Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 62

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

suku bangsa Hui.
  Pangeran Bouw Ji Kong tidak mengadakan gerakan, maklum bahwa Jenderal Chang yang diserahi tugas menangkap para pembunuh mengadakan penjagaan yang amat ketat. Akan tetapi diam-diam Pangeran Bouw masih mengadakan hubungan dengan pihak Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw, dan persekutuan ini mengadakan pemusatan kekuatan baru di dalam hutan di Bukit Cemara yang terletak di sebelah barat kota raja.
  Bukit Cemara itu penuh dengan hutan lebat, maka amat baik dijadikan markas dan tempat persembunyian.
  Apalagi di bukit itu terdapat banyak guha-guha yang oleh para anggauta Pek-lian-kauw telah dibuat terowongan-terowongan. Juga di situ dibuat perangkap dan jebakan yang berbahaya karena para anggauta Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw memang ahli dalam membuat jebakan-jebakan dan penyebaran racun.
  Menurut Pangeran Bouw Ji Kong, pihak Pek-lian-kauw sudah dipesan agar jangan membuat gerakan lebih dulu karena pertahanan di kota raja amat kuat. Dianjurkan agar pihak pemberontak itu menanti tanda darinya karena dia hendak menyusun siasat baru agar keadaan di kota raja kacau dan dalam keadaan kacau di mana pertahanannya melemah, barulah pasukan Pek-lian-kauw akan melakukan penyerbuan.
  Akan tetapi pangeran Bouw Ji kong terlalu memandang remeh kecerdikan Jenderal Chang Ku Cing. Secara diam-diam jenderal yang pandai dan berpengalaman ini mengalihkan perhatiannya ke luar kota raja, menyebar para penyelidik yang pilihan sehingga akhirnya dia mendapatkan keterangan bahwa bukit Cemara menjadi sarang para gerombolan pemberontak. Bahkan tanpa adanya kebocoran gerakan pembersihan yang dilakukan pagi hari itu berjalan dengan sempurna. Para pemberontak baru tahu setelah bukit itu dikepung pasukan kerajaan! Bukit Cemara itupun geger! Terjadi pertempuran di seluruh permukaan bukit. Pertempuran mati-matian yang amat dahsyat, campur aduk sehingga kedua pihak tidak mungkin dapat mempergunakan senjata anak panah karena besar kemungkinan akan mengenai kawan sendiri.
  Banyak perajurit kerajaan terjebak perangkap dan berjatuhan, ada pula yang terkena ledakan dari alat-alat peledak yang dipasang orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan tetapi karena jumlah pasukan kerajaan hampir dua kali lipat besarnya maka di pihak pemberontak lebih banyak lagi yang jatuh korban. Apalagi di situ ada Hwe- thian Mo-li, Sim Tek Kun, Chang Hong Bu yang membantu para perwira, mengamuk seperti tiga ekor naga sakti.
  Pangeran Bouw Ji Kong terkejut mendengar bahwa pasukan kerajaan menyerbu tempat yang dijadikan sarang kaum Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw di Bukit Cemara. Dia tentu saja mengetahui bahwa mereka itu adalah sisa para anak buah Pek-lian-kauw cabang Liauw-ning yang berada di sebelah timur Peking, dan sebagian lagi sisa anak buah Ngo-lian-kauw di Po-teng.
  Dia cukup cerdik sehingga pangeran itu tidak menaruh orang-orangnya di hutan itu, sehingga tidak perlu khawatir rahasianya bersekutu dengan mereka akan diketahui pemerintah. Kang-lam Jit-sian yang menjadi para jagoannya hanya dikenal sebagai para pengawal pribadinya.
  Bagaimanapun juga, Pangeran Bouw Ji Kong masih mengharapkan pertempuran itu akan merugikan pasukan kerajaan karena dia tahu bahwa di antara para pimpinan Pek-lian-kauw, terdapat beberapa orang pendeta Pek-lian-kauw yang sakti, di antaranya terdapat dua orang tokoh yang dikirim dari pusat Pek-lian-kauw, yang berjuluk Thian-te Lo-mo (Iblis Tua langit dan Bumi) terdiri dari dua orang kakek pendeta Pek-lian-kauw.
  Seorang berjuluk Thian Lo-mo (Iblis Tua langit) yang bermuka putih seperti kapur dan Tee Lo-mo (Iblis Tua bumi) yang bermuka hitam seperti arang. Sepasang kakek berusia sekitar enampuluh tahun ini merupakan pasangan yang amat hebat, selain memiliki ilmu silat tinggi juga mereka berdua mahir menggunakan ilmu sihir.
  Memang dua orang pendeta Pek-lian-kauw ini lihai bukan main. Ketika pasukan kerajaan datang menyerbu, mereka berdua mengamuk dan sepak terjang mereka menggiriskan semua orang. Bukan saja golok besar mereka itu bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk di angkasa, akan tetapi juga mereka berdua dapat mengadakan awan dan halilintar dari sihir mereka yang membuat para perajurit gentar dan banyak yang roboh oleh mereka. Akan tetapi tiba-tiba muncul tiga orang muda itu! Hwe-thian Mo-li sudah berkelebat dan pedang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) di tangannya menyambar bagaikan halilintar, menangkis golok besar di tangan Thian Lo-mo.
