Get Even More Visitors To Your Blog, Upgrade To A Business Listing >>

Romantisme Tanah Kelahiran dan Idul Fitri

Kendaraan yang padat merayap, bising, dan menderu, menjadi pemandangan rutin tahunan di sepanjang jalan raya menjelang lebaran. Rutinitas ini menjadi penanda hadirnya “fitrah” kemanusiaan dalam nurani seorang anak manusia yang meniscayakan pertautan sejarah dengan Tanah Kelahiran. “Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya kembali ke sarang,” begitu kata orang tua kita.

Ya, tanah kelahiran, sesunyi dan sejauh apa pun, menyimpan magnet yang mampu menyedot romantisme kerinduan setiap anak manusia yang tengah menjalankan fitrah kemanusiaannya di berbagai sudut dan penjuru bumi. Mereka, dengan segenap kesadaran nuraninya, rela menempuh jarak berkilo-kilo meter dalam bentangan waktu yang menyesak, menyiksa, dan tergagap-gagap, demi menemukan denyut Romantisme Tanah Kelahiran itu.

Ya, romantisme Tanah Kelahiran Itu terkesan begitu gagah. Dalam perjalanan mudik yang penuh peluh itu, kita benar-benar seperti tak berdaya, terasa amat kecil bagaikan butiran debu yang gampang tersapu angin di bawah bentangan semesta yang demikian agung dan perkasa.

Nah, pada akhir Ramadhan 1438 H ini, izinkan saya dan keluarga mengenang romantisme tanah kelahiran seraya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin atas semua salah dan khilaf, semoga kita kembali ke fitrah sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. ***



This post first appeared on Catatan Sawali Tuhusetya, please read the originial post: here

Share the post

Romantisme Tanah Kelahiran dan Idul Fitri

×

Subscribe to Catatan Sawali Tuhusetya

Get updates delivered right to your inbox!

Thank you for your subscription

×