Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Tarian Liar Naga Sakti - 543

Tags: mereka
Cerita Silat | Tarian Liar Naga Sakti | by Marshall | Tarian Liar Naga Sakti | Cersil Sakti | Tarian Liar Naga Sakti pdf

The Fantasy Area Karya Angelia Putri Fiction Karya Angelia Putri Agatha Christie - Skandal Perjamuan Natal Dewi Ular - Perang Gaib Dewi Ular - Musibah Sebuah Kapal

“Imam Besar, ayahanda dan para sesepuh Kerajaan Tayli …… beberapa hari terakhir ini, kami mendengarkan laporan dari Panglima Perang dan Wakil Panglima Perang serta bahkan juga dari It Yang Hwesio. Pengepungan bala tentara Mongol sudah berlangsung selama beberapa bulan dan kini mereka tertahan selama 3 bulan lebih di Lembah Erhart. Sejauh ini pasukan kita mampu membinasakan pasukan lawan jauh lebih banyak, nyaris 3 kali lipat dari korban dipihak kita. Tetapi, jumlah pasukan mereka seperti tidak pernah berkurang, meski pada saat bersamaan, mereka juga menyerang Kerajaan Song. Karena itu, bantuan Kerajaan Song sulit untuk kita harapkan, padahal dengan jumlah pasukan kita dewasa ini yang terus berkurang, dikhawatirkan akan amat sulit bagi kita terus mempertahankan Lembah Erhart ……. artinya, jika perlawanan kita lanjutkan habis-habisan, maka besar kemungkinan akibatnya adalah kemusnahan kerajaan Tayli kita ini. Tetapi, jikapun kita menyerah kepada musuh, kita masih sangat buta dan gelap dengan kemungkinan apa gerangan yang akan kita hadapi kedepan. Karena konon, derap maju bala tentara Mongol, selalu mereka melakukan bumi hangus dan membunuh banyak rakyat jelata ketika mereka mampu menumbangkan dan menghancurkan kerajaan Cin.
  Hal ini yang menjadi soal yang selalu kupikirkan akhir-akhir ini …….. dan ….. aaachhhhh, mungkin Panglima Perang kita, adinda Toan Kui Yang dapat memberi gambaran lebih jauh berkaitan dengan apa yang kita hadapi di medan perang Lembah Erhart”
  Selesai berkata-kata, sang Raja, Toan Cu Ping memandang adiknya, Toan Kui Yang yang selama ini berjuang keras bersama keponakannya untuk terus membendung serangan bala tentara Mongolia.
  “Imam Besar … kakanda Raja dan seluruh sesepuh … jika bukan karena bentang alam Lembah Erhart, maka sudah lama bala tentara kita hancur oleh amukan bala tentara Mongol. Untung saja, dengan pasukan yang jauh lebih kecil kita mampu menahan dan membendung serangan bergelombang mereka. Korban di pihak mereka bisa 3,4 kali lipat korban di pihak kita ….. tetapi, entah mengapa jumlah mereka terus terasa tidak berkurang dan selalu menyerbu dengan kekuatan yang sama. Jika peperangan ini berlangsung lebih dari sebulan kedepan, terus terang sangat dikhawatirkan moral pasukan kita akan turun drastis. Banyak yang mereka bunuh, tetapi jumlah musuh seperti tidak pernah berkurang. Khawatirnya, jika mereka mengalihkan seluruh tentara mereka ke Tayli dan meninggalkan Kerajaan Song, maka seperti Kerajaan Cin, sangat mungkin kerajaan kita jatuh dibawah mereka. Ransum merekapun seperti tidak pernah berkurang .,,,,, kita seperti berhadapan dengan kekuatan yang tidak pernah berkurang dan selalu bertarung dan berperang untuk mengejar kemenangan. Sejujurnya, banyak pasukan kita yang mulai merasa letih dan moralnya turun …..
  hanya karena semangat yang selalu kami pompakan bahwa keluarga dan kerajaan Tayli menjadi taruhannya maka mereka masih tetap bertarung dan berjuang. Laporan terakhir, meski tentara bala tentara Mongol berkurang sampai sepuluh ribu, tetapi kekuatan mereka masih tetap jauh lebih kuat daripada pasukan kita.
  Bahkan, Kubilai sudah menitahkan untuk segera memenangkan pertempuran disini dalam sebulan kedepan ……”