  “Tranggg......!” Thian Lo-mo yang sedang mengamuk dan sudah membunuh delapan orang perajurit itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada halilintar menyambar dan goloknya terpental, tangan kanannya terasa panas sehingga hampir saja dia melepaskan gagang golok yang dipegangnya itu. Ketika dia melompat ke samping dan cepat memutar tubuh, dia berhadapan dengan seorang gadis cantik yang gagah perkasa.
  Gadis berusia sekitar duapuluh tiga tahun, tubuhnya padat ramping dan indah menggairahkan, rambutnya hitam panjang ikal mayang dengan anak rambut berjuntai lembut di dahi dan kedua pelipisnya. Matanya bagaikan sepasang bintang kejora. Hidungnya mancung kecil dan mulutnya merupakan daya tarik yang amat menggairahkan. Seorang gadis yang benar-benar jelita namun juga tampak gagah berwibawa.
  Thian Lo-mo sudah mendengar akan nama besar Hwe-thian Mo-li, maka begitu berhadapan dengan Siang Lan dan merasakan tangkisan pedang Lui-kong-kiam tadi, dia membentak.
  “Engkaukah yang berjuluk Hwe-thian Mo-li?”
  “Benar, aku Hwe-thian Mo-li yang telah datang untuk membasmi pemberontak jahat macam kalian!”
  “Perempuan hina! Engkau telah membunuh sahabat-sahabat kami Ngo-lian Heng-te dan beberapa orang saudara kami dari Pek-lian-kauw sekarang rasakan pembalasan kami! Tee Lo-mo, ini musuh kita Hwe-thian Mo- li!” teriak Thian Lo-mo dengan marah sekali.
  Pada saat itu, seorang kakek lain yang bermuka hitam arang datang menerjang dengan golok besarnya. Hwe- thian Mo-li cepat mengelak dan ia pun segera menggerakkan pedangnya, menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu. Ternyata mereka berdua itu tangguh sekali setelah maju bersama. Bukan hanya ilmu golok mereka yang amat kuat, namun juga tangan kiri mereka seringkali melancarkan pukulan dorongan jarak jauh yang mendatangkan angin kuat dan menghembuskan uap.
  Uap putih keluar dari telapak tangan Thian Lo-mo dan uap hitam keluar dari tangan Tee Lo-mo! Betapa pun lihainya, Siang Lan terdesak oleh pengeroyokan dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu.
  Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dua orang pemuda sudah menerjang maju membantu Siang Lan. Mereka adalah Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu yang tadi mengamuk merobohkan banyak anak buah Pek-lian-kauw dan melihat betapa Siang Lan menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Pek-lian- kauw yang lihai, mereka berdua menerjang maju dan menyerang Thian Lo-mo! “Trang-cringgg......!” Thian Lo-mo terhuyung ke belakang ketika dia menangkis dua sinar pedang itu dengan goloknya. Dia terkejut sekali akan tetapi segera menghadapi serangan dua orang pemuda yang memiliki gerakan pedang amat hebat. Diam-diam dia mengeluh karena dia benar-benar menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh. Melawan seorang saja dari mereka sudah cukup berat apalagi mereka itu maju bersama.
  Sim Tek Kun adalah seorang murid Kun-lun-pai, sedangkan Chang Hong Bu adalah seorang pendekar Siauw-lim- pai! Tentu saja Thian Lo-mo terdesak hebat dan hanya dapat melindungi diri dengan putaran golok besarnya sambil terus bergerak mundur.
  Sementara itu, ditinggalkan seorang diri melawan Hwe-thian Mo-li yang memiliki ilmu pedang amat dahsyat itu, Tee Lo-mo juga segera terdesak hebat. Pengerahan tenaga sihir dan permainan goloknya semua dikeluarkan namun sia-sia belaka, dia tidak mampu menghindarkan semua sambaran kilat halilintar dari pedang gadis itu dan setelah lewat duapuluh jurus, pedang Siang Lan menyambar lehernya dan Tee Lo-mo roboh dan tewas seketika! Siang Lan tidak mempedulikannya lagi dan cepat ia mencari dua orang pemuda yang tadi bertanding mengeroyok Thian Lo-mo. Tak jauh dari situ ia melihat dua orang itu baru saja merobohkan Thian Lo-mo yang tewas terkena sambaran pedang jago-jago muda dari Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai itu.
  Pertempuran berlangsung seru, akan tetapi setelah dua orang tokoh besar Pek-lian-kauw itu tewas, semangat para pemberontak menjadi lemah. Mereka masih melawan mati-matian dan bertahan sampai tengah hari, akan tetapi ketika satu demi satu para pimpinan mereka roboh dan banyak rekan-rekan mereka berjatuhan, mereka menjadi panik.
  Akhirnya, tak dapat mereka pertahankan lagi dan mulailah mereka melarikan diri cerai-berai. Ada yang mencoba untuk bertahan dalam terowongan-terowongan, ada pula yang melarikan diri menggunakan alat peledak yang mengeluarkan asap tebal. Akan tetapi, akhirnya paling banyak hanya seratus orang saja dari mereka yang berhasil lolos dan melarikan diri. Lainnya roboh tewas atau luka dan tertawan.
  Biarpun di pihak pasukan pemerintah ada pula yang gugur, namun pasukan pemerintah memperoleh kemenangan dalam pertempuran itu dan mereka bersorak gembira ketika membakar bekas-bekas sarang gerombolan di Bukit Cemara itu. Hampir semua pemimpin gerombolan tewas dalam pertempuran itu.


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 62

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×