Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 63

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

Dewi Ular - Perang Gaib Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal Tarian Liar Naga Sakti VII - Marshall Rumah Yang Terpencil (A Very Quiet Place) - Andrew Garve GAIJIN Oleh : Marc Olden

11.31. Gadis Desa Penjual Silat Akan tetapi, diam-diam Hwe-thian Mo-li dan dua orang pemuda perkasa, Sim Tek Kun dan Chang Hong Bu, tiga para perwira tinggi yang memimpin pasukan pemerintah, kecewa karena mereka tidak menemukan para pembunuh yang dicari-cari oleh Jenderal Chang. Tadinya Siang Lan menduga bahwa dua orang Thian-te Lo-mo adalah pembunuh-pembunuh itu, akan tetapi setelah ia bersama Tek Kun dan Hong Bu menewaskan mereka, ia menduga bahwa para pembunuh itu bukan mereka dan agaknya tidak ikut dalam gerombolan yang telah dibasmi itu.
  Biarpun demikian, Jenderal Chang Ku Cing merasa gembira akan keberhasilan operasi pembasmian gerombolan pemberontak itu. Hal ini setidaknya membuat para pemberontak menjadi jerih dan tidak berani main-main di kota raja. Dan dia pun tetap meningkatkan penjagaan karena siapa tahu, para pemberontak akan melakukan kekacauan seperti itu pula, ialah membunuhi para pejabat tinggi.
  Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan ditahan oleh Ong Lian Hong untuk sementara agar tinggal di rumah mereka.
  Selain Lian Hong merasa rindu kepada enci angkatnya itu, iapun mempunyai niat yang kuat untuk mendekatkan dan menjodohkan Nyo Siang Lan dengan Chang Hong Bu. Ia merasa bahwa pemuda keponakan Jenderal Chang itu merupakan jodoh yang tepat sekali bagi Nyo Siang Lan. Maka ia membujuk suaminya untuk menyetujui kalau mereka mengundang Hong Bu untuk datang bertamu dan bermain di rumah mereka agar memberi kesempatan sebanyaknya kepada dua orang muda itu untuk saling berkenalan lebih akrab lagi.
  Bahkan Sim Tek Kun terpaksa memenuhi permintaan yang sangat dari isterinya untuk diam-diam menghubungi Jenderal Chang Ku Cing dan mengajukan usul mereka untuk menjodohkan Chang Hong Bu dengan Nyo Siang Lan. Jenderal Chang Ku Cing dengan sendirinya merasa setuju sekali karena dia memang pengagum besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Dia menyatakan persetujuannya dan berjanji untuk membicarakan hal itu kepada keponakannya.
  ◄Y► “Enci Lan, aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi Ibu kandungku dan kakek serta Nenekku. Maukah engkau?” Pada pagi hari itu Lian Hong berkata kepada Siang Lan setelah mereka sarapan pagi.
  “Kalian berdua pergilah, aku sendiri harus menghadap Paman Jenderal Chang yang kemarin memesan agar aku pagi ini berkunjung kepadanya karena ada urusan penting yang akan dibicarakan.”
  Lian Hong tersenyum, maklum bahwa yang akan dibicarakan suaminya dan Jenderal Chang Ku Cing adalah urusan perjodohan antara Chang Hong Bu dan Nyo Siang Lan seperti yang mereka rencanakan. Akan tetapi ia diam saja karena hal itu masih mereka rahasiakan terhadap Siang Lan sendiri. Mereka masih khawatir kalau- kalau Siang Lan akan merasa tersinggung dan marah.
  Mereka menghendaki agar hubungan antara Siang Lan dan Hong Bu terjadi secara wajar dan timbul keakraban dan kasih sayang di antara mereka. Kalau sudah begitu keadaannya, maka mudahlah bagi mereka untuk mengusulkan perjodohan tanpa menyinggung perasaan gadis yang keras hati itu.
  Siang Lan terkejut akan tetapi juga gembira dan tegang hatinya mendengar disebutnya ibu kandung Lian Hong.
  Ibu kandung Lian Hong berarti isteri mendiang gurunya, Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri! “Ah, aku akan merasa senang dan terhormat sekali bertemu dengan ibu kandungmu atau isteri mendiang Guruku, Hong-moi!” katanya. “Di mana beliau tinggal?”