  “Bagaimana perkiraan dan perhitunganmu dengan perbandingan kekuatan dengan mereka dan kondisi alam yang menguntungkan kita, apakah kita dapat bertahan hingga sebulan kedepan dan menggagalkan penyerangan mereka …..”? bertanya Thiat Sim Hwesio sambil memandang bertahan hingga sebulan kedepan dan menggagalkan penyerangan mereka …..”? bertanya Thiat Sim Hwesio sambil memandang Panglima Toan Kui Yang dengan wajah serius “Jika kondisi seperti ini bertahan hingga sebulan kedepan, maka pasukan mereka akan berkurang lebih dari 15 ribu orang, tetapi kitapun akan kehilangan pasukan lebih dari 5000 orang. Artinya, sudah hampir setengah pasukan kita hilang hanya untuk menahan serbuan mereka selama 4 bulan. Jika mereka terus menyerang, maka moral pasukan kita pasti akan semakin turun, padahal moral dan semangat bertarung musuh sungguh menakjubkan. Mereka seperti dilahirkan untuk berperang dan berperang. Karena itu, kita perlu memikirkan kelangsungan keturunan dan juga masa depan kerajaan kita saat ini ….” Jawab Toan Kui Yang yang dibenarkan dengan anggukan oleh keponakan yang juga adalah juga wakilnya.
  “Bagaimana dengan bantuan dari Kerajaan Song dan sekutu kita di Burma serta tetangga kita yang lainnya ...”? Bertanya kembali Thiat Sim Hwesio sambil memandang Toan Cu Ping sang Raja. Tetapi, bukan Toan Cu Ping yang menjawab melainkan It Yang Hwesio yang memang banyak pengalaman mengembara yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
  “Bala tentara Mongolia sudah lebih dahulu menyapu seluruh tetangganya, baik Tibet, Persia, bahkan hingga Nepal dan juga Burma. Sementara saat ini, mereka membuka front pertempuran dengan Kerajaan Song dan juga kerajaan kita, selain itu mengirim tentara untuk menaklukkan Koryu di semenanjung jauh sana. Bala tentara mereka memang terkenal sangat luar biasa, selain sangat banyak, sangat kuat, tangkas dan juga amat terlatih dan sudah berpengalaman. Tetapi yang sangat berbahaya adalah mereka terkenal buas dan sangat brutal terhadap musuh yang sudah mereka taklukkan. Menurut perhitunganku sendiri, Kerajaan Song sekalipun akan dapat mereka libas meski untuk itu mereka membutuhkan pengorbanan bala tentara yang luar biasa besarnya dan dalam waktu yang lama dan panjang. Jika kita masih dapat bertahan, sebenarnya karena keadaan alam yang tak biasa dan sulit dilintasi tanpa pengorbanan besar. Dengan kata lain, kita hanya dapa t mengandalkan keadaan alam kita dan bala tentara kita. Mengharapkan bantuan dari luar nyaris mustahil ………”
  It Yang Hwesio berkata dengan suara yang sama serius dan prihatinnya.
  “Hmmmm, jika memang demikian pandangan kalian semua, apakah artinya masa depan Kerajaan Tayli hanya akan sampai disini dan kemudian akan terhapuskan oleh strategi bumi hangus bala tentara Mongol itu ……”? bertanya kembali Thiat Bok Hwesio sambil memandang Toan Cu Ping, raja mereka.
  Toan Cu Ping sangat paham bahwa dia yang dituju oleh pertanyaan itu, dan harus memberikan jawaban atas situasi yang dihadapi. Sejujurnya, memang dia memikirkan persoalan tersebut siang dan malam selama sebulan terakhir. Apalagi ketika kedua panglimanya, baik adik maupun putra sulungnya memaparkan kondisi yang sama dengan yang sudah dijelaskan kepada semua sesepuh mereka, tidak ada hal yang disembunyikannya. Ketika ditanya dengan pertanyaan tersebut, dia tidak menjadi bingung dan pangling, dengan menarik nafas panjang diapun berkata: “Sejujurnya hingga saat ini, belum kulihat jalan keluar terbaik. Meminta bantuan Kaisar Song nyaris tidak mungkin, karena selain mereka juga sedang berperang, konon juga terjadi perpecahan diantara keluarga Kekaisaran sendiri. Memohon bantuan Negara tetangga, juga sama belaka, karena mereka menghadapi ancaman yang sama, atau bahkan sudah lebih dahulu dihancurkan. Satu-satunya harapan adalah mengoptimalkan keuntungan bentang alam kita dan menjaga moral bertarung pasukan kita. Tetapi, satu hal yang juga ingin kukemukakan untuk memperoleh persetujuan dewasa ini adalah mengenai kelangsungan keturunan keluarga TOAN kita ini ……… yakni, jika disetujui, penerus keluarga kita sudah saatnya kita kirimkan keluar untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Artinya, jikapun suatu saat benteng pertahanan kita bobol, kita tidak lagi kebingungan mengungsikan para penerus keluarga kita ……..”
