia keluar, dia melihat Li Ai sudah menunggunya dan ketika dia menuruni puncak bukit itu, Li Ai mengantarnya dan berjalan di sampingnya, sebagai pengantar dan penunjuk jalan karena jalan menurun itu penuh jebakan dan perangkap.
  Mereka berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap.
  “Aku merasa senang dan berbahagia sekali dapat berkenalan denganmu, Ai-moi.”
  “Aku pun merasa senang dan terhormat dapat bertemu dan berkenalan denganmu, An-ko. Engkau seorang putera pangeran yang terhormat dan berkedudukan tinggi, sedangkan aku......”
  “Hushh, jangan berkata begitu, Ai-moi,” kata Cu An sambil memegang tangan kiri gadis itu yang berjalan di samping kanannya.
  Merasa betapa tangan kirinya dipegang erat, Li Ai terkejut akan tetapi biarpun hatinya menolak, jari-jari tangannya dengan hangat membalas genggaman tangan pemuda yang kokoh kuat itu.
  “Aku bicara sejujurya, An-ko. Bahkan berjalan berdua begini saja sebetulnya tidak pantas bagiku......”


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 58

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×