  “Ibuku tinggal di rumah Kakekku, yaitu Jaksa Ciok Gun. Dahulu Kakekku adalah Jaksa di Hun-la m, akan tetapi sudah lama beliau pindah ke kota raja dan menjadi jaksa di daerah bagian selatan kota raja.”
  Demikianlah, dengan gembira dua orang wanita itu lalu menuju ke bagian selatan kota raja, ke rumah Jaksa Ciok yang menjadi kakek Ong Lian Hong. Seperti kita ketahui, Ciok Bwe Kim, yaitu ibu kandung Ong Lian Hong, kini tinggal bersama ayahnya, Jaksa Ciok Gun itu. Mereka naik kereta karena Ong Lian Hong adalah mantu Pangeran Sim Liok Ong, jadi ia kini termasuk seorang wanita bangsawan yang tentu saja tidak pantas kalau melakukan perjalanan dengan jalan kaki! Dua orang wanita cantik itu disambut dengan gembira bukan main oleh keluarga Ciok. Jaksa Ciok sudah lama mendengar dan mengagumi nama besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, apalagi gadis perkasa itu adalah murid mantunya, mendiang Ong Han Cu. Juga Nyonya Ciok Bwe Kim yang kini telah berusia empatpuluh tahun lebih dan masih tampak cantik itu, merasa girang dan terharu sekali. Ia pun sudah banyak mendengar tentang Nyo Siang Lan, sebagai murid tersayang mendiang suaminya.
  Siang Lan dihormati dan disanjung, diterima dengan pesta makan keluarga sehingga gadis itu merasa senang dan berterima kasih. Ternyata bukan hanya mendiang gurunya saja yang baik terhadap dirinya, melainkan juga isteri gurunya dan keluarganya. Baru lewat tengah hari mereka berdua naik kereta meninggalkan gedung tempat tinggal Jaksa Ciok Gun untuk kembali ke rumah Pangeran Sim Liok Ong.
  Ketika kereta tiba di dekat lapangan terbuka di depan pasar, di seberang jembatan besar, Siang Lan melihat banyak orang berkerumun dan terdengar suara tambur dan canang dipukul seperti biasa dilakukan para penjual obat yang biasa mendemonstrasikan ilmu silat untuk menarik minat penonton agar suka membeli obat yang mereka tawarkan. Mendengar pukulan tambur dan canang yang berirama gagah dan mengandung tenaga, Siang Lan tertarik dan menyuruh kusir kereta menghentikan keretanya. Lian Hong tertawa melihat encinya seperti kanak-kanak hendak menonton penjual obat, akan tetapi ia pun ikut turun dan bergembira bersama Siang Lan menghampiri kerumunan orang banyak itu.
  Beberapa orang penonton memberi tempat kepada dua orang gadis itu di depan. Mereka menyingkir dengan sopan ketika melihat bahwa dua orang gadis jelita yang hendak menonton itu turun dari kereta dan melihat sikap mereka seperti gadis-gadis bangsawan.
  Siang Lan dan Lian Hong kini melihat dengan hati tertarik. Ternyata yang dijadikan tontonan itu adalah seorang gadis muda belia dan seorang kakek yang rambutnya sudah putih. Gadis itu cantik manis, usianya kitar tujuhbelas atau delapanbelas tahun, pakaiannya sederhana dan rapi serba ketat sehingga menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya yang laksana bunga sedang mulai mekar.
  Adapun kakek tentu sudah berusia sekitar enampuluh tiga tahun, wajahnya tampak ada garis-garis penderitaan, rambutnya putih semua, tampaknya lemah dan pakaiannya juga sederhana seperti pakaian petani. Kakek itulah yang menabuh canang, sedangkan gadis itu dengan gerakan gagah dan mengandung tenaga, menabuh tambur yang bunyinya seperti derap kaki pasukan atau seperti permainan barong-sai.
  Setelah melihat betapa banyak orang mengerumuninya, kakek itu memberi isyarat kepada si Gadis dan mereka menghentikan bunyi-bunyian itu. Kakek itu lalu memberi hormat sambil membungkuk ke empat penjuru.
  Mulailah orang-orang ramai bicara sendiri dan terdengar suara, “Mana obat yang dijualnya?”