  Semua terdiam. Kata-kata dan kalimat sang Raja sungguh mengarah ke pesimisme dan bukannya mencuatkan optimisme. Tetapi, siapapun dari mereka paham, bahwa TOAN CU PING bukanlah seorang penakut, melainkan seorang Pendekar Tayli yang sangat masyur dan terkenal. Jiwa kependekarannya sudah teruji. Ketika menjadi Raja, sisi itu tidaklah luntur, tetapi tetap dipertahankannya sampai saat ini. Jadi, jika sampai dia mengajukan ide seperti di atas, bukan karena dia takut. Sama sekali bukan. Tetapi memang benar demi memikirkan kelangsungan keluarga mereka, sebab jika suatu saat yang kelihatannya semakin mendekat, bahwa mereka pada akhirnya gagal dalam usaha membendung musuh, maka keturunan TOAN bakal putus ditangan mereka.
  Karena itu, mereka dapat melihat sisi sebaliknya, tetapi tentu saja tidak semua mereka berpikir seperti Toan Cu Ping. Tantangan atas idenya, justru segera muncul dan dari anak sulungnya sendiri, Toan Tiong Yang: “Maafkan Ayahanda ….. tetapi, bukankah itu merupakan sebuah kemunduran dan jika diketahui banyak orang sama saja dengan kita menunjukkan kelemahan keluarga kita dihadapan seluruh rakyat Tayli …..? Padahal, saat ini adalah masa untuk menaikkan moral mereka untuk melanjutkan perang …….”
  “Engkau benar anakku, tetapi tanggung jawab seorang Raja bukan hanya berpikir soal memenangkan pertempuran, tetapi memikirkan bagaimana kelanjutan setelah sebuah perang. Apakah perang itu kita menangkan ataupun kita terkalahkan. Selain itu, dalam tangan ayahmu ini, terantung masa depan keluarga TOAN kita, apakah akan sekaligus kupertaruhkan untuk kemenangan yang membanggakan ataukah kekalahan yang akan menghanguskan segenap generasi keluarga TOAN nantinya ……”
  Kedua pandangan yang memang bertolak belakang. Tetapi, masing-masing terdapat sisi kebenarannya. Karena itu, semua yang hadir mencoba untuk mencerna dua posisi yang bertolak belakang itu tanpa harus mempertentangkannya. Dan pada saat semua orang sedang termenung memikirkan apa yang akan terjadi dan memikirkan usulan yang bertolak belakang antara Raja Toan Cu Ping serta pantangan putra sulungnya tadi, tiba-tiba terdengar suara yang sudah sangat jarang mereka dengarkan. Suara dari Imam Besar, Thiat Sin Hwesio: “Cu Ping dan engkau Tiong Yang …… pandangan kalian berdua memang sekilas sangat bertolak belakang.
  Tetapi dengarkan dan segera lakukan sesuai keputusan kalian, apapun keputusan itu akan dapat kuterima dan dapat kubenarkan. Pandangan mata tuaku sudah dapat dengan jelas melihat dan memastikan, kurang dari enam bulan kedepan, Kerajaan Tayli kita sudah akan m enjadi bagian dari Kerajaan Mongol. Karena itu, pikirkanlah cara terbaik untuk mengurangi korban dan kerusakan parah di Kerajaan Tayli kita ini …….
  bagaimana caranya, itu adalah tugas dan tanggungjawab generasi kalian. Tetapi, ingatlah dan camkanlah …..
  kadang peperangan bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan segalanya, meski perang dibutuhkan tetapi sering bukan itu cara mengakhirinya. Kalian semua ingat itu ………”
  Untuk diketahui, Toan Ki atau yang kini merupakan Imam Besar adalah tokoh paling sepuh dan sekaligus, meski tak pernah disaksikan berkelahi, adalah tokoh yang paling hebat di Kerajaan Tayli. Kemampuannya dalam Ilmu Silat khas Tayli sudah boleh dikategorikan sempurna, sementara di usia yang semakin tinggi, dia diketahui sudah mampu menguasai ilmu sihir dan ilmu menerawang masa depan. Nyaris semua yang diucapkannya sejak memasuki usia ke-75 tidak ada yang meleset, sedikit yang meleset terjadi pada 10 tahun silam. Setelah itu, semua yang diucapkannya menjadi kenyataan dan kelihatannya apa yang “dinubuatkannya”
  bahwa Kerajaan Tayli


This post first appeared on Bidadari Pendekar Naga Sakti, please read the originial post: here

Share the post

Tarian Liar Naga Sakti - 543

×

Subscribe to Bidadari Pendekar Naga Sakti

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×