Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Stüssy, Nama Peselancar yang Akhirnya Menjadi Merek Streetwear Tenar di Dunia

Stüssy, Nama Peselancar yang Akhirnya Menjadi Merek Streetwear Tenar di Dunia — Siapa sangka, berawal dari aksi iseng Shawn Stüssy yang menulis namanya dengan gaya tulisan yang unik pada papan selancar buatannya dengan spidol, berlanjut menjadi bisnis. Kini namanya tersebut sudah menjadi apparel brand papan atas, terutama di kalangan streetwear dan hip hop. Tapi semuanya tak serta merta dimulai secara instan.

Kental dengan Background Surfing


Shawn Stüssy memang tumbuh besar di dunia surfing, dan mulai berkreasi dengan papan selancar dengan signature alias tanda tangannya sendiri di tahun 1979. Pada tahun 1983, temannya yang bernama Frank Sinatra Jr. (tak ada hubungannya dengan penyanyi Frank Sinatra, ya) kepincut melihat potensi Stüssy jika dikembangkan dalam bidang apparel. Apa yang dilihat Sinatra pada Stüssy bukanlah keuntungan dolar semata, melainkan ada orisinalitas, bakat, dan karakter sangat unik yang ditawarkan Stüssy.

Gambar via milled.com

Dan akhirnya, Frank Sinatra Jr. menginvestasikan dananya sebesar 5 ribu dolar kepada Stüssy, hingga kemudian berdirilah perusahaan resmi Stüssy yang bernama Stüssy Incorporate di tahun 1984. Sebelum terlihat resmi menjadi sebuah toko, sebelumnya Stüssy hanya menjual merchandise berlogo tulisannya sendiri sebagai toko dadakan aja. Produknya dulu cuma dijajakan melalui mobilnya yang parkir di pinggiran Laguna Beach, California.

Kalau bicara soal senioritas, Stüssy bisa dibilang paling tua nih guys dibanding brand lain yang mirip-mirip dan akhir-akhir ini lagi booming, seperti Supreme atau A Bathing Ape alias Bape. Di awal kemunculannya, yaitu tahun 1984, sebenarnya Stüssy memang lekat banget dengan olah raga kegemaran sang pemilik nama, yaitu surfing. Bahkan, dia sudah membuat papan surfing sendiri di usia 12 tahun, lho.

Lanjut ke dua tahun pasca berdirinya Stüssy Inc., tepatnya di tahun 1986, penjualan Stüssy sudah meledak di pasaran. Lantas, Stüssy kala itu semakin dipopulerkan oleh para rapper yang kompak mengenakan busananya. Bahkan, para rapper dan genre musiknya yang lagi ngehits sekali itu, erat sekali dengan brand Stüssy. Dan terbukti, Stüssy menerbitkan topi khusus untuk para rapper.

Cuma butuh dua tahun berselang, yaitu di tahun 1988, Stüssy mulai mengekspansi bisnisnya di Eropa. Tak lama kemudian, Shawn juga membuka toko Stüssy lainnya di Soho, New York. Tren positif terhadap produk Stüssy ternyata terus berkembang, sehingga Stüssy mulai terus menerus membuka toko di seluruh dunia. Di tahun 1991, Stüssy sudah meraup penghasilan hingga 17 juta dolar AS. Kemudian di tahun berikutnya, penghasilannya terus menanjak di angka 20 juta dolar AS.

Kiprah cemerlang Shawn Stüssy sendiri bersama brand-nya, ternyata berlangsung singkat. Di tahun 1996, Shawn Stüssy memilih hengkang dari posisi Presiden Stüssy. Tahta kepemimpinan pun diserahkan kepada rekannya yang membantu membesarkan bisnisnya, yaitu Frank Sinatra Jr. Shawn Stüssy sendiri tidak angkat kaki sepenuhnya dari kepengurusan Stüssy. Meski dikendalikan penuh oleh Frank Sinatra Jr., Shawn Stüssy diberi kehormatan dengan memegang posisi sebagai Penasehat di Stüssy Inc.

Revolusi Menuju Tren Skateboarding Bersama Bos Supreme


Seperti kita tahu di awal cerita guys, hakikatnya, Stüssy lebih identik dikenal sebagai brand surfing dan lebih cocok disandingkan dengan brand semacamnya, seperti Billabong, Quiksilver, dan teman-temannya. Tapi seperti kita tahu, brand-brand tersebut lahir dan besar di benua Australia, sedangkan Stüssy sendiri asalnya nun jauh di sana, yaitu di Amerika Serikat. Tapi, Stüssy ternyata cukup jeli melihat peluang dan mulai beradaptasi dengan kultur skateboarding di Amerika yang juga menjanjikan.

Seiring waktu berjalan, Stüssy terus berinovasi dengan kultur skateboarding yang kala itu juga booming. Dan, uniknya lagi, justru sosok penting dari brand lain lah yang membawa Stüssy ke dalam kultur skateboarding. Tak tanggung-tanggung, James Jebbia yang menjadi founder produk streetwear kenamaan dunia bernama Supreme ikut turun tangan mengembangkan Stüssy. Saat bekerja di Stussy, James Jebbia berperan sebagai Store Manager.