  Setelah memberi hormat ke empat penjuru, terdengar suara kakek itu, suaranya lemah dan tidak lantang. “Cu- wi (Saudara Sekalian) yang terhormat. Sebelumnya kami berdua kakek dan cucu mohon maaf kepada Cu-wi.
  Kami bukan penjual obat, kami tidak mempunyai sesuatu untuk ditawarkan dan dijual. Akan tetapi karena dalam melakukan perjalanan ini kami kehabisan bekal, maka kami hanya mohon kedermawanan Cu-wi untuk memberi sumbangan dan kami hanya dapat menyuguhkan beberapa permainan silat dari cucu kami yang masih bodoh. Sekali lagi, kalau pertunjukan cucu kami tidak berharga, mohon Cu-wi memaafkan kami.”
  Setelah berkata demikian, kakek itu mengambil tambur dari tangan cucunya, lalu mulai menabuh tambur itu dengan pukulan yang lemah. Siang Lan dan Lian Hong melihat bahwa pukulan tambur kakek itu sama sekali berbeda dengan pukulan cucunya yang mengandung tenaga cukup kuat sehingga mereka berdua sudah mengetahui bahwa agaknya hanya Sang Cucu itu yang mahir ilmu silat sedangkan sang Kakek adalah seorang petani biasa yang lemah.
  Kini gadis manis itu berdiri tegak lalu memberi hormat keempat penjuru dengan merangkap kedua tangan depan dada. Setelah itu ia mulai bersilat. Gerakannya cukup ringan, cepat dan mengandung tenaga.
  Bagi Siang Lan dan Lian Hong, gerakan silat gadis itu biasa saja dan belum cukup tinggi, akan tetapi keduanya terkejut dan tertarik sekali karena mengenal bahwa ilmu silat yang dimainkan gadis itu adalah ilmu silat Kun- lun-pai! Gadis itu memiliki ilmu silat aliran Kun-lun-pai, satu perguruan dengan Sim Tek Kun! Tentu saja hal ini amat menarik perhatian mereka, terutama sekali perhatian Lian Hong karena gadis itu masih memiliki hubungan seperguruan dengan suaminya. Akan tetapi ketika ia hendak menyapa, lengannya dipegang Siang Lan dan Hwe-thian Mo-li memberi isyarat agar adik angkatnya itu diam dan melihat saja perkembangannya.
  Setelah gadis itu selesai bersilat selama belasan jurus dan berhenti bergerak, terdengar tepuk tangan memuji dari para penonton. Bagi para penonton, terutama yang tidak mahir ilmu silat, permainan silat itu cukup mengagumkan, apalagi karena memang gadis itu cukup cantik dan terutama sekali memiliki bentuk tubuh yang denok menggairahkan hati pria, terutama yang memiliki watak mata keranjang.
  Pada saat itu Sang Kakek membawa sebuah caping lebar yang ditelentangkan dan dia berjalan menghampiri para penonton dan mengelilingi tempat itu sambil mengacungkan caping mohon sumbangan. Hampir semua orang melemparkan sepotong atau sekeping uang ke dalam caping, yang diterima dengan wajah berseri dan muka mengangguk-angguk oleh kakek itu. Setelah berputar sekeliling dan sudah cukup banyak uang terkumpul dalam caping, kakek itu lalu melangkah ke tengah lapangan, meletakkan capingnya di atas tanah lalu dia memberi hormat lagi ke empat penjuru.
  “Banyak terima kasih atas sumbangan Cu-wi. Sudah sering kami mendengar bahwa para penghuni kota raja adalah orang-orang dermawan, dan baru siang hari ini kami melihat buktinya. Terima kasih banyak, sumbangan Cu-wi dapat menyambung hidup kami selama beberapa hari.”
  Tiba-tiba muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dari kerumunan penonton. Dia seorang laki-laki berusia sedikitnya tigapuluh lima tahun, wajahnya bopeng (bekas cacar) dan matanya lebar, tubuhnya kokoh kuat dan wajahnya bengis. Dia sudah berdiri dekat kakek itu dan berkata dengan suaranya yang lantang.
  “Enak saja engkau orang tua mengumpulkan uang orang tanpa memberi sesuatu! Ini namanya penipuan! Orang menerima


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 63

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×