Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Lembah Selaksa Bunga - 64

Cerita Silat | Lembah Selaksa Bunga | Karya Kho Ping Hoo | Lembah Selaksa Bunga | Cersil Sakti | Lembah Selaksa Bunga pdf

A Painted House (Rumah Bercat Putih) - John Grisham Tikam Samurai (tamat) - Makmur Hendrik Eragon (The Inheritance Cycle 1) karya Christopher Paolini Serial The Inheritance Cycle Eldest (The Inheritance Cycle 2) karya Christopher Paolini

uang harus memberi sesuatu, akan tetapi kalian tidak memberi apa-apa, obat juga tidak.
  Bagaimana mau enaknya saja mengambil uang orang-orang? Engkau penipu!”
  Kakek itu memandang dengan kaget. “Tuan, maaf, kami memang tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan.
  Akan tetapi cucu saya tadi sudah menghibur dengan permainan silatnya......”
  “Huh, apa artinya menonton gerakan silat yang begitu saja? Biasanya untuk menghibur orang-orang diadakan pertunjukan yang lebih ramai, setidaknya untuk permainan silat diadakan pertunjukan pi-bu (adu ilmu silat).
  Kalau ada pi-bu, nah, itu baru namanya pertunjukan dan kami semua akan senang mengeluarkan uang. Akan tetapi kalian ini tidak memberi pertunjukan apa-apa. Kalau mau mengemis, lakukan saja seperti biasa, duduk berjongkok di tepi jalan dan mengacungkan tangan mohon sedekah!”
  Di antara para penonton, terdapat pula banyak orang muda yang biasa bersikap berandalan. Mendengar ucapan itu mereka bersorak dan mentertawakan kakek yang tampak bengong ketakutan itu. Lian Hong sudah hendak maju, akan tetapi kembali Siang Lan menahan lengannya can menggelengkan kepalanya.
  Kini gadis manis itu menghampiri kakeknya dan berkata. “Kong-kong, minggirlah, biarkan aku yang bicara dengan Tuan ini.”
  Mendengar ini, kakek itu minggir dengan wajah pucat dan tampaknya dia gelisah sekali akan keselamatan cucunya.
  “Tuan, kami tidak mengenal Tuan, juga kami tidak mempunyai urusan denganmu, apalagi mengganggumu.
  Akan tetapi mengapa sekarang engkau hendak mengganggu kami yang hanya sekedar minta bantuan kepada para budiman ini karena bekal kami telah habis. Apa sih kesalahan kami kepadamu?”
  Si Tinggi Besar muka bopeng itu kini memandang kepada gadis itu sambil menyeringai. Mulutnya yang lebar terbuka dan dia memperlihatkan giginya yang besar-besar dan banyak yang rusak hitam, seperti seekor orang utan menyeringai.
  “Nona, engkau seorang gadis yang masih muda dan begini cantik, sungguh sayang Kakekmu membiarkan engkau mencari uang dengan menjadi tontonan. Akan tetapi karena engkau sudah memperlihatkan ilmu silatmu, aku menjadi tertarik dan aku menantangmu untuk melakukan pi-bu.”
  “Tuan, kami datang di sini bukan untuk mencari permusuhan, juga bukan untuk pamer kepandaian apalagi untuk pi-bu. Aku tidak mau melakukan pi-bu dengan siapapun juga,” jawab gadis itu dengan sikap tenang.
  “Ha-ha, kalau engkau yang sudah berani memperlihatkan ilmu silat menolak pi-bu, maka berarti engkau mengaku kalah. Sekarang begini saja, aku juga bukan orang yang mau menang sendiri. Disaksikan oleh semua penonton di sini, mari kita membuat pertaruhan begini. Kita bertanding pi-bu dengan tangan kosong.
  “Kalau aku kalah, maka uang sumbangan dalam caping itu akan kutambah lagi dengan lima tail perak dan engkau boleh bebas mencari sumbangan di sini. Akan tetapi kalau engkau kalah, uang dan ditambah lima tail perak tetap kuberikan kepadamu, akan tetapi engkau harus mau menjadi kekasihku selama satu bulan! Ha-ha, adil sekali, bukan?”
  Wajah gadis itu berubah merah sekali, akan tetapi ia masih tenang walaupun kakeknya tampak pucat dan gemetaran.
  “Hemm, begitukah keinginanmu? Dan bagaimana tandanya kalah atau menang?” tanya Si Gadis, sedangkan para penonton menjadi tegang dan memandang penuh perhatian. Sudah biasa bagi penonton, suka sekali mereka menyaksikan ketegangan, apalagi akan menyaksikan pi-bu dan di antara mereka bahkan sudah banyak yang diam-diam ikut bertaruh! “Tentu saja siapa yang roboh dianggap kalah!” kata laki-laki itu. “Ha-ha-ha, aku Si Tinju Maut Koan Sek kalau sampai kalah oleh Nona manis ini, mau mencium kakimu yang mungil, Nona!” Dia tertawa diikuti banyak pemuda yang tertawa secara kurang ajar.
  Melihat Lian Hong marah-marah, Siang Lan berbisik. “Kita lihat saja dulu. Simpan marahmu, kalau engkau marah dan benci, jangan-jangan anakmu kelak bisa seperti dia.”
  Diingatkan demikian, Lian Hong terkejut dan segera menenangkan diri karena ia merasa ngeri kalau sampai anaknya kelak keluar seperti si Bopeng itu. Diam-diam ia mengelus perutnya! Gadis itu memberi isyarat kepada kakeknya untuk menyingkirkan caping itu ke pinggir, kemudian ia mengikat sabuknya sehingga ketat melingkari pinggangnya yang ramping, menggulung lengan bajunya sampai ke siku.