Makin dekatnya dengan kultur skateboarding membuat Stüssy kemudian berani mensponsori tim skateboard yang berisikan skater-skater handal seperti Keith Hufnagel, Scoft Johnston, Danny Montoya, dan Richard Mulder. Semenjak itu, Stüssy seolah melakukan pivot cantik, dan merubah identitasnya jadi lebih luas dan berkarakter.

Shawn Stüssy (kiri) dan James Jebbia (kanan), Gambar via pinterest.com

Stüssy yang dulunya dikenal sebagai brand para surfer penuh deburan ombak berbahaya, menjadi karakter yang lebih nyetreet dengan menggerinda jalanan yang penuh tantangan sebagai brand para skater.

Di tahun 2001, Stüssy melakukan inovasi sekaligus gebrakan pada produknya dengan berkolaborasi dengan brand kenamaan lainnya, yaitu Nike yang dinamakan Stüssy x Nike Huarache. Seri lanjutan dari kerja sama Stüssy dan Nike berikutnya yaitu Stussy x Nike Dunk. Dua produk hasil kolaborasi tersebut terasa sangat langka dan eksklusif karena diproduksi dalam jumlah terbatas saja. Dan, menurut laporan, produk tersebut laris manis dan habis hanya dalam kurun waktu dua hari.

Dampak positif ini akhirnya memberangkatkan minat brand lain untuk berkolborasi dengan Stüssy. Beberapa brand lain yang berkolaborasi dengan Stüssy di antaranya Supreme, Bape, dan lain-lain. Sampai saat ini, sudah ratusan toko Stüssy yang tersebar di seluruh dunia. Dengan harga yang relatif middle-up, produk Stüssy memiliki harga kisaran Rp 400 ribu – Rp 1 jutaan.

Kultur Stüssy di Indonesia


Label Stüssy mampir di Tanah Air sebagai simbol busana jalanan pada awal dekade 90-an, tepatnya pada tahun 1992. Saat itu, keberadaan Stüssy terbantu berkat booming-nya bisnis mal dan pusat perbelanjaan retail modern di indonesia yang kala itu berada pada masa-masa lonjakan ekonomi di penghujung Orde Baru.

Stüssy pertama kali datang di Legian, Bali. Berangkat dari Pulau Dewata tersebut lah, kultur streetwear yang diusung oleh Stüssy menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, khususnya menjangkiti kawula muda di Jakarta dan Bandung, guys.

Popularitas Stüssy yang tak terbantahkan itu dilihat oleh Jim Fisher, yang menjadi petinggi Stüssy Australia pada tahun 1994. Untuk melanggengkan bisnis Stüssy, jadilah Fisher mengabari pemilik clothing brand lokal Hot Tuna agar bisa mengembangkan cabang kedua. Ayah kandung dari Thai Little yang menjadi pegiat bisnis pakaian Pulau Dewata adalah orang yang akhirnya bekerja sama dengan Fisher.





Baca juga: Supreme, Merek Skateboard yang Mampu Menyedot Fanatisme dan Loyalitas Para Penggemarnya

Ayah Thai yang pertama kali memegang lisensi resmi penjualan Stüssy di Indonesia. Dengan kepemilikan lisensi resmi Stüssy, proses produksi akan dilakukan di Indonesia, sedangkan tugas Stüssy Amerika Serikat dan Australia hanyalah mengirim desain orisinil yang akan dicetak dan dipasarkan nantinya.

Proses produksi Stüssy Indonesia dimulai setelah desain Stüssy diterima, lalu tim Hot Tuna melakukan produksi di Denpasar, dan cetak sablon di Gang Poppies 1. Produk lainnya seperti celana dan tas dibuat melalui kemitraan dari Bandung. Sedangkan jaket, topi, serta aksesoris lainnya masih dilakukan secara impor langsung dari luar negeri.

Gairah masyarakat Indonesia terhadap produk Stüssy dan kultur khas streetwear yang dibawanya tetap ada. Bahkan, memasuki era milenial ini, permintaannya semakin baik. Pasalnya, di tahun 2017, Stüssy kembali melakukan comeback-nya di Indonesia. Selain masyhur sebagai brand streetwear kenamaan, Stüssy membawa kenangan tersendiri, khususnya bagi para kawula muda era 90-an yang memang sempat merasakan produk Stüssy.

Gambar via stussy.com

Mungkin bisa dibilang Stüssy memang punya tempat tersendiri bagi pemakainya, terutama para skater yang hidup dan berkembang dengan kultur streetwear pada era 90-an. Rasa nyaman, punya ciri khas, dan sarat identitas yang sudah terbangun kokoh sejak lama. Bisa dibilang, Stüssy mempromosikan lifestyle atlternatif yang sarat dengan history. Claude Hutasoit, yang berprofesi sebagai skater sekaligus Extreme Sport Commentator di salah satu stasiun televisi lokal Indonesia, punya opini tersendiri soal Stüssy.

Menurut Claude yang sempat jadi pemakai brand Stüssy sejak era 90-an, meskipun sudah banyak streetwear yang hadir saat ini, Stüssy tetaplah dianggap sebagai brand senior. Stüssy dianggap punya “educate scene” yang sarat sejarah surfing, skateboarding, dan olahraga jalanan lainnya.

Andri Hasibuan, salah satu pemilik label clothing lokal yang sudah malang melintang sejak lama, melihat Stüssy tetap sebagai brand yang tetap punya pesona tersendiri. Menurutnya, Stussy sukses terus menunjukkan ciri khasnya sebagai salah satu brand streetwear paling senior dan kawakan, meskipun banyak kompetitor baru dengan segudang pesona bermunculan. Andri melihat Stüssy sebagai brand yang konsisten, baik dalam desain dan pesan yang disampaikan.

Comeback-nya Stüssy di Indonesia di tahun 2017 silam terbilang cukup menarik. Selebrasi kembalinya Stüssy digelar lewat acara Interbational Stüssy Tribe Gathering pada akhir Oktober 2017 silam di Potato Head Beach Club Bali. Para penggemar steetwear semakin dimanjakan dengan disediakannya mini ramp bagi yang ingin skating.

Apresiasi Stüssy terhadap seniman lokal dan kepedulian terhadap bencana Gunung Agung tempo lalu pun ditunjukkan dengan merilis produk terbaru mereka, yaitu kemeja rayon print dengan menggunakan teknik celup ikat oleh pengrajin lokal berwarna indigo alami. Kemudian, hasil keuntungan penjualannya pun disumbangkan kepada para pengungsi Gunung Agung kala itu. Wah, keren ya guys, meskipun kental dengan budaya steetwear luar negeri, mereka mengapresiasi kondisi dan budaya Indonesia, yah. Salutt!!

Beberapa Rilisan Produk Stüssy


Oke, dari tadi kita sibuk ngomongin Stüssy bersama segala cerita bersejarahnya, hingga pesona dan comeback-nya di indonesia. Sekarang, kamu penasaran dong, sebenarnya kaya gimana sih produk Stüssy yang mendunia itu? Kita punya rilisan produk Stüssy terbaru untuk musim gugur/dingin tahun 2017 silam di luar negeri. Dan, beberapa rilisan produk Stüssy ini mungkin bisa memuaskan rasa penasaran kamu sama Stüssy.

Rilisan produk Stüssy terbarunya penuh dengan variasi, mulai dari kaos lengan panjang keren yang dipakai di bawah polo shirt. Ada juga satu busana yang diisi oleh lapisan berbeda-beda, baik dari bahan, tekstur, atau pola. Dan semuanya disinkronisasikan dalam satu kombinasi tone yang bersahaja. Selain itu, ada juga paduan kaos garis-garis di bawah kemeja flannel, corduroy yang dipadukan dengan denim dan sejumput wool mohair yang memastikan kamu tetap hangat.

Kompilasi foto dalam lookbook terbaru Stüssy pada musim gugur/dingin diambil oleh Dan Regan yang bekerja sama dengan pengarah gaya Tom Guinness. Beberapa busana pilihan ini diperuntukan sebagai busana pria. Dengan mengenakan koleksi busana dari Stüssy, musim gugur tak selalu harus muram, kan. (Reza Andrian)





Artikel Menarik:
  • Perjalanan New Balance, Dari Sekadar Ikon Sepatu Lari Hingga Jadi Tren Fashion Masa Kini
  • 10 Tips Fashion OOTD Agar Foto Instagram Kamu Makin Kece dan Kekinian
  • Kisah Unik di Balik Sepatu Converse All Star Chuck Taylor yang Sangat Legendaris
  • 5 Tips dan Cara Memilih High Heels yang Tepat
  • Rekam Jejak Sepatu Vans, Sneakers Anti-Mainstream yang Digandrungi Hingga Masa Kini
  • Model-model Sepatu Sneakers yang Lagi Trending dan Pas Banget Buat Kamu
  • 10 Merk Sepatu Branded Favorit Anak Muda dan Dewasa
  • 10 Sepatu Sneakers Paling Ikonik Sepanjang Masa
  • Cikal Bakal Sepatu Sneakers Adidas Originals Stan Smith
  • 10+ Akun Instagram Populer Buat Penggila Sepatu Sneakers


This post first appeared on BiteBrands | Situs Komunikasi Pemasaran Terkini | Referensi Logo Merek Perusahaan, please read the originial post: here

Share the post

Stüssy, Nama Peselancar yang Akhirnya Menjadi Merek Streetwear Tenar di Dunia

×

Subscribe to Bitebrands | Situs Komunikasi Pemasaran Terkini | Referensi Logo Merek Perusahaan

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×