  Kemudian ia berdiri dengan tenang, menanti lawannya dan setelah berhadapan, ia lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang itu dan berkata dengan suara lantang dan tegas.
  “Koan Sek, buka telingamu dan dengarkan baik-baik, disaksikan oleh semua penonton di sini, nonamu she Siauw akan mengucapkan pendirianku! Boleh jadi kakekku dan aku adalah orang-orang miskin berasal dari dusun, tidak memiliki kekayaan dan tidak memiliki kepandaian, melainkan orang-orang sederhana dan bodoh.
  Akan tetapi, ketahuilah, hai orang yang menjadi budak nafsu, kami adalah manusia-manusia yang masih memiliki kesusilaan, kesopanan, jalan kebenaran, yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, tidak sudi melakukan hal-hal yang rendah dan hina! “Engkau memaksa aku untuk pi-bu, kalau aku menolak tentu aku akan dianggap pengecut. Tidak, aku tidak menolak. Guruku mengajarkan aku selain ilmu silat juga tentang kegagahan dan harga diri. Kalau aku bisa menangkan pertandingan ini, aku tidak butuh uangmu, tidak butuh apa-apa darimu. Akan tetapi kalau aku kalah darimu, aku pun tidak sudi menuruti semua keinginanmu yang hina dan rendah. Kalau kau hendak bunuh aku, silakan, aku tidak takut mati membela kehormatan diriku!”
  Ucapan itu membuat Siang Lan dan Lian Hong tertegun dan terkagum-kagum. Bukan main gadis remaja ini.
  Demikian gagahnya seolah ia seorang pendekar besar saja! Dan agaknya banyak pula para penonton yang merasa kagum karena tepuk tangan riuh menyambut ucapan itu, membuat Koan Sek yang berjuluk Si Tinju Maut itu menjadi salah tingkah dan mukanya yang bopeng tampak hitam karena semua darah berkumpul di sana.
  “Gadis sombong, rasakan pukulan mautku!” Dia berseru dan mulai menyerang dengan pukulan yang amat kuat ke arah dada yang membusung itu.
  Baru pukulan ke arah dada gadis itu saja sudah merupakan cara serangan yang tidak mengenal sopan, padahal pertandingan itu hanyalah sebuah pi-bu. Jelas bahwa Koan Sek ini adalah golongan orang yang kasar dan kejam.
  “Wuuttt......!” Pukulan itu luput ketika gadis yang mengaku she Siauw itu mengelak dengan gerakannya yang cukup ringan. Akan tetapi tamparan ke arah dada yang luput itu dilanjutkan oleh Koan Sek dengan mencengkeram ke arah dada! Gadis itu menggerakkan tangan kanan dari luar dan menangkis.
  “Plakk!” Ia berhasil menangkis walaupun ia merasa betapa kuatnya lengan besar laki-laki itu sehingga tubuhnya agak condong ke samping ketika lengan mereka bertemu. Akan tetapi gadis itu dengan sigapnya lalu menggerakkan kakinya menendang ke arah lambung lawan.
  “Wuuuttt...... plakk!” Koan Sek dapat, menangkis tendangan ini dan mereka segera saling serang dengan seru.
  Siang Lan dan Lian Hong melihat betapa gerakan gadis itu sudah baik dan aseli merupakan ilmu silat Kun-lun- pai, akan tetapi agaknya ia masih belum menguasai ilmu silatnya dengan matang. Gerakannya cukup lincah dan tubuhnya ringan, akan tetapi tenaganya masih kurang kuat sehingga tiap kali tangan atau kaki mereka berbenturan, tubuh gadis itu terhuyung mundur.
  Melihat ini, Koan Sek sudah tertawa-tawa mengejek. Sikap sombong dan memandang rendah lawan merupakan sikap yang dipantang oleh seorang ahli silat yang sudah mendalami ilmunya karena sikap ini mendatangkan kelengahan kepada dirinya sendiri.
  Hal ini terbukti ketika perkelahian itu telah berlangsung belasan jurus di mana Koan Sek terus mendesak gadis itu sambil tertawa-tawa dan mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh. Pada saat dia berhenti menyerang untuk tertawa bergelak, tiba-tiba tubuh gadis itu menyambar dengan cepat sekali sambil menendang dengan tubuh melompat tinggi! Koan Sek terkejut dan cepat ia menangkap kaki kiri gadis itu yang menyambar ke arah mukanya.
  “Plakk!” Dia berhasil menangkap pergelangan kaki kiri gadis itu, akan tetapi tiba-tiba kaki kanan gadis itu menendang dengan pengerahan seluruh tenaganya bertekankan kepada kaki kirinya yang ditangkap.
  “Wuuttt...... desss......!” Sepatu kaki kanan gadis itu tepat mengenai ulu hati Koan Sek sehingga tubuhnya terjengkang dan dia terbanting jatuh demikian kuatnya sehingga sejenak dia menjadi nanar dan matanya melihat segala sesuatu berputar-putar.
  Ketika mendengar sorak-sorai dan tepuk tangan penonton, dia menyadari keadaannya. Cepat dia melompat berdiri, menggoyang kepalanya mengusir kepeningan dan di lain saat dia telah mencabut sebatang golok dari pinggangnya!


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Lembah Selaksa Bunga - 64

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×